Elena, seorang gadis yang selalu kalah dan selalu di perlakukan tidak adil. Kini telah menemukan dunia baru, dengan tujuan hidup yang baru.
Mengejar cinta atau mencari harta? Elena akan melakukan keduanya sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dugaan elena
"Elena, meskipun ucapan Kakekmu kasar tapi dia ada benarnya. Apa kau yakin ini menikah dengan seorang anjing Kaisar? hidupmu tidak akan bahagia, dan meskipun memiliki suami dia tidak akan selalu berada di sisimu. Kau hanya akan hidup kesepian seumur hidupmu." Ucap Duke, tidak mau Elena tidak bahagia.
"Apa jeratan itu tidak bisa di putus Ayah?." Tanya Elena lirih.
"Jika Theor memilih darah Ibunya, maka jeratan itu bisa di lepas. Tapi, dia harus hidup di wilayah ibunya berasal." Ucap Duke.
"Memangnya Ibu Theor berasal dari mana?." Tanya Elena.
"Dia seorang putri dari Kekaisaran seberang." Jawab Duke.
"Seberang mana?." Elena bertanya polos.
"Seberang Utara, terhalang lautan besar dari wilayah kita. Jika Theor meminta bantuan dari keluarga Ibu, maka jeratan Kaisar saat ini bisa memudar karena Theor bukan Ayahnya yang bisa di kekang oleh Kaisar. Dia memiliki hak bebas untuk memilih, jadi secara garis besar Theor bukan anjing calon Kaisar." Ucap Duke.
"Tapi, kenapa Theor di tempatkan di sisi Daniel?." Heran Elena.
"Karena Kaisar takut anaknya akan digulingkan, oleh anak dari orang yang dulu dia gulingkan." Ujar Duke.
"Bukankah Kaisar terlalu penakut? dia bahkan ketakutan pada keponakan nya sendiri." Ucap Elena.
"Karena memang berbahaya, kekuatan Theor sebagai pemimpin berada jauh diatas putra mahkota. Hal itu terlihat jelas saat dia bisa hidup makmur di wilayah tandus di castle Utara." Ucap Duke.
"Padahal Theor bisa memilih pergi, kenapa dia menurut saja saat di tugaskan menjadi tangan kanan Daniel?." Gumam Elena berpikir.
"Pasti ada tujuan tertentu, karena itu juga Ayah selalu bilang dia berbahaya. Dia memiliki banyak rahasia, dia bisa menjadi musuh bagi wilayah ini." Ucap Duke.
"Tapi aku hanya akan menikah dengan Theor Ayah, seburuk apapun dia di mata banyak orang aku tidak peduli. Aku akan tetap menatapnya dan berada di belakangnya, keputusan ku sudah bulat." Ucap Elena tegas.
"Elena....
"Aku tau Ayah khawatir aku tidak bahagia, tapi aku sangat yakin jika aku akan bahagia Ayah." Ucap Elena tersenyum ceria.
Duke hanya bisa tersenyum miris, dia tentu saja tidak percaya. Tapi jika dia terus menolak, dia takut akan menyakiti hati putrinya atau gagal mendukung apa yang di inginkan putri semata wayangnya ini.
"Lihat putrimu, Elena sudah besar dan bisa tau mana yang perlu aku lakukan. Tidak ada jalan yang mudah, alasanku memilih Theor karena bagiku dia adalah sosok pria yang baik. Dia melawan dunia sendirian, karena itu aku akan berada di sisinya." Ucap Elena tersenyum penuh keyakinan.
Deg.
Duke tersentak kaget, menatap putrinya yang sudah tumbuh dewasa dan semakin mirip dengan mendiang istrinya. Duke jadi ingat dengan ucapan mendiang istrinya, dulu mereka juga menikah terhalang restu dari Ayah Duke (Kakek Elena).
Duke melawan restu itu, Ibu Elena dengan berani terus maju mencintai Duke dan akhirnya berhasil menikah dan lahirlah Elena. Duke meneteskan air mata, dia baru saja menjadi Ayah yang menahan kebahagiaan anaknya sama seperti Ayahnya di masalalu.
"Maaf.. Elena, pergilah.. kejar cintamu itu." Duke tersenyum, matanya berkaca-kaca.
"Ayah..." Elena jadi sedih.
"Tidak ada yang bisa menghalangi cinta bukan? dulu Ayah dan Ibu juga berjuang keras untuk bersama, hingga kau lahir sebagai bukti cinta kami." Ucap Duke.
"Jadi Ayah merestui?." Elena berbinar.
"Ayah akan mendukung siapapun yang kau cintai, tapi berjanji lah satu hal Elena. Berjanji lah untuk hidup lebih lama dan bahagia, karena itu wasiat Ibumu." Ucap Duke.
"Tentu, aku akan selalu menjadi putri kecil Ayah yang bahagia." Ucap Elena, berlari memeluk Duke.
