NovelToon NovelToon
The Journey Of Soul Detective

The Journey Of Soul Detective

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Mata Batin
Popularitas:427
Nilai: 5
Nama Author: humairoh anindita

Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.

Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.

Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.

Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KASUS 1 bagian 2

Sora tengah duduk di perpustakaan sekolah, menatap rak-rak yang penuh buku dan bangku-bangku kosong di hadapannya. Suara hujan deras di luar ruangan adalah latar suara yang bagus. Dengan pendingin ruangan yang menyala dan potret-potret dinding yang seolah melotot padanya. Ini adalah suasana yang ‘sangat menyenangkan’. Ensiklopedia yang ia ambil telah terbuka di halaman yang sama sejak beberapa menit yang lalu, tidak ada satu pun kalimat yang meresap dalam otaknya.

Sesekali ia akan memandang keluar pintu memandang murid-murid yang mulai mengambil jadwal dan mengumpulkan buku.

“Kenapa belum masuk kelas?” tanya kepala perpustakaan memecahkan keheningan.

“Jam kosong pak, jadwalnya sudah dikirim via Email” jawab Sora.

Ia tidak berbohong, namun juga tidak mengucapkan kebenaran penuh. Kelasnya tidak kosong namun Miki memang sudah mengirimkan jadwal kelasnya. Ia bukan pemalas, ia hanya sedang menghindar.

Seharusnya ia mendengarkan nasehat ayahnya untuk tidak pergi, namun apa yang dapat disesali dari masa lalu. Ia hanya berusaha mencari solusi, dan untuk semetara solusi yang ia dapatkan hanya menghindar.

Brugg,

“Wah Ra gila ya, aku ditinggal sendiri di kelas.”

Miki, gadis bercepol 2 dengan mata yang sipit masuk ke dalam ruangan dengan membanting pintu. Beruntung petugas perpustakaan sedang keluar, jika tidak mereka akan mendapat masalah tambahan.

“Perlu menjernihkan pikiran” ujarnya.

“Ya minimal ajak-ajak lah biar aku tidak diintrogasi sendirian”

“Harry masuk hari ini?” tanya Sora.

“Iya, tapi ketakutan”.

Setelah jawaban itu keheningan mulai terjadi selama beberapa menit, dan dipecahkan oleh suara bantingan pintu lainnya. Mereka menoleh dan melihat Julia yang tampak berantakan di pintu masuk.

“Guys, ke ruang loker cepetan!”

Hanya itu yang ia ucapkan.

Mereka segera berlari melintasi koridor demi koridor panjang laboratorium dan ruang komputer, mengabaikan jalan setapak yang tergenang air atau hujan yang cukup deras mereka menerabas taman belakang dan sampai ke ruang loker dengan pakaian yang hampir basah kuyup. Bagas dan Harry ada disana dengan wajah pucat dan panik.

Tampak luar loker yang berjejer rapi tu memng tidak bermasalah, namun begitu kedua loker milik Harry dan Bagas dibuka kengerian mulai terlihat. Bau yang tidak sedap bangkai kucing hitam yang membusuk, ceceran darah dan lumpur. Tidak ada barang yang hilang, semuanya tampak utuh namun dipenuhi darah dan lumpur.

“Lokernya masih terkunci pagi ini, dan tampak sangat rapi. Jadi siapa pelakunya pasti punya akses, dia bahkan tahu yang mana loker kita” ujar Bagas sambil menutup kedua loker.

Mereka diam dan menahan nafas ketika mendengar 2 langkah kaki memasuki ruangan. Andre dan seorang siswa yang tampak baru memasuki ruangan. Andre tampak memasukan beberapa buku paket dan topinya, mengunci loker itu dengan rapat dan keluar tanpa sepatah kata pun.

“Andaikan semua orang bisa seperti mereka, aku akan sangat berterimakasih” ucap Bagas.

“Ya diam, tapi kalau tiba-tiba jadi pendongeng handal ya sama saja ” sahut Julia.

“Ya kan belum tentu yang menyebar berita itu Andre, jangan memperbanyak masalah deh. Kita sudah bentrok sama IPS 2 sekarang kita bentrok sama IPA 3 masa iya mau nambah bentrok sama IPS 1” ujar Harry sedikit kesal.

“Heh yang tahu kita di sekolah malam itu kan cuman dia, kecuali salah satu dari kalian yang nyebarin berita” ucap Bagas sedikit menuduh.

Sora yang melihat teman-temannya mulai ribut memilih untuk tidak mengatakan sepatah kata pun, dia melangkah pergi mengabaikan teman-temannya.

“Woy Ra jangan pergi begitu donk, ini masalah bersama” ujar Harry.

Namun Sora masih tetap diam dan pergi begitu saja. Sebenarnya ia benar-benar tidak tahu kejadiannya akan seperti ini dan dia juga tidak tahu apa solusinya. Bercerita kepada kedua orang tuanya bukanlah jalan. Ia tidak menemukan jalan keluar, ia malah mendapatkan makian dari ayahnya. Ayahnya sosok yang selama ini menjadi malaikatnya. Lalu apa yang dapat dilakukan ibunya? Hanya menangis dan memohon tidak berguna, dan baru kali ini ia mengakui semuanya.

Ia benar-benar melamun hingga tanpa sadar Miki sudah berjalan di sebelahnya.

“Ra kenapa tidak minta tolong kakak tirimu itu?”

“Apa gunanya dia? Ayahku bahkan tidak bisa mengatasinya” jawab Sora malas.

“Omnya polisi kan? Siapa tahu bisa bantu” ujar Miki.

“Sudahlah tidak usah berharap banyak hal sama dia, kita tidak ada urusan” jawab Sora.

Miki pun menghela nafas pasrah. Otaknya hampir mendidih, dan satu-satunya jalan yang ia temukan adalah meminta pertolongan Andre. Orang tua mereka adalah orang-orang modern yang tidak percaya mitos seperti kutukan, santet atau pun kesurupan jadi mereka tidak dapat meminta tolong pada mereka. Namun berbeda dengan keluarga ibu Andre yang masih menganut kepercayaan lama, walau tidak mengabaikan hal-hal modern. Apalagi mengingat gosip tahun lalu tentang Andre yang indigo. Dia adalah satu-satunya kesempatan mereka untuk keluar dari masalah ini.

Satu-satunya masalah yang harus mereka hadapi ketika meminta pertolongan Andre adalah merendahkan harga diri mereka. Sora dan teman-teman dekatnya telah menjunjung tinggi harga diri mereka dengan terlalu tinggi, sampai terkadang menginjak orang lain yang ada di sekitar mereka dan salah satunya adalah Andre. Sediam apa pun seseorang pasti ada dendam dalam hatinya.

Namun terkadang pemikiran dan perkataan berjalan dengan tidak singkron. Mereka berjalan jauh dari koridor loker dan tanpa sadar menuju gedung IPS. Koridor gedung itu tampak tidak sepenuh gedung lainnya. Tidak ada diorama pembelajaran, tengkorak yang tergantung atau pun tanaman-tanaman untuk keperluan tugas. Hanya ada koridor panjang dengan rak-rak berisi koran dan majalah ekonomi yang tertata rapi.

“Seperti gedung kosong” gumam Miki.

Mereka melangkah maju dengan ragu. Benar-benar ragu hingga keinginan untuk kembali terdengar lebih menyenangkan. Namun mereka hampir sampai ke gerbang harimau mana mungkin mereka kembali dengan tangan kosong. Lupakan tentang gerbang harimau, ini hanyalah ruang kelas XI IPS 1, bukan ruangan spesial yang dipenuhi anak populer seperti kelas mereka, atau ruang rapat organisasi yang memerlukan otak yang mumpuni untuk masuk.

Mereka berdiri di hadapan pintu ruangan di ujung koridor.

Ini bukan ruangan fiktif berkedok kelas XI, namun benar-benar ruang kelas yang dihuni 32 siswa. Bukan masalah yang besar datang ke ruangan yang penuh dengan manusia, mereka suka jadi pusat perhatian.

Sora benar-benar bimbang antara ingin mengetuk pintu, membukanya langsung atau menyeret Miki kembali.

‘Seharusnya aku mengikuti apa yang aku katakan tidak perlu mengumpulkan niat untuk meminta pertolongan pada orang lain, ini semua gara-gara Mitha. Kenapa ia harus ngotot ingin masuk geng mereka, semua orang jadi terjebak dalam hal aneh semacam ini”

Padahal sejak awal dia tidak berpikir ingin berbaikan dengan kakak tirinya. Tapi situasi tengah memaksanya ke titik genting.

“Ra, sedang apa kita disini? Pajangan baru koridor?”

Sora menatap Miki dengan pandangan yang tidak percaya. Siapa yang mengusulkan ide dan siapa yang bertanya? Mengukur waktu memang tidak menyelesaikan masalah, tapi mengetuk pintu sepertinya bukanlah hal yang ingin dia lakukan.

