Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
YANG TAHU KEADAAN DI RUMAH YA KITA-KITA JUGA
“Jadi kamu hari ini periksa ke dokter, sayang?” Tanya Farid pada istrinya saat Maira mengantarkannya sampai ke teras rumah.
Maira yang tengah berjalan berdampingan dengan suaminya mengangguk mantap.
“Iya, Mas. Semoga aja nggak ada masalah dalam diri aku, jadi kita bisa langsung mulai program hamil.”
Farid yang mendengar jawaban Maira, tersenyum puas. “Nggak apa-apa kamu pergi sendiri?” Tanyanya lagi dengan nada khawatir.
“Udah, nggak apa-apa Mas. Mas lupa ya kalau istri Mas ini kan wanita mandiri yang strong. Ke kota sebelah buat ngecek pembangunan restoran aja sanggup, masa cuma periksa ke dokter sendirian nggak bisa?” Kekeh Maira sambil menepuk dada tipisnya dengan gaya lucu.
Farid tertawa kecil, gemas dengan tingkah istrinya. “Ya udah kalau gitu, Mas berangkat dulu ya Sayang. Hati-hati bawa mobilnya nanti." Ia mengecup kening Maira dengan penuh sayang. “Assalamualaikum, istri Mas.”
“Waalaikumsalam, suami aku.” Jawab Maira dengan senyum mengembang.
Pemandangan romantis itu ternyata tidak luput dari pengamatan Pak Bowo dan Bu Susi yang sedang bersantai pagi di ruang tamu sambil menikmati teh hangat. Dari balik hordeng jendela, mereka mengintip diam-diam.
Bu Susi mencibir pelan, suaranya setengah bergumam tapi cukup terdengar oleh suaminya. “Alah, ngapain sih pakai peluk-pelukan sama cium kening segala di depan teras rumah. Nggak malu apa dilihat tetangga?”
Pak Bowo yang baru saja menyesap tehnya, hanya melirik sekilas ke arah istrinya tanpa ingin menanggapi. Ia sudah cukup tahu karakter istrinya yang semakin hari semakin terang-terangan menampilkan ketidaksukaannya pada Maira, apalagi sejak kejadian Danu—putra mereka diusir dari rumah.
Langkah Maira yang baru saja hendak masuk kembali ke dalam rumah, mendadak terhenti. Ia menoleh pelan, matanya menatap lurus ke arah Bu Susi yang kini tengah duduk santai tanpa rasa bersalah dengan apa yang baru saja ia ucapkan.
“Loh, kenapa Bu? Farid kan suami aku. Emang salah kalau dia nunjukin rasa kasih sayangnya ke istrinya sendiri?”
Bu Susi menyipitkan mata, nada suaranya mulai ketus. “Bukan gitu maksud Ibu. Tapi kalau bisa ya… jangan lebay lah. Nggak usah nunjuk-nunjukin kemesraan segala di depan rumah. Nggak enak dilihat orang lain.”
Maira menatap ibunya tanpa senyum. “Kami udah nikah hampir lima tahun, Bu. Bukan baru seminggu. Kalau ada orang waras lihat pasangan suami istri saling sayang, mestinya ikut senang. Bukan malah sewot.”
Pak Bowo yang sejak tadi diam, kini ikut bersuara. Wajahnya tampak masam, dan nadanya terdengar menyindir. “Yang dikatakan Ibu kamu itu benar. Ngapain sih nunjukin kemesraan di depan teras? Toh, yang tahu keadaan di dalam rumah kalau kalian sering bertengkar ya kita-kita juga."
Ucapannya menusuk. Bu Susi yang mendengarnya langsung tertawa kecil, puas karena merasa menang dengan jawaban sang suami. Tatapannya tajam mengarah ke Maira.
Sementara Maira mengepalkan tangannya di balik tubuh. Ia mencoba menahan emosinya yang mulai mendidih.
Andai saja ia bisa berkata jika semua pertengkaran itu terjadi sejak ibu, bapak tirinya, dan juga adik tirinya ikut tinggal di rumah mereka, ia akan berkata seperti itu. Dan juga penyebab pertengkaran ia dan suaminya adalah karena tingkah laku mereka.
Tapi ia tahu jika ia mengucapkan hal itu sekarang, ibunya pasti akan kembali berdrama. Seperti biasa, akan membalikkan keadaan dan membuat seolah-olah Maira adalah anak durhaka yang tak mau menerima keluarganya sendiri.
Dan dari sini, Maira mulai sadar sepenuhnya—keluarga yang selama ini ia tolong, yang ia tampung di rumahnya dengan segala konsekuensinya ternyata bisa berkata seperti itu padanya.
Bahkan ibunya—sosok yang dulu sudah ia maafkan karena pernah meninggalkannya, mulai semakin terang-terangan bersikap tak baik padanya.
