Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Cahaya putih dari lampu sorot helikopter itu menyapu permukaan air laut dengan sangat terang. Arlan menundukkan kepalanya sambil menahan pegangan pada tepian kapal motor yang berguncang keras akibat ombak. Suara baling-baling helikopter di atas mereka menciptakan tekanan udara yang membuat telinga Arlan berdenging.
"Mereka benar-benar mengerahkan segalanya malam ini," kata Arlan sambil melihat ke arah langit.
"Jangan melihat ke arah cahaya! Mereka punya penembak jitu yang mengincar siapa pun yang menunjukkan wajah!" teriak Ibu Sari sambil memutar kemudi kapal dengan tajam ke arah kanan.
Kapal motor itu miring drastis, menyebabkan Siska hampir terjatuh ke lantai kayu yang licin. Arlan segera menangkap lengan Siska dan menariknya ke posisi yang lebih rendah di balik konsol kemudi.
"Terima kasih, Arlan," kata Siska dengan napas yang memburu.
"Tetaplah di posisi rendah, Mbak Siska. Kita harus sampai ke dermaga berikutnya," jawab Arlan.
[Peringatan Sistem: Jarak Helikopter 150 Meter] [Identifikasi: Unit Keamanan Swasta Milik ALN] [Analisis: Helikopter Tidak Akan Melakukan Tembakan Fatal Selama USB Masih Berada di Atas Kapal]
Arlan mengamati layar tablet yang masih menyala di atas meja kecil di dalam kabin terbuka. Ia menyadari bahwa Pak Wiratama tidak menginginkan kematian mereka jika itu berarti kehilangan data berharga tersebut.
"Bu Sari, arahkan kapal ini ke kolong jembatan beton di depan sana!" perintah Arlan sambil menunjuk ke arah struktur besar yang melintang di atas laut.
"Itu jalur yang dangkal, Arlan! Mesin kapal bisa tersangkut!" jawab Ibu Sari dengan nada suara yang penuh keraguan.
"Hanya itu satu-satunya cara untuk menghilangkan sorotan lampu helikopter! Saya akan memandu kedalamannya melalui sistem navigasi ini!" sahut Arlan.
Ibu Sari tidak membantah lagi dan segera mengarahkan kapal motor itu menuju kegelapan di bawah jembatan beton raksasa. Helikopter tersebut mencoba mengikuti, namun tiang-tiang jembatan yang rapat membuat pilot mereka ragu untuk terbang lebih rendah.
Begitu kapal memasuki area gelap di bawah jembatan, Arlan segera mengambil tabletnya dan mengetikkan serangkaian perintah digital.
"Mbak Siska, tolong ambil jaket pelampung yang ada di bawah kursi," kata Arlan kepada Siska.
"Untuk apa? Kita tidak akan melompat ke air, kan?" tanya Siska dengan wajah yang penuh kecemasan.
"Kita akan berpindah kendaraan di ujung jembatan ini. Tim kurir Tegar sudah menyiapkan mobil di sana," jawab Arlan.
Arlan sebenarnya sedang memanfaatkan koordinat yang diberikan oleh sistem di matanya untuk melakukan sinkronisasi dengan lokasi Tegar yang baru saja diperbarui.
[Sistem: Mengirimkan Sinyal Gangguan Frekuensi Radio ke Helikopter] [Status: Berhasil. Komunikasi Pilot Terhambat Selama 120 Detik]
"Suara helikopternya menjauh!" seru Siska saat kapal mereka keluar dari sisi lain jembatan yang lebih sepi.
"Mereka kehilangan sinyal pelacak untuk sementara. Bu Sari, tepikan kapalnya di tangga beton itu!" perintah Arlan.
Ibu Sari menghentikan kapal dengan cekatan di sebuah dermaga kecil yang tersembunyi. Sebuah mobil MPV berwarna hitam sudah menunggu dengan mesin yang menyala di dekat tangga tersebut. Tegar keluar dari mobil dan memberikan isyarat dengan lampu senter kecil.
"Mas Arlan! Mbak Siska! Cepat masuk!" teriak Tegar.
Mereka bertiga segera melompat keluar dari kapal dan berlari menuju mobil. Arlan memastikan Ibu Sari masuk terlebih dahulu sebelum ia menutup pintu mobil dengan keras. Mobil itu segera melesat pergi meninggalkan area pelabuhan sebelum helikopter tadi sempat memutar balik.
"Bagaimana keadaan di hotel tempat rapat, Tegar?" tanya Arlan sambil mencoba mengatur napasnya.
"Sangat ketat, Mas. Seluruh pintu masuk sudah dijaga oleh orang-orang berseragam ALN. Mereka memeriksa setiap kartu identitas dengan sangat teliti," jawab Tegar sambil fokus pada kemudinya.
"Kita tidak akan masuk lewat pintu depan," ucap Arlan sambil membuka map biru tua yang berisi kartu anggota emas tadi.
"Lalu kita masuk lewat mana? Semua akses kargo juga sudah mereka tutup," tanya Siska sambil merapikan rambutnya yang berantakan karena angin laut.
"ALN memiliki protokol untuk tamu VIP tingkat tinggi. Kartu emas ini memiliki akses ke lift pribadi yang terhubung langsung ke ruang pertemuan," jawab Arlan.
