Di hari pernikahannya, Farhan Bashir Akhtar dipermalukan oleh calon istrinya yang kabur tanpa penjelasan. Sejak saat itu, Farhan menutup rapat pintu hatinya dan menganggap cinta sebagai luka yang menyakitkan. Ia tumbuh menjadi CEO arogan yang dingin pada setiap perempuan.
Hingga sang ayah menjodohkannya dengan Kinara Hasya Dzafina—gadis sederhana yang tumbuh dalam lingkungan pesantren. Pertemuan mereka bagai dua dunia yang bertolak belakang. Farhan menolak terikat pada cinta, sementara Kinara hanya ingin menjadi istri yang baik untuknya.
Dalam pernikahan tanpa rasa cinta itu, mampukah Kinara mencairkan hati sang CEO yang membeku? Atau justru keduanya akan tenggelam dalam luka masa lalu yang belum terobati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Pelukan itu tidak segera terlepas.
Beberapa saat mereka hanya diam untuk saling merasakan keberadaan satu sama lain. Kinara masih bersandar di dada Farhan, mendengar detak jantung suaminya yang stabil dan jelas. Tangannya menggenggam bagian belakang kemeja Farhan tanpa sadar, seolah takut jika jarak itu kembali tercipta begitu saja.
Farhan menghela napas panjang. Perlahan, tangannya bergerak turun dari punggung Kinara, namun bukan untuk menjauh. Ia justru menggeser posisinya sedikit, lalu tanpa berkata apa pun, ia menyelipkan satu tangannya ke belakang lutut Kinara dan satu tangan lain menyangga punggungnya.
Kinara terkejut.
“Mas—” panggil Kinara yang terdengar lirih saat tubuhnya terangkat dari lantai.
Farhan menggendongnya dengan mantap, dengan cara yang lembut namun penuh keyakinan ala bridal style, seolah itu adalah hal paling alami yang pernah ia lakukan. Kinara refleks melingkarkan tangannya ke leher Farhan, wajahnya memanas, sementara jantungnya kembali berdegup lebih cepat.
Farhan menatapnya sekilas, ada senyum tipis yang jarang sekali ia tunjukkan.
“Pegangan yang kuat, mas nggak mau kamu terjatuh.” katanya pelan.
Kinara menurut, ia melingkarkan lengannya ke leher Farhan lebih erat dan merasakan bagaimana tubuhnya aman berada dalam dekapan suaminya. Langkah Farhan terasa pelan saat membawanya menuju ranjang. Ia menurunkan Kinara dengan hati-hati, mendudukkannya di tepi ranjang dan memastikan kakinya menapak dengan baik sebelum tangannya benar-benar dilepas.
Farhan berdiri di hadapannya.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang terasa semakin sarat makna. Kinara menundukkan kepalanya sedikit, jari-jarinya saling bertaut di atas pangkuannya. Ia bisa merasakan tatapan Farhan padanya yang terlihat tenang namun dalam.
Farhan kemudian mengangkat tangannya perlahan.
"Kinara, hmmm... Sekarang, apa mas boleh melepas hijab kamu untuk melihat kamu tanpa hijab?" tanyanya singkat, sambil menatap hijab yang dikenakan Kinara.
Kinara mengangguk kecil.
“Iya, mas…”
Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Farhan menyentuh sisi hijab Kinara. Jemarinya sedikit kaku, seolah takut salah. Ia melepaskan peniti yang menahan kain itu, lalu menariknya perlahan. Hijab itu terlepas dari kepala Kinara, memperlihatkan rambut panjang Kinara yang selama ini tersembunyi rapi.
Farhan tidak langsung bergerak.
Ia terdiam, menatap Kinara yang kini terlihat jauh lebih rapuh, namun juga lebih dekat. Rambut Kinara masih terikat longgar. Farhan kemudian menggeser jarinya ke arah ikatan rambut itu, menariknya pelan hingga rambut Kinara terurai bebas, jatuh melewati bahunya dan hampir menutupi setengah wajahnya.
Kinara menahan napas.
Farhan mengangkat tangannya untuk membenarkan rambut Kinara yang menutupi wajahnya. Jemarinya menyelip lembut di antara helai-helai rambut itu lalu menyapunya ke belakang telinga. Sentuhan itu begitu ringan, hampir seperti belaian, namun cukup untuk membuat Kinara memejamkan matanya.
Dadanya naik turun, napasnya terasa lebih cepat.
Farhan memperhatikan reaksi itu dengan seksama. Ia menyentuh pipi Kinara dengan punggung jarinya, lalu berhenti.
“Kinara,” panggilnya pelan namun Kinara masih memejamkan matanya. “Lihat mas,” ucap Farhan lembut, tapi tegas dengan caranya sendiri.
Kinara perlahan membuka matanya dan membuat tatapan mereka bertemu. Farhan menurunkan tubuhnya, lalu duduk di samping Kinara di tepi ranjang. Jarak mereka begitu dekat sekarang, cukup dekat hingga Kinara bisa melihat gurat-gurat emosi di wajah Farhan yang biasanya tersembunyi di balik sikap dinginnya.
