Mei Zhiyi dipindahkan ke sebuah dunia kuno oleh sistem setelah mengalami insiden penembakan di markas militer.
Dia diubah menjadi seorang pelayan istana yang akan segera mati karena telah menyinggung seseorang di istana yang dalam.
Untuk mencegah kemusnahan karakter asli, Mei Zhiyi diminta melakukan serangkaian misi penyelamatan diri.
Namun ketika dia bertemu dengan Liu Yan, Kaisar penguasa dinasti yang sangat ditakuti dan sukar diajak kompromi, sistem tiba-tiba berkata: Taklukan dia, cegah dia jadi iblis tiran atau kau akan mati!
***
"Mentang-mentang seorang Kaisar, suka sekali menyuruh-nyuruh bawahan," Mei Zhiyi menggerutu dalam hati.
Kaisar tiba-tiba bertitah, "Pelayan Mei menghina atasan. Hukum cambuk lima kali!"
"Dasar Kaisar jahat. Aku mengutukmu impoten sampai mati!" Mei Zhiyi berseru dalam hatinya.
Tiba-tiba Kaisar menariknya ke tempat tidur dan berkata, "Beraninya kau mengutukku! Akan kubuktikan padamu apakah aku impoten atau tidak!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhuzhu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 15: AGAK ANEH
“Nona, ini adalah hadiah yang diberikan Kaisar untuk Anda. Dua pasang anting-anting, satu buah gelang giok, dan satu jepit rambut. Silakan diterima,” ucap Bibi Cui sembari menginstruksikan para bawahannya menyimpan benda-benda yang dimaksud di meja.
Mei Zhiyi mengernyit, melihat dengan curiga pada benda-benda yang tiba-tiba saja dikirim ke kamarnya. Dia dapat hadiah lagi?
“Bibi, apakah kau salah orang? Hadiah dari Kaisar ini sepertinya lebih cocok untuk para selir.”
Pelayan seperti dia mana mungkin dapat hadiah. Selain itu, sekalipun memang untuknya, dia juga tidak akan memakainya.
Jepit rambutnya dari emas, jika dipakai pasti sangat mencolok. Anting-antingnya juga punya manik-manik dengan warna terang, pasti berat jika dipakai.
Soal gelang giok, sifatnya mudah pecah. Jika dipakai lalu tak sengaja pecah saat bekerja, dia bisa dituduh merusak hadiah pemberian dari seorang Kaisar dan tidak menghargainya.
“Tidak, hadiah ini memang untuk nona. Kaisar selalu membedakan jasa dan dosa. Hadiah ini adalah imbalan karena nona telah banyak membantu Kaisar malam itu.”
Malam itu? Malam yang mana? Malam saat dia hampir disekap pembunuh dan berakhir membantu Liu Yan menangkap pembunuh itu atau malam saat Liu Yan tiba-tiba mengamuk seperti orang gila dan dia membantunya dengan menyuntikkan obat bius?
Terlalu berharga, terlalu mencolok, dan terlalu mencurigakan. Jika Mei Zhiyi menyimpan semuanya, mungkin akan menimbulkan masalah yang tidak perlu. Tapi jika menolak, itu juga sebuah pelanggaran serius.
“Karena hadiah dari Kaisar, aku akan menerimanya,” ucap Mei Zhiyi. Diambilnya jepit rambut emas yang nilainya paling mahal dari kotak.
“Ambil sisanya. Bagikan pada bawahanmu.”
“Nona, ini hadiah dari Kaisar. Tidak bisa dibagikan sesuka hati,” tolak Bibi Cui. Mana berani dia mengambil hadiah Kaisar tanpa izin begini. Kalau ketahuan, bisa-bisa dia dihukum cambuk dua puluh kali dan dipecat.
“Hadiah ini diberikan padaku. Sudah jadi milikku. Terserah aku membagikannya atau tidak. Karena sudah jadi milikku, apa salahnya jika kuberikan pada orang lain?”
Bibi Cui agak bingung dan ragu. Nona Mei jelas tidak ingin menerima hadiahnya tapi tidak berani menolak secara langsung. Jadi, dia mencari jalan tengah dengan menerimanya, mengambil sebagian lalu membagikan sisanya.
