NovelToon NovelToon
Fatih & Raisa

Fatih & Raisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya

Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Lonceng pintu The Library Cafe kembali berdenting, memecah keheningan emosional yang baru saja menyelimuti meja besar di sudut ruangan. Seorang pria dengan kemeja biru navy yang lengannya digulung hingga siku melangkah masuk. Wajahnya tampak lelah, sisa-sisa ketegangan operasi panjang di rumah sakit masih membekas di matanya.

Fatih berhenti sejenak, pemandangan di depannya benar-benar di luar perkiraan. Ia berharap menemukan kafe yang sepi untuk sekadar menyesap kopi pahit dan menenangkan pikiran, namun ia justru mendapati "pasukan" keponakannya sedang berkumpul lengkap dengan seorang remaja yang wajahnya penuh plester.

"Om Fatih?" Gavin berdiri, sedikit terkejut.

"Kok ke sini? Katanya ada jadwal operasi sampai malam?"

Fatih menghela napas, mendekat ke arah meja. "Baru selesai. Om butuh kafein supaya bisa menyetir pulang dengan aman."

Tatapannya kemudian beralih pada Aldi, lalu ke arah kotak P3K yang masih terbuka di atas meja. Sebagai dokter, instingnya langsung bekerja. "Siapa yang menjahit luka di pelipis itu? Berantakan sekali."

"Saya yang bersihkan, Dok," sahut Raisa yang muncul dari balik bar. "Hanya luka luar, jadi saya pikir cukup dengan antiseptik dan plester."

Fatih mendekat, mengamati wajah Aldi dengan saksama hingga membuat remaja itu sedikit canggung. "Lain kali, kalau lukanya sedalam ini, jangan cuma ditempel plester. Harus dibersihkan lebih teliti agar tidak ada trauma tumpul yang tertinggal. Tapi untuk ukuran pertolongan pertama... ya, lumayan."

Fatih akhirnya menarik kursi di ujung meja, bergabung dengan para remaja itu. Raisa meletakkan secangkir double espresso tanpa gula di depan Fatih.

"Terima kasih," gumam Fatih. Ia menatap Gavin, Dafa, dan Rian bergantian. "Jadi, ini alasan kalian tidak pulang ke rumah masing-masing? Menjadi pengawal jalanan?"

"Kami cuma membantu teman, Om," jawab Gavin tenang. "Situasinya darurat."

Fatih menyesap kopinya, lalu menatap Aldi.

"Terkadang, rasa sakit fisik memang terasa lebih mudah dikendalikan daripada rasa sakit di kepala atau hati. Tapi sebagai dokter, saya beri tahu satu hal: tubuhmu bukan alat untuk membuang amarah. Kalau kamu rusak, yang rugi bukan orang tuamu, tapi masa depanmu sendiri."

Aldi tertegun. Kata-kata Fatih yang dingin dan logis justru terasa masuk akal baginya. Tidak ada nada menghakimi, hanya fakta medis yang jujur.

"Dokter benar," bisik Aldi pelan.

"Tentu saja saya benar," balas Fatih datar, yang memancing tawa kecil dari Dafa dan Rian. Sifat kaku sang dokter ternyata bisa menjadi lelucon segar di tengah situasi tegang.

Raisa bersandar di meja bar, memperhatikan interaksi itu. Ada sesuatu yang menarik saat melihat Fatih berada di tengah-tengah remaja yang penuh gejolak emosi.

"Dara," panggil Raisa lembut. "Tolong buatkan satu lagi cokelat hangat untuk Aldi, dan mungkin cemilan untuk mereka. Sepertinya diskusi ini akan lama."

Dara mengangguk sigap. Saat ia mengantarkan pesanan, Fatih memperhatikannya. "Gavin bilang kamu sangat cepat belajar mesin kopi. Presisi adalah kunci utama, baik di ruang bedah maupun di meja bar. Pertahankan itu."

Dara hanya tersenyum tipis, merasa dihargai oleh seseorang yang memiliki standar setinggi Fatih.

Malam semakin larut, namun kafe itu justru terasa semakin hangat. Di sana ada Raisa yang menjaga dengan ketulusan, Fatih yang mengarahkan dengan logika, dan anak-anak muda yang belajar bahwa solidaritas jauh lebih keren daripada sekadar adu kekuatan di jalanan.

......................

Melihat Fatih yang biasanya kaku dan sangat menjaga wibawa kini tampak "terhipnotis", para remaja di meja itu mulai saling sikut.

Gavin menyeringai lebar, sementara Dafa dan Rian menahan tawa melihat pemandangan langka di depan mereka.

Fatih seolah tidak sadar bahwa ia sedang menjadi tontonan. Ia masih dalam posisinya, tangan kanan bertopang dagu, pandangannya lurus ke arah Raisa yang sedang sibuk merapikan rak buku di balik bar. Baginya, gerakan Raisa yang tenang dan telaten seperti sebuah simfoni yang meredakan stresnya setelah seharian di rumah sakit.

"Ehem! Om Fatih, kopinya masih panas atau sudah jadi es kopi karena kelamaan didiemin?" goda Gavin dengan suara yang sengaja dikeraskan.

