Ikhtisar :
Dia bernama Ayu Purnama, anak ketiga dari empat bersaudara. Dari keluarga sederhana, ayahnya bekerja sebagai supir bus sedangkan ibunya pedagang tas ayaman. Ayu memiliki 2 kakak laki-laki dan 1 adik laki-laki, Ayu kembar dengan kakak keduanya. Tapi sayangnya, meski pun Ayu anak kandung dari keluarga tersebut dia selalu di sisihkan oleh sang ibu. Karena sang ibu hanya ingin memiliki anak laki-laki, ibunya berpikir kalau anak perempuan tidak akan bisa mengangkat derajat keluarganya dan keluar dari keterpurukan.
Suatu hari, ada seorang laki-laki dari keluraga kaya raya yang menyukainya karena kecantikan dan kegigihannya. Tetapi Ayu masih memiliki keinginan untuk melanjutkan kuliah, dia nekat untuk kabur dari rumahnya untuk mewujudkan cita-citanya. Apakah kepergian Ayu kan membuahkan hasil dan menjadi sukses setelah meninggalkan rumahnya itu ? Silahkan simak ceritanya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Ke Bandung
“Sepandai-pandai tupai melompat, pasati akan tertangkap juga. Sebagai mana kita menutupi kejahatan, pasati suatu hari nanti akan terbuka”
_ Ayu Purnama_
Setelah menyelesaikan berkas-berkas kasus Rasmisi untuk di bawa sidang minggu depan, dengan tuduhan penculikkan anak di bawah umur yang tertulis di pasal 330 KUHP (membawa lari anak) dengan ancaman penjara 7 sampai 9 tahun. Dengan itu Rasmisi, di jatuhkan penjara dalam selama 9 tahun penjara. (Mohon maaf bila salah)
Sidang hari ini keluarga Cassarius, tidak datang ke persidangan karena telah di serahkan kepada pengacara pribadi keluarga mereka. Dan Alvin tidak mau anak-anaknya, terseret dalam masalah itu. Sesuai rencana, hari ini Alvin akan pergi ke Bandung, untuk menemui keluarga yang telah merawat Ayu dan menemui Aizam.
“Apa kalian sudah siap ?” Tanya Alvin
“Sudah ayah, ayo kita berangkat” Jawab Ayu
“Teman kamu jaid ikut gak, sayang ?” Tanya Alvin
“Jadi ayah, Evi sudah ada di depan katamya” Jawab Ayu
“Kalau begitu ayo kita pergi sekarang, karena hari sudah siang takutnya nyampai Bandung kemalaman banget” Ajak Sumitra
“Iya nek, kami sudah siap semuanya” Jawab Ayu
“Mentang-mentang mau keteku sama cucu pertamanya, kita jadi terlupakan Yu” Ujar Elina
“Iya, pasti nenek lebih sayang kak Aizam dari pada kita” Jawab Ayu
“Nenek, akan selalu sayang kalian kok dan tidak akan membeda-bedakan kalian” Ujar Sumitra
“Nenek janji ya ?” Tanya Elina
“Iya nenek janji” Jawab Sumitra lalu memeluk kedua cucu perempuannya
“Ayo, cepat masuk mobil ratu dan princessku” Ujar Alvin
“Terimas kasih pengawal” Ucap Sumitra membuat Alvin cemberut
“Ibu kok gitu sih, panggil aku pengawal” Kata Alvin merajut
“Gak usah merajut, sudah tua juga malu sama anak-anakmu. Masa udah punya anak tiga, masih seperti anak kecil” Ujar Sumitra
Mendengar celutukan sang nenek, Ayu dan Elina tertawa membuat Alvin merasa bahagia karena bisa melihat anak-anaknya tertawa bersama.
