Ketika luka fisik ditutup oleh foundation.
Elizabeth Taylor menikah dengan Luis Holloway demi keluarganya, tanpa tahu bahwa pernikahan itu adalah awal dari neraka. Ketika kebenaran tentang suaminya terungkap, Elizabeth meminta bantuan Nathaniel Vale untuk lepas dari jerat Luis—tanpa menyadari bahwa pria itu juga menyimpan dendam yang sama berbahayanya, yang seharusnya dijauhi malah berakhir di ranjang panas dan perjanjian yang adil namun menusuk.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EV — BAB 22
SEPERTI TANTANGAN
Wajah Eliza basah, begitu juga dengan setengah pakaiannya.
Namun tanpa di duga, sebuah tangan bergerak mengelap wajahnya dengan sebuah sapu tangan putih sedikit menekan hingga noda make-up sekaligus foundation yang Eliza kenakan langsung terhapus.
“Menutup luka tidak cocok untuk manipulatif.” Kata Vale yang seketika meletakkan sapu tangan tersebut di atas meja, lalu ia kembali memperhatikan Eliza yang nampak semakin menunduk dan sedikit mengelap wajahnya.
Tentu, kini Vale bisa melihat luka yang terlukis indah di wajah cantik Elizabeth.
Vale memiringkan kepalanya sedikit, menilai wajah Eliza tanpa ekspresi iba. Lebam keunguan di tulang pipi, garis merah tipis di pelipis, bayangan jari di leher yang belum sepenuhnya pudar. Semua terlalu jelas untuk disebut kecelakaan.
“Kau dipukuli,” ucapnya datar, lebih seperti pernyataan daripada perkataan sederhana.
Eliza tidak langsung menjawab. Jemarinya meremas ujung gaun tidur yang terlalu tipis untuk menutupi rasa malu dan dingin yang merayap di kulitnya. “Aku…” suaranya serak. “Aku hanya ingin pergi.”
Vale melangkah satu langkah lebih dekat.
Hanya satu. Namun jarak itu cukup membuat napas Eliza tercekat lebih berat.
“Pergi dari suamimu?” tanyanya tenang.
Eliza mengangkat wajahnya perlahan. Matanya berkaca-kaca, tapi tidak jatuh. Bukan karena kuat—melainkan karena terlalu lelah untuk menangis.
“Jika aku tidak pergi… aku akan mati.”
Hening.
Vale menatapnya lama, terlalu lama, seolah sedang membongkar isi kepalanya lapis demi lapis.
“Kau tahu siapa aku?” tanyanya kemudian.
Eliza menggeleng kecil. “Aku tidak tahu,”
“Kau berani bersembunyi di mobilku, dan itu adalah masalahnya.”
“Aku tidak punya pilihan.”
Vale menghela napas tipis melalui hidung. Bukan tanda emosi—lebih seperti refleks.
“Kau memilih iblis lain untuk lari dari iblis pertamamu.”
Eliza menelan ludah.
“Setidaknya… iblis yang ini belum memukulku.” Ucapnya rendah dan sedikit menunduk saat mengatakannya.
Ucapan itu keluar tanpa sengaja.
Sejenak, udara di ruangan terasa mengeras.
Vale menatapnya lebih tajam. “Aku tidak menyentuh sesuatu yang belum menjadi milikku,” katanya pelan.
Kalimat itu tidak diucapkan dengan ancaman. Justru terlalu tenang. Dan itulah yang membuatnya mengerikan.
Eliza bergidik. “Aku tidak meminta perlindungan,” katanya cepat, takut disalahpahami. “Aku hanya ingin hidup. Setelah itu… aku akan pergi.”
“Pergi ke mana?”
“Aku tidak tahu.”
Vale tersenyum tipis. Tidak hangat. Tidak ramah. Lebih seperti bayangan senyum. Senyuman yang nampak membuatnya menjadi orang tampan.
“Luis Holloway akan membakar kota ini hanya untuk menemukanmu.”
Eliza menutup mata sesaat. “Aku tahu.”
“Dan ketika dia menemukanmu, dia tidak akan membunuhmu.”
Eliza membuka mata, napasnya bergetar.
“Dia akan memastikan kau berharap mati.”
Sunyi kembali jatuh.
Vale berbalik, berjalan menuju meja kerjanya. Mengambil sebatang rokok, menyalakannya, lalu menghembuskan asap ke arah jendela.
“Kau datang ke tempat yang salah, Elizabeth Holloway.”
Eliza mengepalkan tangannya. “Taylor! mamaku Elizabeth Taylor.” Tegas Eliza yang enggan dipanggil Holloway.
“Kalau begitu… bunuh aku sekarang.”
Vale menoleh. Alisnya terangkat sedikit.
“Kau berani?”
“Aku hanya lelah.” jawab Eliza pasrah. Ia menatap langsung ke mata pria itu. Tidak menantang. Tidak memohon.
Hanya kosong.
“Aku sudah kehilangan keluargaku. Diriku. Hidupku. Jika aku harus kehilangan nyawaku juga… lakukan saja.”
Vale berjalan kembali mendekat.
