Di pesantren Queen Al-Falah, Abigail, seorang Ning yang dingin dan penuh talenta, lebih memilih kopi dan kesibukan pondok daripada cinta. Ia adalah permata yang tersembunyi di balik sikap judes dan penampilannya yang sederhana. Namun, takdir berkata lain ketika sang kakek menjodohkannya dengan seorang Gus Abdi Ndalem, partnernya dalam tim multimedia dan hadroh. Di antara jadwal padat, sholawat, dan misteri masa lalu, Abigail harus membuka hatinya untuk cinta yang tak pernah ia duga. Mampukah ia menemukan kehangatan di balik dinginnya ndalem dan kerasnya hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ndalem Barat Medan Perang:Perjodohan, Penolakan, dan Sentuhan Tak sengaja
[Setelah obrolan dan perbincangan yang cukup lama, akhirnya Gus Arya diantar oleh Gus Arka dan Gus Arzan ke ndalem barat. Abah Yai percaya kepada Gus Arya bahwa ia bisa menjaga Bijel, cucunya, di ndalem barat.]
[Dalam perjalanan ke ndalem barat, Gus Arzan memberitahu Gus Arya bahwa ndalem barat terhubung dengan asrama putri. Ada sebuah ruangan yang bisa terhubung langsung dengan asrama putri. Gus Arya terkejut mendengar informasi tersebut.]
Gus Arzan: "Gus, di ndalem barat itu ada ruangan yang langsung terhubung sama asrama putri. Hati-hati ya, Gus."
Gus Arya: (dengan nada terkejut) "Oh, begitu ya, Gus. Terima kasih infonya."
[Sesampainya di depan asrama putri, para kang keamanan ndalem kaget dan menundukkan kepala tanda takzim saat Gus Arka, Gus Arzan, dan Gus Arya masuk ke area ndalem barat. Gus Arzan membuka pintu ndalem barat diikuti oleh yang lainnya. Ia mengucapkan salam, namun tidak ada jawaban.]
Gus Arzan: "Assalamualaikum... Dek? Bijel?"
[Arzan mencari adiknya, namun tidak ada. Lalu, ia bertanya kepada mbak ndalem di mana Bijel berada. Mbak ndalem bilang bahwa tadi Bijel berada di ruang kerjanya, sedang mengerjakan proposal laporan.]
Gus Arzan: "Mbak, Bijel di mana ya?"
Mbak Ndalem: "Tadi Ning Bijel di ruang kerjanya, Gus. Lagi ngerjain proposal laporan."
[Gus Arzan mengecek adiknya di ruang kerjanya. Ia melihat komputer, laptop, iPad, dan ponsel yang masih menyala. Namun, Bijel yang mereka cari justru tertidur di kursi kerjanya.]
Gus Arka: "Dek, kamu tidur?"
[Gus Arka dan Gus Arya masuk ke ruangan kerja Bijel. Gus Arzan mencoba membangunkan adiknya, namun tak kunjung bangun. Lalu, saat Gus Arka menyenderkan kepala Bijel ke kursi, ia merasa bahwa badan Bijel sangat panas. Ia mencoba membangunkan Bijel lagi, namun tak kunjung bangun. Gus Arzan mengecek suhu tubuh Bijel dan ternyata Bijel pingsan.]
Gus Arka: "Dek, bangun Dek! Bijel!"
Gus Arzan: "Ya Allah, panas banget badannya. Ini pingsan kayaknya, mas."
[Gus Arka langsung menggendong Bijel ke sofa panjang. Gus Arzan meminta minyak kayu putih kepada mbak ndalem.]
Gus Arzan: "Mbak, tolong ambilin minyak kayu putih!"
[Setelah diolesi minyak kayu putih, dua jam lamanya Bijel akhirnya sadar. Ia kaget kenapa ada Gus Arka dan Gus Arzan, kakak pertama dan kakak keduanya, di ruang kerjanya. Lalu, ia juga tak sengaja melihat sosok pria yang selama ini hanya ada di pesantren Al-Fattah sekarang ada di hadapannya.]
Gus Arka: "Dek, kamu kenapa bisa pingsan gini?"
Gus Arzan: "Kamu sakit apa, Dek? Kok nggak bilang-bilang?"
[Kedua kakaknya menanyai keadaannya, namun ia hanya diam. Ia terus menundukkan kepalanya dengan pandangan mata yang kosong. Lalu, tiba-tiba Arzan berkata bahwa Gus Arya akan tinggal di ndalem bersama Bijel karena ia akan menjaga Bijel.]
Gus Arzan: "Dek, Gus Arya ini akan tinggal di ndalem barat sama kamu."
[Bijel syok mendengar perkataan kakaknya. Tatapan matanya tajam melebihi elang. Suaranya dingin dan cuek saat bertanya.]
Ning Abigail: (dengan nada dingin dan cuek) "Siapa dia? Kenapa mau tinggal di sini?"
[Tidak ada yang menjawab pertanyaan Bijel. Gus Arya yang tahu sifat, watak, dan karakter Bijel, seorang wanita yang ia sukai, pun tersenyum tipis. Senyumnya sangat tipis hingga tidak ada yang menyadarinya, karena watak, sifat, dan perilakunya yang sama seperti dirinya.]
[Hingga akhirnya, dengan kondisi yang masih lemas, Gus Arzan membantu adiknya berjalan menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, Bijel istirahat. Namun, pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan. Ada apa ini semua? Kenapa jadi seperti ini?]
