"AYA!! Ingat kamu cuma istri formalitas. Kamu tak punya hak mengatur dengan siapa aku berhubungan, " teriak Rama.
BLAMM!!
Aya terduduk di sisi ranjang dengan air mata yang berderai.
"Aku tahu, aku hanya pelarian buatmu. Setidaknya, jangan buat aku merasa semakin hina dengan menemui wanita itu terang-terangan, " gumam Aya lirih.
Cahaya Insaniah, seorang wanita yang mendapat amanah menjadi istri seorang pemuda penerus perusahaan sawit di Kalimantan bernama Rama.
Rama yang jatuh hati dengan seorang Model lokal, terpaksa menikahi Cahaya karena pesan terakhir mamanya yang tak sadarkan diri akibat kecelakaan mobil.
Mampukah Cahaya menjalankan amanah menjadi istri Rama? Akankah Rama berpaling dari Model lokal itu?
Ikuti kisah mereka dalam Karya HANYA WANITA PELARIAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Klarifikasi
Aula mendadak riuh. Ada yang terkejut, berbisik, ada pula yang.. mencibir. Aya berdiri lama menatap Bayu yang masih tersenyum di atas panggung. Bukan hanya orang-orang di aula itu yang terkejut, Aya sendiri terkejut dengan pengumuman detail yang seharusnya baru disampaikan beberapa hari lagi.
"Maaf Cahaya, Saya sudah minta ijin dengan pak Rama untuk mengumumkan lebih awal, " ujar Bayu saat melihat tatapan Aya yang penuh tanya padanya.
Aya hanya mengangguk, lalu kembali duduk. Feni dan Tami yang kebetulan duduk disamping kanan dan kiri Aya terlihat canggung. Melihat Aya yang mendadak kikuk, Feni memegang tangannya, menenangkan.
Aya menatapnya dan tersenyum membalas senyuman Feni yang seolah berkata, 'Tidak apa-apa.'
"Baik, mungkin itu yang bisa saya sampaikan untuk pertemuan pagi ini. Saya sangat berharap semua bisa bekerja maksimal memenuhi capaian target penjualan kita yang masih berkisar 20% masih ada sembilan bulan ke depan. Masih ada waktu untuk bekerja lebih keras. Selamat Pagi Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. "
Tepuk tangan menggema mengisi ruang Aula. Bayu turun perlahan dari panggung. Karyawan yang menjadi MC menutup kegiatan dan meminta semua karyawan kembali ke ruangan untuk bekerja di awal pekan ini.
Karyawan satu persatu meninggalkan aula. Tatapan iri, ejek, dan sinis menjadi santapan Aya pagi ini. Ia berusaha tenang. Feni merangkul lengannya dalam diam. Cukup jadi dukungan kalau dia berada di sisi Aya saat ini.
"Wah, enak ya jadi mantu dirut. Posisinya naik pesat, " sindir seorang karyawati sambil melirik Aya sinis.
Aya spontan menatapnya. Ia seperti mengenal perempuan itu, tapi ia lupa pernah lihat dimana. Akhirnya ia lebih memilih diam.
"Sst.. nanti suaminya ke sini labrak kamu, bisa kehilangan pekerjaan kamu Melda, " sahut rekannya bukan untuk membela Aya tapi membuat tuduhan itu menjadi ejekan.
Aya tak ingin menanggapi meski terasa sakit. Bukan dia yang meminta posisi itu.
Sesampainya di ruangan Aya duduk lunglai di kursinya. Feni tak berani berkata apa-apa. Khawatir perkataannya tak membuat Aya merasa lebih baik.
"Aya, ingat pesan saya. Selama kamu bekerja profesional, saya akan jadi tamengmu kalau ada yang berbuat seenaknya. Fokus saja bekerja, abaikan omongan yang tak penting, " ujar Mila tegas lalu masuk ke ruangannya
"Baik, Bu."
Aya merasa lega, setidaknya Mila memberi dukungan untuknya.
"Aya," panggil Feni. Aya menoleh ke belakang.
"Semangat, Ya. Aku yakin kamu memang layak di posisi itu."
