"Dulu aku berjanji di depan Tuhan untuk menjaganya, namun dunia seolah memaksaku untuk ingkar."
Tian hanyalah seorang pria sederhana yang dianggap 'tidak berguna' oleh keluarga besar istrinya, Mega. Pernikahan mereka yang didasari cinta suci harus berhadapan dengan tembok tinggi bernama kemiskinan dan penghinaan. Saat Mega divonis mengidap penyakit langka yang membutuhkan biaya miliaran, Tian tidak menyerah.
Ia menjadi kuli di siang hari, petarung jalanan di malam hari, hingga terseret ke dalam pusaran dunia gelap demi satu tujuan: Melihat Mega tersenyum kembali. Namun, saat harta mulai tergenggam, ujian sesungguhnya datang. Apakah kesetiaan Tian akan tetap utuh saat godaan wanita lain dan rahasia masa lalu Mega mulai terkuak?
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta, tapi tentang pembuktian bahwa bagi seorang suami, istri adalah surga yang layak diperjuangkan meski harus melewati neraka dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Malaikat Maut di Bangsal VIP
Dunia Tian kini hanya sebatas bayang-bayang hitam di atas beton yang dingin. Hujan yang turun di Jakarta malam ini tidak lagi terasa dingin di kulitnya; ia sudah mati rasa. Di puncak gedung tua seberang Rumah Sakit Harapan, Tian berdiri tegak dengan pakaian hitam yang ia curi dari jemuran wargasebuah penyamaran sederhana untuk seorang pria yang kini menjadi buronan nomor satu di kota ini.
Ia menatap jendela lantai empat, paviliun VIP tempat Mega terbaring. Cahaya lampu dari kamar itu tampak seperti bintang yang jauh, satu-satunya alasan mengapa Tian masih memilih untuk bernapas.
"Kau gila, Tian. Kau benar-benar akan melakukan ini?" Suara itu terdengar dari earpiece kecil yang terpasang di telinganya. Itu adalah suara Paman Hasan, yang ternyata berhasil selamat dari penembakan meski kini tengah bersembunyi di dalam ambulans curian di bawah gedung.
"Adrian sudah mengambil semuanya, Paman. Istriku, ibuku, dan harga diriku. Jika aku harus masuk ke neraka malam ini untuk menyeretnya bersamaku, maka jadilah," jawab Tian dingin. Suaranya tidak lagi bergetar. Kesedihan itu telah mengkristal menjadi tekad yang tajam.
Tian mulai bergerak. Dengan menggunakan tali tambang kapal yang ia bawa dari dermaga, ia melakukan aksi yang melampaui akal sehat manusia biasa. Ia meluncur dari atap gedung seberang menggunakan kabel listrik yang melintang, sebuah pertaruhan nyawa yang jika ia meleset satu inci saja, tubuhnya akan hancur menghantam aspal jalan raya.
Sretttt!
Gesekan logam dengan kabel menciptakan percikan api kecil di kegelapan malam. Tian mendarat dengan senyap di balkon lantai empat rumah sakit. Ia bergerak seperti hantu, menghindari sensor kamera CCTV yang sudah "dibuat buta" oleh rekan polisi muda yang membantunya tadi.
Ia masuk melalui jendela ruang laundry, mengganti pakaiannya dengan seragam perawat pria yang ia temukan. Dengan masker bedah menutupi luka-luka di wajahnya, Tian melangkah di koridor VIP. Di sana, dua pengawal berbadan tegap berdiri di depan pintu kamar Mega.
"Siapa kau? Ini jam berapa?" tegur salah satu pengawal dengan tangan sudah menyentuh pinggang, tempat senjata terselip.
Tian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mendekat, berpura-pura memeriksa catatan medis di papan jalan. Saat jarak mereka hanya satu jengkal, Tian bergerak. Dengan dua pukulan cepat ke arah saraf leher, ia melumpuhkan keduanya sebelum mereka sempat berteriak. Ia menyeret tubuh pingsan itu ke dalam lemari penyimpanan alat kebersihan.
Tangannya gemetar saat ia menyentuh gagang pintu kamar Mega. Pelan, ia mendorongnya masuk.
Suara monitor jantung Bip... Bip... menyambutnya. Di sana, di atas ranjang yang terlalu mewah untuk rasa sakitnya, Mega terbaring diam. Wajahnya sangat tirus, kulitnya yang dulu seputing susu kini pucat keabuan. Alat bantu napas menutupi separuh wajah cantiknya.
Tian jatuh berlutut di samping ranjang. Ia meraih tangan Mega yang tertancap infus, menciumnya dengan air mata yang akhirnya pecah. "Maafkan aku, Mega... Maafkan suamimu yang tak berguna ini..."
Tiba-tiba, mata Mega bergerak. Perlahan, kelopak mata itu terbuka. Saat melihat sosok di balik masker itu, meski hanya dari matanya, Mega mengenalinya. Sebuah binar lemah muncul, dan tangannya mencoba menggenggam balik jemari Tian.
"Mas... Tian..." bisik Mega di balik masker oksigen, suaranya hampir tidak terdengar.
"Aku di sini, Sayang. Aku datang untuk membawamu pulang," bisik Tian penuh janji.
Namun, momen haru itu hancur saat lampu kamar tiba-tiba menyala terang. Di ambang pintu, Adrian berdiri dengan tepuk tangan yang pelan dan menghina. Di belakangnya, sepasukan polisi bersenjata lengkap sudah menodongkan moncong laras panjang ke arah Tian.
"Luar biasa. Cinta memang membuat orang bodoh menjadi berani," ucap Adrian dengan seringai iblisnya. "Selamat datang di jebakanku, Tian. Aku sudah menunggumu sejak kau melompat dari mobil tahanan."
Adrian berjalan mendekati ranjang Mega, lalu dengan kasar mencabut selang oksigen yang terpasang di mulut Mega. "Pilihannya sekarang bukan lagi cerai atau penjara, Tian. Menyerahlah dan akui semua kejahatanmu di depan kamera ini, atau aku akan membiarkan istrimu ini kehabisan napas dalam hitungan menit tepat di depan matamu." Mega mulai tersedak, matanya membelalak mencari udara, sementara Tian ditahan oleh empat polisi agar tidak bisa mendekat.
Ruangan itu seketika dipenuhi oleh aura kematian. Suara monitor jantung berubah menjadi nada peringatan yang melengking cepat, mencerminkan kepanikan tubuh Mega yang sedang diputus paksa dari sumber hidupnya. Mega mencengkeram sprei ranjang, wajahnya yang pucat kini membiru saat paru-parunya berjuang menghirup oksigen yang tidak ada.
"KAU IBLIS, ADRIAN! LEPASKAN DIA!" raung Tian. Ia meronta seperti singa yang terperangkap, namun popor senapan polisi menghantam punggungnya hingga ia jatuh tersungkur di lantai.
Adrian hanya menatap jam tangannya dengan tenang. "Enam puluh detik, Tian. Otak manusia mulai mengalami kerusakan permanen setelah itu. Apakah harga dirimu lebih penting daripada nyawa wanita ini?"
Tian menatap Mega yang mulai kehilangan kesadaran. Ia merasa jiwanya tercabik-cabik. "Baik! Aku akan melakukannya! Aku akan mengakui semuanya! Pasang kembali oksigennya, aku mohon!"
Adrian tersenyum puas. Ia memberi kode pada seorang perawat kepercayaannya untuk memasang kembali masker oksigen ke wajah Mega. Begitu napas Mega mulai stabil kembali, Adrian menyodorkan sebuah ponsel yang sedang melakukan siaran langsung Live Streaming ke arah wajah Tian yang bersimbah darah.
"Katakan pada seluruh dunia bahwa kau adalah teroris yang meracuni istrimu sendiri demi uang asuransi," perintah Adrian.
Tian menatap lensa kamera itu. Ia tahu, sekali ia bicara, karakternya akan mati selamanya. Ia akan dicap sebagai monster oleh seluruh negeri. Namun, saat ia melirik ke arah Mega, ia melihat tangan istrinya yang lemah sedang menunjuk ke arah sakunya.
Tian tersentak. Ia teringat sesuatu. Kartu memori yang diberikan polisi muda tadi! Kartu itu tidak ada di sakunya, tapi ia sempat menyelipkannya di balik plester infus Mega saat ia mencium tangannya tadi. Mega merasakannya!
Tian menarik napas dalam. Ia tidak memulai pengakuannya. Alih-alih bicara, ia justru tertawa kecil suara tawa yang membuat Adrian mengernyitkan dahi.
"Kenapa kau tertawa, Pecundang?" tanya Adrian kasar.
"Aku tertawa karena kau berpikir kau sudah menang, Adrian," ucap Tian dengan suara tenang yang mengerikan. "Kau lupa satu hal. Rumah sakit ini memiliki sistem audio sentral untuk pengumuman darurat. Paman Hasan..."
Tiba-tiba, seluruh pengeras suara di rumah sakit itu berbunyi. Bukan suara musik penenang, melainkan rekaman suara Adrian di kantor logistik malam itu: "Jangan sisakan satu helai kertas pun yang bisa menghubungkan aku dengan klinik ilegal yang memberikan obat-obatan palsu pada Mega... aku yang membiarkan kondisinya memburuk..."
Suara itu bergema di seluruh paviliun, terdengar oleh pasien, suster, dokter, dan bahkan polisi yang sedang menahan Tian. Wajah Adrian berubah dari angkuh menjadi pucat pasi dalam sekejap.
Polisi-polisi di ruangan itu saling berpandangan, keraguan mulai muncul di mata mereka. Adrian yang panik mencoba merebut senjata salah satu polisi. "Matikan suaranya! Itu fitnah! Tembak dia sekarang!" teriak Adrian histeris. Di tengah kekacauan itu, pintu kamar didobrak oleh sekelompok orang berpakaian hitam anak buah Paman Hasan dari dermaga. "Siapa pun yang berani menembak, rumah sakit ini akan meledak!" teriak salah satu dari mereka sambil menunjukkan detonator di tangannya. Tian segera menerjang Adrian, tangannya mencengkeram leher pria kaya itu dengan kekuatan murni dari seorang suami yang telah kehilangan segalanya. "Sekarang, kita lihat siapa yang akan memohon untuk bernapas, Adrian!"
Lanjut bab 8...