“Kalau Elgard juga bersama kita, pasti lebih ramai lagi. semoga Elgard bisa menerimaku seperi Elara” Lirih Alvin
Mobil mereka melaju dengan santai, mereka memilih melalui tol Gedebage karena untuk menghindari kemacetan. Karena perjalanan Yogyakarta ke Bandung membutuhkan waktu 6,5 jam, mereka menghabiskan waktu dengan saling bercerita.
“Aku ikut senang loh Yu, kamu dapat keluarga seperti mereka. Aku masih teringat bagaimana sikap ibu Lastri kepadamu, yang selalu pilih kasih. Semoga kamu selalu bahagia yah, aku akan selalu berdoa untuk kamu bestieku” Bisik Evi
“Makasih yah Vi, sudah nemani aku dari SMP sampai sekarang dan aku bisa bertemu mereka juga berkat kamu. Jika waktu itu kamu dan keluarga kamu tidak membantu aku, pasti aku tidak akan bertemu dengan mereka. Aku bersyukur mendapatkan teman seperti kamu” Jawab Ayu sambil berbisik
Karena Ayu dan Evi duduk di kursi belakang, membuat Elina yang sedikit mendengar bisik-bisik dari belakang langsung menoleh.
“Kalian sedang membicakan apa ? Kok bisik-bisik ?” Tanya Elina
“Kita hanya sedang bernostalgia” Jawab Evi berbohong
“Tentang apa ?” Tanya Elina
“Kamu pasti tidak pernah merasakan sesulit apa Ayu waktu dulu” Jawab Evi
“Sudah Vi, jangan di lanjutkan” Tegur Ayu
“Cerita saja, gak papa kok. Aku kan kakak kamu, jadi jangan ada rahasia di dalam hidup kita” Jawab Elina
Sedangkan Alvin dan Sumitra hanya mendengarkan saja …
“Aku sama Ayu sudah sahabatan sejak SMP, jadi aku tahu bagaimana hidup susahnya Ayu pada waktu itu dan pasti kamu tidak akan pernah merasakan di posisinya Ayu” Ujar Evi menjeda
“Dari Ayu kelas 4 SD, Ayu sduah di ajarkan untuk bisa mengerjakan pekerjaan rumah dan bisa dalam menganyam karena tante Lastri suka jualan tas anyaman, kadang Ayu juga berjualan makanan. Karena pada waktu SD, Ayu jarang di kasih bekal. Ibu Lastri sangat pilih kasih diantara 4 anaknya, ibu Lastri hanya menyayangi kak Yudi dan Guntur saja sedangkan Ayu dan Aizam mereka selalu di anak tirikan” Lanjut Evi
“Mungkin itu karena ibu lastri sudah tahu kalau Elara dan Elgard bukan anaknya kali” Ujar Elina
“Aku juga gak tahu” Jawab Ayu
“Kamu ingin tahu tidak, ada salah satu cerita tentang Ayu yang membuat aku sedih tapi Ayu tidak tahu aku pada saat itu menangis ?” Tanya Evi
“Apa ?” Tanya Elina
“Sudah jangan lanjut ceritanya” Ujar Ayu
Mendengar ucapan Ayu, Evi diam tapi Elina terus memaksa Evi …
“Tidak papa, lanjutin saja aku kan kakaknya harus tahu tentang adik aku sendiri” Kata Elina
“Iya, lanjutin saja karena om juga ingin tahu kelanjutannya” Timpal Alvin membuat Ayu menelan savalinya dengan susah payah
Mau tak mau, Evi melanjutkan ceritanya …
“Ayu pernah menjual PRnya kepada teman kita, untuk uang jajannya karena Ayu tidak pernah di kasih uang jajan oleh ibu Lastri kecuali oleh om Asep karena om Asep sangat menyayangi Ayu. Om Asep selalu sembunyi-sembunyi, disaat akan memberi Ayu uang jajan. Beh … kalau ketahuan oleh ibu Lastri pasti uang saku Aku akan di ambil lagi, begitu juga dengan Aizam” Jawab Evi
“Dan Ayu juga pernah menjadi tukan cuci piring di kantin sekolah, karena dia kelaparan di sekolah jadi membayarnya dengan membantu ibu kantin cuci piring atau menjadi tukang antar minuman dan Aizam juga begitu” Lanjut Evi
Mendengar cerita Evi, membuat Elina, Sumitra dan Alvin tak kuasa menahan air matanya. Mereka menangis membayangkan, kerasnya hidup Ayu di masa lalu dan membuat Alvin berjanji akan membahagiakan putrinya itu disisa hidupnya. Alvin merasa bersalah kepada mendiang istrinya, karena tidak bisa membuat salah satu putri dan putranya bahagia.