Tanpa berkata apa pun, Farhan mencondongkan sedikit tubuhnya untuk mengecup kening Kinara dengan singkat dan hangat. Kinara memejamkan matanya lagi, ia merasakan jantungnya berdebar semakin kencang. Farhan tidak berhenti di sana. Ia mengecup kelopak mata Kinara, satu per satu, dengan sentuhan yang nyaris menggoda. Lalu pipinya. Sebelah kanan, lalu kiri. Setiap kecupan dilakukannya perlahan, seolah Farhan ingin Kinara merasakan setiap detiknya.
Kinara mulai menggenggam pinggang Farhan. Bukan karena takut, tapi karena butuh pegangan. Sentuhan Farhan membuat tubuhnya terasa ringan dan berat di waktu yang sama. Farhan tersenyum tipis melihat reaksi itu.
Ia kemudian mendekat sedikit wajahnya dan mengecup bibir Kinara. Bukan ciuman yang liar. Hanya ciuman singkat yang nyaris seperti godaan. Lalu berhenti sebentar hanya untuk kembali mengecupnya lagi, sedikit lebih lama dari sebelumnya.
Kinara terengah pelan.
Tangannya mencengkeram pinggang Farhan lebih erat, jari-jarinya meremas pakaian suaminya dengan kuat. Sementara itu Farhan kemudian meletakkan satu tangannya di pinggang Kinara dan menahan tubuh istrinya agar tetap seimbang.
Ciuman itu terus berlanjut, bergantian antara kening, pipi, dan bibir. Tidak tergesa gesa dan juga liar. Ciuman itu terasa seperti pengenalan yang dilakukan Farhan saat sedang menghafal setiap reaksi Kinara, setiap tarikan napasnya hingga setiap getaran kecil yang muncul di tubuh istrinya.
Beberapa saat kemudian, Farhan akhirnya mengakhiri ciumannya terhadap Kinara. Ia kemudian mengulurkan tangannya untuk menarik resleting gamis yang dikenakan oleh Kinara dan melepas gamis itu serta sisa pakaian yang masih dikenakan oleh istrinya hingga tak menyisakan apapun.
Setelah berhasil membuat tubuh istrinya polos tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya, Farhan kemudian mendorong tubuh Kinara dengan lembut ke tengah ranjang dan membaringkan tubuh istrinya dengan hati hati disana. Kinara merasakan tenggorokannya terasa kering sementara kedua tangannya tanpa sadar menggenggam kain sprei yang ditidurinya, saat ia melihat suaminya itu mulai melepaskan semua pakaian yang dikenakannya, sebelum akhirnya suaminya itu kembali mendatanginya.
“Mas…” panggil Kinara dengan lirih yang hampir seperti bisikan.
“Iya?” jawab Farhan lembut.
"Se-sebelum kita melakukan malam pertama pernikahan ini, sebaiknya kita baca doa dulu mas, agar apa yang kita lakukan ini diridhoi oleh tuhan." ucap Kinara dengan gugup.
Permintaan itu membuat Farhan terdiam beberapa detik. Dadanya terasa penuh. Ia mengangguk, lalu meraih tangan Kinara dan menggenggamnya erat.
“Iya,” jawabnya lirih. “Terima kasih sudah ingetin mas.”
Mereka saling berhadapan saat hendak membaca doa. Farhan menundukkan kepalanya, begitu juga Kinara. Suara Farhan terdengar rendah dan tenang saat ia mulai membaca doa sebelum ia menggauli istrinya itu.
"Bismillaah, Allahumma jannibnas-syaitonaa wa jannibisy-syaitonaa maa rozaqtanaa. Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami."
Kinara mengaminkan doa yang dipanjatkan oleh suaminya dalam hati, air mata tipis menggenang di sudut matanya. Bukan karena takut. Tapi karena untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar dipilih, dihormati, dan dicintai oleh farhan. Setelah doa itu selesai, Farhan mengangkat wajahnya. Tatapannya bertemu dengan Kinara.
"Semoga apa yang kita lakukan ini menjadi pahala dan anugerah bagi kita berdua." ucap Farhan dengan penuh harap.
"Aamiin."
Setelah selesai membaca doa, Farhan pun kemudian mendekati Kinara, naik ke atas tubuh mungil istrinya dan menekan tubuh istrinya itu ke kasur yang lembut dan dingin.
Artinya harus siap menerima akibat atau hasil dari setiap pilihan dan tindakan yang telah kamu lakukan, baik itu baik maupun buruk, karena semua perbuatan pasti memiliki dampak yang harus dihadapi sebagai bagian dari hukum sebab-akibat untuk belajar tanggung jawab dan berkembang.
Ini melibatkan keberanian untuk menghadapi hasil, tidak menyalahkan orang lain, dan belajar dari pengalaman tersebut...🤗
maaf hanya sbg koreksi sj🙏
Memang dalam beberapa budaya, benda yang pecah, terutama yang berhubungan dengan seseorang atau kenangan tertentu, dianggap sebagai tanda akan datangnya musibah.
Mitos ini sering kali dikaitkan dengan kepercayaan bahwa roh atau energi tertentu mencoba menyampaikan pesan melalui peristiwa tersebut.
Di beberapa tradisi, khususnya di negeri konoha, pecahnya kaca dianggap sebagai pertanda buruk karena kaca sering dikaitkan dengan refleksi jiwa seseorang.
Ada juga yang percaya bahwa jika foto seseorang jatuh dan pecah, itu bisa menjadi pertanda bahwa orang tersebut akan mengalami nasib buruk atau bahkan kemalangan...🤭😊