Dijuluki "Sampah Abadi" dan dicampakkan kekasihnya demi si jenius Ma Yingjie tak membuat si gila kekuatan Ji Zhen menyerah. Di puncak dinginnya Gunung Bingfeng, ia mengikat kontrak darah dengan Zulong sang Dewa Naga Keabadian demi menjadi kultivator terkuat.
"Dunia ingin aku merangkak? Maka aku akan menaklukkannya lebih dulu!"
[Like, vote dan komentar sangat bermanfaat bagi kelanjutan cerita. Selamat membaca]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Hutang Nyawa
“Kau sudah baikan?”
Ji Zhen membuka mata dengan berat, merasakan dinginnya tanah yang lembap menembus jubahnya. Cahaya fajar menembus kabut tebal Hutan Guyun, menyilaukan pandangannya yang masih buram. Ia mencoba menggerakkan tangan, namun rasa nyeri di punggungnya meledak, memaksanya meringis. Di depannya, gadis yang ia tolong kemarin duduk bersila, menjaga jarak yang sopan meski waspada.
“Kau… selamat. Kenapa kau ke sini?” suara Ji Zhen keluar serak, lebih mirip gesekan batu daripada suara manusia.
Yun Xia menarik napas panjang, menatap Ji Zhen dengan sorot mata yang dipenuhi rasa syukur sekaligus keheranan. “Karena kau yang menyelamatkan nyawaku, ingat? Tanpa kabut itu, aku sudah jadi makanan harimau. Aku tidak terbiasa meninggalkan orang yang sudah bertaruh nyawa untukku.”
Ji Zhen tertawa pelan, sebuah tawa yang berakhir dengan batuk berdarah. Ia menyeka bibirnya dengan punggung tangan. “Bertaruh nyawa? Jangan salah paham. Aku bertaruh untuk tas obatmu, bukan untuk nyawamu.”
Gadis itu lantas tertegun sejenak, lalu tersenyum tipis. Ia merogoh tas kulitnya dan mengeluarkan sepotong daging kering serta sebotol air dari bambu. “Apapun alasanmu, hasilnya sama. Aku masih hidup. Jadi makanlah, kau butuh tenaga untuk berdiri.”
Ji Zhen menerima makanan itu tanpa banyak bicara. Rasa lapar yang melilit perutnya jauh lebih mendesak daripada harga dirinya. Sambil mengunyah, ia memperhatikan gadis di depannya. Pakaian yang berwarna merah marun sudah kelewat kotor, namun martabat di wajahnya tidak hilang.
“Namaku Yun Xia,” ucapnya. “Dan aku tahu kau bukan murid sembarangan. Teknik es tadi… itu bukan teknik dasar sekte mana pun di sekitar sini.”
“Ji Zhen,” balasnya singkat. “Aku di sini untuk mengumpulkan Bunga Kabut Merah. Tugas sialan dari sekte untuk membunuhku secara halus.”
Mendengar itu Yun Xia hanya bisa mengangguk, seolah memahami politik busuk semacam itu. “Aku juga sedang melarikan diri. Aku kabur dari Klan Yun di Kota Nancheng. Ayahku ingin menjualku melalui pernikahan paksa dengan seorang kultivator tua yang sudah bau tanah demi aliansi politik. Aku menolak menjadi pion, jadi aku curi harta klan seperti pil, batu qi, dan beberapa manual teknik, lalu lari ke hutan ini. Entah apa yang aku pikirkan, tapi aku tidak menyesalinya.”
Ji Zhen menelan daging kering yang keras itu. Otaknya yang pragmatis mulai bekerja, menghitung setiap kemungkinan. “Klan Yun pasti mengirim pemburu. Kau tahu sejauh mana tingkatan mereka?”
“Mungkin Pembentukan Fondasi,” jawab Yun Xia dengan wajah serius. “Mereka tidak akan membiarkan harta klan dan wajah mereka hilang begitu saja.”
Ji Zhen terdiam. Melawan Pembentukan Fondasi dalam kondisinya yang sekarang adalah kegilaan murni. Namun, ia melihat tas obat Yun Xia. Ada pil pengumpul qi di sana, sesuatu yang ia butuhkan untuk memperbaiki meridiannya yang robek.
“Aku akan membantumu keluar dari hutan ini,” ucap Ji Zhen dengan mata yang berkilat tajam. “Tapi aku ingin bagian dari harta yang kau bawa. Aku tidak bekerja secara gratis.”
Yun Xia tidak terlihat marah. Ia justru merasa lega. “Kesepakatan yang adil. Aku juga butuh seseorang yang paham medan dan bisa memberikan perlawanan seperti kemarin.”
Selama dua hari berikutnya, mereka pun bergerak di antara bayangan pepohonan raksasa. Yun Xia ternyata memiliki pemahaman luar biasa tentang herbal. Saat mereka beristirahat di bawah gua batu, ia mengeluarkan beberapa helai daun hijau tertentu dan menumbuknya.
“Sini, balikkan badanmu,” perintah Yun Xia. “Luka di punggungmu itu mulai memburuk. Jika tidak diobati, dagingmu bisa membusuk.”