“Maafkan ayah ya, Elara karena ketidaktahuan ayah jadi membuat hidup kamu serba kekurangan. Kalau Ayah tahu dari awal kamu menghilang, pasti ayah akan langsung mencari kamu” Ujar Alvin
“Tidak papa ayah, mungkin ini sudah menjadi jalan takdir aku dan kak Aizam. Dan aku juga tidak menyalahkan Allah, tentang takdir ini” Jawab Ayu
“Tak ayah maaf, jika aku dan kak Aizam tidak seiman dengan keluarga ayah karena kami di besarkan di keluarga muslim” Lanjut Ayu
“Ayah tidak masalah nak, tentang perbedaan itu. Yang terpenting anak-anak ayah, bisa berkumpul lagi. Apa Elgard kuliah ?” Ujar Alvin
“Tidak ayah, karena kita tidak cukup untuk biaya kuliah. Kita juga membantu mama, untuk membiayai kuliah kak Yudi S2 jadi kita tidak di kuliahkan. Aku juga nekat datang ke Yogyakarka, karena aku menemukan selembar formular kalau ada beasiswa yang selama 3 tahun sekolah masuk rangking 3 besar. Karena aku selalu rengking 1 di kelas, jadi aku mencobanya dan alhamdulillah aku lolos. Awalnya, aku juga mengajak kak Aizam tapi ” Jawab Ayu
“Ayah akan menguliahkan dia, di kampus yang sama dengan kamu nantinya. Agar dia bisa menjadi penurus ayah” Ujar Alvin
“Beneran ayah ?” Tanya Ayu merasa bahagia
“Iya sayang” Jawab Alvin tersenyum
“Pasti kak Aizam senang, karena dia bisa kuliah seperti kak Yudi” Ujar Ayu tersenyum membayangkan
Melihat anaknya bahagia, membuat Alvin tersenyum bahagia. Mungkin dia telah melewatkan masa kecil anak kembarnya itu, tetapi dia tidak akan menyia-nyiakan ksempatan kedua ini untuk bisa melihat anak-anaknya sukses di kemudian hari.
*****
Setelah menempuh 6 jam lebih di perjalnan, akhirnya mereka sampai di depan rumah milik Asep dan keluarga. Alvin langsung turun, Ayu begitu sangat merindukan suasana lingkungan rumahnya itu. Karena mereka sampai di kota Bandung pukul 2 siang, dan untungnya Lastri dan Asep ada di rumah.
