Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Benih yang Bersemi di Tanah Baru
Kemenangan besar atas dinasti Mahendra tidak membuat Desa Sukamaju lantas menjadi surga dalam semalam. Justru, bagi Rian dan Gia, euforia itu hanyalah garis start bagi maraton yang lebih panjang. Tiga bulan setelah peristiwa di Jakarta, "Naga Tua" memang sudah mendekam di balik teruji besi, namun ekor-ekornya masih menyisakan kekacauan di lapangan. Proyek vila yang mangkrak di lereng utara kini menjadi kerangka beton raksasa yang menyeramkan, dan sengketa lahan itu masih dalam proses administrasi negara yang lamban.
Pagi itu, Rian berdiri di balkon lantai dua Balai Kreatif yang pengerjaannya sudah mencapai delapan puluh persen. Atap sirap kayunya sudah terpasang sempurna, memberikan aroma hutan yang menenangkan. Rian mengusap cincin perak di jari manisnya—sebuah kebiasaan baru yang selalu ia lakukan setiap kali merasa cemas atau bersemangat.
"Mas Rian! Ada tamu dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di bawah!" teriak Jon dari halaman.
Rian segera turun. Di sana, seorang wanita paruh baya dengan pakaian seragam yang sangat rapi sedang mengamati detail sambungan kayu pada tiang utama bangunan tersebut.
"Konstruksi yang luar biasa, Mas Rian," ujar wanita itu, Ibu Sari. "Saya baru kali ini melihat gedung publik yang menggunakan teknik interlocking kayu tanpa paku sebanyak ini di daerah pedesaan. Sangat tahan gempa dan estetik."
Rian tersenyum, menyalami tamunya dengan sopan. "Terima kasih, Bu Sari. Kami ingin bangunan ini menjadi bukti bahwa ilmu arsitektur tinggi bisa diaplikasikan dengan material lokal. Ini bukan sekadar sekolah, tapi laboratorium hidup buat warga."
"Itulah alasan saya di sini," sahut Ibu Sari serius. "Pemerintah melihat potensi Balai Kreatif ini sebagai pilot project untuk pendidikan vokasi berbasis desa. Kami ingin memberikan akreditasi resmi. Tapi, ada satu syarat."
Rian menaikkan sebelah alisnya. "Syarat apa itu, Bu?"
"Kalian harus memiliki kurikulum yang tersertifikasi dan minimal satu tenaga ahli berlisensi internasional di bidang pengolahan hasil bumi. Dalam hal ini, kopi."
Rian langsung teringat Gia. Gia memang ahli dalam pemasaran dan memiliki lidah yang tajam soal rasa, tapi untuk sertifikasi Q-Grader internasional? Itu butuh pelatihan intensif dan ujian yang sangat ketat di kota besar.
Sementara itu, di Kedai Harapan, Gia sedang menghadapi tantangan yang berbeda. Kedainya kini bukan lagi sekadar tempat minum kopi warga desa. Berita tentang kejatuhan Mahendra dan peran strategis kedai ini membuat banyak turis lokal dan pengusaha kopi dari kota mulai berdatangan.
"Mbak Gia, kopinya enak, tapi kenapa menunya terbatas sekali?" tanya seorang pengunjung yang mengenakan kemeja bermerek. "Di Jakarta, kami biasa minum specialty coffee dengan berbagai metode manual brew yang lebih variatif. Sayang sekali kalau tempat seindah ini hanya menyajikan kopi tubruk dan jahe."
Gia tersenyum ramah, tapi dalam hati ia merasa tersenggol. Ia tahu betul cara menyeduh kopi yang modern, tapi ia kekurangan peralatan dan waktu karena selama ini fokus pada perjuangan fisik melawan Mahendra.
Begitu kedai sepi di jam istirahat siang, Rian datang membawa kabar dari Ibu Sari. Mereka duduk berdua di bar, menikmati sepi yang jarang mereka dapatkan belakangan ini.
"Sertifikasi internasional?" Gia mengulang ucapan Rian dengan nada ragu. "Rian, aku sudah lama nggak pegang literatur teknis soal botani kopi dan kimia ekstraksi. Ujiannya itu mahal dan susah."
"Aku tahu, Neng. Tapi ini tiket kita buat bikin Sukamaju nggak bisa lagi diremehkan orang kota. Kalau Balai Kreatif dapet akreditasi, kita bisa dapet bantuan alat-alat laboratorium dari negara. Kita nggak perlu lagi bergantung sama 'investor' macam Erlangga," Rian menggenggam tangan Gia.
Gia menatap cincin di jarinya. "Kamu sendiri? Kamu juga harus urus lisensi arsitekmu yang sempat dicabut gara-gara fitnah itu, kan?"
"Aku sudah mulai urus. Maya sedang bantuin prosesnya di asosiasi. Sebulan lagi aku harus ke Jakarta buat sidang kode etik. Kita akan berjuang bareng, Gia. Kamu di dunia kopi, aku di dunia bangunan."
Gia menghela napas panjang, lalu tersenyum mantap. "Oke. Kalau arsiteknya saja berani bertaruh nyawa di jembatan kayu, baristanya nggak boleh kalah cuma gara-gara ujian kertas."
Namun, rencana mereka mulai mendapat gangguan baru. Saat sore hari, sebuah surat somasi datang ke Kedai Harapan. Surat itu bukan dari Mahendra, melainkan dari sebuah firma hukum yang mewakili "Ahli Waris Lahan Lereng Utara".
