Serangkaian pembunuhan berantai dengan pola nyaris sempurna mengguncang kota. Tidak ada motif jelas, tidak ada jejak berarti—hanya detail yang tersusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Karina, penyelidik muda dengan insting tajam, ditugaskan memimpin kasus tersebut. Ketika seorang tersangka berhasil ditangkap dan situasi kembali tenang, semua orang percaya permainan telah berakhir.
Kecuali Karina.
Ada celah kecil dalam pola yang mengganggunya. Sebuah kemungkinan bahwa kebenaran belum sepenuhnya terungkap. Semakin ia menyelidiki, semakin ia menyadari bahwa kasus ini bukan hanya tentang menemukan pelaku—melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.
Dan dalam permainan yang dibangun dengan presisi seperti ini, kemenangan mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. A. K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27 - Retakan Halus
Pagi itu tidak benar-benar kacau. Tidak ada korban baru. Tidak ada sirene. Tidak ada tekanan media. Namun satu laporan forensik cukup untuk mengubah ritmenya.
Jam dinding di lokasi korban ketiga diperiksa ulang. Baterainya mati dua hari setelah kejadian, bukan seminggu sebelumnya seperti yang pernah diasumsikan Karina saat interogasi saksi tambahan.
Detail kecil. Sangat kecil.
Namun cukup untuk menggeser satu percakapan.
Karina membaca laporan itu tanpa perubahan ekspresi. Anggota tim yang berdiri di depannya terlihat ragu.
“Bu… berarti asumsi waktu itu—”
“Tidak relevan lagi,” potong Karina tenang.
“Tapi saksi mengubah keterangannya setelah Ibu menyebut jam itu.”
Karina menutup berkas perlahan. “Kesaksiannya memang tidak stabil sejak awal.”
“Kalau pengacara tahu soal ini, mereka bisa memutarbalikkannya.”
Karina menatapnya. Tatapan datar, tidak keras. “Hukum bukan soal satu baterai.”
Ruangan hening beberapa detik.
Ia berdiri. “Kita koreksi laporan internal. Tidak perlu diperbesar.”
“Apakah kita perlu memanggil ulang saksi?”
Pertanyaan itu menggantung.
Secara prosedur, iya. Secara strategis, belum tentu.
Di dalam dirinya ada gangguan tipis. Bukan rasa bersalah. Lebih seperti gesekan kecil dalam mekanisme yang selama ini bergerak mulus.
Jika saksi dipanggil ulang, narasi bisa goyah. Jika tidak, stabilitas tetap terjaga.
Dan stabilitas penting.
“Tidak perlu,” katanya akhirnya. “Kesaksiannya tetap relevan secara keseluruhan.”
Anggota tim itu mengangguk. Tapi kali ini tidak sepenuhnya yakin. Dan Karina menangkap itu. Keraguan bukan pada kasus — melainkan pada caranya.
Menjelang siang, suasana kantor terasa lebih hati-hati. Tidak ada yang membantahnya secara langsung. Namun diskusi menjadi lebih pendek. Pertanyaan terdengar lebih terukur. Orang-orang memilih kata dengan lebih cermat.
Karina menyadarinya.
Ia tidak tersinggung. Ia menganalisis.
Ketika struktur kepemimpinan berubah, respons wajar adalah adaptasi. Ia hanya perlu memastikan adaptasi itu tidak berkembang menjadi resistensi.
Pukul 14.08, pesan masuk.
Kesalahan kecil bukan masalah. Reaksi setelahnya yang menentukan.
Ia tahu itu tentang laporan forensik.
Berarti informasi internal bocor. Atau seseorang memang memantau lebih dekat dari yang ia duga.
Ia membalas singkat.
Kesalahan dikoreksi dalam sistem tertutup.
Balasan datang hampir segera.
Tapi sistemmu tidak sepenuhnya tertutup.
Kalimat itu bukan ancaman. Itu observasi.
Dan observasi berarti ia sedang dinilai lagi.
Menarik.
Ia tidak merasa terpojok. Ia merasa tertantang untuk memperkuat struktur.
Sore hari, salah satu anggota tim meminta bicara secara pribadi.
“Bu, saya hanya ingin memastikan… kita tidak terlalu cepat mengunci narasi.”
“Kamu meragukan konstruksi kasus?” tanya Karina tenang.
“Bukan begitu. Hanya saja… beberapa detail terasa dipaksakan untuk tetap konsisten.”
Dipaksakan.
Kata itu berhenti lebih lama di kepalanya.
Ia memutar ulang percakapan interogasi saksi. Jeda. Asumsi tentang jam. Pergeseran jawaban. Apakah itu paksaan? Atau hanya pengarahan?
“Semua investigasi adalah proses seleksi,” jawabnya akhirnya. “Kita menyaring yang paling stabil.”
“Dan kalau yang stabil itu bukan yang paling benar?”
Untuk sepersekian detik, ia merasakan sesuatu yang sudah lama tidak muncul: keraguan.
Namun hanya sepersekian detik.
“Kebenaran di pengadilan adalah yang bisa dibuktikan,” katanya pelan.
Rekannya tidak membantah. Tapi juga tidak sepenuhnya setuju.
Dan ketika pintu tertutup kembali, ruangan terasa lebih sunyi dari biasanya.
Malam itu di rumahnya, Karina membuka kembali laporan forensik. Ia mencoba membaca tanpa defensif. Dua hari setelah kejadian. Bukan seminggu.
Detail kecil.
Namun cukup untuk membuat satu momen interogasi terasa berbeda jika diputar ulang.
Ia membayangkan dirinya sebagai pengacara pembela.
“Penyelidik membangun asumsi yang belum terverifikasi.”
Kalimat itu terdengar tajam.
Ia menghela napas pelan. Apakah ia tergelincir? Atau hanya terlalu cepat memastikan pola?
Ponselnya bergetar.
Retakan selalu dimulai dari hal kecil.
Ia menatap layar cukup lama sebelum membalas.
Tidak semua retakan menghancurkan. Beberapa memperkuat struktur.
Balasan datang.
Kita lihat saja.
Untuk pertama kalinya sejak kata “permainan” muncul, ia tidak sepenuhnya merasa berada di atas papan.
Bukan karena ia kalah.
Tapi karena ia menyadari permainan ini bukan hanya tentang menggerakkan orang lain.
Ini juga tentang bagaimana seseorang bergerak ketika struktur mulai bergeser.
Dan hari ini, struktur itu sedikit bergeser.
Tengah malam, ia berdiri di depan jendela. Refleksinya di kaca tampak lebih tajam dalam cahaya kota yang redup.
“Stabilitas harus dijaga,” gumamnya pelan.
Kalimat itu terdengar benar. Rasional. Masuk akal.
Namun untuk pertama kalinya, ia tidak sepenuhnya yakin apakah ia sedang menjaga sistem—
atau menjaga keputusan yang telah ia buat.
Di luar, hujan turun tipis.
Retakan itu belum terlihat dari luar.
Tapi ia sudah ada.
smg karina selamat. ternyata yg jahat org terdekat. Keren thor semangat y