Ini bukan hanya tidak melanggar anugerah, tapi juga membagi harta pada rekan. Pikiran seperti ini ternyata bisa dipikirkan oleh seorang pelayan muda sepertinya.
Tidak serakah, juga tidak mencari ketenaran. Jarang sekali ada pelayan yang cerdas bersikap dan bertindak di istana yang dalam ini. Tampaknya hal inilah yang membuat Kaisar memindahkannya di sini dan ingin dia melayani dari dekat.
Bibi Cui merasa lega. Pilihan Kaisar memang selalu bagus dan tidak pernah mengecewakan.
“Ucapan nona benar. Kalau begitu biar anting-anting dan gelak gioknya saya berikan pada bawahan saja.”
“Ambil saja. Aku mau menyiapkan makan siang untuk Kaisar.”
Setelah Mei Zhiyi keluar, dia pergi ke Dapur Istana untuk mengambil makan siang. Wang Peng si koki gemuk itu menyambutnya dengan penuh senyuman.
Sejak Mei Zhiyi pindah kerja, dapur jadi lebih tenang karena tidak ada Bibi Rong yang suka memarahi. Entah pergi ke mana dia. Yang jelas, orang-orang di sini jadi lebih santai dan tidak perlu lagi mendengar makian dan ucapan menyakitkan dari Bibi Rong yang sok berkuasa itu.
“Mau mengambil makan siang Kaisar?”
“Sudah siap?”
“Tentu saja. Mana berani aku menunda makan siang Kaisar.”
Hari ini, Mei Zhiyi secara khusus berpesan agar pihak dapur membuat semangkuk sup ayam herbal dan sup kurma merah sebagai menu makan siang Liu Yan. Dia melihat Liu Yan selalu sibuk membaca laporan sampai larut malam. Energinya pasti habis digunakan untuk membahas urusan negara dan menghadapi sekumpulan pejabat yang mencoba memanipulasi kekuasaan.
“Sebentar. Satu lagi ketinggalan,” ucap Wang Peng. Dia menambahkan satu sup goji beri yang masih mengepulkan asap.
“Tidak ada sup goji beri dalam menu hari ini. Kenapa kau menambahkannya?”
Wang Peng agak bingung menjelaskan. Sup yang ketiga memang tidak ada dalam menu yang diminta Mei Zhiyi. Tapi….
“Itu permintaan dari pihak istana dalam.”
“Begitu rupanya.”
Mei Zhiyi membawa tiga mangkuk sup kembali ke Istana Zhaoyang. Matanya tak sengaja melihat seorang pelayan sedang mengintip dari balik pohon cemara yang sudah tidak lagi dipenuhi salju.
Wajah pelayan itu terlihat asing. Gerak-geriknya agak mencurigakan, tapi tidak berani mendekat.
“Mata-mata rupanya. Entah ada kejadian apa lagi hari ini.”
Dia tidak memedulikannya dan masuk tanpa melihat lagi. Liu Yan kali ini terlihat sedang mengotak-atik sesuatu dengan serius.
Bukan lagi membaca dokumen seperti yang dilihat Mei Zhiyi pada hari biasa. Beberapa kali keningnya tampak mengernyit saat ada bagian yang dirasa aneh.
“Yang Mulia, makan siangmu sudah tiba.”
“Taruh saja di sana. Aku akan makan nanti. Kau kemarilah. Bantu aku melihat ini.”
Setelah dilihat dari dekat, rupanya Liu Yan sedang mengotak-atik sebuah senjata. Senjata itu berupa busur kecil otomatis yang sepertinya belum sempurna.
Dilepaskan satu bagian, bagian lain malah ikut terlepas. Dipasangkan satu bagian, bend aitu malah tidak bisa digerakkan.
“Sebenarnya di mana letak kesalahannya?” ucap Liu Yan sembari mengernyit. Tangannya membolak-balik busur tersebut dan matanya tak lepas dari setiap bagiannya.
Busur otomatis? Memang senjata yang bagus. Untuk zaman ini, itu sudah merupakan senjata paling praktis selain pisau terbang yang dapat digunakan dalam medan perang.
Liu Yan lalu membongkar lagi busur tersebut. Pikiran yang kembali terdengar itu malah membuatnya penasaran, mungkinkah Mei Zhiyi mengetahui sesuatu tentang busur panah yang baru dikembangkan ini? Jika dia sudah tahu, lalu sejauh apa pengetahuannya tentang senjata?
