Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
"
Hari ketiga sejak demam tinggi itu menyerang, kondisi Ayra mulai membaik. Panas badannya sudah turun, meski Mama Aura tetap bersikeras melarangnya sekolah sampai tenaganya benar-benar pulih seratus persen. Ayra kini hanya bisa bersandar di tumpukan bantal di ranjangnya, merasa bosan karena hanya ditemani suara kipas angin dan kicauan burung dari luar jendela.
"Gabut banget ya ampun..." keluh Ayra. Ia meraih ponselnya yang sejak tadi tergeletak di nakas.
Ia mulai membuka aplikasi Instagram, menelusuri feed secara acak untuk mengusir rasa bosan. Namun, saat ia melihat tab notifikasi, keningnya berkerut. Ada sebuah akun baru yang baru saja mengikutinya.
@fans.ayrania_ mengikutimu.
Ayra mengernyit. "Fans Ayrania? Siapa sih iseng banget buat akun fanbase segala. Aku kan bukan artis," gumamnya.
Rasa penasaran akhirnya menang. Ayra mengetuk profil akun tersebut. Jantungnya mendadak berhenti berdetak selama satu detik saat melihat foto profil akun itu. Itu adalah foto Ayra yang sedang tertidur di sofa ruang tamunya, mengenakan daster rumahan motif bunga-bunga, dengan mulut sedikit terbuka.
"Lho? Ini kan foto pas aku ketiduran habis belajar minggu lalu!" seru Ayra pelan. Wajahnya mulai memanas. Ia ingat betul, saat itu hanya ada satu orang yang ada di ruang tamu bersamanya sebelum ia terlelap.
Ayra mulai menelusuri postingan akun tersebut yang dikunci (private), namun karena akun itu sudah mengikutinya dan Ayra mengikuti balik karena penasaran, ia bisa melihat semuanya.
Di sana terdapat puluhan foto candid dirinya.
Ada foto saat Ayra sedang serius menulis laporan OSIS dengan kacamata bertengger di hidungnya.
Ada foto saat Ayra sedang tertawa lebar sambil memegang es krim di taman kompleks.
Ada foto dari belakang saat Ayra sedang berjalan memasuki gerbang sekolah, dengan caption singkat: "Punggung paling kecil tapi tanggung jawabnya paling besar."
Setiap foto diambil dengan sudut yang sangat estetis, seolah-olah sang fotografer sangat mengagumi objeknya. Namun, yang paling membuat jantung Ayra berdegup kencang adalah postingan terbaru. Sebuah foto tangan seseorang yang sedang menggenggam tangan Ayra di atas sprei kasur—foto saat Ayra sedang sakit kemarin.
Caption-nya tertulis: "Cepet sembuh, ya. Dunia gue sepi kalau nggak ada yang bisa gue jahilin."
Ayra menutup mulutnya dengan telapak tangan. "Fix... ini pasti kerjaan Lano. Nggak mungkin orang lain punya foto-foto ini," bisiknya.
Seketika, rasa panas yang bukan karena demam menjalar ke seluruh wajah Ayra. Ia membenamkan wajahnya di bantal, menendang-nendangkan kakinya di balik selimut. Perasaannya campur aduk.
"Aduhh, kenapa aku jadi gini ya? Kok jantung aku kayak habis lari maraton?!" serunya frustrasi pada dirinya sendiri.
Ayra kembali melihat foto-foto itu. Selama ini ia menganggap Alano hanya ingin mengganggunya, tapi melihat akun ini, Ayra menyadari satu hal: Alano memperhatikan setiap detail kecil tentang dirinya. Alano ada di sana, mengabadikan momen-momen yang bahkan Ayra sendiri tidak sadar telah terjadi.
Ia teringat betapa ketusnya ia pada Alano tempo hari soal "status keluarga". Rasa bersalah itu kini berganti menjadi rasa haru yang menggelitik. Ayra mulai menyadari bahwa dibalik sifat playboy dan jahilnya, Alano memiliki sisi yang sangat tulus—dan sisi itu hanya ditunjukkan untuknya.
"Gila ya si Lano... bisa-bisanya buat akun ginian," gumam Ayra sambil senyum-senyum sendiri. Ia tidak bisa berhenti men-scroll layar ponselnya. Ia merasa seperti sedang membaca buku harian seseorang yang berisi tentang dirinya.
Tiba-tiba, sebuah pesan Direct Message (DM) masuk ke ponsel Ayra dari akun @fans.ayrania_.
@fans.ayrania_: "Udah bangun? Udah makan belum? Jangan liatin foto sendiri mulu, ntar narsismenya nular."
Ayra tersentak. Ia langsung mengetik balasan dengan tangan yang sedikit gemetar.
Ayrania.J: "LANO! Ngaku nggak! Ini akun apa?! Hapus fotonya yang aku mangap!"
Tak butuh waktu lama, balasan muncul.
@fans.ayrania_: "Lho, kok tau ini gue? Perasaan gue udah nyamar jadi fans misterius."
Ayrania.J: "Nyamar apanya! Foto-fotonya cuma kamu yang punya. Lagian caption-nya gaya bahasa kamu banget. Hapus nggak!"
@fans.ayrania_: "Nggak mau. Itu galeri harta karun gue. Lagian lo mangap aja tetep cantik, kok. Mirip ikan mas koki kurang oksigen."
Ayra tertawa kecil membaca balasan itu. Marahnya benar-benar hilang, berganti dengan rasa senang yang aneh.
Ayrania.J: "Terserah kamu deh, Lan. Makasih ya... buat semuanya."
Setelah mengirim pesan itu, Ayra melempar ponselnya ke kasur dan kembali bersembunyi di bawah selimut. Ia memeluk gulingnya erat-erat. "Tuhan, tolong... kenapa Alano jadi semanis ini? Aku kan nggak boleh suka sama sepupu sendiri!" batinnya berteriak.
Ayra belum menyadari bahwa status "sepupu" itu hanyalah label kertas yang mulai pudar, sementara perasaan yang dibangun Alano selama sepuluh tahun sudah sekeras beton.
Sore harinya, Alano muncul di balkon kamarnya yang berseberangan langsung dengan balkon kamar Ayra. Ia melihat Ayra sedang berdiri di sana, menghirup udara sore.
"Woi, Fans!" seru Alano sambil nyengir lebar.
Ayra menoleh, wajahnya otomatis memerah kembali. "Lano! Diem nggak!"
Alano tertawa lepas, suaranya terdengar sangat bahagia. "Gimana? Udah puas liat-liat koleksi foto lo di akun gue?"
Ayra melemparkan bantal kecil yang ia bawa ke arah Alano, tapi tentu saja tidak sampai dan jatuh ke taman bawah. "Kamu itu bener-bener ya. Kalau Papa Johan tau kamu punya foto-foto aku lagi tidur, kamu bisa digantung!"
Alano mendekat ke pagar balkonnya, menatap Ayra dengan tatapan yang kini jauh lebih berani. "Papa Johan nggak akan marah, Ay. Dia tau kok kalau aset berharganya ini aman di tangan gue."
Ayra terdiam, ia tak mampu membalas kata-kata Alano lagi. Untuk pertama kalinya, Ayra membiarkan Alano menang dalam perdebatan mereka. Ia hanya bisa menatap cowok itu, dan dalam hatinya, ia mulai bertanya-tanya: Apakah salah kalau aku mulai membuka hati buat 'The Boy Next Door' ini?