[Gus Arya diberitahu tentang kamarnya yang berhadapan dengan kamar Ning Bijel. Gus Arka berpesan agar Arya tidak menyakiti adiknya dan tidak melakukan apa-apa terhadap adiknya karena mereka belum sah. Gus Arka juga mempercayakan adiknya kepada Arya. Gus Arka bilang harus sabar dengan segala tingkah laku Bijel.]
Gus Arka: "Gus, saya titip adik saya ya. Jaga dia baik-baik."
Gus Arya: "Nggih, Gus. Insya Allah saya akan menjaga Ning Abigail."
Gus Arka: "Saya mohon sama Gus, jangan sakiti adik saya. Jangan apa-apain dia sebelum kalian sah."
Gus Arya: "Nggih, Gus. Saya mengerti."
Gus Arka: "Sabar ya, Gus. Bijel itu memang keras kepala. Tapi hatinya baik kok."
Gus Arya: "Nggih, Gus. Saya akan berusaha sabar."
[Setelah itu, mereka semua kembali ke ndalem masing-masing. Tersisa Gus Arya dan Ning Bijel di ndalem barat. Lalu, dengan kepala yang masih pusing, Bijel belum tahu kalau kamar Gus Arya ada di depan kamarnya. Ia mengira kamar Gus Arya ada di sebelah kamarnya atau di kamar lantai atas. Ia ingin mengambil minum di dapur ndalem. Mbak ndalem sudah kembali ke asrama putri.]
[Gus Arya kaget karena melihat pakaian Ning Bijel ketika di rumah, yaitu memakai sarung lalu kaos pendek dan tidak memakai hijab. Ia berusaha istighfar dan mengalihkan pandangannya.]
[Lalu, saat ia duduk di ruang keluarga, ia kaget mendengar suara gelas jatuh di dapur. Ia mencari sumber suara. Setelah sampai di dapur, ia melihat Ning Bijel yang mau minum kepalanya pusing, tangannya gemetar, gelasnya jatuh lalu pecah, hingga ia yang jatuh dan tanpa sengaja Gus Arya menangkap Ning Bijel. Mereka berdua bertatapan lumayan lama. Setelah itu, Bijel minta maaf dengan nada dingin lalu kembali ke kamar. Gus Arya juga beristighfar karena bersentuhan dengan yang bukan mahramnya.]
Ning Abigail: (dengan nada dingin, berusaha melepaskan diri dari tangkapan Gus Arya) "Maaf."
Gus Arya: (dengan gugup, segera melepaskan tangkapannya) "Nggak apa-apa. Kamu nggak papa?"
Ning Abigail: (menjawab singkat dan dingin) "Hm."
[Tanpa menunggu jawaban Gus Arya, Ning Abigail segera berbalik dan berjalan cepat menuju kamarnya. Ia merasa jantungnya berdebar kencang. Ia tidak mengerti kenapa ia bisa bertatapan begitu lama dengan Gus Arya. Ia merasa sangat malu dan bersalah.]
Ning Abigail: (dalam hati) "Kenapa aku jadi kayak gini? Nggak seharusnya aku bertatapan kayak tadi sama dia. Astaghfirullah..."
[Gus Arya juga merasa gugup dan salah tingkah. Ia tidak menyangka akan terjadi kejadian seperti itu. Ia berusaha menenangkan diri dan beristighfar.]
Gus Arya: (dalam hati) "Astagfirullahaladzim... Aku nggak boleh gini. Aku harus jaga pandangan. Ning Abigail bukan mahramku."
[Setelah kejadian itu, Ning Abigail selalu menghindar jika bertemu dengan Gus Arya. Ia merasa tidak nyaman dan malu jika harus berdekatan dengan Gus Arya. Ia selalu mencari alasan untuk tidak bertemu dengan Gus Arya.]
[Namun, suatu hari Ning Abigail bertemu dengan Gus Arya. Ia terus menerus meminta maaf kepada Gus Arya atas kejadian di dapur. Gus Arya pun menjawab bahwa ia juga sudah meminta maaf karena sempat menyentuh Ning Abigail.]
Ning Abigail: (dengan nada dingin, menundukkan kepala) "Gus, maaf soal kejadian waktu itu."
Gus Arya: (dengan sopan, tersenyum tipis) "Nggak apa-apa, Ning. Saya juga minta maaf karena sudah menyentuh Ning Abigail."
Ning Abigail: (mengangkat kepala, menatap Gus Arya dengan tatapan dingin) "Lain kali jangan diulangi lagi."
Gus Arya: (mengangguk) "Nggih, Ning. Saya janji nggak akan mengulangi lagi."
Ning Abigail: (berbalik, hendak pergi) "Ya sudah, saya permisi."
Gus Arya: (dengan nada pelan) "Ning..."
[Ning Abigail berhenti, namun tidak berbalik. Ia menunggu Gus Arya melanjutkan ucapannya.]
Gus Arya: (dengan nada hati-hati) "Boleh saya tahu kenapa Ning Abigail selalu menghindar dari saya?"
Ning Abigail: (terdiam sejenak, lalu menjawab dengan nada dingin) "Bukan urusanmu."
[Setelah mengucapkan kalimat itu, Ning Abigail segera berbalik dan pergi meninggalkan Gus Arya yang terdiam dengan tatapan kosong.]