Ayu langsung bergegas masuk ke rumahnya …
TOK … TOK … TOK …
“Assalamu,alaikum” Ujar Ayu
Tak lama Lastri membukakan pintu …
“Wa’alaikumsalam” Jawab Lastri dan saat membuka pintu lantri tertegun melihat Ayu yang berada di hadapannya
Melihat Ayu di depannya, Lastri langsung memeluk Ayu …
“Ayu” Ujar Lastri sambil memeluk yang di sambut oleh Ayu
“Ibu kenapa ?” Tanya Ayu
“Maafkan ibu Yu, aku sadar akan kesalahan ibu. Kamu kemana saja selama 1 tahun ini, ibu kangen sama kamu” Jawab Lastri
“Kita masuk dulu bu” Ajak Ayu
Mereka langsung masuk ke rumah Lastri
“Silahkan duduk Ayah” Ujar Ayu
“Siapa mereka Yu ? Kenapa kamu memanggil bapak itu dengan sebutan ayah ?” Tanya Lastri bingung
“Nanti kita jelasinnya bu Lastri, apa di rumah ada pak Asep ?” Ujar Alvin
“Ada pak, sebentar saya akan panggilkan” Jawab Lastri
Lastri lalu masuk ke dalam lalu memberitahukan Asep …
“Pak ada tamu diluar bersama Ayu, katanya ingin bertemu sama bapak” Ucap Lastri
“Siapa bu ?” Tanya Asep
“Ibu juga gak tahu pak” Jawab Lastri
“Ayo bu kita ke depan melihat siapa” Ajak Asep
“Sebentar ibu akan membawakan minum dulu” Ujar Lastri
Asep menuggu Lastri membawakan minum, dan bersama-sama menuju ruang tamu.
“Selamat siang pak Asep” Ucap Alvin
“Siang pak” Jawab Asep lalu melihat ke arah Ayu
“Ayu ? itu kamu, nak ?” Tanya Asep dengan mata berkaca-kaca
“Iya pak, bapak sehatkan ?” Ujar Ayu
“Iya, alhamdulillah. Kamu kemana saja Yu, kakak-kakak kamu mencari kamu kemana-mana tapi tidak ketemu. Kamu sudah meninggalkan rumah ini, 1 tahun dan rumah ini menjadi sepi sejak kamu pergi. Jangan pergi-pergi lagi ya nak, bapak sangat mencemaskan kamu” Jawab Asep
Melihat kasih sayang Asep kepada Ayu, membuat Alvin bisa menilai kalau Asep benar-benar menyayangi putrinya itu.
“Siapa dia, Ayu ? Kok mirip wajahnya dengan kamu ?” Tanya Asep terkejut karena tadi Lastri tidak melihatnya
“Ini yang akan saya tanyakan kepada pak Asep dan ibu Lastri” Jawab Alvin
Lastri yang baru saja sampai langsung ikut duduk bersama mereka …
“Ada apa ya, pak ?” Tanya Asep
“Saya mau menanyak apa benar bapak menemukan Ayu 22 tahun yang lalu ?” Tanya Alvin
“Ayu itu anak saya, pak” Jawab Asep karena dia tidak mau kehilangan Ayu
“Ini ada bukti tes DNA, saya dengan Ayu dan tertulis di sana 99,99 kalau darah saya dna Ayu itu cocok. 22 tahun yang lalu mendiang istri saya melahirkan anak kembar, namun 2 menghilang dan pihak rumah sakit menyembunyikan ini dari saya dan keluarga. Kalau saya tahu 2 anak saya menghilang, saya akan langsung mencarinya. Namun pihak rumah sakit tidak memberitahu kalau anak saya kembar 3, saya sangat mohon bapak bisa menjelaskan tentang ini semua agar semuanya terselesaikan” Ujar Alvin
“Memang benar kalau Ayu dan Aizam itu bukan anak kandung saya, dan saya menemukannya di tepi jalan pada saat itu bertepatan istri saya melahirkan namun anak kami tidak tertolong” Jawab Asep sambil menundukkan kepalanya
Flashback On
22 tahun yang lalu Lastri yang tengah hamil 8 bulan mengalami kontraksi yang sangat hebat, Asep langsung membawa Lastri ke rumah sakit dengan bantuan dari Wahyu.