Ji Zhen ragu sejenak. Ia tidak terbiasa disentuh orang lain, apalagi dalam kondisi lemah. Saat Yun Xia mulai mengoleskan ramuan dingin itu ke punggungnya, Ji Zhen merasakan jemari gadis itu yang lembut menyentuh kulitnya yang kasar. Ada sensasi aneh yang membuatnya kikuk, sebuah kecanggungan yang jarang ia rasakan.
“Memalukan, lihatlah pahlawan kita,” suara Zulong bergema di dalam kepalanya, penuh nada ejekan. “Menikmati perhatian dari seorang gadis cantik sementara meridianmu hampir hancur? Kau benar-benar punya prioritas yang menarik, Bocah.”
“Diam kau, ular sawah!” umpat Ji Zhen tanpa sadar.
Yun Xia menghentikan tangannya, wajahnya tampak bingung. “Kau bicara dengan siapa?”
Ji Zhen berdehem, wajahnya memerah. “Nggak ada… hanya angin! Udara dingin di sini membuatku berbicara sendiri saking kesalnya.” Ia segera meraih wadah ramuan itu dari tangan Yun Xia. “Sudah, biar aku oleskan sisanya sendiri. Aku tidak butuh pelayan.”
Sambil tersenyum tipis, Yun Xia mengangkat bahu, berpindah duduk untuk membersihkan pedangnya. Sementara Ji Zhen berjuang mengoleskan sisa ramuan ke bagian punggung yang sulit dijangkau, gerakannya kaku dan terlihat konyol. Zulong tertawa terbahak-bahak di dalam kesadarannya, membuat Ji Zhen semakin geram.
Perjalanan pun berlanjut hingga mereka mencapai wilayah rawa yang luas. Air hitam yang berbau busuk menghalangi jalan. Ji Zhen memejamkan matanya, menarik qi naga yang tersisa di pusat energinya. Rasa sakit kembali menusuk meridiannya, namun ia menahannya.
“Ikuti jejakku,” ucap Ji Zhen.
Ia menghentakkan kakinya ke permukaan rawa. Kekuatan Dao Es mengalir, membekukan air hitam itu menjadi jalur kristal yang tebal dan kokoh. Mereka berlari di atas jalur es tersebut, menghindari buaya rawa yang mencoba melompat dari balik lumpur.
Saat matahari mulai terbenam di ufuk barat, vegetasi hutan mulai menipis. Mereka sampai di batas terluar Hutan Guyun. Yun Xia berhenti di bawah pohon besar, menatap jalan setapak berliku-liku.
“Kita sampai,” ucap Yun Xia. Ia membuka tasnya dan memberikan tiga botol kecil berisi cairan hijau bening serta dua gulungan kertas tua kepada Ji Zhen. “Tiga Pil Pengumpul Qi Menengah dan dua manual teknik klan yang aku curi. Ini bagianmu.”
Meski sempat terkejut dengan pemberian sebanyak itu, Ji Zhen menerima barang-barang itu tanpa protes. Matanya memeriksa kualitas pil tersebut, ini jauh lebih baik daripada sampah yang diberikan sekte.
“Jika kau butuh bantuan atau ingin menjual barang-barang, cari aku di Penginapan Awan Merah Kota Nancheng. Aku akan berada di sana dengan identitas baru,” janji Yun Xia. Ia menatap Ji Zhen cukup lama sebelum akhirnya berbalik dan pergi melewati jalan setapak.
Di sana, Ji Zhen berdiri sendirian di pinggir hutan, menggenggam harta barunya. Ia menyimpan bunga Kabut Merah di tasnya, siap untuk kembali ke Sekte Qingyun.
“Gadis yang cerdas,” komentar Zulong, kini muncul dalam bentuk spiritual kecil di samping bahu Ji Zhen. “Dia aset yang bagus untuk masa depanmu. Cantik, paham obat, dan punya dendam pada klannya. Kau harus menjaganya dengan baik.”
Ji Zhen mendengus, melangkah menuju arah sekte dengan wajah dingin. “Dia bukan ‘gadisku’, Ular sawah. Dia hanya mitra bisnis. Fokus utamaku adalah menjadi nomor satu di dunia ini, bukan memikirkan urusan wanita yang hanya akan memperlambat langkahku.”
“Hmph, kita lihat saja seberapa lama hatimu yang membeku itu bisa bertahan,” goda Zulong sebelum menghilang kembali ke dalam jiwa Ji Zhen.
Ji Zhen memandang puncak gunung tempat Sekte Qingyun berdiri dari kejauhan. Ia tahu, kembalinya dia dengan bunga ini akan memicu badai gosip dan sabotase baru. Ma Yingjie dan pengikutnya pasti sudah menunggunya dengan taring.
“Tertawalah selagi bisa,” gumam Ji Zhen sambil menyentuh pil pengumpul qi di sakunya. “Karena kali ini, aku akan membuka mata kalian lebih lebar, dengan Dao Es yang tak tertandingi.”