Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Dalam hitungan menit, Gandi dan beberapa staf lainnya sudah meletakkan meja di ruangan Baskara.
"Terima kasih, Pak Gandi," ucap Swari yang kemudian duduk.
Kemudian ia membuka laptopnya dan disaat akan mengetik. Tiba-tiba Anxiety Swari kambuh dan ia mencengkram erat kedua tangannya dengan keringat dingin yang keluar.
Swari sampai tidak sadar kalau ia menyakiti tangannya sendiri sampai mengeluarkan darah.
Swari dengan tangan gemetar merogoh isi tasnya, mencari botol kecil berisi obat penenang yang selalu ia bawa sejak di Kanada.
Napasnya tersengal, pendek dan cepat, seolah oksigen di ruangan mewah itu tiba-tiba habis.
"Jangan sekarang, kumohon jangan sekarang." batinnya menjerit.
Baskara, yang sejak tadi berpura-pura sibuk dengan dokumen di mejanya, segera menyadari ada yang tidak beres.
Ia melihat bahu Swari yang bergetar hebat dan tetesan darah segar yang mulai jatuh ke atas permukaan meja putih bersih itu akibat kuku Swari yang menghujam telapak tangannya sendiri.
Baskara langsung bangkit dari kursinya secepat kilat
"Swari!"
Ia melangkah lebar, namun sebelum ia sempat menyentuh bahu wanita itu, Swari sudah berhasil menemukan botol obatnya.
Dengan jemari yang masih bergetar, ia mencoba membuka tutup botol itu, namun justru botol tersebut terjatuh dan isinya beberapa butir pil putih tersebar di lantai marmer.
"Tidak... tidak..." Swari merintih dan mencoba turun ke lantai untuk memunguti obat itu, namun tubuhnya lemas.
Baskara langsung menangkap tubuh Swari sebelum wanita itu jatuh ke lantai.
Ia membimbingnya duduk kembali ke kursi, sementara tangan Baskara yang besar mencengkeram lembut pergelangan tangan Swari yang berdarah, memaksanya untuk melepaskan kepalan tangannya yang menyakitkan.
"Bernapaslah, Swari. Lihat aku! Tarik napas!" perintah Baskara dengan nada yang tak lagi dingin, melainkan sarat akan kecemasan.
Swari mendongakkan kepalanya dengan matanya yang berkaca-kaca menatap Baskara dengan pandangan kosong dan langsung jatuh pingsan.
"Gandi, siapkan mobil. Kita ke rumah sakit." ucap Baskara sambil membopong tubuh Swari yang pingsan.
Baskara menggendong tubuh Swari dengan langkah yang hampir seperti lari.
Seluruh staf di lantai eksekutif mematung, menatap pemandangan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya dimana Tuan mereka yang sedingin es, kini menunjukkan raut wajah yang hancur karena kekhawatiran.
Di dalam mobil Rolls-Royce yang melaju membelah jalanan, Baskara membiarkan kepala Swari bersandar di dadanya.
Ia terus menekan telapak tangan Swari yang terluka dengan sapu tangan mahalnya, mencoba menghentikan perdarahan.
"Lebih cepat, Gandi!" bentaknya saat mobil tertahan lampu merah.
"Ini sudah kecepatan maksimal, Tuan," sahut Gandi yang berkeringat dingin melihat kemarahan Baskara melalui spion.
Begitu sampai di unit gawat darurat rumah sakit ternama di Jakarta Pusat, Swari segera dilarikan ke ruang penanganan.
Baskara berdiri di koridor, kemeja putihnya yang tadi rapi kini ternoda bercak darah Swari. I
a mondar-mandir seperti singa yang terluka, sementara pikirannya berkecamuk.
"Apa yang terjadi padamu di Kanada, Swari? Kenapa kamu sampai harus bergantung pada obat-obatan itu?" gumamnya rendah.
Tak lama, seorang dokter keluar. "Keluarga Nona Swari?"
"Saya. Bagaimana keadaannya?" Baskara langsung menyambar.
"Beliau mengalami panic attack yang cukup hebat disertai kelelahan fisik. Sepertinya ada pemicu psikologis yang sangat kuat. Kami sudah memberikannya penenang dan mengobati luka di tangannya. Dia butuh istirahat total selama beberapa jam."
Baskara menghela napas lega, namun matanya tetap tajam.
"Boleh saya masuk?"
Dokter menganggukkan kepalanya dan memperbolehkan Baskara untuk masuk.
Baskara melangkah masuk ke ruang rawat VIP tempat Swari dipindahkan.
Wanita itu tampak begitu kecil di atas ranjang rumah sakit yang luas.
Wajahnya pucat dan tangannya dibalut perban putih.
Baskara duduk di kursi samping ranjang Swari dan ia meraih botol obat yang tadi sempat dipungut oleh Gandi di kantor. Matanya membaca label obat tersebut.
"Lorazepam dosis tinggi," desis Baskara.
Ia tahu obat ini biasanya digunakan untuk penderita trauma berat atau gangguan kecemasan akut.
Swari yang masih belum sadarkan diri Peluh dingin membanjiri dahi Swari saat ia terperangkap dalam labirin ingatan yang paling ia benci.
Di balik kelopak matanya yang terpejam, aroma sisa dupa pemakaman Mas Pradutha tercium begitu menyengat.
Lampu kamar mendadak padam, menyisakan kegelapan yang pekat dan menyesakkan.
“MMMMPPHH...!!!”
Dunia seolah runtuh saat tangan kekar itu membekap mulutnya.
Swari merasakan kain hitam kasar melilit matanya, membutakannya dari kenyataan pahit.
Ia merasakan tubuhnya diangkat, dihimpit, dan kehormatannya direnggut paksa dalam bisu.