“Rakit untukku. Jika kau tidak bisa merakitnya, kau akan dihukum.”
Yang benar saja! Mei Zhiyi belum sempat mengucapkan penolakan karena Liu Yan tiba-tiba saja menyerahkan hasil bongkaran busur kepadanya dengan tegas.
Mei Zhiyi dulu hanya pengguna senjata, bukan pembuatnya. Tapi soal busur panah yang otomatis seperti ini, sepertinya bukan masalah kecil.
Mei Zhiyi, kau harus sabar. Dia adalah Kaisar. Melawannya hanya akan membuatmu dalam bahaya.
Liu Yan menyunggingkan senyum jahat yang tak sempat terlihat oleh Mei Zhiyi. Benda buatan Feng Yuzhen itu memang berguna, tapi masih harus dikembangkan lagi.
Dia membawanya kemari untuk diteliti. Sialnya, Liu Yan lupa menanyakan cara merakitnya lagi setelah membongkarnya.
Tangan Mei Zhiyi mengambil bagian demi bagian dari perangkat busur yang dilepas dan mulai merakitnya. Setengah jam kemudian busur itu sudah kembali ke bentuk semula.
Tidak ada satu bagian pun yang salah diletakkan dan tak ada satu bagian pun yang tertinggal. Terakhir, Mei Zhiyi memasukkan beberapa anak panah ke dalamnya.
“Yang Mulia, silakan dicoba,” ucapnya sembari menyerahkan busur tersebut.
“Kau benar-benar bisa merakitnya?”
“Hanya merakit mengikuti langkah Yang Mulia tadi.”
“Benarkah?”
Omong kosong, pikir Liu Yan. Kapan dia memperlihatkan langkah merakit busur ini pada Mei Zhiyi? Gadis ini jelas-jelas sedang pura-pura untuk menutupi kemampuannya.
“Mana berani aku berbohong. Yang Mulia, tidak mau mencoba menembak?”
Liu Yan mengesampingkan dulu keinginannya untuk menanyai Mei Zhiyi. Ia mengangkat busur tersebut, lalu menembakkannya ke tirai kertas. Anak panah yang meluncur menancap di tiang tirai kertas, membuat tirai tersebut bergoyang dan hampir jatuh.
“Kenapa jangkauan tembaknya jadi lebih jauh?” heran Liu Yan. Seingatnya, anak panah yang dilesatkan paling hanya bisa mencapai objek sejauh dua meter saja. Jarak dari sana menuju tirai sekitar tiga meter, selisih satu meter saja.
“Yang Mulia, pedal karet penarik panahnya tadi terlalu panjang. Jadi, aku memotongnya menjadi lebih pendek agar pas dengan kekuatan penariknya. Tentu jarak tembaknya juga akan jauh.”
Tanpa disadari mata Liu Yan kini tertuju pada Mei Zhiyi. Punya perhitungan dan bisa mengetahui jarak, itu adalah kemampuan yang bagus yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu. Mei Zhiyi hanya seorang pelayan tanpa latar belakang, tak disangka punya pengetahuan dan perhitungan yang begitu akurat.
“Busur ini belum sempurna. Kau bisa menemukan celahnya?”
“Memang masih perlu disempurnakan. Jika tidak keberatan, aku akan menuliskan bagian yang harus diperbaikinya.”
“Tulis saja. Kertas dan tintaku ada banyak.”
Tak ada yang menanyakan itu. Apa dia begitu ingin mengatakan bahwa dia, Kaisar, punya banyak keleluasaan dan harta? Benar-benar kekanak-kanakan.
Liu Yan agak tidak senang dengan kalimat itu. Sama sekali tidak ada maksud untuk pamer. Dia hanya ingin Mei Zhiyi memanfaatkan ini untuk belajar. Tapi sudahlah, biarkan saja.
Mei Zhiyi mulai menggambar dan menuliskan keterangan di setiap gambar yang dia buat. Setiap bagiannya begitu rinci sampai Liu Yan tanpa sadar mendekatkan kepalanya untuk melihat lebih jelas apa yang ditulis Mei Zhiyi. Bukan hanya bisa membaca dan menulis, Mei Zhiyi ternyata juga bisa menggambar dengan begitu bagus.
