Di balik rak-rak kayu ek yang menjulang tinggi, Genevieve Isolde Clara adalah cahaya yang tak pernah padam. Sebagai pustakawan, ia dikenal karena senyumnya yang merekah bagi siapa saja dan keramahannya yang membuat siapa pun merasa diterima. Namun, keceriaan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi luka batin yang sangat dalam. Genevieve adalah ahli dalam berpura-pura—ia membalut rasa sakitnya dengan tawa, memastikan dunia melihatnya sebagai gadis yang paling bahagia, meski hatinya perlahan hancur dalam kesunyian.
Kehidupan Genevieve yang penuh kepura-puraan terusik ketika Valerius Theodore Lucien muncul. Valerius adalah seorang pria dengan aura bangsawan kuno, pucat, dan memiliki tatapan yang seolah bisa menembus waktu—ia adalah seorang vampir yang telah hidup berabad-abad. Sejak pertama kali melihat Genevieve, Valerius merasakan sesuatu yang janggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Kelelahan yang Tak Wajar
Begitu deru langkah kaki Julian menghilang di kejauhan dan bunyi kunci pintu depan sudah terpasang, Genevieve tidak lagi peduli pada etika atau kebersihan.
Ia menyeret langkahnya yang terasa seberat timah menuju lantai atas. Kamar lotengnya menyambutnya dengan sisa aroma semprotan anti serangga yang tajam, bercampur dengan udara dingin yang entah bagaimana selalu berhasil menyelinap masuk.
Tanpa mengganti baju, Genevieve langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Bodoh..." gumamnya pada diri sendiri sambil memejamkan mata erat-rebat. "Benar-benar bodoh."
Rasa nyeri di leher dan dadanya kini berdenyut lebih hebat, dipicu oleh aktivitasnya yang memaksa tubuh untuk bergerak normal di saat jaringan kulitnya sedang mengalami "trauma" yang ia sendiri belum pahami sepenuhnya.
Setiap kali ia bernapas, gesekan kain turtleneck-nya dengan jejak-jejak merah itu terasa seperti amplas halus yang menyakitkan.
Secara logika, ia seharusnya merasa segar. Ia sudah tidur hampir setengah hari penuh.
Namun, kenyataannya justru sebaliknya; ia merasa seolah-olah seluruh energinya telah dikuras habis, seolah-olah ada sesuatu yang menghisap vitalitasnya selama ia terlelap tadi siang. Makan malam dengan Julian yang tadinya ia harapkan bisa menjadi pelarian, justru berakhir menjadi beban mental yang melelahkan.
"Kenapa aku lemas sekali..." bisiknya parau.
Ia menyentuh kembali ceruk lehernya yang panas. Di bawah ujung jarinya, ia bisa merasakan denyut jantungnya yang tidak beraturan.
Rasa lelah yang luar biasa ini terasa tidak wajar, seolah tubuhnya sedang bereaksi terhadap "racun" yang manis.
Di dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi cahaya bulan yang pucat, Genevieve tidak menyadari bahwa bayangannya di dinding tampak lebih gelap dan lebih besar dari seharusnya.
Di sudut ruangan, sosok yang sedari tadi mengikuti langkahnya dari restoran kini berdiri diam, memperhatikan gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan—antara rasa bersalah dan keinginan untuk kembali memiliki.
Valerius tahu kenapa Genevieve begitu lelah.
Ia tahu bahwa setiap hisapan dan cumbuannya semalam tidak hanya meninggalkan tanda, tapi juga menarik sebagian dari kehidupan Genevieve ke dalam dirinya.
Genevieve benar-benar berada di titik nadir energinya. Rasa kantuk yang menyerangnya kali ini tidak terasa seperti keinginan untuk beristirahat, melainkan seperti sebuah paksaan dari alam bawah sadar yang menariknya jatuh ke jurang kegelapan.
Ia bahkan tidak sanggup untuk sekadar melepas sepatu atau mengganti sweter turtleneck-nya yang menyesakkan.
Dengan posisi masih mengenakan pakaian lengkap dan syal yang sedikit melilit leher, ia jatuh terlelap di atas selimut.
Keheningan malam itu terasa begitu berat. Suara detak jam dinding di bawah terdengar seperti hantaman palu di telinga Valerius yang kini sudah berdiri tepat di samping tempat tidur.
Ia menatap wajah Genevieve yang tampak menderita dalam tidurnya; alis gadis itu bertaut, dan napasnya pendek-pendek karena rasa nyeri yang masih berdenyut di bawah kain pakaiannya.
"Kau terlalu memaksakan diri, Puan kecil," bisik Valerius dengan nada yang bergetar antara amarah pada Julian dan rasa kasihan pada Genevieve.
Tangan dingin Valerius terangkat, ragu sejenak, sebelum akhirnya jemari pucatnya mulai melepas ikatan syal Genevieve dengan kelembutan yang luar biasa. Ia tidak ingin gadis itu tercekik saat tidur.
Saat kain itu terlepas, terlihatlah tanda-tanda merah ungu yang ia buat tadi siang—sekarang tampak lebih gelap dan meradang di bawah cahaya bulan.
Valerius mendesis pelan, ada rasa lapar yang mendadak bangkit melihat hasil karyanya sendiri, namun ia menekannya. Ia tahu pakaian yang dikenakan Genevieve saat ini terlalu kaku dan membuat gadis itu tidak nyaman.
Dengan kekuatan yang hampir tak terasa, Valerius mulai membuka kancing mantel luar Genevieve, memastikan setiap gerakannya tidak mengejutkan tubuh yang sedang kelelahan itu. Ia tidak akan pergi malam ini.
Ia akan memastikan bahwa setiap rasa nyeri yang dirasakan Genevieve akibat perbuatannya, akan ia tukar dengan perlindungan yang paling kelam.
Valerius bergerak dengan presisi seorang pemahat yang sedang menangani porselen paling rapuh di dunia.
Baginya, pakaian kaku yang dikenakan Genevieve untuk menemui Julian adalah sebuah penghinaan terhadap kulit indah yang baru saja ia tandai.
Dengan gerakan jemari yang sangat halus, ia mulai melepas sweter turtleneck yang menyiksa itu, memastikan tidak ada gesekan kasar yang akan memperparah rasa nyeri di leher sang gadis.
Saat kain itu terlepas, pemandangan di bawah cahaya bulan membuat napas Valerius tertahan. Jejak-jejak kemerahan yang ia tinggalkan tadi siang tampak kontras di atas kulit yang putih pucat.
"Kau tidak seharusnya memakai pakaian seperti ini untuk menutupiku," bisik Valerius serak.
Ia meraih gaun tidur sutra tipis milik Genevieve yang tersampir di kursi.
Dengan sangat hati-hati, ia mengangkat tubuh lemas Genevieve—yang terasa seringan bulu di lengannya yang kuat—dan memakaikan gaun itu. Setiap kali jemari dinginnya bersentuhan dengan kulit hangat Genevieve, sang monster merasakan sengatan listrik yang membuatnya semakin candu.
Setelah pakaian itu terganti, Valerius tidak segera menjauh. Ia justru membaringkan kembali Genevieve dan ikut merebahkan diri di sampingnya.
Gaun tidur yang tipis itu kini memperlihatkan dengan jelas tanda-tanda "kepemilikan" Valerius di area dada dan leher Genevieve.
keren
cerita nya manis