Empat tahun menikah tanpa cinta dan karena perjodohan keluarga, membuat Milea dan Rangga Azof sepakat bercerai. Namun sebelum surat cerai diteken, Rangga mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya koma dan kehilangan ingatan. Saat terbangun, ingatannya berhenti di usia 22 tahun. Usia ketika ia belum menjadi pria dingin dan ambisius.
Anehnya, Rangga justru jatuh cinta pada Milea, istrinya sendiri. Dengan cara yang ugal-ugalan, manis, dan posesif. Di sisi lain, Milea takut membuka hati. Ia takut jika ingatan Rangga kembali, pria itu bisa kembali menceraikannya.
Akankah cinta versi “Rangga 22 tahun” bertahan? Ataukah ingatan yang kembali justru mengakhiri segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 9.
Milea bangun dengan dada terasa berat.
Langit pagi cerah, burung-burung berkicau. Ia menatap langit-langit kamar, mengingat kembali pelukan semalam. Kehangatannya, detak jantung Rangga yang terlalu dekat. Kalimat yang pria itu bisikkan di telinganya.
Aku butuh kamu.
Milea memejamkan mata, menarik napas panjang.
Tidak, ia tak boleh membiarkan dirinya terhanyut. Ia bangkit, merapikan tempat tidur dengan gerakan cepat, seolah ingin menghapus jejak malam itu. Pintu kamar dibuka perlahan. Dari arah dapur, terdengar suara panci dan sendok beradu. Milea berhenti melangkah.
Rangga sudah bangun.
Sejak kapan laki-laki itu rajin bangun pagi?
Milea menghela napas, lalu melangkah ke dapur dengan wajah datar.
“Pagi,” sapa Rangga sambil tersenyum.
Milea mengangguk. “Pagi.”
Nada suara wanita itu dingin, terlalu formal untuk dua orang yang semalam berpelukan.
Rangga merasakannya, senyumnya meredup sedikit tapi ia berusaha santai. “Aku bikin sarapan.”
“Aku nggak lapar,” jawab Milea cepat. Ia mengambil air minum, berdiri membelakangi Rangga.
“Aku tetap bikinin, nanti kamu makan ya.”
Milea menutup botol dengan agak keras. “Aku bilang nggak lapar.”
Rangga terdiam.
Ia menatap punggung Milea, merasakan jarak yang mendadak tercipta. Jarak yang tidak ada kemarin.
“Oke,” ucap pria itu pelan.
Milea pergi tanpa menoleh.
Di kamar, Milea bersandar di pintu. Tangannya gemetar. Ia memejamkan mata, menahan sesak yang naik ke dada.
Ia benci dirinya sendiri, benci karena ingin menoleh. Benci karena ingin kembali ke dapur dan duduk di hadapan Rangga, menatap wajah yang kini terasa asing sekaligus familiar. Namun ia tahu, semakin lama ia berada dekat dengan Rangga yang sekarang, semakin besar kemungkinan hatinya hancur lagi.
Hari itu, Milea menghindari Rangga.
Ia sibuk dengan laptop, ponselnya terus di genggaman. Setiap kali Rangga mendekat, Milea akan mencari alasan untuk pergi.
Rangga memperhatikannya dalam diam, bukan perubahan besar dari Milea. Hanya jarak kecil, namun cukup untuk membuatnya gelisah.
Siang hari Rangga duduk di sofa, memegang kepalanya. Rasa nyeri di kepalanya kembali datang. Ia memejamkan mata, mencoba mengingat latihan pernapasan yang diajarkan dokter.
“Milea,” panggilnya pelan.
Tak ada jawaban.
“Milea?”
Rangga membuka mata, melihat ruangan kosong. Ia berdiri perlahan, melangkah ke arah dapur. Milea ada di sana, mencuci piring dengan gerakan cepat.
“Kepalaku sakit,” ucap Rangga jujur.
Milea menegang, tapi tak menoleh. “Minum obat.”
“Aku lupa di mana.”
Milea berhenti mencuci. Ia menoleh dengan wajah datar, menunjuk lemari. “Di situ.”
“Ambilin?”
Milea terdiam.
Detik itu, ia ingin berkata tidak. Namun tangannya bergerak lebih cepat dari pikirannya. Ia membuka lemari, mengambil obat dan segelas air, lalu menyodorkannya.
Rangga tersenyum kecil. “Makasih.”
Milea mengangguk singkat, ia berbalik lagi ke wastafel.
Rangga meminum obatnya, lalu berdiri diam di belakang Milea. Ada keinginan besar untuk memeluk punggung itu, namun ia menahan diri.
“Kamu marah?” tanyanya akhirnya.