Mei Zhiyi tiba-tiba menoleh dan tertegun. Kepala Liu Yan begitu dekat. Pipi pria ini mungkin hanya terpisah beberapa puluh sentimeter saja dari wajahnya. Tapi, Liu Yan malah fokus menatap gambar, sama sekali tidak sadar bahwa dia sudah terlalu dekat dengannya.
Jantungku sepertinya agak bermasalah. Debarannya kenapa mendadak jadi kencang saat ini? Apa karena aku makan terlalu banyak yang berminyak akhir-akhir ini dan tekanan darahku tinggi?
Liu Yan seolah menyadari sesuatu dan refleks dia juga menoleh setelah dia mendengar suara tersembunyi itu. Kedua mata itu saling bertemu dan ruangan mendadak hening.
Ada sesuatu yang membuat jantung Liu Yan berdetak kencang secara mendadak, sedang otaknya malah terasa kosong. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan hanyalah berkedip seolah menandakan mata merekalah yang sedang bicara.
“Oh… Simpan saja gambarnya. Aku akan menyantap makan siangku dulu.”
Dia menyingkir sejenak. Namun begitu sampai di meja makannya, matanya malah melihat sesuatu yang membuat hatinya jadi kesal.
Ada tiga mangkuk sup di meja itu. Semuanya penuh. Apakah Mei Zhiyi sedang ingin membuatnya kekenyangan dan memenuhi perutnya dengan kuah sup?
Selain itu, kenapa ada satu mangkuk sup yang tidak seharusnya ada?
“Yang Mulia, apakah ada masalah dengan supnya?”
Sup ayam herbal dan sup kurma merah masih dapat diterima, tapi kenapa harus menyertakan sup goji beri?
“Kau ingin membuatku mati kekenyangan?”
“Yang Mulia, sup ayam herbal dan sup kurma merah bermanfaat untuk mengisi energi dan menjaga stamina. Itu baik untukmu yang setiap hari selalu tidur larut malam karena membaca laporan.”
“Lalu bagaimana dengan satu mangkuk sup goji beri ini?”
“Hanya sup goji beri biasa, apakah ada masalah?”
“Kau sungguh tidak tahu apa artinya?”
“Memangnya harus ada artinya?”
Liu Yan menahan kesal. Ia tidak tahu apakah Mei Zhiyi benaran tidak tahu atau pura-pura tidak tahu. Apakah di matanya dia terlihat lemah hati dan ginjalnya?
“Karena kau begitu berniat, satu mangkuk sup goji beri ini kau saja yang habiskan. Bawa keluar!”
Sup goji beri itu akhirnya dibawa keluar oleh Mei Zhiyi dengan satu pertanyaan besar. Kenapa Liu Yan terlihat begitu tidak senang?
“Kasim Li, kenapa Kaisar sepertinya tidak suka dengan sup goji beri?”
Li Dezai membelalak. Ya ampun, apakah tidak ada yang memberi tahu Nona Mei soal ini?
“Aiya, nona, kau menganggap Kaisar tidak mampu?” panik Li Dezai.
“Tidak mampu? Tidak mampu apanya?”
“Aiya… cepat bawa pergi saja!”
Pertanyaan Mei Zhiyi masih belum terjawab. Dia benar-benar tidak tahu kenapa Liu Yan tidak senang dengan sup ini.
“Duan Jiu, kau tahu alasannya kenapa?” tanya Mei Zhiyi pada Duan Jiu yang kebetulan juga ada di sana. Raut wajahnya juga terlihat tidak bagus dan canggung.
“Nona, sup goji beri berkaitan dengan vitalitas. Kau ini sedang meragukan Kaisar.”
Astaga, pantas saja Liu Yan terlihat kesal dan tidak senang! Pria mana yang sudi diragukan kemampuan maskulinitasnya?
Apalagi Liu Yan seorang Kaisar. Dia pasti merasa harga dirinya telah dinodai.
Tapi, kenapa dia harus marah pada Mei Zhiyi? Mei Zhiyi hanya menerima pesan, bukan dia yang sengaja membawanya untuk mengejek Liu Yan!
Takut knp knp sama Liu yan
😁😁😁😁
nebak" aja dulu
Emang enak di ghibahin sama Mei