Dafa ikut menimpali sambil senyum-senyum sendiri. "Kayaknya bukan kopinya yang bikin segar ya, Vin. Tapi pemandangan di depannya. Emang benar kata orang, kalau sudah nemu yang pas, dunia serasa milik berdua, sisanya cuma figuran di kafe."

Rian yang paling ceplas-ceplos bahkan pura-pura melambaikan tangan di depan wajah Fatih. "Dok? Dokter Fatih? Masih di bumi, kan? Atau lagi operasi hati secara virtual?"

Bukannya malu atau segera mengalihkan pandangan seperti dugaan mereka, Fatih justru tetap pada posisinya. Ia hanya melirik tipis ke arah keponakannya dan teman-temannya tanpa mengubah tumpuan dagunya.

"Pemandangan yang bagus itu jarang ditemukan," ucap Fatih dengan suara rendah yang mantap. "Sama seperti kasus medis yang langka, kalian harus mengamatinya dengan saksama agar tidak kehilangan detail penting. Jadi, biarkan saya melakukan 'observasi' saya sendiri."

Raisa, yang menyadari dirinya sedang dibicarakan, berbalik dengan wajah yang datar "Dokter Fatih, observasi itu sebaiknya dilakukan pada pasien, bukan pada pemilik kafe yang sedang bekerja."

Fatih akhirnya tersenyum tipis "Dalam dunia saya, ketenangan adalah obat. Dan melihat cara Anda bekerja sangat menenangkan, Bu Raisa. Itu observasi yang valid secara ilmiah."

"Cieee!" sorak para remaja itu kompak, membuat suasana kafe menjadi semakin riuh dan hangat. Bahkan Aldi yang tadinya murung kini ikut tertawa, merasakan energi positif dari orang-orang di sekitarnya.

......................

Malam itu, saat Dafa melangkah masuk ke rumah mewahnya, suasana terasa sangat sunyi. Ia melihat lampu ruang kerja ayahnya masih menyala temaram. Dengan langkah pelan, Dafa mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka.

Di sana, Pak Surya duduk di kursi kebesarannya, namun bukan berkas yayasan yang sedang ia telaah. Di tangannya ada sebuah foto lama, foto kegiatan sekolah beberapa tahun lalu di mana Raisa tampak tersenyum tipis sambil memegang piagam penghargaan. Tatapan Pak Surya begitu dalam, penuh kerinduan sekaligus penyesalan yang tertahan.

Dafa menghela napas, lalu mengetuk pintu pelan. "Yah? Belum tidur?"

Pak Surya sedikit terperanjat dan dengan cepat meletakkan foto itu ke dalam laci meja. Ia berdeham, mencoba mengembalikan wibawanya. "Eh, Dafa. Baru pulang? Bagaimana belajar kelompoknya?"

Dafa berjalan mendekat, lalu duduk di sofa di depan meja ayahnya. Ia tidak berpura-pura tidak tahu. "Ayah masih memikirkan Bu Raisa?"

Pak Surya terdiam sejenak, lalu menyandarkan punggungnya. "Dafa, terkadang memiliki segalanya di dunia ini tidak menjamin kita bisa memiliki hati seseorang. Ayah merasa sudah melakukan segalanya, tapi sepertinya pintu hati Bu Raisa memang punya kunci yang berbeda."

Dafa menatap ayahnya dengan empati. "Yah, di kafe tadi, Dafa melihat sesuatu. Ada Dokter Fatih di sana. Cara dia menatap Bu Raisa... itu beda. Dan jujur, Dafa lihat Bu Raisa juga nggak se-'es' biasanya kalau di depan dokter itu."

Mendengar nama Fatih, raut wajah Pak Surya berubah sedikit tegang. Ada persaingan harga diri yang muncul di matanya. "Dokter itu memang cerdas, tapi dia sangat kaku. Apa menurutmu Bu Raisa benar-benar bisa nyaman dengan pria seperti itu?"

"Justru itu, Yah," jawab Dafa jujur. "Karena mereka sama-sama kaku, mereka kayak punya frekuensi yang sama. Dafa sayang Ayah, dan Dafa pengen Ayah bahagia. Tapi kalau Ayah terus-terusan memaksa masuk ke pintu yang terkunci, nanti Ayah sendiri yang capek."

Dafa bangkit berdiri, menepuk bahu ayahnya dengan dewasa. "Mungkin sudah saatnya Ayah fokus ke hal lain. Lagipula, Ayah punya Dafa. Dan di sekolah, Dafa baru sadar kalau persahabatan itu ternyata lebih seru daripada mikirin siapa yang bakal jadi Ibu baru Dafa."

Pak Surya tertegun melihat kedewasaan putranya. Ia tersenyum tipis dan mengangguk. "Kamu benar. Mungkin Ayah hanya terlalu ambisius. Tidurlah, besok kamu harus sekolah pagi, kan?"

Dafa mengangguk dan keluar ruangan. Namun, dalam hati ia bergumam, 'Sorry ya Yah, meski Ayah bos gue di sekolah, tapi soal cinta... kayaknya Dokter Fatih emang lebih "sat-set" kali ini.'

1
Rian Moontero
lanjuuuutttt😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!