Safa, wanita dari keluarga sederhana, memberikan makanan pada seorang pria yang dia anggap pengemis – ternyata adalah Riki, CEO perusahaan besar. Terharu dengan kebaikan Safa, Riki menyembunyikan statusnya, mereka jatuh cinta dan menikah.
Ketika Safa bekerja di kantor Riki, dia bertemu "Raka" – teknisi yang ternyata adalah Riki yang berpura-pura. Setelah menemukan kebenaran, Safa merasa kecewa, tapi Riki membuktikan cintanya tulus dengan memperkenalkannya pada keluarga aslinya. Mereka akhirnya memperpublikasikan pernikahan mereka dan hidup bahagia dengan cinta yang sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bantu Kerja Rumah Tangga
Pada malam kesembilan kunjungannya ke Waroeng Mak Ina, Riki datang dengan wajah yang sedikit khawatir.
Ketika dia sampai di warung, dia tidak melihat Safa yang biasanya sudah sibuk melayani pelanggan. Alih-alih itu, hanya Maya yang ada di sana dan terlihat sedang kesulitan menangani semua pelanggan sendirian.
Riki segera mendekati Maya dengan ekspresi yang penuh kekhawatiran. "Maya, apa kabarmu? Dimana Safa? Kenapa kamu sendiri saja menangani semua pelanggan?"
Maya melihatnya dengan wajah yang juga khawatir. "Pak Riki! Kamu datang ya. Maaf ya kalau warungnya sedikit berantakan hari ini. Safa tidak bisa datang bekerja karena Ayahnya sakit parah. Dia harus merawat Ayahnya di rumah dan membantu Ibunya mengurus segala sesuatu."
Riki merasa sangat khawatir mendengar kabar tersebut. "Apa? Ayah Safa sakit? Apa penyakitnya? Apakah sudah dirawat di rumah sakit?"
"Belum Pak. Ayahnya merasa sangat lemah dan tidak bisa bangun dari tempat tidur. Mereka tidak punya cukup uang untuk pergi ke rumah sakit, jadi Safa hanya bisa merawatnya dengan obat-obatan tradisional yang bisa mereka dapatkan," ucap Maya dengan suara yang penuh kesedihan. "Safa sudah menghubungi saya tadi sore dan meminta maaf karena tidak bisa datang bekerja. Dia merasa sangat bersalah karena meninggalkan saya sendiri menangani warung."
Riki menghela napas dalam-dalam. Dia merasa sangat prihatin dengan keadaan keluarga Safa dan ingin melakukan sesuatu untuk membantu mereka. "Maya, bisakah kamu memberi tahu saya alamat rumah Safa? Saya ingin mengunjunginya dan melihat bagaimana keadaan Ayahnya. Kalau bisa, saya juga ingin membantu mereka sebisa mungkin."
Maya melihatnya dengan ekspresi yang penuh rasa terima kasih. "Tentu saja Pak Riki. Saya akan memberikan alamatnya padamu. Tapi kamu harus berhati-hati ya, rumah mereka terletak di gang kecil yang cukup sulit ditemukan."
Setelah mendapatkan alamat rumah Safa dari Maya, Riki segera membayar untuk pesanan yang belum dia makan dan keluar dari warung.
Dia langsung pergi ke toko obat terdekat untuk membeli beberapa obat-obatan dan makanan yang bisa membantu meningkatkan kesehatan Ayah Safa.
Dia juga membeli beberapa buah dan susu yang bisa diberikan kepada keluarga Safa sebagai tambahan makanan bergizi.
Setelah membeli semua yang dia butuhkan, Riki mulai mencari jalan menuju rumah Safa sesuai dengan alamat yang diberikan Maya.
Setelah berkendara selama hampir setengah jam dan beberapa kali salah jalan, dia akhirnya menemukan gang kecil yang menjadi tujuan nya.
Dia memarkirkan mobilnya di luar gang dan mulai berjalan kaki membawa tas berisi obat-obatan dan makanan yang dia beli.
Ketika sampai di depan rumah Safa yang kecil dan cukup sederhana, Riki melihat bahwa pintu rumah terbuka sedikit dan bisa mendengar suara tangisan yang datang dari dalam.
Dia mengetuk pintu dengan lembut dan menyebut nama Safa. "Halo? Safa? Ada orang di dalam rumah? Saya Riki. Saya datang untuk mengunjungi Ayahmu yang sedang sakit."
Suara tangisan di dalam rumah langsung berhenti. Beberapa saat kemudian, Safa muncul dengan wajah yang merah dan mata yang bengkak karena menangis.
Ketika melihat Riki berdiri di depan pintu dengan membawa banyak barang, dia merasa sangat terkejut dan sedikit malu.
"Pak Riki? Kamu... kamu bagaimana bisa datang ke sini? Siapa yang memberitahu kamu alamat rumah saya?" tanya Safa dengan suara yang masih bergetar karena menangis.
"Maya memberitahu saya bahwa Ayahmu sakit. Saya merasa sangat khawatir dan ingin membantu kamu sebisa mungkin," jawab Riki dengan suara lembut. "Saya membawa beberapa obat-obatan dan makanan untuk Ayahmu. Bolehkah saya masuk dan melihat bagaimana kondisinya?"
Safa merasa sangat terharu dan tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa mengangguk dan membuka pintu lebih lebar untuk membiarkan Riki masuk ke dalam rumah.
Ketika memasuki rumah, Riki melihat bahwa rumah tersebut sangat kecil dan sederhana. Ada hanya dua kamar tidur, sebuah ruang tamu kecil, dan dapur yang juga digunakan sebagai ruang makan.
Di ruang tamu, ada seorang pria yang sedang berbaring di atas tikar yang terletak di lantai karena mereka tidak punya tempat tidur tambahan.
Wanita yang tampaknya adalah Ibu Safa sedang duduk di sampingnya dengan wajah yang penuh kesedihan.
"Ayah... Ibunya," ucap Safa dengan suara lembut sambil mendekati kedua orang tuanya. "Ini adalah Pak Riki, pelanggan dari warung yang selalu datang setiap malam. Dia datang untuk mengunjungi Ayah dan membantu kita."
Ayah Safa mencoba mengangkat kepalanya dengan susah payah dan melihat Riki dengan mata yang lemah. "Terima kasih sudah datang mengunjungiku ya Pak. Aku sangat malu karena harus melihatmu dalam keadaan seperti ini."
"Tidak apa-apa Pak Ayah," jawab Riki dengan senyuman hangat. "Saya hanya ingin membantu sebisa mungkin. Saya membawa beberapa obat-obatan dan makanan untukmu. Semoga bisa membantu meningkatkan kondisimu."
Ibu Safa berdiri dan melihat Riki dengan wajah yang penuh rasa terima kasih. "Terima kasih banyak ya Pak Riki. Kami sangat berterima kasih atas bantuanmu. Kami tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada orang yang mau membantu kami saat ini."
Riki segera meletakkan tas yang dia bawa di atas meja kecil dan mulai mengambil obat-obatan yang dia beli.
Dia menjelaskan dengan jelas bagaimana cara menggunakan setiap obat dan memberikan saran tentang makanan yang harus dikonsumsi oleh Ayah Safa untuk membantu mempercepat proses penyembuhannya.
Setelah itu, Riki melihat bahwa rumah Safa sangat berantakan dan ada banyak pekerjaan rumah tangga yang belum selesai.
Dia segera menawarkan bantuan nya untuk membantu membersihkan rumah dan mengurus segala sesuatu yang perlu dikerjakan. "Saya bisa membantu kamu membersihkan rumah dan mengurus hal-hal lain yang perlu dikerjakan. Kalau Ayahmu sedang sakit, kamu harus fokus merawatnya saja kan?"
Safa merasa sangat malu tapi juga sangat berterima kasih dengan penawaran tersebut. "Tidak usah Pak Riki, kamu sudah banyak membantu kita dengan membawa obat-obatan dan makanan. Kamu tidak perlu repot membantu mengurus rumah juga."
"Tidak apa-apa kok Safa," jawab Riki dengan senyuman. "Kita harus saling membantu satu sama lain kan? Apalagi dalam keadaan seperti ini."
Tanpa menunggu tanggapan lagi, Riki segera mulai bekerja membersihkan rumah. Dia membersihkan lantai, menyapu halaman depan rumah, mencuci piring yang menumpuk di dapur, dan bahkan membantu mencuci pakaian yang belum dicuci.
Safa dan Ibunya hanya bisa berdiri dan melihat dengan terkejut bagaimana seorang pria yang mereka anggap sebagai karyawan kantoran biasa bisa bekerja dengan begitu giat dan tidak pernah mengeluh.
Saat bekerja, Riki mulai berbincang dengan Ibu Safa tentang kondisi Ayah Safa dan bagaimana mereka bisa mendapatkan perawatan yang lebih baik untuknya.
Dia menyarankan agar Ayah Safa segera dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa oleh dokter agar bisa mendapatkan diagnosis yang tepat dan perawatan yang sesuai.
"Tapi kami tidak punya cukup uang untuk pergi ke rumah sakit Pak," ucap Ibu Safa dengan suara yang penuh kesedihan. "Kita hanya bisa berharap bahwa Ayah akan segera sembuh dengan obat-obatan tradisional yang kita punya."
Riki berpikir sebentar sebelum memberikan jawaban. "Kalau itu masalahnya, saya bisa membantu membayar biaya perawatan Ayahmu di rumah sakit. Saya punya sedikit uang yang bisa saya gunakan untuk membantu kamu semua."
Safa dan Ibunya merasa sangat terkejut mendengar kata-kata tersebut. Mereka tidak bisa membayangkan bahwa seorang pria yang baru mereka kenal beberapa minggu yang lalu bisa bersedia membantu mereka dengan begitu besar.
"Tidak bisa Pak Riki! Kamu sudah banyak membantu kita. Kami tidak bisa menerima bantuan uang lagi dari kamu," ucap Safa dengan suara yang penuh rasa tidak tega.
"Safa, jangan sungkan ya," jawab Riki dengan suara yang tulus. "Kesehatan Ayahmu adalah yang paling penting sekarang. Kita bisa membicarakan tentang cara membayar kembali uang tersebut nanti setelah Ayahmu sembuh. Yang penting sekarang adalah Ayahmu mendapatkan perawatan yang tepat."
Setelah beberapa saat membujuk, Safa dan Ibunya akhirnya menyetujui untuk membawa Ayah Safa ke rumah sakit besok pagi dengan biaya yang akan ditanggung oleh Riki.
Mereka merasa sangat bersyukur dan tidak bisa berkata apa-apa selain terima kasih yang terus keluar dari mulut mereka.
Setelah selesai membantu mengurus rumah dan memberikan obat-obatan kepada Ayah Safa, sudah menunjukkan pukul satu pagi.
Riki merasa sangat lelah tapi juga merasa sangat bahagia karena bisa membantu keluarga Safa dalam waktu yang paling mereka butuhkan.
"Saya harus pulang sekarang ya," ucap Riki dengan senyuman. "Besok pagi saya akan datang untuk menjemput kamu semua dan membawamu ke rumah sakit. Jangan khawatir tentang apa-apa lagi ya, semua sudah akan saya urus."
Safa mengikuti Riki sampai ke depan pintu rumah dengan wajah yang penuh rasa terima kasih. "Terima kasih banyak ya Pak Riki. Kamu telah melakukan hal yang sangat besar bagi keluarga kami. Kami tidak akan pernah bisa melupakan bantuan yang kamu berikan kepada kami."
"Sama-sama Safa," jawab Riki dengan senyuman hangat. "Kamu adalah orang yang sangat baik hati dan selalu membantu orang lain. Sekarang giliran saya untuk membantu kamu. Jangan terlalu khawatir ya, Ayahmu akan segera sembuh."
Setelah itu, Riki berjalan meninggalkan rumah Safa dengan hati yang penuh kedamaian dan kebahagiaan.