Real cerita asli
No Jiplak!!!!
Yang jiplak gue gaplak
Ivana, wanita berusia 26 tahun harus merasakan pahit yang lebih dalam setelah kakaknya meninggal. Ia di haruskan menggantikan sang kakak untuk menikahi Saga, calon kakak iparnya setelah Olivia meninggal. Namun rupanya, Saga pun tak melepaskan Ivana, karena tahu bahwa jantung yang ada di dalam dirinya adalah milik Olivia.
"Tolong, izinkan aku pergi!" Rintihan itu terus Ivana ucapkan dari balik pintu kamar berinterior mewah.
Di depan kamar itu, terdapat beberapa orang yang mengawasinya.
"Kau mau kemana Ivana? Kau harus tetap di sini, Olivia tidak akan pernah membangkang padaku. Kau harus menurut, atau aku akan mengambil jantungmu dan memberikannya pada wanita lain sebagai Olivia" ucap Saga dari balik pintu kamar Ivana.
"Kau sudah gila Saga, lepaskan aku! Aku tidak ingin di sini! Aku ingin pergi! "
Ivana, apakah kamu benar-benar akan bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 01
Ivana berlari menghindari kejaran para pria menggunakan setelan jas hitam, rombongan mereka ada puluhan orang, mereka membawa sebuah senjata di tangannya. Ivana berlari, hingga tanpa ia sadari. Dirinya kini telah berada di ujung jurang dan terkepung, sementara itu di belakangnya adalah tebing laut yang curam.
“Ivana, menyerahlah dan kembali padaku ke rumah!” ucapan dari Saga tak lagi mampu membuatnya menurut. Wanita itu sudah sangat lelah dan bahkan ia jerah.
“Aku akan berubah Ivana, aku janji.” ucapan dari pria berumur 30 tahun itu tak akan bisa membuatnya tenang. Ia hanya ingin tahu, bagaimana rasanya bebas.
“Aku, selalu ingin bertanya pada dunia, mengapa kau sangat kejam padaku di saat aku bahkan tak pernah mendapatkan cinta yang nyata, apakah bagimu. Aku juga adalah beban, atau kau masih berpikir bahwa akulah yang membunuh kakakku. Ambil saja jantungku ini, dan berikan pada gadis barumu itu. Aku juga tidak ingin hidup jika aku tahu seperti ini, kau lihat semua luka di tubuhku. Kau menyiksaku hanya karena aku tak menurut. Kau bahkan tak membiarkanku pergi bahkan hanya untuk satu langkah. Apa kau pikir jadi aku tidak sakit, aku juga manusia Saga. Aku juga manusia.” Ucapan Ivana begitu sangat miris dan tragis. Wanita 26 tahun itu pun merentang kan tangannya, iya pun tertawa sesaat seakan semua bebannya telah hilang sambil mundur beberapa langkah.
“Jangan Ivana, aku mohon padamu. Kita masih bisa bicara baik-baik” Saga benar-benar ketakutan, setiap ia melangkah kan satu kakinya ke depan, maka Ivana akan mundur 2 langkah.
“Kau tahu Saga, terkadang aku iri pada kak Oliv. Karena dia mendapat kan semua kasih sayang itu darimu bahkan dari semua orang. Lalu sedangkan aku? apalah aku ini, hanya sebuah batu loncatan tak berharga di mata kalian semua.”
Ivana melangkahkan satu kakinya, tak ada lagi jarak antara jurang dan dirinya, wanita itu pun merentangkan tangannya dan menyerahkan dirinya pada lautan lepas.
“Byurrrrrr” Suara itu terdengar cukup keras saat wanita itu melompat ke dasar laut, dan semua hanya dapat terdiam.
“IVANA, IVANAAAAAA.” teriakan Saga terdengar dari sisi pinggir jurang.
“Akulah Ivana, wanita bodoh yang tak mati setelah selamat dari kecelakaan, Seharusnya aku mati saja bersama kakakku. Karenaku rasa, itu akan jauh lebih baik.” Ivana berucap dalam hati yang pilu.
6 Bulan yang lalu........
Seorang wanita cantik kini tengah menyiram bunga di halaman rumahnya, dengan hati yang bahagia wanita terus bersenandung. Nyanyiannya terdengar merdu dengan irama alunan musik Jaz.
“Ivana,”
“Kau ada di mana?” tanya seorang wanita yang bernama Olivia.
“Kakak, di sini” Olivia pun menghampiri adiknya yang tengah menyiram bunga kala itu.
Melihat sang adik yang sangat senang dengan bunga itu pun membuat Olivia ikut bahagia, ia sangat menyayangi adiknya lebih dari siapa pun di dunia ini.
“Ivana, kakak punya hadiah untukmu.” Olivia memberikan kotak perhiasan pada Ivana, dia bahkan membuka kan kotak itu dan memakai kan kalung berlian untuk adiknya.
