Radit, seorang pemuda yang dikhianati dan dipandang rendah, mendadak mendapatkan sistem misterius yang mengubah nasibnya. Dari mahasiswa biasa, kini bangkit menjadi sosok bertopeng putih yang bengis. Seluruh kekuatan, duniah bawah, dan kejayaan diraihnya.
Di tengah puncak, ia kembali menemukan arti hidup melalui cintanya pada Rania. Namun, tragedi kampus merenggut segalanya. Amarah dan dendam bangkit kembali menghancurkan dunia.
Setelahnya pembalasan tersebut, Radit memulai hidup baru dan meninggalkan segalanya hanya demi satu hal. Dirinya yang kuat dan menemukan kembali cintanya yang hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aprilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
" A.... Aaapaa... Apaan ini ? "
Radit menoleh pada nya. Lubang mata dan topeng putih itu terasa kosong, dalam, tanpa emosi. Pria itu mencoba lari. Satu langkah, Radit sudah ada di belakang nya.
Satu pukulan pendek, bukan ke kepala, bukan ke jantung, hanya ke titik yang tepat di punggung. Tubuh pria itu terlempar ke depan dan menghantam tanah, napas nya terhenti seketika.
Hening....
Gadis itu terdiam tubuh nya gemetar. Ia menatap sosok bertopeng putih itu dengan mata membesar antara takut dan tidak percaya. Radit berbalik menghadap nya.
" Sudah aman. " kata nya singkat.
Suara nya tidak lembut, tetapi stabil.
Gadis itu menatap nya. " A..... Anda siapa ? "
Radit sudah melangkah pergi.
" Orang lewat. " jawab nya singkat tanpa menoleh.
Beberapa detik kemudian ia kembali ke jalan utama, menyatu dengan bayangan malam. Di balik topeng putih itu, nafas Radit tetap teratur. Tidak ada adrenalin berlebihan, tidak ada rasa panas, hanya satu kumpulan yang muncul di benak nya.
Kekuatan ini.... Nyata !
Layar sistem muncul pelan di hadapan nya.
[ UJI TEMPUR TERCATAT. ]
[ RANAH PRAJURIT AWAL STABIL. ]
[ KONTROL KEKUATAN MEMUASKAN. ]
Radit menutup mata sejenak. Ini adalah pertarungan pertama nya, dan ia menang tanpa kehilangan kendali.
" Sudah saat nya. " gumam nya dalam hati.
" Untuk naik lebih tinggi. "
Pagi hari di kampus terasa hidup. Mahasiswa dan mahasiswi berlalu lalang di bawah pepohonan yang berjajar rapih, sebagian sibuk dengan ponsel, sebagian lain mengontrol ringan sebelum kelas di mulai, suasana itu biasa , terlalu biasa untuk menyimpan rahasia besar.
Di antara keramaian itu, Radit berjalan berdampingan dengan Agus. Agus berbicara panjang lebar tentang tugas kelompok yang belum selesai, tentang dosen yang terlalu perfeksionis, dan tentang rencana nongkrong murah di akhir pekan. Radit mendengar kan seperlu nya , dan sesekali dia mengangguk.
Di wajah nya , tidak ada tanda tanda bahwa malam sebelum nya ia telah menjatuh kan dua penjahat sekaligus di gang gelap.
" Kamu kok semakin sini semakin pendiam sih Dit ? " tanya Agus sambil melirik. " kaya lagi mikirin hal berat. "
" cuman capek! " jawab Radit singkat.
Mereka melewati taman kecil di tengah kampus. Bangku - bangku kayu yang di penuhi oleh mahasiswa dan mahasiswi yang sedang membaca atau sekedar menikmati pagi. Di dekat air mancur , beberapa mahasiswa berhenti untuk sekedar berfoto.
Langkah Radit tiba - tiba berhenti. Di hadapan nya, seorang perempuan sedang berdiri sambil berbicara dengan petugas keamanan kampus. Rambut nya tergerai rapi, wajah nya tenang namun menyimpan bekas ketegangan yang samar. Mata nya jernih, dengan sorotan mata yang sulit untuk di lupakan.
Radit mengenal wajah itu. Dia adalah gadis uang ia tolong malam itu.