Isinya menyatakan bahwa sumber air "Mata Air Buta" yang selama ini digunakan warga secara hukum berada di bawah kepemilikan pribadi keluarga tertentu yang baru saja muncul mengklaim tanah tersebut. Warga dilarang mengambil air tanpa membayar royalti bulanan yang nilainya sangat tidak masuk akal.
"Siapa lagi ini, Rian? Bukannya Mahendra sudah habis?" tanya Pak Jaya dengan wajah cemas.
Rian memeriksa dokumen itu dengan teliti. "Ini taktik lama, Pak. Shell company. Mahendra mungkin dipenjara, tapi pengacara-pengacaranya masih punya ribuan cara buat balas dendam. Mereka pakai nama pihak ketiga supaya nggak kelihatan kalau ini serangan personal."
"Apa kita harus perang lagi?" tanya Jon yang baru datang membawa cangkulnya.
Rian menggeleng. "Kali ini kita nggak pakai otot atau sabotase, Jon. Kita pakai sistem. Mereka mau main di ranah hukum properti, kita ladeni. Tapi sementara itu, kita harus pastikan akreditasi Balai Kreatif turun secepatnya. Kalau sekolah ini sudah resmi jadi objek vital pendidikan di bawah negara, mereka nggak akan berani memutus akses air ke sini."
Kesibukan pun meningkat dua kali lipat. Rian siang malam berkutat dengan dokumen teknis bangunan, sementara Gia mulai belajar kembali. Meja bar yang biasanya penuh dengan cangkir kini penuh dengan buku-buku tebal tentang Coffee Sensory Analysis dan tabel periodik kimia air.
Tantangan muncul saat Gia harus melakukan latihan cupping (uji rasa) dengan berbagai jenis kopi dari seluruh nusantara. Lidahnya harus mampu membedakan aroma citrus, nutty, hingga berry dengan akurasi 99%.
"Rian, ini kopi kelima belas hari ini dan aku rasa lidahku sudah mati rasa," keluh Gia pada suatu malam pukul dua dini hari.
Rian yang sedang menggambar detail sanitasi sekolah di sampingnya, meletakkan pensilnya. Ia bangkit dan memijat bahu Gia. "Istirahat dulu, Neng. Jangan dipaksa. Coba minum air putih banyak-banyak. Besok kita ke kebun kopi Pak Haji, kita belajar langsung dari pohonnya. Teori itu cuma bayangan, wujud aslinya ada di tanah."
Keesokan harinya, di bawah rimbunnya pohon kopi Arabika yang mulai memerah, Rian dan Gia belajar bersama. Rian membantu Gia mengukur tingkat keasaman tanah menggunakan alat digital sederhana, sementara Gia menjelaskan tentang pengaruh naungan pohon lamtoro terhadap rasa kopi.
Di tengah kebersamaan itu, sebuah drone kecil tampak terbang rendah di atas mereka. Rian segera menyadarinya. Ia mengambil sebuah batu dan melemparnya dengan akurasi yang luar biasa hingga drone itu jatuh tersangkut di dahan pohon.
"Mereka masih mengawasi kita," bisik Rian, mengambil drone yang sudah rusak itu.
Di kaki drone tersebut, ada sebuah stiker kecil bergambar kalajengking. Rian tertegun. Itu bukan logo Mahendra. Itu adalah logo kelompok "Scorpio", sebuah firma keamanan swasta yang sering dipakai oleh taipan real estat di Jakarta untuk urusan penggusuran lahan secara paksa.
"Gia, musuh kita kali ini bukan cuma orang yang dendam," ujar Rian, wajahnya berubah sangat serius. "Sepertinya lahan lereng utara itu mengandung sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar lokasi vila. Ada alasan kenapa mereka ngotot banget mau menguasai air dan tanah di sini."
Gia menatap bukit di atas mereka. "Apa mungkin ada tambang, Rian?"
"Mungkin. Atau mungkin sesuatu yang lebih strategis. Apapun itu, Sukamaju sekarang sedang berdiri di atas harta karun yang mengundang pemangsa baru."
Malam itu, Rian tidak tidur. Ia mulai meretas kembali data-data lama Danu yang sempat ia simpan. Ia mencari peta geologi bawah tanah Sukamaju yang lebih mendalam. Setelah berjam-jam melakukan pencarian, ia menemukan sebuah arsip digital yang disembunyikan dalam folder bernama "Bening".
Isinya adalah laporan eksplorasi mineral langka yang hanya ditemukan di daerah dengan aktivitas vulkanik purba—seperti lereng Sukamaju. Mineral itu sangat dibutuhkan untuk industri baterai mobil listrik masa depan.
"Jadi ini alasannya," gumam Rian. "Bukan soal kopi, bukan soal vila. Tapi soal kekuasaan energi."
Rian menatap Gia yang tertidur di kursi sampingnya dengan buku kopi yang masih terbuka di pangkuannya. Ia tahu, perjuangan mereka baru saja naik kelas. Mereka bukan lagi melawan preman korporat kelas teri, tapi melawan kepentingan industri global yang tidak akan ragu meratakan sebuah desa demi keuntungan triliunan rupiah.
"Aku nggak akan biarin mereka nyentuh tanah ini, Gia. Meskipun aku harus jadi arsitek paling dibenci oleh dunia industri," bisik Rian sambil menyelimuti Gia.
Di kejauhan, lampu-lampu mobil mulai terlihat mendaki lereng utara. Bukan mobil sedan merah Erlangga, melainkan deretan truk-truk berat yang membawa alat berat ekskavasi. Perang memperebutkan Sukamaju tahap kedua telah dimulai, dan kali ini, musuhnya jauh lebih besar dan tak kasat mata.