“Mau apa kalian? Tindakan kalian ini seperti kelakuan mata-mata yang tidak terlatih dan tidak beguna. Setidaknya bulatkan tekadmu!” Sebuah suara terdengar lebih tegas dari yang diinginkan, namun berhasil menarik perhatian dua siswi yang ada di depan pintu kelas.

“Apa?"

Secara refleks mereka menoleh ke belakang. Ilyas berdiri di sana dengan seragamnya yang tidak rapi. Dia tidak marah namun sorot matanya menunjukan ketidakpedulian yang sangat keras.

“Dia yang berkulit malam” gumam Miki.

“Mau ketemu Andre bisa?”

Ilyas mendengar apa yang Miki katakan tapi memilih mengabaikannya, ia lebih suka memandang sinis kedua tamu tidak diundang itu dan mendengus kecil. Melangkah melewati keduanya dengan angkuh dan memasuki ruangan tanpa mengatakan sepatah kata pun pada mereka, Ilyas masuk dan memanggil Andre.

Tidak lama kemudian Andre keluar dengan malas, ramburnya acak-acakan dan seragamnya juga berantakan. Dia keluar dari kelas dengan setengah ikhlas. Ibunya selalu mengatakan bahwa secara biologis mereka 1 ayah, jadi setidaknya dia harus menghargainya walau sedikit. Tapi bagi Andre itu benar-benar hal yang tidak berguna. Sebaik apa pun dia memperlakukan Sora dan ibunya, tampaknya sifat ramah dan menghargai bukanlah salah satu yang mereka miliki. Berulang kali ia meyakinkan ibunya bahwa ia tidak menyimpan dendam, tapi ia membiarkan semuanya berjalan tanpa adanya perasaan sedikit pun.

“Kenapa?” tanya Andre malas.

“Ini kita tidak diajak masuk atau diajak duduk dulu cari tempat yang nyaman, Sungguh tidak sopan” ucap Miki dengan kesal.

Andre tidak menjawab. Dia menatap 2 gadis di hadapannya dengan sinis, lebih sinis dari apa yang Ilyas lakukan sebelumnya. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan pikiran mereka. Mereka tamu yang tidak diundang dan meminta kenyamanan dengan tanpa rasa bersalah. Sebenarnya apa yang mereka makan saat sarapan? Ini bahkan belum siang dan otak mereka tidak dapat terkoneksi dengan baik. Apakah ini siswi-siswi pandai yang menjadi kebanggaan sekolah?

“Aku tidak punya banyak kesabaran, jadi cepat katakan sebelum aku memutuskan untuk tidak mendengar sepatah kata pun” ucap Andre.

Ilyas dan Jonathan yang mendengarkan dari balik tembok diam-diam tertawa. Andre terkenal dengan sifatnya yang sabar dan penuh kasih sayang, jika dia tidak sabar maka masalahnya pasti tidak sederhana.

Sora diam dan Miki bingung, keduanya hanya menciptakan keheningan. Andre yang melihat itu pun jengah.

“Kalau tidak ada yang mau dikatakan ya sudah” ucap Andre hendak menutup pintu.

“Ndre tolong selesaikan masalah Mitha!” ucap Sora keras dan terburu-buru. Namun itu berhasil membuat Andre berbalik ke meraka. Walau masih dengan malas dan enggan.

“Kalian yang membuat masalah mengapa aku yang harus turun tangan?” tanya Andre sambil bersandar pada pintu di belakangnya.

“Ndre, kita minta tolong lah. Kamu kan terkenal bisa mengatasi hal-hal seperti ini? Bukankah tahun lalu kamu membantu guru agama mengatasi siswa yang kesurupan, lalu kenapa tutup mata melihat masalah kami? Sora juga saudaramu.” Ucap Miki dengan tampang memelas.

“Apa yang membuat kalian berpikir bahwa kedua masalah ini sama? Dan sejak kapan kau menjadi saudaraku?” tanya Andre.

“Tentu saja ini masalah yang sama, keduanya terjadi di area sekolah dan melibatkan siswa yang melanggar aturan, kita hanya tidak punya guru agama yang mumpuni sehingga kasus ini membesar. Ini hanya satu orang tidak sebanyak kasus kelas 10.” jawab Miki dengan cepat dan tegas.

“Tidak ada siswa yang melanggar peraturan tahun lalu. Hanya ada satu gadis kurang perhatian yang memulai semua masalah.”

