NovelToon NovelToon
A Story'Of Us

A Story'Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Cintapertama
Popularitas:7
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 11

Matahari pagi mulai terasa menyengat di area lapangan upacara SMA Garuda Bangsa.

Di bawah pengawasan ketat Aria Putri dan beberapa anggota OSIS lainnya, barisan murid yang terjaring razia atribut berdiri dengan kepala tertunduk.

Di tengah-tengah mereka, Sasha Arka berdiri dengan rahang mengeras, menatap aspal lapangan seolah ingin menghancurkannya.

"Semuanya, posisi push-up!" perintah Aria dengan suara yang jernih namun tidak terbantahkan.

"Tiga puluh kali. Lakukan dengan benar atau hitungan akan diulang dari awal."

Sasha mendengus keras, memberikan tatapan membunuh ke arah Aria yang berdiri hanya beberapa meter darinya. "Kau benar-benar berniat menyiksaku pagi-pagi begini?"

Aria tidak bergeming, ia melirik jam tangannya. "Satu... dua... mulai! Jika kau punya energi untuk protes, berarti kau punya energi untuk melakukannya lebih cepat, Sasha."

Terpaksa, Sasha menjatuhkan tubuhnya ke posisi push-up.

Tangannya yang biasanya digunakan untuk menghajar preman kini harus menahan beban tubuhnya di atas aspal yang mulai panas.

*Satu... dua... sepuluh...* Keringat mulai bercucuran dari pelipisnya. Ia bisa mendengar napas terengah-engah dari murid lain di sekitarnya yang sudah mulai kelelahan,

namun Sasha melakukannya dengan gerakan yang eksplosif dan penuh kemarahan. Baginya, setiap dorongan ke atas adalah bentuk pelampiasan atas rasa malunya karena harus dihukum di depan umum.

Setelah menyelesaikan hitungan ke tiga puluh, Sasha bangkit dengan kasar. Ia menyeka keringat di dahinya dengan lengan kemeja.

"Sudah puas?" desis Sasha saat melewati Aria untuk mengambil tasnya.

"Gunakan waktumu untuk mengambil jas dan dasi di ruang logistik setelah ini. Sekarang, masuk ke kelas," sahut Aria tanpa menoleh, sibuk mencatat nama-nama pelanggar di bukunya.

---

Sasha berjalan menuju kelas 3-1 dengan langkah yang menghentak-hentak. Mood-nya benar-benar hancur. Bukan karena push-up itu—tenaganya jauh lebih dari cukup—tapi karena harga dirinya yang terus-menerus digerus oleh aturan kaku Aria.

Di dalam kelas, jam pelajaran Biologi sudah dimulai.

Pak Burhan sedang menjelaskan struktur sel di papan tulis saat pintu terbuka dengan suara yang cukup keras. Sasha masuk tanpa ekspresi.

"Sasha Arka? Kenapa baru masuk?" tanya Pak Burhan sambil menurunkan kacamatanya.

Sasha tidak menjawab secara lisan. Ia melangkah menuju meja guru dan menyodorkan secarik kertas merah—surat izin masuk dari OSIS yang menandakan ia telah menyelesaikan sanksinya.

Pak Burhan menerima kertas itu, membacanya sebentar, lalu menghela napas.

"Ya sudah, duduk. Jangan diulangi lagi," ucap Pak Burhan.

Sasha berjalan menuju kursi pojok belakangnya. Ia menjatuhkan tasnya ke lantai dengan bunyi *brukk* yang mengundang perhatian teman sekelasnya.

Ia duduk dengan posisi merosot, menyandarkan punggungnya dalam-dalam, dan melipat tangan di dada.

Matanya menatap tajam ke depan, tepat ke arah punggung Aria Putri yang duduk rapi di barisan depan seolah tidak terjadi apa pun.

Atmosfer di sekitar meja Sasha terasa sangat dingin dan mencekam.

Siapa pun yang melihat wajahnya saat itu tahu bahwa sang berandalan sekolah sedang berada dalam kondisi *bad mood* tingkat tinggi, dan satu gangguan kecil saja bisa memicu ledakan besar di tengah pelajaran Biologi tersebut.

---

Bel istirahat yang diharapkan tak kunjung tiba. Setelah Pak Burhan merapikan buku-buku Biologinya,

ia mengumumkan bahwa guru Matematika sedang ada rapat mendadak. Namun, bukannya jam kosong yang menyenangkan, kelas 3-1 justru diberikan tumpukan soal logaritma yang harus diselesaikan dan dikumpulkan sebelum jam sekolah berakhir.

Suasana kelas langsung riuh dengan keluhan. Sasha, yang suasana hatinya sudah buruk sejak hukuman di lapangan tadi, langsung menyandarkan kepalanya di atas meja.

Ia menutup wajah dengan lengannya, berniat untuk menghilang dari realitas pelajaran yang memuakkan ini.

Baginya, angka-angka itu lebih menyakitkan daripada pukulan preman kemarin sore.

Namun, ketenangannya terusik oleh suara derit kaki kursi yang ditarik di aspal lantai kelas.

Sasha mendongak sedikit dan menemukan Aria sudah duduk tepat di samping mejanya. Aria membawa kursinya sendiri, lengkap dengan buku catatan tebal dan pena yang sudah siap beraksi.

Sasha mengernyitkan dahi, menatap Aria dengan tatapan penuh permusuhan. "Ada apa lagi ini? Tidak cukup kau menyiksaku di lapangan tadi pagi?"

Aria tidak terpengaruh oleh nada ketus itu. Ia membuka buku paket Matematika di hadapan Sasha dan menyodorkan selembar kertas kosong. "Guru meminta kita mengerjakan soal, bukan tidur. Ini bisa dijadikan latihan soal untukmu. Anggap saja ini cicilan les privat kita agar nanti di rumah kau tidak terlalu terbebani."

"Aku tidak mau," jawab Sasha singkat, lalu kembali menelungkupkan kepalanya.

Aria menghela napas, suaranya tetap tenang namun menuntut. "Sasha, nilai matematikamu di bawah lima. Jika kau tidak mengerjakan ini sekarang, aku akan melaporkan pada wali kelas bahwa kau menolak mengerjakan tugas kelas. Kau mau dijemur lagi?"

Sasha tersentak bangun. Ia menatap Aria dengan gigi bergeletuk. "Kau benar-benar tukang lapor ya, Tuan Putri? Kau pikir aku takut?"

"Aku tidak mencoba menakutimu. Aku mencoba membantumu agar tidak tinggal kelas," balas Aria sambil menunjuk soal nomor satu. "Lihat ini. Ini sederhana kalau kau tahu konsep dasarnya. Sini, aku tunjukkan cara cepatnya."

Sasha mendengus keras, menunjukkan rasa malas yang luar biasa.

Namun, melihat sorot mata Aria yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerah, Sasha akhirnya meraih pena dengan gerakan kasar. Ia menyambar kertas itu seolah-olah ingin merobeknya.

"Cepat jelaskan sebelum aku berubah pikiran," gerutu Sasha sambil mulai mencoret-coret kertas dengan ogah-ogahan.

Aria sedikit menggeser posisinya agar lebih dekat, mulai membimbing Sasha langkah demi langkah.

Meskipun Sasha terus-menerus mengeluh dan berdecak setiap kali menemukan kerumitan, ia tetap menggerakkan penanya mengikuti instruksi Aria.

Di tengah riuh rendah teman sekelas yang sibuk menyalin jawaban teman lain, kedua gadis yang memiliki dunia berbeda itu duduk berdampingan di pojok kelas, tenggelam dalam drama antara logika angka dan ego yang keras kepala.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!