Milea menggeleng. “Nggak.”
“Boong,” kata Rangga lembut.
Milea memejamkan mata. “Aku cuma capek.”
“Karena aku?”
Pertanyaan itu membuat Milea membalikkan tubuh. “Kenapa kamu selalu menganggap semuanya tentang kamu?”
Rangga tersentak. “Karena aku rasa, aku yang selalu bersalah padamu.”
Milea menelan ludah, namun ia tak mengatakan apapun lagi.
Rangga melangkah pergi tanpa berkata apa-apa lagi, Milea menatap punggung suaminya menjauh. Lututnya melemas, ia berpegangan pada meja agar tidak jatuh.
Kenapa ia justru merasa seperti orang jahat?
Sore hari, hujan kembali turun.
Milea duduk di kamar, menatap jendela. Pikirannya kembali ke masa lalu, saat malam-malam menunggu Rangga pulang. Ponsel yang tak kunjung berdering, janji-janji Rangga yang selalu ditunda.
Ia mengusap wajah.
Aku nggak boleh lupa dengan rasa sakitku.
Ketukan terdengar di pintu.
“Milea,” suara Rangga terdengar lebih serius dari biasanya. “Aku boleh masuk?”
Milea ragu, lalu menjawab, “Masuk.”
Rangga masuk dengan raut wajah tenang, tapi matanya penuh tekad.
“Aku ke dokter hari ini,” katanya langsung.
Milea menoleh cepat, dia terkejut. “Sendiri?”
“Iya.”
“Kenapa nggak bilang?”
Rangga tersenyum kecil. “Kamu kelihatan nggak mau diganggu.”
Milea terdiam.
“Dokter bilang ingatanku mungkin nggak akan kembali sepenuhnya, atau... bisa kembali tapi bertahap.”
Jantung Milea berdegup kencang. “Terus?”
“Terus aku mikir,” kata Rangga, menatap lurus ke mata Milea. “Kalau ingatanku kembali… apakah aku akan jadi orang yang sama seperti dulu?”
Milea menahan napas.
“Sekarang aku yang takut, jika ingatanku akhirnya kembali... kamu makin menjauh, lalu pergi dariku.”
“Rangga…”
“Aku tahu aku nyakitin kamu dulu, aku emang nggak ingat... tapi aku lihat bekasnya.”
Ia menunjuk dada Milea. “Di kamu, aku melihat rasa sakit itu. Rasa sakit karena perbuatan dan sikapku padamu...”
Milea menggigit bibir.
“Aku nggak minta kamu menerimaku sekarang,” kata Rangga pelan. “Aku cuma minta satu kesempatan buat buktiin, kalau aku bisa jadi lebih baik dari aku yang dulu.”
Itu bukan janji kosong, tapi itu sebuah permohonan.
Milea menggeleng perlahan. “Aku nggak bisa.”
“Kenapa?”
“Karena kalau aku berharap lagi,” suara Milea bergetar, “Dan kamu kembali jadi Rangga yang dulu… aku nggak yakin bisa bertahan.”
Rangga menatap Milea penuh permohonan. “Tapi aku nggak akan buat kamu hancur...“
“A-aku tidak yakin...” jawab Milea pelan.
Hening menyelimuti mereka.
Rangga tersenyum tipis. “Tapi aku yakin akan satu hal...”
“Apa?”
“Perasaanku padamu ini nyata,” ucap Rangga mantap. “Walaupun ingatanku berantakan.”
Kalimat itu membuat Milea menutup mata. Rangga keluar dari kamar, meninggalkan Milea sendirian dengan pikirannya.
Malam itu, Milea menangis dalam diam. Bukan karena Rangga yang dingin. Melainkan karena Rangga yang hangat… dan terlalu terlambat.
Dan di kamar sebelah Rangga duduk di tepi ranjang, menatap foto pernikahan mereka yang terpajang di meja.
Ia mengusap bingkai foto itu pelan. “Kalau kamu butuh waktu, aku akan menunggumu. Tapi aku gak akan menyerah, lihat saja.“
Sebab Rangga yakin akan satu hal... meski nantinya ingatannya kembali, dia akan tetap mencintai Milea. Dan kali ini, ia tidak akan lari lagi.
skrg dah terlambat untuk bersama Milea, tapi tuh Ethan terobsesi bgt sme Milea. semoga rencana Rangga berhasil.
apa gak seharusnya Milea dikasih tau ya, takutnya nanti bisa salah paham. apa orang tua Milea dikasih tau Rangga?
malah datang kayak maling, datang dengan cara tidak baik baik
Lebih baik kamu kasih tahu Rangga deh, biar Rangga yang urus semuanya... 😌