“Aduh … a, sakit banget perut aku” Ucap Lastri yang terbangun tengah malam
“Kamu kenapa sayang ?” Tanya Asep
“Perutku sakit banget, gak kuat” Jawab Lastri
“Ketubannya sudah pecah, ayo kita ke rumah sakit. Aku akan meminta bantuan kepada Wahyu” Ujar Asep
“Ayo kita keluar” Ajak Asep karena masih mnegantuk membuat kepalanya agak pusing
Setelah sampai di teras rumah …
“Kamu di sini sebentar, aku ke rumah Wahyu dulu mau minta bantuan” Ujar Asep lalu berlari ke rumah Wahyu
Tok … Tok … Tok …
“Assalamu’alaikum” Ucap Asep sambil mengetuk pintu
“Wa’alaikumsalam” Jawab Wahyu karena belum tidur
Dan langsung membuka pintunya dan mendapati Asep yang kelihatan sangat cemas …
“Ada apa bang ?” Tanya Wahyu
“Aku mau minta tolong, antarkan aku ke rumah sakit karena Lastri perutnya terasa sakit” Jawab Asep
“Teh Lastri mau lahiran ?” Tanya Wahyu
“Kayaknya, aku perlu bantuan kamu” Jawab Asep
Wahyu langsung bergegas masuk ke kamarnya dan bersiap tak lupa membangunkan Fitri.
“Fit bangun” Ujar Wahyu sambil menggoyangkan tubuhnya
“Ada apa sih a ?” Tanya Fitri
“Teh Lastri katanya mau lahiran, aku mau mengantarkannya” Jawab Wahyu
“APA ?! Kok bisa kan satu bulan lagi” Tanya Fitri
“Aku gak tahu” Jawab Wahyu
“Aku ikut a, sebentar” Ujar Fitri sambil mengambil kerudung dan menggendong Cika
Setelah selesai bersiap, mereka langsung pergi ke rumah sakit. Jarak tempuh ke rumah sakit memakan waktu 15 menit, dan untungnya perawat rumah sakit bekerja cepat.
Lastri langsung di giring ke ruang bersalin dengan di temani oleh Asep, sedangkan Yudi di titipkan kepada Fitri.
“Terus dorong bu sedikit lagi” Ujar Dokter
“Mmmmmppppphhhhh” Lastri terus berusaha 2 kali
Setelah berusaha seuat tenaga, akhirnya Lastri melahirkan bayi kembar. Karena merasa lelah, Lastri meminta izin kepada Asep untuk tidur. Malam itu Asep merasa bahagia, karena istrinya telah berhasil melahirkan anak-anaknya. Namun takdir berkata lain …
“Ada yang perlu saya katakana kepada bapak” Ucap Dokter
“Ada apa ya dok ?” Asep
“Ikut saya sebentar pak” Jawab Dokter
Asep mengikuti dokter ke ruang tempat bayi …
“Tadi pada saat anak-anak bapak selesai di mandikan, detak jantungnya tidak berdetak dan saya sudah beberapa kali mengeceknya. Namun, takdir berkata lain. Mungkin Allah sangat menyayangi mereka, dan mengambilnya kembali. Mohon pak, ini berita duka yang harus saya sampaikan” Ujar Dokter dan Asep sudha tidak bisa membendung air matanya
“Tidak dok, itu tidak mungkin. Tadi saya masih bisa mendengar tangisan mereka, coba dokter periksa lagi” Jawab Asep
“Bisa bapak lihat anak-anak bapak, mereka berjenis kelamin laki-laki. Dan mohon maaf itu sudah qodarulloh, saya permisi pak” Ujar Dokter
Sepeninggalan dokter, Asep melihat anak-anaknya yang sudah tidak bernyawa lagi. hatinya sangat hancur, Asep merasa bingung harus bagaimana menyampaikan berita duka ini kepada sang istri.
Sedangkan di luar, Fitri yang merasa tidak enak perasaannya …
“Ada apa ya a ? Kenapa perasaan aku tidak enak sekali” Tanya Fitri kepada Wahyu
“Tidak tahu, semoga tidak terjadi sesuatu” Jawab Wahyu
Setelah menunggu hampir 30 menit, Asep keluar dari ruangan bayi dan menyampaikan berita duka kepada adik iparnya itu.
“Innalillahi wainna ilaihi rojiun, abang harus sabar ya. Pasti ada hikmahnya dari ini semua, dan abang harus kuat, karena pasti the Lastri sangat terpukul akan berita ini” Ujar Wahyu karena Fitri tidak bisa berkata apa-apa lagi dia menangis sesegukan
“Aku tidak akan memberitahukan kepada Lastri, aku tidak mau dia frustasi akan kepergian mereka. Dan aku akan mencari 2 anak bayi, bagaimana pun caranya” Jawab Asep
“Tapi teh Lastri harus tahu akan kebenaran ini a, karena dia adalah ibunya” Jawab Fitri
“Apa kamu mau meliha teteh kamu terpuruk lagi Fitri, seletah 1 tahun lalu insiden keguguran itu ?” Tanya Asep membuat Fittri terdiam
“Terus bagaimana caranya kita mencari bayi kembar untuk teh Lastri, bang ?” Tanya Wahyu
“Aku akan ke panti asuhan dan mengambil bayi kembar, Wahyu tolong antar aku ke sana dan kamu Fitri tolong beritahu dokter jangan memberitahukannya tentang kebenaran ini” Jawab Asep
Asep dan Wahyu meninggalkan rumah sakit untuk pergi ke panti asuhan yang ada di kota Bandung, namun dalam perjalnan ban mobil Wahyu kempen dan untungnya Wahyu selalu mneyiapkan serep untuk hal yang tidak terduga seperti saat ini.
Di saat Asep sedang menunggu Wahyu mengganti ban mobilnya, tidak sengaja dia mendengar suara tangisan bayi. Karena penasaran, Asep mengikuti arah suara itu dan terkejutnya dia saat melihat 2 bayi yang tergeletak di bawah pohon rindang.
“Astagfirulloh al’adzim, siapa yang meninggalkan bayi di bawah pohon seperti ini. Kasihan sekali mereka, apa mereka di buang karena anak yang tidak diinginkan ?” Gumam Asep
“Aku akan mengadopsinya dan menggantika anakku yang meninggal, alhamdulillah ya Allah telah memberikan anak kembar dan memberikan jalan untuk hamba yang tengah kesusahan ini” Lanjut Asep
Lalu Asep membawanya ke arah mobil Wahyu …
“Yu, aku menemukan anak bayi kembar di pohon rindang itu” Ujar Asep
“Anak siapa bang ?” Tanya Wahyu
“Aku gak tahu, tapi aku kasihan karena mereka kedinginan. Tangan mereka sudah dingin, ayo kita bawa ke rumah sakit dan mengadopsinya” Jawab Asep
“Alhamdullah, Allah memberikanjalan untuk kita meski pun untuk berbohong” Ujar Wahyu
“Itu juga untuk kebaikkan bersama” Jawab Asep
Setelah itu mereka meninggalkan tempat itu karena Wahtu sudah selesai mengganti bannya, setelah sesampai di rumah sakit Asep dan Wahyu memohon kepada dokter untuk berbohong jika anak itu anak dirinya dan Lastri.
Flashback Off
Mendengar cerita dri suaminya, Lastri merasa bersalah karena telah berlaku tidak adil kepada Ayu dan Aizam. Lastri memandangi Ayubegitu dalam, sekelebat bayangan masa lalu yang telah dia perbuat kepada Ayu berpiutar di pikirannya.
“Maafkan mama Ayu, karena telah membuat kamu menderita selama menjadi anak mama” Ucap Lastri sambil berderai air mata
“Ayu sudah memaafkan mama, kalau tidak ada bapak sama mama. Tidak mungkin aku bisa sampai berdiri seperti ini” Jawab Ayu
“Tapi mama tidak pernah memberikan kamu kasih sayang, seperti kepada Yudi dan Guntur” Ujar Lastri
“Tidak papa ma, aku sudah ikhlas mungkin itu sudah menjadi jalan hidup aku” Ucap Ayu sambil memberikan senyuman tulus
“Kalau boleh tahu, dimana sekarang Aizam ?” Tanya Alvin
“Dia sedang bekerja di pasar pak, tepatnya di toko mainan yang terkenal itu” Jawab Asep
“Boleh tolong suruh dia pulang sekarang ?” Tanya Alvin
“Bisa pak, tunggu sebenatar” Jawab Asep
Lalu Asep menelpon Aizam, dan menyuruhnya untuk segera pulang. Di sebarang sana, Aizam merasa khawatir karena sang ayah menyuruhnya pulang secara mendadak dan tak lupa Aizam juga menelpon Yudi untuk ikut pulang bersamannya karena sekarang Yudi telah bekerja di perusahaan di bidang permodalan.
Setelah menunggu hampir 1 jam, akhirnya Aizam dan Yudi sampai di rumah bersamaan. Di saat mereka memasuki rumah mereka, membuatnya terkejut.
“Ayu ?” Ujar Aizam dan Yudi bersaman
“Kakak” Jawab Ayu
Mereka berpelukan dan menangis melepaskan kerinduan masing-masing …
“Kamu kemana saja Yu, kita mencari kamu kemana-mana” Ujar Aizam
“Kita sangat khawatir sama kamu” Tambah Yudi
“Aku keluar kota kak sama Evi, aku kuliah di sana” Jawab Ayu
“Kamu nekat kuliah di sana sendirian, Yu ?” Tanya Aizam
“Iya kak, aku ingin merasakan rasanya kuliah dan insyaallah kakak juga akan kulaih sama aku” Jawab Ayu
“Mana mungkin, aku belum cukup uang untuk kuliah Yu dan ini juga kita sedang mengumpulkan uang untuk meneruskan kuliah kak Yudi yang mandeg” Ujar Aizam
“Saya yang akan mengulihkan kamu” Timpal Alvin
Mendengar ucapan seorang laki-laki paruh baya, membuat Aizam mengalihkan pandangannya kepadanya.
“Om siapa ? Tidak usah repot-repot om, biar aku yang mengumpulkan uangku sendiri” Uajr Aizam
“Ayu, kok kamu ada dua sih ?” Tanya Yudi yang baru sadar kalau adiknya ada dua
“Iya kak, dia kakak kembarku” Jawab Ayu tersenyum
“Tidak mungkin, kembaran kamukan Cuma Aizam saja dan aku mengenal kamu itu bukan sehari atau dua hari kita sudha hampir 22 tahu Yu” Ucap Yudi tidak mempercayainya
“Sekarang kalian duduk dulu, ada yang perlu bapak sampaikan kepada kalian berdua” Kata Asep
Mereka pun duduk, sedangkan Asep memulai menceritakan kembali kisah 22 tahun yang lalu dan membuat Aizam dan Yudi tidak percaya.
“Bapak sednag membohongi kita kan ? Ayu dan Aizam itu adik aku, pak” Ucap Yudi
“Dan kenapa pak Alvin baru sekarang mencari Aku sama Ayu ? Kenapa tidak dari dulu ?” Tanya Aizam
“Karena ayah baru tahu kalau Elina itu kembar 3, ayah hanya tahu kalau Elina itu anak satu-satunya yang di lahirkan oleh Angbin” Jawab Alvin
“Aku masih tidak percaya sama anda” Ucap Aizam
“Saya akan tes DNA antara saya dan kamu, nak sekarang” Ujar Alvin
“Tolong percayai ayahmu sayang, dia sangat terpuruk di saat ibu kalian meninggal di saat melahirkan kalian bertiga” Kata Sumitra
“Iya kak, kakak Aizam itu kakak aku juga” Timpal Elina
“Tapi aku masih belum percaya” Jawab Aizam
Alvin langsung menelpon tangan kanannya yang ada di daerah Bandung, untuk segera datang ke rumah Asep.
