arif dan Erika sudah menikah selama 3 tahun. Namun, Erika harus melepaskan pernikahan dan orang yang sangat dia cintai karena arif lebih memilih sepupunya, Lanni. Arif Wistan berhutang budi pada Lanni Baswara karena telah menyelamatkan nyawanya hingga gadis itu jatuh koma selama 3 tahun. Dibalik sikap lemah lembutnya, tidak ada yang tahu apa yang telah direncanakan Lanni selama ini, kecuali Erika. Erika bertekad akan membalaskan dendamnya pada keduanya karena telah menghancurkan hidupnya. Ada apakah sebenarnya diantara mereka bertiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUJUH BELAS
Gardan tampak terkejut, dan Erika memanfaatkan momen ini untuk melepaskan diri dari cengkeramannya. Dia mengayunkan kakinya dengan tendangan memutar.
Tetapi Gardan menghindarinya! Urat-urat di dahinya mulai berdenyut.
"Erika Baswara!"
Dia tidak pernah mengira akan ada hari dimana Erika memamerkan taringnya padanya!
Erika menyeringai, "Tuan Wistam, maaf sudah membuatmu menunggu tapi jawabannya tetap tidak."
Dia berjalan menuju ke arah pintu.
Urat-uratnya mulai berdenyut lagi bahkan lebih kencang dari sebelumnya. Tapi kali ini, dia tidak menghentikannya. Erika yang ini sangatlah berbeda dengan yang dia kenal selama ini. Dia bahkan merasa wanita yang dia nikahi selama tiga tahun terakhir itu hanya menunjukkan sisi luar dari dirinya saja.
Apakah sekarang akhirnya Erika memutuskan untuk mengabaikan semua kepura-puraannya karena sudah tidak berguna lagi?
Tidak! Dia pasti sedang merencanakan sesuatu!
Dia tidak akan berubah pikiran hanya karena ini!
Gardan menatapnya saat Erika menempelkan tangan di gagang pintu. Tetapi wanita itu tidak menggubrisnya. Tangannya masih bertengger di gagang pintu dengan lembut. Dia perlahan berbalik padanya.
Gardan menyeringai. Dia tahu Erika sedang bermain-main!
Dasar wanita licik!
Namun, Erika melihat ke arahnya dengan acuh tak acuh, "Jika Tuan Wistam menginginkan yang terbaik untuk Keluarga Wistam, maka cepatlah selesaikan proses perceraiannya. Jangan hubungi aku kecuali tentang akta perceraian. Mari berpisah dengan baik-baik."
Dia lalu berjalan keluar tanpa berbalik.
Saat sedang keluar, dia menyadari ada orang yang sedang memperhatikan mereka dari jauh melalui sudut matanya.
Meskipun sosok tersebut bergerak cukup cepat, Erika tahu itu adalah Lanni karena dia mengingat warna gaunnya.
Dia menyeringai dan kembali ke ruangannya sendiri.
Wisnu melihat wajah Erika yang tampak tak terusik dan tersenyum, "Apa yang membuatmu lama sekali?"
Erika menarik kursi dan duduk di atasnya. "Aku bertemu dengan seekor lalat dan mencoba untuk menyingkirkannya."
Gardan berjalan melewati pintu ruangan mereka tepat saat dia mengatakan itu. Wajahnya menggelap.
Wisnu menaikkan sebelah alisnya, "Gardan datang mencarimu, hah?"
Erika tetap diam. Wisnu harus tahu sesuatu melihat sikapnya yang diam.
Wisnu menatapnya dengan penasaran, "Apa kalian belum bercerai secara sah?"
Erika menyesap jusnya, "Dokumennya sudah ditandatangani. Aku tinggal menunggunya senggang agar kami bisa pergi untuk mendaftarkan perceraian."
Wisnu tersenyum, "Sepertinya pak presiden cukup sibuk. Dia bahkan tidak punya waktu untuk menyelesaikan perceraiannya."
Erika menatapnya, "Apa kau sedang menyindir?"
Wisnu terkekeh, Tidak terlalu. Hanya mengamati saja.
Erika melihat ke arahnya dan berkata, "Jadi, kau berbohong saat bilang ingin makan malam untuk membicarakan bisnis denganku? Alasan yang sebenarnya adalah agar aku bisa melihat kenyataannya?"
Apakah membawanya kemari adalah sebuah tes?
Tes untuk mencari tahu tentang hubungannya dengan Gardan dan untuk melihat apakah dia mengirimnya sebagai mata-mata.
Ahh...
Ini hal yang baru untuknya. Dia tidak pernah mengira bahwa dia bisa memiliki peran yang begitu penting hingga seseorang sangat menghargainya.
Wisnu menggelengkan kepala dengan putus asa, "Kau memang sangat cerdas."
Erika menatapnya kembali tanpa mengatakan apapun.
Seperti dugaannya, pertemuan mereka dengan Gardan dan Lanni di sini bukanlah suatu kebetulan. Dia sudah menyusun ini semua untuk melihat bagaimana reaksinya
Erika berkata dengan lembut, "Kau yang memintaku untuk menangani kasus ini. Aku tidak memulainya. Jika bukan karenaku, kau tidak akan punya kesempatan untuk memenangkan kasus ini. Kau tahu itu sejak awal."