Selamat datang kembali, Pembaca Setia!
Terima kasih karena telah melangkah sejauh ini bersama Aulia. Jika kamu ada di sini, artinya kamu telah menjadi saksi bisu betapa perihnya luka yang ia simpan selama lima tahun, dan betapa kuatnya ia saat mencoba berdiri di atas kakinya sendiri di buku pertama.
Di "Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2", perjalanan ini akan menjadi lebih menantang. Kita akan menyaksikan bagaimana Aulia mengubah rasa sakitnya menjadi kekuatan, bagaimana rahasia kelam masa lalu mulai terkuak satu per satu, dan ke mana arah hatinya akan berlabuh.
Terima kasih telah setia menanti dan mendukung karya ini. Mari kita lanjutkan perjuangan Aulia sampai akhir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fitnah di Balik Pertolongan
Begitu Violeta tiba di ruang perawatan, Pamela menceritakan kejadian semalam dengan emosi yang meledak-ledak. Namun, alih-alih merasa lega atau berterima kasih pada menantunya, Violeta justru menunjukkan sisi kelamnya. Dengan logika yang diputarbalikkan secara kejam, Violeta menatap putrinya dengan serius dan menanamkan benih kecurigaan baru.
"Pikirkan baik-baik, Pamela. Bagaimana mungkin Aulia bisa tahu kamu dalam bahaya dan membawa obat penawar secepat itu jika dia tidak merencanakannya sendiri?" hasut Violeta dengan suara rendah yang berbisa.
Pamela, yang dasarnya memang memiliki kebencian mendalam terhadap Aulia, langsung menelan mentah-mentah hasutan ibunya. Rasa haru yang sempat ia rasakan di subuh tadi seketika menguap, berganti dengan rasa malu karena sempat merendahkan diri dan memanggil Aulia "Kakak Ipar". Mereka dengan cepat menyimpulkan bahwa Aulia sengaja menjebak Pamela hanya untuk bermain peran sebagai "pahlawan" demi menarik simpati Keluarga Laksmana.
Meskipun Pamela mendesak untuk segera melabrak Aulia di kantor, Violeta jauh lebih licik. Ia menahan putrinya. "Kita tidak punya bukti fisik, Pamela. Dan ingat, sebentar lagi Nenek Trisha akan merayakan ulang tahun ke-70. Jika kita membuat keributan tanpa bukti dan Nenek tahu, posisiku di keluarga besar bisa terancam."
Violeta memilih untuk menyimpan "teori" ini sebagai senjata rahasia, membiarkan Aulia merasa "aman" untuk sementara waktu di atas panggung sandiwaranya sendiri.
Sementara itu, Aulia kembali ke kantor UME dengan langkah tegap, sama sekali tidak menyadari bahwa di rumah sakit, ketulusannya telah diubah menjadi tuduhan kriminal. Ia hanya memacu dirinya dengan dua cangkir kopi hitam dan langsung terjun kembali ke laboratorium. Kesuksesan algoritma bersama Mavin semalam memberinya energi luar biasa; ia tahu ia sedang di ambang sejarah besar.
Namun, di lorong kantor, rintangan lain telah menantinya. Henry, manajer teknis yang sombong, sedang menghitung mundur sisa waktu Aulia. Sudah 20 hari berlalu dari janji satu bulan yang diberikan Aulia, dan Henry sangat yakin wanita itu akan gagal total.
Kelicikan Henry mencapai puncaknya ketika ia mencegat Kepala HR yang sedang membawa map berisi daftar kandidat asisten baru untuk tim riset Aulia. Dengan dalih otoritas teknis, Henry merebut dokumen tersebut dari tangan staf HR.
"Berikan padaku saja. Biar aku yang meninjau. Tidak perlu lewat Aulia dulu agar tidak membuang waktunya," perintah Henry dengan nada otoriter.
Rencana Henry sangat jelas: ia berniat menyabotase tim Aulia dari dalam. Ia tidak akan memilih kandidat terbaik, melainkan orang-orang yang tidak kompeten, lambat, atau bahkan mata-mata setianya sendiri. Ia ingin memastikan bahwa di sepuluh hari terakhir ini, proyek produk baru Aulia benar-benar hancur berantakan.
Aulia kini dikepung dari dua arah yang berbeda. Di satu sisi, Keluarga Laksmana sedang membangun narasi fitnah yang bisa menghancurkan reputasinya secara hukum dan sosial. Di sisi lain, Henry sedang berusaha melumpuhkan "tangan dan kakinya" di dunia kerja melalui asisten-asisten sabotase.
Aulia masih terlalu fokus pada layar monitornya, mengejar kesempurnaan pada lengan robotik yang ia ciptakan. Ia belum menyadari bahwa asisten yang akan masuk ke laboratoriumnya besok pagi adalah "bom waktu" yang dikirimkan Henry.
Bagaimana Aulia akan bereaksi saat menyadari bahwa asisten-asisten barunya justru menghambat pekerjaannya? Dan akankah Rizki cukup waras untuk tidak mempercayai teori konspirasi konyol ibunya, ataukah ia akan kembali menuduh Aulia demi membela martabat keluarganya?
emang apa prestasinya Melati, Ken...
kasihan tau Aulia... udah capek capek mikir, mau di sabotase.
weeeesss angel... angel...
Sampek kurang turu lhooo sangking mau menunjukkan keberhasilan dr tantangan Henry.
Ndak usah mikirin hal hal yg bikin kita jatuh.
padahal tadi yang jemput Pamela di rumah Rizki Khan Violetta.