“Ndre kita tidak membahas masa lalu kita membahas masalah saat ini, masa kamu tega tidak membantu saudara perempuan cantikmu ini? Kamu tidak kasian sama Mitha juga?” bujuk Miki.

Ilyas dan Jonatan di dalam kelas, namun mereka mulai menonton dari jendela kelas. Hani diam-diam juga merekam apa yang mereka lakukan. Namun tiba-tiba Sora marah.

“Bukan Ki, dia bukan saudaraku hanya karena kita satu ayah. Kita tidak sebanding ayo pergi percuma minta tolong dia, tidak akan ada penyelesaian.” Ucap Sora, ia menggandeng tangan Miki dan mulai menyeretnya pergi.

“Nanti dulu Ra kamu tidak  mau masalahnya selesai?” Kata Miki kesal.

“Masalah kita bakal tambah parah kalau dia ikut campur. Sudahlah anak yang terlahir dari seorang gundik akan selalu tidak tahu diri.”

Ucapan Sora membuat semua orang terdiam tidak percaya. Bahkan Miki pun tidak pernah berpikir Sora akan berbicara seperti itu. Sedangkan Andre, dia hanya diam dan menatap Sora dengan pandangan yang penuh kebencian.

“Woy orang gila, semua orang tahu yang dinikahi secara sah itu Bu Dewi bagaimana dia jadi gundikmya? Minimal punya otak dipakai sebentar lah, sudahlah perempuan, lahir tanpa pernikahan, mengklaim dirinya jadi pewaris utama pula. Padahal jelas orang tuanya cuman kumpul kebo” sahut Ilyas keras. Dia ikut kesal.

Andre kaget, namun kekagetannya lebih terasa seperti rasa kecewa. Ia tidak pernah berpikir kalimat itu akan keluar dari mulut Sora. Namun ia lebih kaget lagi mendengar apa yang Ilyas bicarakan, apakah masalah keluarganya telah menjadi urusan publik?

“Kita tidak ada urusan ya, diam kamu!” teriak Sora.

“Kalian berurusan dengan Andre, artinya kalian berurusan dengan kami. Ini masih awal semester, kalau tidak bisa cari teman minimal tidak usah menambah musuh lah” ujar Ilyas.

Beberapa siswa di kelas meniru apa yang Ilyas lakukan, muncul dari jendela kelas dan bersorak pada Sora dan Miki. Keributan itu membuat siswa siswi di ruang lainnya keluar dari kelas karena penasaran. Beberapa orang yang sebelumnya ada di luar kelas mulai menjelaskan apa yang terjadi, dan beberapa lainnya mulai bergosip dan bersorak keras. Dua orang gadis berhadapan dengan penghuni gedung IPS terdengar tidak adil memang, tapi hal itu tidak akan terjadi jika tidak ada yang mencari masalah.

Andre yang sejak tadi diam pun bersuara.

“Aku menghargai usahamu untuk meminta tolong padaku, tapi meminta tolong dengan meremehkan dan memaki bukan lah hal yang terpuji. Tapi aku harus ingatkan satu hal, aku tidak terlibat dalam masalah kalian, jadi untuk apa aku membantu kalian? Apalagi setelah apa yang kau katakan tentang ibuku. Jangan harap ada maaf atau pun pertolongan untukmu, jangan berani bermimpi.”

Andre berbalik dan membanting pintu kelas di hadapan kedua gadis itu, tidak peduli dengan keterkejutan mereka. Ia harus pergi sebelum amarahnya meledak. Membiarkan koridor dipenuhi suara bisikan dan teriakan teman-temannya. Sementara Sora yang linglung ingin balas berteriak namun Miki sudah menyeretnya keluar dari gedung itu.

Mereka berjalan dengan cepat untuk kembali ke ruang loker, Bagas tegah berbicara dengan seorang guru BK dan 2 orang petugas kebersihan tengah membersihkan loker Bagas dan Harry. Julia duduk di kursi panjang dengan tatapan setengah kosong. Melirik Sora dan Miki yang baru saja datang.

“Darimana kalian? Menambah masalah?” tanya Yulia tanpa mengalihkan pandanganya.

Sora diam, dan Miki yang sedang kesal menghentakan kakinya dengan kesal. Dia duduk di sebelah Yulia dengan dramatis dan menghela nafas dengan keras. Pada awalnya ia memang punya keinginan untuk meminta pertolongan Andre, tapi tidak berani mengatakannya pada Harry dan Bagas. Dia pikir Sora akan membantu rencananya, tapi dia malah mengacaukan segalanya.