[Misi Diperbarui: Masuk ke Ruang Rapat Tanpa Terdeteksi] [Hadiah: Peningkatan Wibawa Korporasi +40] [Status: Target Lokasi Berjarak 5 Kilometer]
Mobil hitam itu berhenti di sebuah area parkir gedung yang letaknya tepat di samping hotel mewah tempat rapat berlangsung. Arlan keluar dari mobil diikuti oleh Siska dan Ibu Sari.
"Tegar, tetaplah di sini dan jangan matikan mesin. Jika terjadi sesuatu dalam waktu satu jam, segera kirimkan data di USB ini ke seluruh media nasional," perintah Arlan sambil menyerahkan salinan data cadangan kepada Tegar.
"Baik, Mas Arlan. Saya akan menjaga amanah ini," jawab Tegar dengan nada yang sangat serius.
Arlan berjalan menuju sebuah pintu kecil yang tersembunyi di balik tumpukan kotak utilitas gedung. Ia menempelkan kartu emas milik ayah Siska pada sensor biometrik yang terpasang di sana. Suara klik terdengar, dan pintu besi itu terbuka perlahan.
"Mbak Siska, ini adalah momen di mana nama ayah Mbak akan dibersihkan," kata Arlan sambil menatap Siska.
"Aku siap, Arlan. Selama sepuluh tahun aku menunggu saat ini," jawab Siska dengan mata yang berkaca-kaca.
Mereka masuk ke dalam lift mewah yang hanya memiliki satu tombol menuju lantai teratas. Lift itu bergerak naik dengan sangat halus. Arlan menatap angka lantai yang terus berganti pada layar digital di atas pintu.
Ting.
Pintu lift terbuka, dan mereka langsung disambut oleh suasana ruang rapat yang sangat megah. Puluhan pria dengan setelan jas mahal sedang duduk mengelilingi meja bundar raksasa. Di tengah meja, Pak Wiratama sedang berdiri memberikan pidato pembukaan.
Suasana ruangan yang tadinya dipenuhi suara tepuk tangan mendadak menjadi sangat sunyi saat melihat Arlan, Siska, dan Ibu Sari melangkah masuk ke tengah ruangan.
"Maaf kami terlambat. Sepertinya kursi untuk pemegang saham utama masih kosong," ucap Arlan dengan suara yang sangat lantang dan penuh percaya diri.
Pak Wiratama menjatuhkan mikrofon yang dipegangnya. Wajahnya berubah dari merah padam menjadi pucat pasi dalam hitungan detik. Seluruh anggota aliansi menoleh secara serempak ke arah Arlan yang sedang menunjukkan kartu emas itu tinggi-tinggi.
"Siapa kalian? Bagaimana kalian bisa masuk ke sini?" tanya salah satu pria tua yang duduk di ujung meja dengan nada suara yang penuh otoritas.
"Nama saya Arlan Dirgantara, CEO Arlan Corp. Dan wanita di samping saya ini adalah Siska, putri sah dari salah satu pendiri utama organisasi ini," jawab Arlan.
"Itu tidak mungkin! Siska seharusnya sudah tidak ada!" teriak Pak Wiratama sambil menunjuk ke arah Siska dengan jari yang gemetar.
"Aku masih ada, Pak Wiratama. Dan aku membawa seluruh catatan transaksi gelap yang Anda lakukan selama sepuluh tahun terakhir," sahut Siska sambil meletakkan drive USB di tengah meja bundar tersebut.
Arlan memperhatikan reaksi orang-orang di ruangan itu. Sebagian besar anggota aliansi mulai menunjukkan wajah cemas dan saling berbisik satu sama lain. Pak Wiratama tampak hendak memberikan perintah kepada penjaga di depan pintu, namun Arlan segera mengangkat ponselnya.
"Sebelum Anda melakukan hal bodoh, Pak Wiratama, perlu Anda ketahui bahwa data ini sudah terhubung dengan server pusat otoritas pajak dan kepolisian. Satu saja gerakan kasar di ruangan ini, maka tombol kirim akan segera ditekan," ancam Arlan dengan nada yang sangat dingin.
Tiba-tiba, seorang pria paruh baya yang paling tua di ruangan itu berdiri. Ia mendekati Arlan dan mengambil kartu emas tersebut untuk diperiksa di bawah lampu meja.
"Ini memang kartu asli. Dan jika data di USB ini benar, maka kepemimpinan Pak Wiratama di aliansi ini dinyatakan berakhir mulai detik ini juga," ucap pria tua itu dengan suara yang berat.
"Pak Ketua! Jangan dengarkan bocah ini! Dia hanya ingin menghancurkan kita semua!" teriak Pak Wiratama dengan wajah yang penuh keputusasaan.
"Kita akan melihat siapa yang benar-benar menghancurkan aliansi ini, Wiratama," jawab pria tua itu.
Arlan menarik napas lega, namun ia tahu bahwa perjuangan sesungguhnya baru saja dimulai. Di sudut matanya, sistem memberikan sebuah peringatan baru yang membuatnya kembali waspada.
[Peringatan: Terdeteksi Seseorang di Ruangan Ini Membawa Perangkat Pemicu Jarak Jauh] [Status: Bahaya Tingkat Tinggi]
Arlan menatap ke sekeliling meja, mencari siapa yang sedang memegang pemicu tersebut. Namun, tepat saat ia hendak bicara, lampu di ruang rapat tersebut mendadak padam total, menyisakan kegelapan yang mencekam.