“Kita tunggu asisten ayah, dia sedang menuju ke sini” Ujar Alvin
Setelah menunggu 30 menit, akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga.
“Permisi” Ujarnya
“Itu dia asisten ayah, dia bernama Erik” Ucap Alvin
“Ada yang bsia saya bantu pak ?” Tanya Erik
“Tolong antar kami ke rumah sakit yang terbaik di kota ini, aku ingin tes DNA dengan anak sulung saya” Jawab Alvin
“Baik pak, akan saya antar bapak. Mari” Ujar Erik
Alvin dan Aizam pergi ke rumah sakit yang berada di Bandung, karena Alvin ingin membuktikan kalau dia memang anak kandungnya. Di perjalanan, tidak ada perbicaraan antara ayah dan anak itu, karena Aizam merasa canggung dengan Alvin.
“Jika benar kamu adalah anak ayah, apakah kamu mau ikut dengan ayah ke Yogyakarta ?” Ujar Alvin tapi Aizam masih diam
“Ayah akan mengkuliahkan kamu, sama seperti Ayu karena adik bungsu kamu sudah lulus kuliah 2 tahun yang lalu” Lanjut Alvin karena ingin bercengkrama dengan anak laki-lakinya itu
“Gimana hasil tes DNA itu saja om, karena aku merasa syok atas kejadian ini yang secara tiba-tiba” Jawab Aizam
“Tidak papa, itu hal yang wajar karena kamu tahunya orang tua kamu itu pak Asep dan ibu Lastri” Ujar Alvin
Sesampai di rumah sakit, Alvin dan Aizam digiring ke ruang pengambilan darah. Namun hasilnya tidak bisa di ambil hari itu juga, karena besok baru bisa di berikannya.
*****
Sepulang dari rumah sakit, mereka langsung pulang karena hari sudah malam. Karena ingin ada momen dengan anaknya, Alvin sengaja membawa Aizam ke supermarket untuk membeli makanan untu merayakan pertemuan dia dan anak-anaknya.
Sesampai di rumah …
“Wah … ayah beli apa saja ? Kok banyak banget ?” Tanya Ayu tersenyum
“Aya belanja untuk kita pesta kecil-kecilan mala mini, sayang” Jawab Alvin
“Yeee …, kita akan berpesta, aku akan menyiapkan semuanya dan memberitahu kepada Elina” Ujar Ayu sambil memeluk Alvin
Mereka tidak menyadari ada seseorang di balik pintu kamar yang memperhatikan interaksi ketiganya.
“Aku tidak pernah melihat Ayu tersenyum sebahagia itu, selama di sini” Gumam Asep
Ya, Asep yang mengintip mereka karena suara Ayu yang tidak biasa dia dengar selama di sana.
“Kamu sedang melihat apa pak ?” Tanya Lastri yang penasaran
“Itu Ayu, aku tidak pernah melihat dia tersenyum sebahagia itu selama dia di sini. Aku hanya sering melihat dia menangis, dan kalau tersenyum pun dia tidak seceria itu” Jawab Asep tanpa mengalihkan pandangannya dari Ayu
“Iya pak, mungkin karena aku dulu kurangnya memberikan dia kasih sayang jadi setelah dia di berikan begitu banyak kasih sayang oleh pak Alvin. Ayu bersikap begitu manja” Ujar Lastri
Di saat mereka sednag mengintip, Ayu memanggil semua anggota keluarganya.
“Pak, ma. Ayo kita kebelakang, kita bakar-bakar sama yang lain” Ajak Ayu
“Ayo nak, kita ke sana” Jawab Keduanya
Pada malam itu, Ayu merasa menjadi orang yang paling bahagia karena melihat keluarganya sendag berkumpul dan bercengkrama dan tidak ada yang saling membenci lagi.