Berdiri tepat di hadapannya.
Terlalu dekat sampai Eliza bisa mencium aroma rokok, mint dan sesuatu yang dingin—seperti hujan di atas logam.
Vale menunduk sedikit, menatap wajahnya sejajar. “Kau tidak ingin mati,” katanya pelan.
“Kau hanya ingin berhenti merasa sakit.”
Air mata akhirnya jatuh setelah sekian lama ia tahan. Eliza menunduk bingung, hingga pria itu berbalik membelakanginya sambil menghisap rokoknya dengan santai.
“Pergilah, kembali lah ke Holloway. Anak buah ku akan mengawal mu sampai ke tujuan.” Pinta Vale yang saat itu juga Lou dan dua pria berkaos hitam lainnya juga ikut masuk.
Sangat terkejut, apalagi ketika kedua anak buah Vale langsung memegangi lengan Eliza dan siap membawanya pergi dari sana.
“Bawa dia pergi.” Pinta Vale tanpa menoleh.
Kedua mata Eliza terbuka lebar dan menggeleng menahan tubuhnya agar tidak dibawa.
“Aku tidak mau kembali ke tempat itu. Aku mohon jangan kembalikan aku ke sana!” kata Eliza yang mencoba melepaskan kedua tangannya dari pegangan para pria sangat itu.
Vale menoleh ke kanan dengan alis berkerut. “Dan kau tidak bisa tinggal di sini. Tempat ini bukan untuk persembunyian.” Kata Vale yang begitu tak peduli.
“Aku tahu... Tapi aku tidak ingin kembali ke sana, aku mohon... Tolong aku.” Suara lirih dan parau Eliza yang pasrah seketika berhasil menembus ke hati Vale.
Suaranya yang pasrah benar-benar terdengar hampir sama seperti suara adik dan ibunya saat diambang kematian mereka.
Sambil berderai air mata, Eliza menatap ke sosok pria yang masih membelakangi nya. “Aku mohon... Aku tidak tahu lagi harus meminta tolong kepada siapa. Tidak ada yang berani melawan Luis bahkan polisi.” isak Eliza yang kini dadanya semakin sesak.
“Lalu apa yang membuatmu datang kepadaku?” tegas Vale yang menoleh ke kanan dan sedikit lebih mengernyitkan keningnya yang nampak marah.
Eliza terdiam beberapa detik. “Karena setiap kali aku menyebut namamu dihadapan Luis Holloway... Dia selalu menggila dan hampir ingin membunuhku.” Jawab Eliza yang kini menatap datar Vale dengan mata basahnya.
Pria itu terdiam, seolah-olah dia tahu alasannya. Dia bahkan tahu siapa Elizabeth Taylor.
Hening di ruangan begitu mencengkram, sampai Lou yang berdiri di samping anak buah Vale pun membuka suara. “Tuan Vale...”
“Pergilah temui pria itu... Jika kau berani mengatakan ingin bercerai darinya, maka aku akan menikahi mu.” Kata Vale yang langsung ke intinya tanpa berbalik badan. "Tapi aku tidak bisa menjamin kehidupan mu akan menyenangkan bersamaku.”
Itu mengejutkan Eliza dan Lou termasuk kedua anak buahnya.
Selama ini bos mereka hanya fokus dengan bisnis sampai lupa dengan percintaan ataupun pernikahan, namun sekarang... Dia malah memberikan perintah seperti itu kepada Eliza.
“Kenapa harus melakukan itu? Kenapa harus menikahi mu?” tanya nya, napasnya naik turun dan kedua matanya berkaca-kaca. Setelah pernikahan nya dengan Luis. Bagaimana bisa Eliza percaya akan pernikahan lagi.
Seketika Vale berbalik usai memadamkan rokoknya di atas meja kerjanya. Kini pria bermata silver itu menatap lekat wanita di hadapannya dengan ekspresi datar.
“Tidak ada yang gratis di dunia ini.” Jawab Vale yang masih menatap datar. “Kau ingin aku menolong mu, maka temui dia dan ceraikan dia.”
Eliza terdiam menatap dalam dan datar, seolah-olah kehidupannya sedang mempermainkan nya saat ini.
“Why? You afraid? (Kenapa? Kau takut)?”
Wanita itu berpaling ke arah lain, kedua tangannya masih dipegangi oleh anak buah Vale.
Pria itu berjalan mendekatinya, mendekati wajah Eliza, mengamati wajah cantiknya yang terhiasi oleh luka yang menyakitkan. “Beranikan dirimu sebelum meminta pertolongan dariku.” kata Vale yang seketika ditatap oleh Eliza.
“Jika kau menginginkan sesuatu dariku— ”
“Aku tidak pernah menginginkan sesuatu yang belum menjadi milikku.” Potong Vale. “Jadilah milikku, maka aku akan menginginkan sesuatu darimu dan melindungi mu.”
Bak ada slowmo di ruangan tersebut. Kontak mata mereka saling beradu tanpa berpaling dan memiliki makna masing-masing.
its too little to late Dude..
di rela menjadi samsak asal tubuhnya tdk dijamah 👏👏👏 attagirl