“Kamu suka?” tanya Olivia dan di jawab anggukan oleh Ivana.
“Hem, sangat suka. Ini benar-benar sangat manis, aku suka. Kakak benar-benar adalah yang terbaik.” Ivana memeluk kakaknya, di belakang mereka rupa nya ada seorang pria yang menatap keduanya. Ia juga sangat bahagia atas itu.
“Oliv, Ivana” Panggil pria itu sambil membawakan bingkisan.
Melihat pria yang memanggil namanya, Olivia pun langsung melepaskan pelukan adiknya dan menyergap menghampiri pelukan pria itu.
“Saga,” Saga menggapai pelukan Wanita itu dan memeluknya dengan hangat.
“Saga, aku sangat rindu.” Ucapan Ivana benar-benar membuat Saga begitu senang, saking senangnya pria itu, dirinya bahkan memeluknya lebih erat.
“Aku juga rindu padamu sayang, kamu lihat. Aku bawa coklat kesukaan kamu.” Mendengar hal itu pun Olivia langsung membulatkan matanya lantaran senang, matanya berbinar seolah sedang mendapatkan ribuan berlian permata.
“Astaga, coklat ini adalah yang terbaik. Kamu benar-benar mengerti aku, terima kasih Saga,”
Olivia lalu berbalik badan, ia kemudian menunjukkan coklat itu kepada Ivana.
“Kamu lihat adik, aku benar-benar mendapatkan yang terbaik dari pria baik ini. Cobalah untuk mencari pacar sebelum kamu terlambat.” Olivia dengan sengaja menyindir adiknya.
“Hem, iya deh. Lagian mana ada cowok mau sama aku,” ucap Ivana tanpa menoleh ke arah ke arah keduanya.
“Ayolah Ivana, kau itu cantik. Kenapa si mudah sekali insecure?” ucap Arga sambil menghampiri calon adik iparnya.
“Iya deh, kak Oliv. Kakak itu harus selalu bersyukur, jarang tahu ada cowok spek kak Saga gini.” Mendengar ucapan Ivana, Oliv pun menangkup ke dua tangannya dengan maksud untuk berdoa, dirinya pun kini mendongak ke atas untuk berterima kasih kepada Tuhan.
“Ya, Tuhan. Terima kasih, karena kamu sangat sayang padaku sehingga memberikan semua kebahagiaan ini kepadaku, kamu telah memberiku adik terbaik serta memberiku calon suami terbaik di dunia. Aku benar-benar sangat bersyukur akan hal itu.” Mendengar ucapan Oliv, keduanya pun tersentuh. Ivana bahkan menangis mendengarkan ucapan kakaknya.
“Sudah jangan menangis, ini ambil!” Saga memberikan bingkisan kepada Ivana.
Ivana pun mengambil bingkisan yang di berikan oleh Saga, bingkisan itu berisikan coklat.
“Ini coklat?” tanya Ivana dan di jawab anggukan oleh Saga. Ivana pun menampak kan raut wajahnya yang masam. Ia pun memberikan bingkisan itu kembali kepada Saga.
“Loh, kenapa di kembalikan,?” tanya Saga, yang di balas dengan gelengan kepala lantaran kesal oleh Ivana.
Olivia yang tahu akan hal itu pun sontak menarik Saga pergi dari hadapan adiknya.
“Dia itu kenapa?”
Olivia pun menghembuskan napasnya kasar.
“Saga, dia benci coklat. Dia punya alergi pada coklat dan udang, jadi jangan berikan dia coklat atau dia akan marah karena tak bisa memakannya.” Saga yang mendengar itu pun merasa kasihan kepada Ivana. Ia kemudian memetik sebuah bunga dan menaruh bunga itu di telinga kanan Ivana. Ivana yang tahu akan hal itu pun sontak menoleh, ia pun bingung mengapa Saga melakukannya.
“Maaf ya, kak Saga tidak tahu soal sakit kamu” Saga mengelus puncak kepala Ivana, ia pun hanya diam. Ia kemudian menatap Saga, wajahnya yang tampan itu seolah membuat wanita 26 tahun itu takjub.
“Saga, ayo kita pergi! Kamu bilang kita harus cek gaun kan?!” mendengar itu pun Saga langsung berbalik badan.
“Iya sayang sebentar”
“Kak Saga duluan ya, jangan lupa makan” Ivana benar-benar tersentuh pada kehangatan itu, ia tak pernah merasakannya. Saga pun berbalik, ia menyambut tangan wanitanya dan berjalan bersama menuju mobil. Pria itu bahkan membuka kan pintu mobilnya untuk Olivia, senyuman manis terukir di sudut bibir Oliv, dia benar-benar menemukan pria yang baik, dan bahkan yang terbaik.
