NovelToon NovelToon
Istri Yang Mereka Remehkan

Istri Yang Mereka Remehkan

Status: tamat
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:260.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.

Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.

Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kita selesai

"Sial! Sial! Arghhh...!" Ares mengumpat keras.

Tangannya menghantam sandaran kursi depan hingga mobil sedikit bergetar. Rahangnya mengeras, napasnya memburu.

Malam ini, malam yang seharusnya jadi puncak kemenangannya, justru berubah menjadi mimpi buruk paling memalukan dalam hidupnya.

"Sial! Elina sudah lebih dulu tahu rencana kita," geramnya, suara rendah tapi penuh racun.

Maya yang duduk di sampingnya ikut gelisah. Jarinya saling meremas, wajahnya pucat, sisa-sisa kepanikan masih jelas terlihat.

"Terus bagaimana ini, Mas?" tanyanya dengan suara getar. "Semua orang lihat. Media pasti sudah..."

"Diam!" potong Ares kasar. Ia menoleh tajam, sorot matanya menyala merah. "Kalau bukan karena kamu ceroboh, semuanya tidak akan sejauh ini!"

Maya terdiam. "Aku ceroboh?" suaranya meninggi. "Kamu yang terlalu percaya diri! Kamu pikir Elina itu bodoh?"

Suasana mobil langsung menegang. Di kursi belakang, Amelia mendengus keras.

Wajahnya merah padam menahan amarah dan malu. “Kurang ajar! Anak itu benar-benar mempermalukan keluarga kita!” gerutunya. “Dulu Mama sudah bilang, jangan terlalu percaya sama perempuan itu.”

“Sekarang Mama masih mau menyalahkan Elina?” Ares membentak sambil menoleh ke belakang. “Karena Mama, semuanya jadi makin kacau! Mama ikut campur di depan umum, bikin aku terlihat seperti badut!”

Amelia terperanjat. “Kamu membentak Mama?” suaranya meninggi tak terima. “Mama melakukan semua itu demi kamu!”

“Demi aku atau demi gaya hidup Mama?” balas Ares tajam. “Liburan, belanja, salon, semua dari uang perusahaan Elina!”

“ARES!” bentak Amelia, napasnya tersengal. Tangannya gemetar, antara marah dan takut.

Arman yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. Suaranya berat, penuh tekanan. “Cukup!”

Semua langsung terdiam.

“Kalian tidak sadar?” lanjut Arman dingin. “Malam ini bukan cuma rencana yang gagal. Kita kehilangan segalanya.”

Ia menatap lurus ke depan, wajahnya muram. “Nama baik. Kekuasaan. Uang. Semua.”

Maya menelan ludah. “Lalu… kita harus bagaimana, Pa?” tanyanya pelan.

Arman menarik napas panjang. "Kita belum kalah," katanya akhirnya. "Tapi mulai sekarang, kita harus jauh lebih hati-hati."

Ares tertawa kecil, tawa kosong, tanpa humor. "Hati-hati?" ulangnya. "Elina sudah menelanjangi kita di depan publik. Dia tidak cuma menjatuhkan aku... dia menghancurkan kita."

Mobil melaju dalam keheningan yang menyesakkan. Tak ada lagi kata-kata penghiburan. Tak ada lagi rencana mulus.

Beberapa saat kemudian, mobil Ares berhenti tepat di depan rumah. Pintu terbuka satu per satu, dan mereka turun dengan wajah kusut, sisa amarah serta malu masih jelas terbawa.

Brug!

Brug!

Suara benturan keras mendadak memecah keheningan, begitu nyaring hingga membuat mereka terperanjat. Beberapa koper besar terlempar di halaman, jatuh tepat di depan kaki mereka.

Mereka menatap pemandangan itu dengan tak percaya.

"Apa-apaan ini?" ucap Amelia sambil melangkah mendekat, diikuti Ares, Maya, dan Arman yang sama-sama mematung, perasaan tak enak mulai merayap di dada masing-masing.

Elina melangkah keluar dari pintu utama rumah itu dengan langkah tenang. Gaun malamnya masih sama, elegan, anggun, seolah penghinaan di ballroom tadi hanyalah formalitas kecil baginya. Rambutnya rapi, wajahnya datar, nyaris tanpa emosi.

Sorot matanya langsung tertuju pada mereka berempat.

Bukan marah.

Bukan kecewa.

Melainkan… asing.

Dua pengawal menyusul dari belakang, masing-masing menyeret koper besar.

Brug!

Gedebuk!

Satu koper dilempar ke sisi halaman lainnya. Isinya bergetar keras di dalam, seakan ikut merasakan nasib pemiliknya.

“Elina!” Amelia melangkah maju, wajahnya memerah. “Apa maksud semua ini?!”

Elina tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat tangan sedikit.

Pengawal lain kembali keluar dari dalam rumah, membawa dua koper tambahan.

Brug!

Duk!

Elina baru membuka suara setelah semua koper tergeletak di halaman.

"Barang-barang kalian," ucapnya datar. "Aku tidak ingin ada milik orang asing tertinggal di rumahku."

Ares membeku. "Elina... kamu tidak bisa begini," katanya berusaha menahan dada. "Ini rumah kita."

"Rumah kita?" ulang Elina pelan, namun nadanya dingin menusuk. "Kamu masih bisa menyebut rumah ini rumah kita setelah semua yang kamu lakukan ke aku, Mas? Ingat baik-baik, ini rumah milikku yang diberikan orang tuaku. Kalian semua menumpang di sini."

Elina menatap mereka satu per satu dengan sorot mata beku, hingga akhirnya tatapannya berhenti pada Maya. "Dan kamu, May. Ini kan yang kamu inginkan? Memiliki Mas Ares sepenuhnya?"

Maya tersentak. "Elina..."

"Aku tidak butuh penjelasan kamu lagi, May," potong Elina dingin. "Silakan ambil Mas Ares. Itu yang kamu mau, kan? Dan mulai sekarang, kamu bukan sahabatku lagi."

Deg!

Ucapan itu membuat Maya terdiam. Tangannya mengepal, tapi tak satu pun kata mampu keluar.

Tatapan Elina lalu beralih pada Ares. “Mas Ares, mulai sekarang kamu tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi dari aku untuk bersama Maya,” ucapnya, berusaha tetap tegar meski dadanya terasa sesak.

“Elina...”

Elina mengangkat tangannya. “Tidak perlu penjelasan lagi, Mas. Kamu bebas sekarang. Dan sebentar lagi kamu akan jadi ayah, kan?”

Deg!

Ares terkejut. Wajahnya langsung memucat. Dari mana Elina tahu soal itu… soal kehamilan Maya?

“Kamu tidak usah terkejut seperti itu,” lanjut Elina tenang. “Aku diam bukan berarti aku tidak tahu semua kelakuan kamu di belakang aku.”

Pandangan Elina kemudian beralih pada Amelia dan Arman. “Mama dan Papa, aku sangat kecewa dengan kalian. Kalian mendukung putra kalian berselingkuh, padahal aku sangat menyayangi kalian. Apa pun yang kalian inginkan selama ini selalu aku kabulkan. Tapi sudahlah, itu sudah jadi pilihan kalian.”

Elina menarik napas berat, seolah mengumpulkan sisa kekuatannya, lalu kembali menatap Ares. “Mas Ares, sudah cukup. Aku tidak ingin terus sakit hati, dan kamu memang perlu bebas. Kita selesai.”

Deg!

Ares tersentak. "Elina..."

"Tidak ada bantahan," potong Elina tegas. "Pergi kalian semua. Malam ini, kita tidak memiliki hubungan apa pun lagi."

Amelia menatap Elina dengan mata menyala. “Kamu benar-benar kejam.”

Elina tersenyum tipis. “Tidak. Aku hanya berhenti jadi bodoh.”

Ares melangkah maju satu langkah. “Elina, kita bisa bicarakan ini baik-baik—”

“Tidak,” potong Elina dingin. “Kesempatan bicara sudah kamu habiskan sejak kamu memilih berkhianat.”

Maya menggenggam koper dengan tangan gemetar. “Aku… aku tidak bermaksud begini.”

Elina menoleh sekilas. “Tapi kamu tetap melakukannya.”

Ia lalu mengangkat dagu. “Pergi.”

Amelia mendecih kesal. “Ayo! Jangan buang waktu lagi di rumah orang yang tak tahu diri!”

Ares terdiam lama, lalu menarik koper dengan kasar. “Kamu akan menyesal, Elina.”

Elina menatapnya datar. “Tidak. Penyesalan itu milik kalian.”

Mereka berjalan menjauh.

Suara pintu mobil menutup keras.

Elina berdiri sendiri di teras, menatap malam yang sunyi.

Pelan, ia berucap,

“Sudah selesai.”

1
Gintania nia
cukup bagus
THAILAND GAERI
kok tokoh perempuannya kek lucinta luna 🤣🤣🤣🤣
Sarminem Mimi
gitu Thor aga gambar nya 👍. biar bisa ngebayangin cantik nya Elina☺️☺️😍
Nona Jmn: Terima kasih🤭
total 1 replies
Sarminem Mimi
gitu Thor ada gambar nya👍
Ophelia Roosevelt
ga punya kaca apa gimana neng..
Raisha Mieyka
𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘪𝘬𝘬𝘬𝘬𝘬
Lies Atikah
mang enak ternyata bukan anak loh
Lies Atikah
si jala nk maya aman 2 saja masih tetatp bahagia ada yang ngelindungi lagi kebohongan mu hamil anak si ares aman menang banyak kamu maya
Lies Atikah
kebayang perasaan si Ares pastahu kalau anak yang di kandung si jala nk Maya adalah anak dari lelaki lain cian deh loh
Lies Atikah
semoga berjodoh yah oma
Lies Atikah
kayanya yang mandul teriak mandul 😄😄😄😄 semoga begitu
Lies Atikah
semoga yang di kandung bukan anak s Ares biar si ares jatuh dlm penyesalan yang patal
Lies Atikah
kirain lengah suka thor yang satset ginni sedikit lebih kejam bolehlah biarkan hancur merangkak dan punah.. puas👍
Lies Atikah
skalian putarkan juga perselingkuhan dan kebusukan si Arres dan si maya biar orang2 tahu
Lies Atikah
kelamaan makin lengket dan bahagia aja Si ares sama si amel bebas melakukan niu niu nya di man saja termasuk di kamar pribadi menang banyak Amel😄
Lies Atikah
nah gitu donk thor adakan saingan cowok janga menyedih kan kesan jadi lebih cantik si maya laku sampai si Ares kelepek2 jadi kasihan lina gakada pengagum yang bikin si ares cemburu
Lies Atikah
jangan lemah Lin jangan karna bucin sama si Ares berengsek kamu jadi bodoh sadar diri kamu sudah di campakan gitu harga dirimu mana ngenes banget
Lies Atikah
jangan ragu 2 untuk bertindak bener2 harus di hancur kan
Hasanah
🤣🤣 keluarga gila iri kok sama harta dan hidup orang lain mereka berada di titik itu kan Krena kerja keras lah Klian klau mau Kya gitu ya kerja jngan jdi benalu aj krjax
Hasanah
Klian ngak bersyukur udah di ksih berlian ee milih batu got 🤣🤣 ya udah nikmati aj
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!