Elena bersyukur karena memiliki Ayah yang sangat baik, Ayah yang bertanggung jawab, penuh cinta , perhatian dan sikap yang bijaksana. Elena akan membahagiakan Ayahnya, dia tidak akan membiarkan Ayahnya menderita.
"Ayah, berjanji lah untuk tetap menduda." Ucap Elena tiba-tiba.
"Hmm cinta Ayah memang sudah habis untuk Ibumu dan dirimu." Duke terkekeh.
"Intinya jika Kakek menawarkan gadis langsung tolak. Aku memiliki firasat, apa Ayah mempercayai ku?." Ucap Elena serius.
"Ada apa?." Duke penasaran.
"Alasan dulu aku hilang, aku bertemu Theor, kehadiran Isabella yang berasal dari gereja perbatasan. Aku merasakan sebuah benang merah, dan menurutku Kakek terlibat dalam utasan benang ini." Bisik Elena.
"Apa yang kau katakan Elena?." Syok Duke.
"Ayah, ini memang dugaan mentah. Tapi, apa alasan Kakek membawaku tanpa izin hingga menghilang? apa alasan Kakek sangat menentang kedekatan Ayah dan aku?." Ucap Elena.
"Dulu Kakek dan Nenekmu memang menentang pernikahan Ayah. Sampai kau lahir pun mereka masih membenci Ibumu, karena kau lahir sebagai perempuan. Saat aku mendengar kau diajak pergi oleh Kakek dan Nenekmu, tentu saja Ayah merasa sedikit bahagia tapi ternyata kau hilang. Ibumu marah besar, Ayah saat itu sama sekali tidak bisa diandalkan. Ayah hanya bisa duduk diam, mencari sekuat tenaga dan tidak bisa melawan Kakekmu, karena saat itu Ayah belum resmi menjadi kepala keluarga. Ibumu meninggal karena ketidak becusan Ayah, ini semua karena salah Ayah." Duke selalu mengalahkanku dirinya sendiri.
"Apa karena itu Ayah selalu membelaku?." Tanya Elena, cukup terkejut dengan kisah orangtua nya.
"Ya, permintaan terakhir Ibumu hanya ingin kau berumur panjang, bahagia. Lalu dia memintaku untuk membela apapun yang kau lakukan, Ibumu tau kau sendirian sepertinya." Ucap Duke, menyesal sangat mendalam.
"Ayah benar-benar buruk." Ucap Elena.
"Benar." Duke mengakui dengan tidak berdaya.
"Kalau begitu bukankah ucapanku ada benarnya? Kakek pasti sengaja membuatku menghilang. Aku merasakan adanya konspirasi disini, bagaimana jika Ayah mulai mencaritau?." Ucap Elena.
"Ayah akan melakukan penelusuran secara diam-diam dan tertutup. Kakekmu masih memiliki mata-mata disini, karena itu setelah ini kau tetaplah diam dan lakukan aktivitas seperti biasa. Apa kau mengerti?." Ucap Duke mendukung Elena.
"Terimakasih Ayah, tetap jaga kesehatan dan beritahu aku saat menemukan sesuatu. Karena menurutku, masalah ini tidak se mudah yang kita bayangkan." Bisik Elena.
"Ayah mengerti." Duke mengangguk.
Elena tersenyum puas, tapi dia jadi takut Ayahnya di racun atau di bunuh oleh mata-mata Kakeknya. Mengingat sang Kakek memang sangat baidab, Elena harus memastikan Ayahnya berumur panjang agar bisa tenang.
"Bumi, buat teh itu sebagai ramuan ajaib agar Ayahku berumur panjang dan kebal segala jenis racun." Batin Elena, memohon permintaan.
Elena mengambil teh diatas meja, memberikan sedikit gula dan mengaduknya perlahan. Elena memberikan teh itu pada Ayahnya, setelah memastikan Ayahnya meminum itu hati Elena merasa lega.
Setelah pembicaraan serius antara Elena dan Duke berakhir. Kakek benar-benar tidak menyerah, dia mulai mengirim para wanita bangsawan untuk menggoda dan merayu Duke. Bahkan ada yang terang-terangan ingin menjadi Duches, membuat Elena kesal.
"Benar-benar membuatku muak, Ayah pasti tidak bisa menampar mereka karena tata krama bangsawan. Apa boleh buat, aku yang harus turun tangan membuat onar untuk membantu Ayah." Gumam Elena menemukan ide briliant.
"Merida!!! bersiap lah untuk bersenang-senang HAHAHAHAHHAHAHA." Panggil Elena dengan semangat.
"Gawat, nona kembali gila." Batin Merida merinding.
kami tunggu karya selanjutnya💪💪💪💪
terbaik thor 😍
tetap semangat, semoga cepat sembuh dan pulih seperti sedia kala.
utamakan kesehatan 🥰
biar bisa berkarya lagi😍