Tanpa sepatah kata lagi, Maira memilih pergi. Ia melangkahkan kaki masuk ke kamar, menutup pintu perlahan.
•
•
“Bu! Ibuk!” Teriak Ana sambil membuka pintu rumah Bu Neni tanpa salam dengan langkah kakinya terburu-buru. Suaranya menggema di dalam rumah yang sepi.
Bu Neni yang tengah mencuci baju di belakang, langsung berjalan tergopoh-gopoh ke ruang tamu. Air masih menetes dari ujung jari tangannya.
“Kenapa sih kamu teriak-teriak gitu? Masuk ke rumah juga nggak pakai salam.” Gerutunya sambil menyeka tangannya ke kain lap.
Ana hanya tersenyum tipis, lalu dengan cepat menggandeng lengan ibunya. “Ibu siap-siap ya, aku mau ajak Ibu shopping!” Ujarnya penuh semangat.
Bu Neni mengerutkan dahi, setengah bingung setengah tak percaya. “Shopping? Emang kamu lagi banyak uang?”
Ana kembali tersenyum simpul, penuh arti.
“Farid udah transfer uang ke aku kemarin Bu.”
“Lho, tapi kan uang itu buat bayar sewa ruko kamu katanya?” Mata Bu Neni membelalak.
“Iya, memang buat perpanjangan sewa ruko. Tapi yang aku butuhin cuma 50 juta. Sisanya 50 juta lagi buat aku belanja.” Jawabnya dengan santai tanpa rasa bersalah.
Wajahnya terlihat begitu puas, seolah berhasil memenangkan sesuatu yang sudah lama ia incar.
“Sayang banget Bu, masa udah lima tahun Farid sama Maira nikah, aku nggak pernah nyicipin uang mereka. Ibu tahu kan warisan dari ayah Maira itu apa, pasti uangnya banyak. Lagian juga mereka belum punya anak.” Ujar Ana kembali dengan santai, seolah uang Farid dan Maira sah-sah saja ia ambil.
Bu Neni tak langsung menanggapi. Mulutnya sedikit terbuka, mencoba mencerna kalimat anak sulungnya itu.
Beberapa hari lalu Ana memang sempat datang ke rumah, merengek meminta bantuan agar ibunya membujuk Farid meminjamkan uang untuk membayar sewa kontrakan ruko milik suaminya.
Bu Neni akhirnya menyetujui, meski awalnya sempat ragu. Ia bersandiwara, mengatakan akan meminjam sertifikat rumah jika Farid tak membantu, demi menggugah rasa kasihan anak nomor duanya itu. Dan hasilnya berhasil.
Kini mendengar kalimat Ana, Bu Neni justru mengangguk perlahan. Entah karena terpengaruh atau karena hatinya memang mulai berubah.
Apalagi, kejadian beberapa hari lalu masih membekas di pikirannya—tentang Maira yang menegurnya di depan Farid, bahkan sempat menceramahi soal Farid dan juga Vina yang duduk berdua di ruang tamu. Sejak saat itu rasa tak suka dalam hatinya mulai tumbuh, meski selama ini Maira dikenal sebagai menantu yang tak pernah pelit padanya.
“Benar juga kata kamu, Na.” Ucap Bu Neni akhirnya. “Ibu juga setuju sih. Kenapa nggak dari dulu aja kita manfaatin Maira lewat Farid. Belum punya anak juga, paling pengeluaran mereka nggak seberapa.”
Ana terkekeh kecil, merasa bangga karena ibunya sependapat. “Yaudah, Bu. Cepet siap-siap. Aku mau bawa Ibu belanja ke mall, mumpung anak aku lagi tidur di rumah.” Katanya ringan.
Pandangan Bu Neni berpindah ke arah putrinya. “Loh, anakmu nggak kamu bawa?”
Ana menggeleng santai. “Udah, nggak apa-apa Bu. Kalau siang begini dia bisa tidur dua sampai tiga jam. Nggak apa ditinggal. Lagian cuma sebentar juga kan kita.”
Bu Neni hanya menghela napas, tak menanggapi lebih jauh. Ia tahu seharusnya hal seperti itu tak layak dilakukan, apalagi cucunya itu masih kecil. Tapi keinginan untuk berbelanja mengalahkan semuanya.
Tanpa banyak bicara lagi ia pun berjalan ke kamar, membuka lemari dan mengganti baju dengan gamis yang biasa ia pakai saat bepergian.
Setelah selesai berdandan seadanya, Bu Neni keluar sambil merapikan kerudungnya.
“Udah, yuk.” Ucap Ana sambil mengambil tas tangannya. “Aku pengen beli gamis baru sama sepatu. Nanti Ibu juga sekalian ambil aja yang Ibu mau. Biar nanti aku yang bayar… pakai uangnya Farid.”
Bu Neni tersenyum samar. Hatinya terasa geli bercampur senang, tanpa rasa bersalah.