Gibran Erlangga terpaksa menikahi Arumi Nadia Karima karena perjodohan orang tuanya yang memiliki hutang budi.
Dua tahun pernikahannya Gibran selalu perhatian dan memanjakan Arumi.
Arumi mengira dirinya wanita paling beruntung, hingga suatu hari kenyataan pahit harus ia terima.
Gibran ternyata selama ini menduakan cintanya. Perhatian yang ia berikan hanya untuk menutupi perselingkuhan.
Arumi sangat kecewa dan terluka. Cintanya selama ini ternyata diabaikan Gibran. Pria itu tega menduakan dirinya.
Arumi memutuskan untuk mengakhiri pernikahan mereka. Saat Arumi telah pergi barulah Gibran menyadari jika ia sangat mencintai istrinya itu.
Apakah Gibran dapat meyakinkan Arumi untuk dapat kembali pada dirinya?.
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Kepercayaan Itu Mahal
Gibran masuk ke ruang rawat inap ibunya. Tampak Arumi yang tertidur di kursi dengan kepala berada di tepi ranjang ibu.
Ibu yang akan membuka mata, mengurungkan niatnya. Ia berpura-pura tidur akhirnya.
Gibran mendekati Arumi dan menggendong wanita yang hingga saat ini masih berstatus istrinya itu.
Gibran membaringkan tubuh Arumi di atas sofa. Setelah itu menyelimuti dengan selimut miliknya.
Pria itu duduk di samping kepala Arumi dan mengusap rambutnya. Dulu Arumi sering tidur di pahanya jika menonton televisi. Wanita itu selalu terlelap dipangkuannya.
Arumi selalu bertingkah manja dan seperti anak kecil jika bersama Gibran. Ia sering pura-pura tertidur di sofa agar Gibran menggendongnya ke kamar.
Namun Gibran tak pernah keberatan melakukan semua itu. Badan Arumi juga kecil dan ringan.
Gibran memandangi wajah istrinya yang terlelap. Arumi tampak sedikit lebih kurus dari biasanya.
Gibran mengusap pipi tirus istrinya. Perlahan Arumi membuka mata merasakan sentuhan dipipinya.
"Maaf, karena membuat kamu terbangun." Arumi tersenyum dan bangun dari tidurnya.
"Mas Gibran yang menggendong aku."
"Ya, kamu tampak kelelahan sekali. Apa kamu nggak tidur kemarin malam?" tanya Gibran.
Arumi nggak menjawab pertanyaan Gibran. Sejak ia memutuskan berpisah, emang Arumi kurang tidur. Dua tahun hidup bersama tak pernah satu malampun ia lewatkan tanpa pelukan suaminya itu.
"Alana, belum kembali ya, Mas?" tanya Arumi mengalihkan ucapan Gibran.
"Belum, kamu udah lapar. Kita ke kantin aja. Sekalian kita lihat Ayah."
"Nanti ibu siapa yang jaga?" tanya Arumi.
"Ibu sedang tidur, bisa kita tinggalkan sebentar,"
"Nggak usah,Mas.Kasihan ibu ditinggal sendiri. Lagi pula Alana udah membeli makanan buatku." Arumi berusaha menolak dengan cara halus. Ia tidak mau terjebak oleh pesona dan kebaikan Gibrana.
"Arumi, maafkan Mas,"
"Udahlah, Mas. Nggak ada yang perlu dimaafkan lagi."
"Kamu tetap akan menggugat cerai?" tanya Gibran.
"Berpisah emang jalan terbaik buat kita saat ini. Untuk menguji seberapa besar cinta yang ada. Jika kita memang jodoh, pasti Tuhan akan pertemukan kita kembali."
"Walaupun Mas bisa membuktikan jika anak yang dikandung Joana bukan darah daging,Mas?"
"Ya, Mas. Kita tetap akan berpisah."
"Kenapa, Arumi? Apakah nggak ada kesempatan buat Mas dapat bersama kamu lagi."
"Kepercayaan itu seperti kaca. Saat rusak, kau bisa memperbaikinya. Tapi, kau masih bisa melihat retaknya. Aku takut jika kita tetap bersama, aku akan hidup dengan bayangan ketakutan jika Mas akan mengulang kesalahan yang sama."
"Mas mengerti, Arumi. Pasti sulit bagimu untuk percaya dengan Mas lagi."
"Sadarilah,Mas ... bahwa butuh waktu panjang untuk membangun kepercayaan, tetapi hanya beberapa detik untuk menghancurkannya. Kepercayaan bisa hilang dalam hitungan detik, membutuhkan seumur hidup untuk mendapatkannya kembali, itu pun tidak akan pernah sekuat yang pertama."
Kepercayaan merupakan sesuatu yang mahal dan tak bisa diberikan kepada sembarang orang. Bahkan, sekali dicederai, biasanya akan sulit mendapatkannya lagi. Empat hal yang harus dijaga dalam hidup: kepercayaan, janji, hubungan dan hati. Tidak bersuara, tapi jika dikhianati, akan sangat menyakitkan."
Gibran terdiam mendengar ucapan Arumi yang memang benar adanya. Pasti sulit untuk membangun kepercayaan Arumi. Dua tahun ia telah dibohongi.
Alana yang sejak tadi berdiri di balik pintu mendengar semua ucapan Arumi dan Gibran.
Semoga ada keajaiban yang membuat Mbak Arumi dan Mas Gibran dapat kembali bersama. Aku tau, sebenarnya mereka saling mencintai. Tapi Mas Gibran terlambat menyadarinya.
Bersambung
𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙡𝙖𝙝𝙞𝙧𝙖𝙣 𝙣𝙤𝙧𝙢𝙖𝙡 𝙨𝙪𝙣𝙜𝙨𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙚 𝙟𝙖𝙝𝙞𝙩𝙖𝙣 𝙡𝙪𝙖𝙧 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢|| 𝙡𝙖𝙝𝙞𝙧𝙖𝙣 𝙨𝙤𝙧𝙚 𝙩𝙧𝙨 𝙗𝙚𝙨𝙤𝙠 𝙥𝙖𝙜𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙡𝙝𝙖𝙢𝙙𝙪𝙡𝙞𝙡𝙡𝙖𝙝 𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙛𝙞𝙩 𝙗𝙖𝙙𝙖𝙣 𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣 𝙣𝙤𝙧𝙢𝙖𝙡 𝙢𝙚𝙨𝙠𝙞 𝙖𝙜𝙖𝙠 𝙣𝙜𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙥 𝙩𝙚𝙣𝙖𝙜𝙖 𝙛𝙪𝙡𝙡 𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙗𝙨 𝙣𝙮𝙪𝙘𝙞 𝙢𝙖𝙣𝙪𝙖𝙡 𝙙𝙖𝙣 𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙩 𝙘𝙪𝙘𝙞𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙚 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙧𝙖𝙝𝙞𝙣 𝙗𝙪 𝙗𝙞𝙙𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙥𝙖𝙨 𝙠𝙤𝙣𝙩𝙧𝙤𝙡.🤭🤭
𝘯𝘨𝘦𝘳𝘪2 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘱.🤭