Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.
Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.
Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desakan Darian
Pesan dari Estrel membakar layar ponsel Darian, dua kalimat pendek yang lebih beracun dari bisa ular paling mematikan.
“Lihat, Darian? Dia bukan korban. Dia pembohong.” Kata-kata itu, ditambah dengan diagnosis medis yang mengerikan di bawahnya, menciptakan sebuah disonansi yang menggetarkan di benak Darian.
Trauma benda tumpul.
Istilah klinis yang dingin itu menyiratkan kekerasan, sebuah serangan. Namun, pesan Estrel melukis gambar yang sama sekali berbeda, seorang gadis licik dengan masa lalu yang kotor.
Dua realitas itu berperang di kepalanya. Di satu sisi, ada ingatan tentang Queenora yang meringkuk di tempat tidurnya, merintih memanggil nama ‘Elang’ dengan duka seorang ibu yang kehilangan segalanya. Di sisi lain, ada kebohongan.
Kebohongan karena menyembunyikan fakta sebesar ini. Ia telah membuka pintu rumahnya, pintu menuju putranya, bahkan sedikit celah di hatinya, kepada seorang wanita yang ternyata menyimpan rahasia kelam yang begitu besar.
Rasa dikhianati terasa dingin dan tajam. Dengan langkah-langkah yang berat dan terukur, Darian meninggalkan ruang kerjanya. Ponsel itu masih tergenggam erat di tangannya, terasa seperti sepotong es yang membakar.
Darian menemukan Queenora di tempat yang sudah ia duga, di kamar Elios. Gadis itu sedang duduk di kursi goyang, menyenandungkan nada lembut sambil melipat pakaian bayi yang baru dicuci. Pemandangan itu begitu damai, begitu murni, hingga terasa seperti sebuah kebohongan visual yang menyakitkan.
“Queenora.”
Suaranya yang rendah dan tanpa emosi membelah keheningan. Queenora terlonjak kaget, setumpuk kaus kaki mungil jatuh dari pangkuannya. Ia menoleh, senyum kecil yang siap tersungging langsung membeku saat melihat ekspresi di wajah Darian.
Wajah itu adalah topeng granit, dingin dan tak terbaca, tetapi matanya berkilat dengan badai yang tertahan.
“Tuan Darian? Ada apa?” tanyanya, suaranya sedikit bergetar. Ia bisa merasakan atmosfer di ruangan itu berubah, menjadi berat dan menyesakkan.
Darian tidak menjawab. Ia berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa seperti hitungan mundur menuju sebuah ledakan.
Langkahnya berhenti tepat di depan Queenora, menjulang di atasnya. Tanpa sepatah kata pun, ia menyodorkan ponselnya, layarnya masih menyala terang, menampilkan dokumen rumah sakit dan pesan Estrel di atasnya.
Waktu seolah berhenti bagi Queenora. Matanya terpaku pada layar itu. Kop surat rumah sakit. Namanya. Dan kemudian, diagnosis yang membuatnya ingin muntah.
Abortus inkomplit akibat trauma benda tumpul.
Kata-kata itu adalah vonis dari neraka yang ia kira telah ia kubur. Di bawahnya, pesan Estrel adalah garam yang ditaburkan di atas luka menganga itu.
Dia bukan korban. Dia pembohong.
Warna terkuras dari wajahnya, meninggalkannya sepucat kain kafan. Udara tersedot keluar dari paru-parunya. Tangan yang tadi sibuk melipat pakaian kini gemetar hebat. Jaring itu. Jaring yang ia takuti telah menangkapnya. Estrel tidak hanya menarik satu benang, ia telah merobek seluruh tenunan hidupnya.
“Kenapa?” Suara Darian memecah keheningan yang memekakkan telinga. Pertanyaan itu singkat, tetapi mengandung beban kekecewaan, kemarahan, dan rasa sakit yang tak terhingga.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang apa-apa soal ini?”
Queenora mengangkat kepalanya, matanya yang melebar dipenuhi teror. Ia membuka mulutnya, tetapi tidak ada suara yang keluar. Bagaimana ia bisa menjelaskannya? Bagaimana ia bisa mengatakan, ‘Saya diperkosa oleh teman-teman kakak saya di lingkaran pertemanan yang sama dengan Anda, lalu Ayah saya memukuli saya sampai bayi saya mati di dalam rahim saya?’
Mengatakannya akan membuat trauma itu nyata kembali. Mengatakannya pada Darian, pria yang dunianya bersinggungan dengan para monster itu, terasa seperti menyerahkan pisau kepada calon algojonya. Ia akan jijik padanya. Ia akan mengusirnya. Ia akan melihatnya sebagai barang rusak, kotor, dan pembawa sial.