Agus ikut menoleh. " Eh, itu Rania Azizah. "
Radit menatap Agus sekilas. " Kamu kenal ? "
" Kenal dikit, dia adalah anak fakultas managemen bisnis, dia juga lumayan di kenal banyak orang. " jawab Agus . " Kenapa ? "
" Tidak apa apa. " jawab Radit datar.
Rania selesai berbicara dengan petugas keamanan, lalu berbalik. Pandangan nya menyapu kerumunan dan berhenti tepat di hadapan Radit.
Tubuh nya menegang sesaat. Ada sesuatu di tatapan itu, keraguan, pencarian, seolah ia sedang mencocokan potongan ingatan yang tidak lengkap.
Rania melangkah mendekati Radit.
" Permisi. " kata nya sopan suara nya lembut namun jelas. " Kita.. Pernah bertemu? "
Agus mengangkat kan alis . " Hah? Kalian kenal? "
Radit menatap Rania dengan tenang. Tidak ada topeng putih, tidak ada bayangan malam, hanya mahasiswa biasa dengan jaket abu abu dan tas ransel sederhana.
" Seperti nya tidak. " jawab Radit jujur. " Maaf. "
Rania langsung mengerut kan kening nya tipis. Mata nya menatap Radit lebih lama dari yang wajar. Tinggi nya postur tubuh nya, cara ia berdiri terlalu tenang..
" aneh. " gumam nya pelan. " aku. .. Merasa pernah di selamat kan oleh seseorang. Yang postur tubuh nya mirip seperti dia. "
Agus tertawa kecil. " Wah Dit, jangan - jangan kamu pahlawan malam.? "
Radit tidak menanggapi candaan itu. Rania tersenyum canggung. " maaf kalau menganggu. Mungkin aku salah orang. "
" tidak apa apa. " jawab Radit singkat.
Namun saat Rania berbalik ia berhenti sejenak.
" Trima kasih. " kata nya tanpa menoleh. " entah pada siapa. .. Tapi terima kasih. "
Lalu ia melangkah pergi, menyatu kembali dengan arus mahasiswa. Agus menatap punggung Rania, lalu menoleh ke arah Radit dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu. " Kamu yakin nggak kenal? "
" Yakin. " jawab Radit.
Namun di dalam diri nya ada kesadaran yang tenang. Ia tahu sebenar nya dan ia juga tahu identitas itu harus tetap terpisah. Topeng putih bukan hanya sekedar alat . Ia adalah batas antara dunia malam dan siang. Antara kekuatan dan kehidupan biasa.
Radit melanjutkan langkah nya. Di belakang nya Rania tetap menoleh sekali lagi menatap punggung Radit yang sulit ia jelaskan. Ada rasa aman yang aneh... Seolah bayangan malam itu belum benar benar pergi.
Sementara itu Radit, berjalan semakin jauh ke dalam kampus. Pertemuan itu singkat. Tidak ada pengakuan, tidak ada kebenaran yang terungkap. Namun bagi ke dua nya sesuatu telah tertanam.
Dan di dunia yang berputar menuju konflik yang lebih besar. Benang benang takdir mulai saling mendekat... tanpa di sadari siapa pun.
Konflik itu bermula dari hal sepele. Agus tidak pernah berniat mencari tahu masalah. Ia hanya mahasiswa biasa terlalu biasa untuk memahami bahwa di dlaam kampus ini ada garis garis tak terlihat yang tidak boleh di langkahi.
Siang itu, di area parkiran belakang fakultas, Agus tanpa sengaja menegur seorang mahasiswa yang mobil nya menghalangi jalan. Nada suara nya biasa saja, bahkan sopan.
Namun orang yang ia tegur bukan alah orang biasa.
Bersambung......
lanjut kk, tetap semangat ya. saran aja sih, kalau ada waktu, sebelum lempar up, sebaiknya swasunting dulu, biar nggak terlalu banyak typo. 😊🙏🙏
ada beberapa typo ya thor, kalau sempet, ayo kita revisi. 💪
ceritanya bagus Thor, langsung subscribe, satu vote, dan dua iklan, untukmu. 😊.
ayo kita saling mendukung ya😊