Rasa sakit yang bukan hanya fisik, tapi juga menghancurkan jiwanya hingga berkeping-keping.
"TIDAK!!"
Swari langsung bangun dengan nafasnya yang memburu.
Ia melihat Baskara yang sedang duduk sambil memandangnya.
"A-aku harus kembali bekerja," ucap Swari sambil mencoba melepaskan selang infusnya.
Baskara dengan sigap menahan tangan Swari yang berusaha menarik selang infus.
Kekuatan tangannya tidak kasar, namun cukup tegas untuk membuat Swari berhenti memberontak.
"Tetap di tempatmu, Swari! Kamu baru saja pingsan karena serangan panik yang hebat," bentak Baskara rendah dengan matanya yang menatap tajam ke arah Swari yang kini tampak seperti burung kecil yang terpojok.
"Aku tidak butuh belas kasihanmu! Lepaskan aku, Baskara! Aku harus menyelesaikan pekerjaanku."
Baskara menghela nafas panjang dan ia memanggil perawat untuk melepas selang infus Swari.
Perawat menganggukkan kepalanya dan melepaskan selang infus Swari.
Setelah itu Baskara memanggul Swari di bahunya seolah wanita itu tidak memiliki berat sama sekali.
Swari memukul-mukul punggung keras Baskara dengan tangan yang masih terbalut perban, namun pria itu mengabaikan protesnya dan terus melangkah keluar dari rumah sakit menuju mobil.
"Turunkan aku, Baskara! Kamu gila ya?!" teriak Swari.
Ia malu karena menjadi pusat perhatian di lobi rumah sakit.
Baskara baru menurunkan Swari setelah mereka berada di dalam kursi belakang mobil Rolls-Royce-nya. Ia segera mengunci pintu secara otomatis.
"Kamu tidak akan kembali ke kantor dan kamu tidak akan kembali ke rumah kakakmu dalam kondisi seperti ini. Gandi, ke rumah di Jalan Panorama Indah." ucap Baskara yang sudah mengetahui tempat tinggal Swari yang baru dibeli.
"Bagaimana kamu tahu rumahku di Jalan Panorama Indah? Kamu memata-matai aku?"
Baskara hanya memberikan seringai tipis yang terlihat sangat dingin di bawah temaram lampu mobil.
Ia tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung, namun tatapannya yang tetap lurus ke depan sudah cukup memberikan jawaban.
Bagi seorang Baskara Surya, mencari tahu alamat seseorang di Jakarta hanyalah masalah waktu dan beberapa panggilan telepon.
"Aku tidak memata-matai mu, Swari. Aku hanya memastikan investasiku termasuk konsultan utama berada di tempat yang aman," jawab Baskara dengan nada datar yang menyebalkan.
Swari mengepalkan tangannya yang terbalut perban, menahan amarah yang meluap.
"Aku bukan investasimu, Baskara! Aku punya kehidupan, aku punya privasi."
Baskara tersenyum tipis saat mendengar perkataan dari Swari.
"Ingat, Swari. Kamu masih punya hutang uang yang kamu curi saat kamu kabur dari jet pribadiku."
Swari langsung terdiam saat mendengar perkataan dari Baskara.
"Aku akan membayarnya, Tuan Baskara. Berikan nomor rekeningmu."
"Aku akan mengirimkan nomor rekeningku, Swari. Dan kamu harus membayar ku Satu Miliyar."
"Satu miliar?" Suara Swari meninggi, hampir melengking di dalam kabin mobil yang kedap suara itu.
"Kamu benar-benar gila, Baskara! Aku hanya mengambil beberapa ikat uang dari brankas kecil di jet itu untuk biaya hidup awal di Kanada. Itu tidak mungkin sampai satu miliar!"
Baskara menyandarkan punggungnya, melipat kaki dengan santai seolah sedang membicarakan cuaca.
"Bunga, Swari. Enam tahun bunga majemuk, ditambah biaya operasional jet yang kamu tumpangi secara 'gratis' dari Jakarta ke Toronto, dan jangan lupakan biaya detektif yang aku bayar selama enam tahun untuk melacak jejakmu yang ternyata sangat ahli bersembunyi."
"Aku tidak pernah memintamu membawaku ke Kanada! Kamu menculikku!"
"Aku menyelamatkan nyawamu," potong Baskara dengan nada dingin yang menusuk.
"Tanpa aku, kamu sudah menjadi mayat yang membusuk di sungai Jakarta. Jadi, anggap saja satu miliar itu adalah harga untuk nyawamu yang berharga. Atau... kamu bisa membayarnya dengan cara lain."
Swari memalingkan wajah, enggan menatap pria manipulatif di sampingnya.
"Aku akan membayarnya. Berikan aku nomor rekeningmu. Aku akan mentransfernya besok. Karierku di Kanada cukup untuk membayar kesombonganmu ini."
"Aku tidak butuh uangmu, Swari," bisik Baskara, suaranya kini terdengar sangat dekat di telinga Swari.
"Aku ingin kepatuhanmu. Selama proyek Grand Mahameru berjalan, kamu adalah milikku. Kamu tidak boleh menghilang, tidak boleh membantah, dan tidak boleh ada rahasia."
Mobil Rolls-Royce itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah minimalis modern yang asri di kawasan Panorama Indah.
Gerbang otomatis terbuka, menunjukkan bahwa Baskara memang sudah menguasai akses rumah baru Swari.
Begitu mobil berhenti, Swari langsung membuka pintu dan keluar dengan langkah terburu-buru
"Sampai jumpa besok, Swari. Aku akan menjemputmu jam delapan pagi."
Baskara langsung menutup pintu mobilnya dan meminta Gandi kembali melajukan mobilnya menuju ke rumah.
kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor