Bukan keinginannya masuk dalam pernikahan ini. Dia tahu jika suaminya tidak akan pernah menganggapnya sebagai istri, Marvin hanya akan memandangnya sebagai penyebab kematian dari calon istrinya yang sebenarnya.
Kecelakaan yang menimpa Kakak beradik ini, membuat dunia seorang Raina hancur. Kakaknya yang sebentar lagi akan menikah dengan kekasih hatinya, harus pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Raina yang sebagai orang yang selamat, pasti akan disalahkan di pojokkan. Meski dia juga tidak pernah mau hal ini terjadi.
Dalam keluarganya, hanya Amira yang peduli padanya dan menganggapnya keluarga. Tapi sosok seperti malaikat tak bersayap itu, malah harus pergi untuk selamanya. Meninggalkan Raina seorang diri untuk menghadapi kejamnya hidup.
Entah sampai kapan pernikahan ini akan bertahan, apa Raina akan sanggup terus bertahan disamping suaminya, atau pergi untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 ~ Terbelenggu Penyesalan
Raina merasa tidak enak pada Wahyu, ucapannya kemarin tidak sempat dia jawab. Bukan tidak menghargai, tapi percayalah jika Raina bahkan tidak pernah berpikir untuk kembali memulai. Sudah cukup dia menikah satu kali dan itu pun harus gagal dalam waktu yang singkat. Hatinya terbelenggu trauma akan kegagalan, kekecewaan dan sakit yang tidak mungkin di abaikan begitu saja.
"Maaf Kang, bukan saya tidak menghargai ketulusan dan kebaikan Kang Wahyu. Tapi, saya bahkan tidak pernah berpikir untuk memulai lagi"
Kalimat yang lembut dan halus, tapi mungkin cukup melukai perasaannya. Tapi jika Raina memberikan harapan, maka itu akan lebih menyakitkan bagi Wahyu. Karena belum tentu Raina benar-benar bisa membuka hatinya kembali. Semuanya sudah terkunci rapat.
Pagi ini Raina berpikir Wahyu mungkin tidak akan menjemputnya, dan dia sudah bersiap untuk mengemudi mobil sendiri. Lagian kehamilannya sehat dan tidak terlalu beresiko jika dia tetap mengemudi sendiri. Namun ternyata Wahyu tetap datang menjemputnya dan mereka berangkat bersama.
Suasana mungkin cukup canggung setelah pembicaraan kemarin malam. Raina juga bingung harus bagaimana memulai percakapan hari ini. Menurutnya memang terlalu cepat juga untuk Wahyu mengungkapkan sebuah perasaan padanya, sementara mereka baru saja saling mengenal baru dua bulan ini. Terlalu singkat untuk bisa mempunyai perasaan yang serius.
"Neng Sahila, soal semalam saya minta maaf karena terlalu lancang mengatakan itu. Padahal saya tahu bahkan Neng Sahila baru saja bercerai"
Raina menoleh padanya, dia tersenyum tipis sebelum menjawab. "Tidak papa Kang, saya juga minta maaf karena mengatakan kalimat yang mungkin membuat Akang kecewa. Tapi, semua itu karena saya tidak ingin sampai memberikan harapan yang nantinya hanya akan semakin menyakiti Kang Wahyu"
"Ya, saya mengerti. Tapi untuk menjadi Ayah dari anak Neng Sahila nanti, bukan sebuah bercanda. Maksud saya kalau Neng mau apa-apa bisa bicara pada saya. Biar saya saja yang menggantikan suami Neng yang tidak ada disini"
Raina tersenyum, pria sebaik Wahyu rasanya tidak pantas jika harus bersama dengan perempuan yang sudah pernah menikah dan sedang hamil anak dari mantan suaminya seperti Raina. Wahyu berhak mendapatkan perempuan yang lebih baik darinya. Begitulah pikir Raina.
"Iya Kang, terima kasih untuk semua kebaikan Kang Wahyu dan Ibu juga. Saya tidak tahu akan seperti apa kehidupan saya jika tidak kenal kalian saat pindah ke Kota ini"
"Sama-sama Neng, mungkin cara Tuhan saja agar mempertemukan kita untuk saling membantu"
Raina mengangguk sambil mengelus perutnya. Seperti mengatakan pada bayi dalam kandungannya, jika bersyukur mereka dipertemukan dengan orang-orang baik di tempat yang baru.
*
Suasana di rumah terasa lebih tegang dari sebelumnya. Pembicaraan yang baru dimulai sejak Mama pulang dari rumah sakit. Melihat suaminya yang terlihat santai, namun tidak dengan Mama. Mungkin dia adalah perempuan jahat, tapi dia tetap mempunyai pikiran dan hati, mengingat sejak dia pulang dan kabar perceraian Raina, anak itu sama sekali tidak pernah datang ke rumah ini atau bahkan menghubunginya.