“Saya… saya tidak…” ia tergagap, otaknya berpacu panik.
“Jangan bilang kamu tidak tahu apa maksudku,” desis Darian, kesabarannya menipis seperti benang.
“Sebuah kehamilan. Seorang bayi. Kamu menyembunyikan itu semua dariku, sementara kamu merawat anakku. Apa ini semua permainan bagimu?”
Tuduhan itu menamparnya lebih keras dari pukulan fisik mana pun.
“Tidak! Tentu saja tidak!” serunya lirih, suaranya pecah. “Elios… Elios adalah segalanya bagi saya.”
“Kalau begitu jelaskan!” tuntut Darian, nadanya sedikit meninggi, rasa frustrasinya akhirnya bocor melalui topeng dinginnya.
“Estrel bilang kamu pembohong. Buktikan kalau dia salah. Katakan padaku yang sebenarnya.”
Inilah kesempatannya. Untuk mengatakan kebenaran yang utuh dan mengerikan. Tapi rasa takut melumpuhkannya. Insting bertahan hidup yang telah menemaninya selama bertahun-tahun menjerit padanya untuk melindungi diri.
Mengungkapkan kebenaran adalah bentuk bunuh diri emosional. Maka, ia memilih satu-satunya jalan yang tersisa: sebuah kebenaran parsial yang akan terasa seperti dusta terbesar dalam hidupnya.
Wanita itu perlahan menundukkan kepalanya, membiarkan rambutnya jatuh menutupi wajahnya yang basah oleh air mata.
“Itu… apa yang tertulis di sana… benar,” bisiknya, setiap kata terasa seperti menelan pecahan kaca.
“Saya pernah hamil. Dan… dan saya kehilangan bayi saya.”
Pengakuan itu menggantung di udara, berat dan canggung. Darian menunggu, mengharapkan lebih. Mengharapkan konteks. Mengharapkan penjelasan tentang trauma benda tumpul.
Tapi Queenora tidak mengatakan apa-apa lagi. Keheningannya adalah sebuah kanvas kosong, dan narasi Estrel, tentang gadis nakal yang mendapat masalah, langsung melukis gambaran yang paling buruk di atasnya.
Rasa sakit yang tajam menusuk dada Darian. Jadi, Estrel benar. Queenora telah berbohong padanya.
“Kenapa kamu menyembunyikannya?” tanyanya lagi, suaranya kini serak karena kekecewaan.
“Aku mencoba mempercayaimu, Queenora. Aku membiarkanmu masuk… aku mulai….” Ia berhenti, tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
“Dan selama ini, kamu menyimpan rahasia sebesar ini?”
“Saya malu,” bisik Queenora. Itu tidak sepenuhnya bohong. Ia memang merasa malu, meski untuk alasan yang salah.
“Itu adalah kesalahan besar di masa lalu saya. Sesuatu yang ingin saya lupakan.”
“Kesalahan?” Darian mengulang kata itu dengan nada getir.
“Anakmu adalah sebuah ‘kesalahan’?”
“Tidak!Bukan begitu!” Queenora mengangkat kepalanya, matanya memohon.
“Saya mencintainya. Saya sangat mencintainya,” Isak Quuenora penuh lara.
Rintihannya dalam mimpi buruk malam itu.
Elang… Mama di sini, Sayang…
Menggema di benak Darian, berbenturan keras dengan citra pembohong yang kini coba ia paksakan pada Queenora. Keraguan mulai merayap kembali. Wajah tersiksa dalam tidurnya itu bukanlah wajah seorang pendusta. Itu adalah wajah duka yang paling murni.
Tapi kebohongan karena penyembunyian itu sudah terlanjur meracuni pikirannya. Ia perlu kepastian. Ia harus tahu.
Dengan sorot mata tajam Darian menatap lurus ke dalam mata Queenora yang penuh air mata, pertanyaannya yang berikutnya keluar dengan dingin dan tajam, dirancang untuk menusuk langsung ke jantung rahasia gadis itu.
“Siapa ayah dari anakmu?”
Pertanyaan itu membuat Queenora membeku. Wajah pria itu. Tawa kasarnya. Tangan-tangan kotornya. Bayangan itu melintas begitu cepat di benaknya, membuatnya mual. Ayah?
Monster itu tidak pantas disebut sebagai apa pun. Ia hanyalah sebuah kekosongan, sebuah lubang hitam yang menelan cahayanya.
Queenora menatap Darian, semua air mata di matanya seolah mengering, digantikan oleh kekosongan yang dingin dan dalam. Kepedihan di tatapannya begitu mutlak hingga membuat Darian tanpa sadar mundur setengah langkah.
“Tidak penting,” jawab Queenora, suaranya datar, tanpa kehidupan.
“Dia tidak pernah ada.”