“Tanya itu Tuan Putri kalian” jawab Miki malas.

Ke-tiganya memandang Sora dengan tatapan bertanya sekaligus menuntut. Itu membuat Sora ingin menangis, tapi teman-temannya tidak pernah mengizinkannya menangis. Jadi Sora menceritakan semua kejadian yang baru saja terjadi, dan Miki akan menambahkan bagian-bagian yang terkadang Sora tinggalkan.

Mereka mendengar cerita itu dengan 3 ekspresi yang berbeda. Bagas yang marah, Yulia yang semakin pucat, dan Harry yang tidak percaya. Miki tahu semua orang kaget, tapi Bagas adalah orang yang kekagetannya tidak dapat diterima. Dia dan Yulia telah menuduh Andre sebagai dalang yang menyebarkan berita tentang mereka, dan jika ditambahkan cerita Sora ia yakin sebuah dendam telah diam-diam terbentuk. Apalagi dengan keegoisan Bagas, dia tidak akan terkejut jika akan ada kasus lain yang akan terjadi.

“Ra hari ini aku setuju dengan Miki, kamu berlebihan. Meminta pertolongan dengan mengatakan hal buruk itu malah menambah masalah” ucap Harry setelah lama diam.

“Ya dia tidak mau menolong, dan aku hanya mengatakan fakta” sahut Sora tegas.

“Dan fakta yang kita tahu, Andra Dewanta tidak pernah menikahi ibumu. Istri sahnya adalah Dewi Saniya bukan ibumu. Bahkan dalam sebagian besar pertemuan keluarga Andra Dewanta selalu mengatakan ‘putra kebanggan kami’ bukan ‘putri kami’” jawab Yulia dengan nada yang datar. Dia masih menatap tembok dihadapannya dengan pandangan kosong, seolah bersiap untuk melubanginya.

“Yul kamu berhalusinasi” ujar Bagas.

“Kenapa, tidak ingin menerima kenyataan bahwa Tuan Putri kesayangan kalian adalah anak haram?” Kini ia menatap Bagas dengan pandangan menantang. Ia mengabaikan tatapan terkejut Sora atau Miki yang mulai mencubit lengannya.

Harry dan Yulia mungkin setuju dengan Miki, tapi Bagas akan selalu membela Sora apa pun yang terjadi. Mungkin alasan sebenarnya ia bergabung dengan geng ini adalah Sora. Mereka tidak benar-benar tahu seperti apa Bagas sebenarnya, dan yang mereka khawatirkan adalah masalah apa yang akan ditimbulkan setelah mendengar cerita ini? Bagas punya lebih banyak relasi daripada mereka.

“Sudah-sudah jangan menambah masalah. Mitha belum selesai, tambah masalah sama Andre sekarang kalian juga mau ribut?” tanya Harry kesal.

“Tidak akan ada keributan jika kita punya pemikiran yang sama” jawab Bagas.

“Terakhir kali kita memiliki pemikiran yang sama, kita semua hampir di drop out dari sekolah, dan terakhir kali kita mengikuti kemauan kalian semuanya menjadi runyam. Seharusnya sejak awal kami tidak memasukan kalian dalam group kami” ujar Yulia tanpa menatap keduanya.  

Semua orang terdiam setelah kalimat itu. Bahkan Bagas pun tidak mengatakan sepatah kata pun. Namun mereka tau Bagas tengah menyusun strategi di kepalanya. Bersama dengannya selama satu semester lebih itu cukup untuk menilai apa yang menjadi sifatnya.

Group mereka sebenarnya sudah terbentuk sejak SMP, dan hanya beranggotakan 4 orang Sebastian, Miki, Yulia dan Harry. Mereka selalu satu sekolah dan keluarga mereka kenal satu sama lain jadi wajar jika mereka dekat. Dan pada pertengahan kelas 10 akhirnya mereka menambahkan Sora dan Bagas sebagai anggota baru.

Namun tampaknya penambahan anggota itu membuat perubahan buruk pada mereka. Bagas mulai mengajari mereka membolos, dan Sora mulai mengajari mereka bagaimana cara menindas orang. Hingga pada akhir tahun ajaran semuanya menjadi semakin runyam. Sebastian harus di drop out karena menindas seorang siswi. Sebenarnya mereka juga hampir dikeluarkan, namun karena CCTV hanya merekam apa yang Sebastian lakukan pihak sekolah akhirnya hanya mengeluarkan dia.

Dan semester ini pun harus dimulai dengan hal yang runyam juga.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!