Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Perang Dingin di Apartemen Sempit
Malam itu, setelah melewati makan malam yang menegangkan di kediaman Rodriguez, Jordan tidak langsung membiarkan Airin beristirahat. Ia bersikeras mengantar Airin kembali ke apartemennya di Distrik Merpati. Namun, begitu langkah mereka melewati ambang pintu apartemen kecil itu, dahi Jordan langsung berkerut dalam.
"Tidak. Ini tidak bisa dibiarkan," ucap Jordan sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang hanya berisi satu sofa kecil dan dapur minimalis.
Airin yang sedang meletakkan tasnya di atas meja menoleh. "Apanya yang tidak bisa dibiarkan?"
"Apartemen ini. Keamanannya nol, jaraknya ke kampus terlalu jauh, dan ukurannya... aku merasa seperti sedang berada di dalam kotak sepatu," Jordan bicara dengan nada mutlak seorang CEO yang sedang mengkritik proyek gagal. "Besok, kemasi barang-barangmu. Kamu pindah ke apartemenku di Penthouse pusat kota. Hanya sepuluh menit dari kampus dan keamanannya menggunakan pemindai retina."
Airin terdiam sejenak, memproses perintah itu, lalu ia berbalik dengan mata yang membelalak. "Apa? Tidak mau! Aku sudah nyaman di sini. Ini hasil usahaku sendiri mencari tempat tinggal!"
"Airin, jangan keras kepala. Orang-orang ayahmu sudah tahu tempat ini. Artinya, siapa pun bisa tahu," Jordan melangkah mendekat, mencoba mengintimidasi dengan tinggi badannya.
"Tapi aku ingin mandiri, Jordan! Kalau aku pindah ke tempatmu, apa bedanya aku dengan burung di dalam sangkar emas?" Airin mngerucutkan bibirnya kesal. Wajahnya yang polos tampak sangat bersungguh-sungguh saat melawan.
Jordan menatap bibir mungil yang mengerucut itu. Rasa gemas tiba-tiba menghantamnya lebih kuat dari rasa kesal. Tanpa peringatan, ia merunduk dan mengecup bibir itu dengan sangat lembut, hanya sekilas namun cukup untuk membuat Airin terbungkam.
"Jangan memonyongkan bibirmu seperti itu kalau tidak mau aku cium," bisik Jordan serak.
"Kamu... kamu curang! Jangan gunakan ciuman untuk memenangkan argumen!" protes Airin, suaranya naik satu nada meski tetap terdengar sangat lembut. Ia kembali memalingkan wajah, mengerucutkan bibirnya lagi karena merasa hak mandirinya sedang dirampas.
Cup.
Jordan mengecupnya lagi. Kali ini sedikit lebih lama di sudut bibir Airin. "Aku tidak sedang berargumen, sayang. Aku sedang memberikan instruksi."
"Aku tetap tidak mau pindah!" Airin bersedekap, menatap Jordan dengan tatapan menantang yang justru terlihat manis di mata pria itu. "Aku ingin hidup tenang tanpa pengawasanmu dua puluh empat jam!"
Jordan tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar sangat berbahaya namun menghanyutkan. Ia meraih pinggang Airin, menariknya hingga tidak ada jarak di antara mereka. "Justru itu poin utamanya. Aku ingin memantaumu dua puluh empat jam. Aku ingin tahu apa yang kamu makan, jam berapa kamu tidur, dan memastikan tidak ada pria lain yang mencoba mendekati mahasiswaku yang terlalu cantik ini."
"Posesif sekali..." gumam Airin, tangannya mencoba mendorong dada bidang Jordan, namun ia justru berakhir memegang kemeja pria itu.
"Memang. Terutama padamu," Jordan kembali merunduk, mengecup kening Airin, lalu turun ke pipinya, dan berakhir kembali di bibir Airin yang masih mengerucut. Ia mengecupnya berkali-kali secara singkat, seolah sedang mencicipi permen favoritnya.
Airin merasa seluruh pertahanannya luruh. Desiran di dadanya membuat keberaniannya menguap. "Tapi... teman-temanku pasti curiga kalau aku tiba-tiba pindah ke tempat mewah."
"Biarkan mereka curiga. Atau sekalian saja aku umumkan di mading kampus bahwa kamu adalah tunanganku?" ancam Jordan dengan senyum nakal.
"Jangan!" Airin berseru panik, ia akhirnya menyerah. Ia tahu Jordan tidak akan pernah berhenti sampai ia mendapatkan apa yang diinginkannya. Dengan wajah yang masih ditekuk dan bibir yang tetap sedikit mengerucut, ia mengangguk pelan. "Baiklah... aku pindah. Tapi berjanji jangan menggangguku saat aku belajar!"
Jordan tersenyum menang. Ia mengecup hidung Airin sebagai tanda kesepakatan. "Aku tidak janji soal itu. Karena melihatmu belajar adalah pemandangan yang terlalu menggoda untuk dilewatkan."
Airin hanya bisa menghela napas pasrah, menyadari bahwa hidup mandirinya telah resmi berakhir di tangan singa posesif bernama Jordan Abraham.