Aya tersenyum. "Terima kasih, " ujarnya senang.
Ia kembali ke pekerjaannya lagi menyelesaikan semua daftar tugas yang harus ia selesaikan segera.
Ponselnya bergetar, dilayar nama Paksu Rama terlihat jelas.
"Assalamu'alaikum, bang, " jawabnya sambil berbisik.
"Wa'alaikumsalam. Kenapa belum jawab pesanku? "
"Maaf aku belum sempat, bang. Nanti aku balas. Aku tutup ya.. Assalamu'alaikum. "
"Wa'alaikumsalam."
Aya menutup telpon dan bernafas lega. Ia membuka pesan Rama yang ternyata sudah masuk sejak tadi.
[Sayang, abang baru sampai.]
[ Di perjalanan tadi, Bayu sempat telpon. Minta ijin mau mengumumkan soal kita lebih awal. Ada yang menyebar tuduhan kita pacaran di kantor pusat sebelum kamu di mutasi. Jadi aku ijinkan Bayu mengumumkan statusmu. ]
[Alhamdulillah, syukurlah. ]
[Ya, mas Bayu sudah umumkan di IHT. Aku terlambat baca pesanmu bang, jadi aku juga kaget saat dia sampaikan tadi.]
[Sepertinya harus aku jelaskan lebih detail, karena kalau hanya bilang aku calon istrimu dugaan mereka jadi terbukti benar. Karena kita dianggap pacaran makanya aku dipindahkan. Ini bukan seperti promosi atau mutasi biasa akhirnya, tapi lebih ke sanksi demosi.]
[Baiklah, coba kamu lihat lagi situasinya. Kalau memang soal perjodohan dan informasi kita sudah menikah lebih baik di sampaikan, lakukan saja. Aku off dulu, rapat ku sudah mau dimulai.]
[Oke, bang. Semoga semuanya, lancar]
[Kabari aku kalau ada apa-apa, ya. Aku usahakan segera respon.]
[Oke, tenang aja.]
Aya menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar. Feni memperhatikan kegelisahan Aya, tapi ia tak ingin bertanya lebih jauh.
Aya kembali bekerja, mencari selisih input transaksi dan menyusun laporan keuangan setelah selisih itu ditemukan. Ia harus fokus.
***
Berita menyebar cepat, seperti hembusan angin yang menebarkan bunga dandelion. Terbang tak terkendali..
Bahkan di kantor pusat, informasi pernikahan rama dan aya sudah tersebar sebelum undangan resmi dikirim.
"Dari info-info sebenarnya? " tanya Karin pada Mira dan Septi di meja kantin.
"Entah, kami juga dapat dari grup bayangan departemen lain. Kamu yakin ini bukan dari grup bayangan departemen mu rin? " tanya Mira.
"Sepi-sepi aja di situ, tapi aku juga nggak yakin. Yang lain kan tahu aku teman dekat Aya. Mereka juga curiga aku yang laporin Melda waktu itu ke pak Rama."
"Bisa jadi mereka bahas di grup yang nggak ada kamunya, Rin, " tambah Septi.
"Bisa jadi. Yang pasti, tuduhan itu nggak benar. Aku juga nggak berani klarifikasi karena bukan hak ku."
"Jadi kamu sudah tahu mereka dekat? " tanya Mira.
Karin mengangguk. "Iya, tapi itu juga kebetulan. Sebenarnya Aya mau merahasiakan dari aku juga."
"Moga aja pak Rama segera buat klarifikasi. Jahat banget sampai ada yang bilang Aya hamil duluan makanya pak Rama tanggungjawab."
"Asli, itu kelewatan banget. Aya nggak pernah pacaran. Dia jaga banget pesan almarhum Abanya, " sahut Karin berapi-api.
Karyawan lain yang sedang makan siang di kantor melihat ke arah meja mereka.
Septi buru-buru menenangkan Karin. Karin terengah menahan emosinya. Mira mengambilkan gelas minuman dingin di hadapan Karin.