"Jadi, kamu tidak tahu Pa dimana Raina sekarang? Dia sudah bercerai dengan Marvin, dan kemana dia pergi?"
"Anak itu memang tidak berguna, bahkan sudah mengganti Amira untuk menikah dengan Marvin, tapi malah diceraikan. Memang sama sekali tidak ada gunanya"
Mama menghembuskan napas kasar, menatap suaminya dengan lekat. "Bahkan saat Amira masih ada pun, kamu hanya terus memanfaatkan anak kita Pa. Dan sekarang anakmu tidak tahu keberadaannya dimana, kamu sama sekali tidak mengkhawatirkannya? Kau memang tidak pantas menjadi seorang Ayah!"
Papa menatap Mama dengan nyalang, rahangnya mengeras sampai tonjolan urat terlihat karena amarah. "Diam! Kau tidak perlu membahas soal Ayah dan tanggung jawabnya. Karena sebagai Ibu, kau juga bukan Ibu yang baik"
"Ya karena kita memang bukan orang tua yang baik. Kita sudah kehilangan satu anak, apa sekarang kamu ingin kehilangannya juga?!"
"Biarkan saja dia pergi! Anak ja*lang itu memang tidak seharusnya tinggal disini!"
Mama mengatur napasnya yang mulai terengah, dia baru saja sembuh dari penyakit jantung yang di deritanya, meski bukan sembuh sepenuhnya. Dan harus bisa menjaga diri dan kesehatan lebih baik lagi. Amarah hanya akan semakin memicu kambuhnya penyakit ini.
"Harusnya aku yang lebih marah, Pa. Karena pengkhianatanmu itu yang membuat keluarga kita hancur. Yang harusnya disalahkan disini adalah kamu!"
"DIAMM!!"
Papa berteriak, membuat Mama terkejut dan memegang dadanya yang berdebar kencang. Mencoba mengatur napasnya yang mulai terengah, Mama melihat amarah yang begitu besar dari balik mata suaminya. Dan dia memilih pergi daripada harus terkena kemarahan suaminya sementara dia harus lebih menjaga emosinya untuk kesehatannya.
Suasana rumah ini semakin terasa sunyi sepi dan hanya ada suara teriakan-teriakan saling menyalahkan dari pasangan suami istri ini. Sudah tidak ada kedamaian dan rasa keluarga hangat yang pernah ada.
*
Saat pulang dari Kantor malam ini, Marvin langsung pergi ke kamar dekat tangga. Berbaring di atas tempat tidur dengan kedua tangan jadi bantalan, tatapannya kosong menatap langit-langit kamar. Beberapa kejadian yang masih terlintas dalam ingatan dan mengganggunya.
"Mungkin jika saat itu aku mencoba memperbaikinya, apa semuanya tidak akan berakhir seperti ini?"
Bolehkah hari ini Marvin di anggap telah menyesali keputusannya sendiri? Ternyata selama 2 bulan pernikahan, dia baru menyadari jika Raina perlahan sudah masuk dalam hatinya. Perempuan yang tulus merawatnya saat dia sakit, memasak sarapan yang tidak pernah dia makan. Semuanya menjadi belenggu penyesalan baginya sekarang.
"Dia memang pengganti, tapi lihatlah ketulusannya saat dia menjadi istrimu. Apa kau tidak merasakan ketulusan yang diberikan Raina padamu, Vin?"
Teguran Bayu beberapa waktu lalu, berhasil membuat Marvin menyadari satu hal, ternyata keputusan yang dia ambil adalah salah. Terlalu terburu-buru untuk berpisah, dan sekarang dia terbelenggu penyesalan sendiri.
"Sekarang aku tahu kenapa Amira sangat menyayangimu, ternyata kau memang terlalu berharga untuk disakiti"
Ya, dan hanya dia yang menyakiti Raina sampai sekejam itu. Tanpa mengetahui bagaimana kehidupan Raina sebelumya, bahkan dia sudah lebih sering tersakiti dari keluarganya sendiri. Tapi Marvin buta untuk melihat ketulusannya saat itu, hatinya tertutup oleh ego dan rasa benci.
Marvin mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Hallo Bay, besok antar aku ke rumah orang tua Raina lagi. Mungkin kali ini akan bertemu dengannya atau orang tuanya"
"Kau ingin menemuinya? Apa kau yakin?"
"Ya, aku akan rujuk dengannya. Aku ingin meminta dia kembali, sepertinya perpisahan ini bukanlah yang terbaik untuk hidupku. Setelah dia pergi, hidupku terasa semakin hampa"
Bayu tersenyum di seberang sana, dia mendukung keputusan Marvin kali ini. Memang sejak awal Bayu sangat ingin Marvin membatalkan perceraian ini.
"Baiklah, besok kita pergi kesana"
Sayangnya, bahkan Bayu tidak tahu jika Raina sudah pergi jauh. Soal kepergiannya ini, Raina benar-benar tidak memberitahu siapapun.
Bersambung
Satu kata buat Marvin... Telat!