Setelah mereka masuk, Olivia pun membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangan ke arah Ivana.
“Ivana, duluan ya. Jangan lupa kan saran kakak untukmu. Cepatlah cari pacar agar kamu tidak jomblo lagi,” setelah mengucapkan itu Olivia pun menutup kaca mobilnya, Ivana pun melambaikan tangan ke arah mereka.
“Ok kak, Kak Saga. Bawa mobilnya hati-hati,” ucap Ivana sambil melambaikan tangan beberapa saat dan setelahnya, ia pun menurunkan tangannya.
“Ivana, jangan pernah menaruh rasa pada pria itu. Kamu tak boleh suka padanya.” Ivana pun tersenyum, terukir senyuman yang cantik di sudut bibir wanita itu.
Ivana pun berbalik badan, ia kemudian pergi untuk mematikan selang air.
“Akhirnya selesai juga.”
“Ivana.” Suara yang terdengar familiar di telinga wanita itu, membuatnya terdiam beberapa saat.
“Suara ini, dia......., Mama?” Ivana berucap dalam hati.
“Ivana” Panggil wanita itu sekali lagi, dan kini Ivana benar-benar menoleh. Terlihat jelas wanita paruh baya dengan gaun yang modis dan glamor menghampirinya. Wanita itu berkisar 50 tahun dan dia adalah nyonya besar di rumah itu. Dia adalah ibu dari Olivia dan Ivana. Dialah nyonya besar Emalia Wingston.
“Mama” Ivana langsung berlari menghampiri ibunya, ia ingin mencium tangan sang ibu. Namun malah di tolak mentah-mentah oleh wanita tua itu.
“Di mana kakak kamu,?” Ivana hanya terdiam, ia menunduk saat itu juga.
“Dasar anak tidak berguna ini, mama tanya sama kamu. Di mana Olivia?”
Tanpa menatap sang ibu dan bahkan masih tetap menundukkan wajahnya, Ivana pun menjawab pertanyaan dari ibunya.
“Kakak sedang pergi bersama dengan kak Saga.”
Mendengar jawaban itu Emalia pun sangat senang, ia benar-benar gembira.
“Sungguh, itu baru putriku. Benar-benar sangat bisa di andalkan. Oliv memang adalah yang terbaik, tidak seperti kamu. Anak gagal yang bisanya hanya menghabiskan uang untuk penyakitmu itu.” Ujar Emalia, sambil berjalan ke dalam rumah. Ucapan itu benar-benar menusuk hati Ivana. Rasanya bagaikan di iris dan di sayat oleh ribuan pisau belati.
“Ma, kapan kamu akan menganggapku berguna. Aku juga putrimu, aku Ivana. Aku putri mama.” Ivana menyeka air mata yang menetes. Tubuhnya sudah lemah karena penyakit jantung, ia tak harus membuang air matanya untuk sesuatu yang tak berarti.
“Ivana, semangat. Mama kamu butuh sebuah pembuktian, ayo. Kamu pasti bisa!” Ivana memberikan semangatnya untuk dirinya sendiri.
Ivana masuk ke dalam rumah, ia menatap ibunya yang berada di lantai atas sedang mengobrol dengan beberapa temannya. Rupanya saat kembali Emalia tak sendiri, ia bersama dengan beberapa teman sosialita, sekaligus koleganya.
Ivana menaiki anak tangga, mereka menatap wajah Ivana dengan tatapan remeh. Hal itu sangat berbanding jauh sekali dengan kakaknya, Olivia Wingston. Meski mereka tinggal satu atap, perilaku terhadap keduanya berbeda. Olivia kerap di anggap sebagai anak beban lantaran penyakit jantungnya yang lemah, sedangkan Olivia. Dia adalah emas, dia adalah trofi kebanggaan orang tuanya.
Ivana menunduk, ia tak berani menatap mereka dengan tatapan remeh yang mereka layangkan padanya.
“Ivana, sepertinya setiap kali saya kesini. Kamu selalu ada di rumah? kamu apa tidak malu, terus menjadi beban orang tua kamu?,” ujar bibi Marsha, dan itu benar-benar menyayat hati Ivana.
“Kamu lupa ya, Ivana itu kan gadis gemas. Tidak bisa melakukan apa pun karena dia anak yang selalu sakit,” ucapan itu di lontarkan sendiri oleh Emalia.
Ivana bahkan hanya dapat diam, ia tak berani menatap dan terus menunduk, seolah tubuhnya benar-benar kaku saat itu juga. Ibu yang seharusnya menjadi tempat pelindung, kini malah sebagai perundung buatnya. Ia bahkan merasa sakit, namun ia tak berisik. Ivana memberanikan dirinya menoleh ke atas dan tampak semua orang yang tengah menertawakan dirinya.
Thor