"Kita percaya Karin, sebisa mungkin kita harus bantu Aya. Aku juga kesal, tapi percuma kita emosi berlebihan."
Karin buru-buru mengambil ponselnya. Men-dial nomer Aya. Nada hubung tersambung.
"Assalamu'alaikum, " jawab Aya.
"Wa'alaikumsalam, Aya. Kamu sudah istirahat? " tanya Karin.
"Aku cuma makan seadanya lagi cari selisih nih, kenapa? "
"Ish.. kamu kok santai banget sih, Ya? Aku disini emosi loh kamu dikatain macam-macam."
"Emang, aku dikatain apa? " tanya Aya santai.
"Kamu di bilang hamil duluan coba, bisa-bisanya ada ngomong seenaknya begitu."
"Ya, biasalah kalau orang iri dengki, nanti deh biar aku bicarakan dengan Bang Rama. Yang penting yang lain nggak ke makan omongan begitu."
"Kami pasti bela kamu, Ya."
"Kamu lagi sama Septi dan Mira? "
"Iya ini lagi makan di kantin. Video call ya."
Karin mengalihkan panggilan ke video.
"Haloo assalamu'alaikum semua, " sapa Aya sambil melambai pada ketiganya di depan layar.
"Wa'alaikumsalam.Ayaaa kangeeen, " rengek Mira.
"Aku kangen juga sama kalian, kita nongkrong sore ini mau? "
"Ayolah ketemuan di kafe kemarin, Ya, " sahut Karin.
"Oke, ketemuan jam setengah enam ya, " ujar Aya.
"Oke sip-sip sampai ketemu nanti, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, " jawab Aya.
Mereka melambai mengakhiri panggilan.
Waktu berlalu cepat. Karena mereka akan bertemu Aya, mereka bersemangat menyelesaikan tugas yang tersisa hari itu.
Hari kian sore. Matahari sudah selesai menebar sinarnya. Karyawan satu persatu meninggalkan perusahaan di hari senin yang padat.
Karin menunggu Septi dan Mira di parkiran.
"Ayo, cuss."
Mereka bertiga menaiki motor masing-masing menuju kafe tempat mereka janji temu dengan Aya.
"Assalamu'alaikum bestie, " rangkul Mira dari belakang saat melihat Aya yang sudah sampai lebih dulu di kafe.
Mereka salam pipi bergantian. Karin memeluk Aya lama, seolah melepas kerinduan lama tak bersua padahal baru hitungan hari saja.
"Aya ceritakan dong, kami penasaran. Gimana awalnya? " todong Septi.
"Perkenalan departemen waktu itu berarti yang kamu maksud sudah ada yang punya itu, pak Rama ya? " tanya Mira juga.
"Sebentar mending pesan dulu, aku traktir."
"Yeeey, enak punya sohib istri bos, " celetuk Karin.
Mereka terbahak mengejek Aya. Aya hanya terkekeh.
"Jadi, ceritakan, " desak Septi setelah pelayan berlalu.
Aya tersenyum, lalu menarik nafas panjang.
"Oke, aku mulai dari lamaran ya."
Aya menceritakan awal pertemuannya dengan Rama, sampai akhirnya mereka menikah mendadak.
"Jadi, karena mendadak itulah kami akhirnya bersepakat untuk merahasiakan pernikahan ini sampai aku fiks di pindahkan."
Septi dan Mira mengangguk paham. Karin hanya diam, karena dia tahu versi lain yang lebih detail. Aya punya alasan lain untuk menahan diri tak berbagi semua cerita.
"Kalau begini kan kita paham situasinya. Kamu coba bikin klarifikasi, " bujuk Mira.
"Aku juga nggak bisa sembarangan klarifikasi lah, biar pak Rama yang selesaikan ya."
Septi, Mira dan Karin hanya bisa menghela nafas.
"Sudah, nggak apa-apa. Do'akan semuanya lancar, " sambung Aya lagi saat melihat wajah kusut mereka.
Pelayan datang membawa pesanan mereka. Sore itu mereka lebih banyak bercerita hal lain, terutama soal suasana tempat kerja Aya yang baru.