NovelToon NovelToon
Heart'S

Heart'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:338
Nilai: 5
Nama Author: Reyna Octavia

Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.

Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.

Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Cinta atau benci, dan maaf

...〜SELAMAT MEMBACA〜...

Dino mengelap keringat yang akan menetes dari keningnya dengan tangan. Dia baru saja membersihkan kekacauan atas ulahnya di dapur, hanya tinggal mengembalikan alat masak ke tempatnya. Selain tidak jadi makan, Dino juga harus membersihkan peralatan dapur lebih ekstra. Ia menghela napas berat, segera melepas kaos pendeknya karena bau asap dan keringat bercampur.

Malam semakin larut, kemarahan Dara juga bertambah menyala. Gadis itu masih menutup pintu kamar. Namun, ketika Dino menggerakkan gagangnya, pintu tersebut bergerak terbuka. Rupanya tidak dikunci dan Dara terlihat sedang membaca novel sambil duduk di lantai, bersandar pada ranjang. "Ra," panggil Dino, berjalan mendekat.

Dara mengangkat wajahnya, menatap ke arah Dino sebentar, kemudian kembali pada buku tebal di tangannya. "Masih marah?" tanya Dino. Lelaki itu berdiri di samping Dara dengan bertelanjang dada, ia memasang wajah melas sambil memainkan jemari. "Gue bikin lo kesel, ya? Udahan marahnya!"

Tidak terdengar sahutan dari gadis itu, ia membalik halaman bukunya, kemudian menghela napas berat. "Ra, lo marah banget sama gue?" Lalu, Dino duduk di samping Dara, menyatukan kedua tangannya di depan dada sambil memasang mata bulat.

Dara menoleh, mendapati suaminya dengan wajah memelas di sampingnya. Dara memutar malas bola matanya. "Kamu udah bohong sama aku, No," ujar Dara. "Kamu udah buat kepercayaan aku berkurang. Atau mungkin, udah hilang."

Tangan Dino meluruh, bertaut di atas pahanya. Lelaki itu menunduk. "Maaf," lirih Dino. Ia tidak pernah mengeluarkan suara pelan dan selembut itu. Hanya di depan Dara saat ini. "Maaf, gue udah ingkar sama lo."

"Kalau aku maafin, belum tentu kamu nggak akan ngelakuin itu lagi," ucap Dara. Gadis itu bahkan tak beralih dari kertas-kertas di tangannya, ia terlihat enggan, bahkan hanya untuk melirik suaminya saja tidak. "Kamu bisa aja mengulangi semuanya, No."

"Gak, Ra. Ini terakhir gue bohong sama lo." Dino menggelengkan kepala.  "Gue akan nurut sama lo. Dan berhenti ngelakuin sesuatu yang lo gak suka," kata Dino, dengan sungguh-sungguh.

"Gue gak akan bikin lo kecewa lagi," katanya. Manik lelaki itu berair, sorot matanya sendu menatap istrinya yang tidak sedikit melihat ke arahnya. "Ra." Dino memanggil bersama suara parau.

Dara menutup novelnya, menoleh dan menatap Dino. Lelaki itu menarik sudut bibirnya karena Dada mau melihat ke arahnya yang kacau. Namun, Dara menggelengkan kepala membuat senyuman Dino menghilang seketika. "Aku nggak bisa lagi, No," celetuk Dara. "Dari awal, kita nggak saling cinta. Makanya, sekarang susah buat atur semuanya."

"Sesuatu yang dipaksa, nggak akan bisa."

"Kamu punya kehidupan dan kesukaan yang nggak aku suka. Aku coba buat terima status kamu yang lain, tapi apa?"

"Aku udah larang kamu balap motor tapi kamu tetep ngelakuin itu." Dara menggerakkan tubuhnya. Sekarang ia menghadap ke arah Dino yang diam mendengarkannya. "Kalau Mama kamu tahu, kamu masih balapan, gimana reaksinya? Aku juga pasti ikut salah karena nggak bisa atur kamu, No," ungkapnya.

"Tujuan kita menikah, supaya semua berubah jadi baik. Tapi, sekarang apa? Nggak ada, perubahan itu nggak ada. Jadi, apa gunanya?"

Dino hanya membeku, merasakan penekanan di wajah istrinya. Suara Dara juga terdengar seperti bentakan membuat jantung Dino berdebar. Bibir lelaki itu bergerak. "Maksud lo, Ra?"

Dara mengalihkan pandangannya, menatap ke arah lain. Ia menunduk sejenak, kemudian mengangkat wajahnya untuk menatap suaminya. "Jalan terbaik yang aku pikir, kita harus pisah."

Semudah itu Dara mengatakan. Pernikahan yang Dino anggap sebagai kehidupannya, ini semua tiba-tiba terasa mendung. Dino membulatkan mata, menatap Dara yang terlihat sungguh-sungguh dalam mengatakannya. "Ra, lo jangan bercanda!" seloroh Dino, sambil tersenyum miring. "Gak baik ngomong kayak gitu."

Gelengan kepala Dara membuat petir seolah menyambar tubuh Dino. Lelaki yang sudah kacau itu, kini merasa hidupnya akan menjadi berantakan. "Aku udah nggak bisa, No. Semuanya, aku nggak bisa kontrol," ungkap Dara.

"Lo mau kita ... cerai?" Dara menganggukkan kepala dengan ringan. "Lo mau buat usaha kita sia-sia?" ucap Dino.

"Usaha yang sampai sekarang nggak membuahkan hasil? Ini pantas untuk dihentikan, No."

"GAK! GUE GAK MAU!" bentak Dino, tepat di depan Dara. Kedua tangannya mengepal, menonjolkan ototnya. Dino menatap tajam Dara, ia mendekatkan wajahnya dengan wajah istrinya yang mendadak kehilangan kepercayaan diri. "GUE HARAP, LO BENERIN SEMUA YANG UDAH LO UCAPIN!"

"Gue gak pernah main-main sama lo, Ra," desis Dino, tepat di depan Dara. Gadis itu bahkan bisa merasakan hembusan dari bibir Dino. "RALAT SEMUA UCAPAN LO!" Lalu, Dino melenggang pergi dari kamar, meninggalkan Dara yang mematung.

Dengan napas yang memburu karena emosi, Dino pergi mengambil jaket dan berjalan cepat sambil memakainya. Lelaki itu keluar rumah dengan wajah merah dan kerutan. Ia menarik gas motornya dan menghilang di bawah langit malam.

Jaket yang tidak ditutup dengan tepat, membuat dada Dino yang tanpa kaos terekspos di sepanjang jalan. Motornya melaju di tengah keramaian kota tanpa memperdulikan lalu lintas. Dino dipengaruhi oleh emosi.

Penyesalan memang selalu berada di akhir. Seorang pemikir. Dara berpikir telah terlalu keras terhadap suaminya. Gadis itu tidak bisa tidur hingga tengah malam, sebab Dino juga tak kunjung pulang tanpa kabar. 

Saat tengah menatap langit-langit kamar, ia menghela napas bersamaan dengan itu, terdengar suara ketukan pintu yang membuat Dara cepat bangkit dari kasurnya. "Dino?" pekiknya. Beranjak dari tempat tidur, kemudian berlari kecil keluar kamar untuk mengecek pintu utama.

Jantung Dara berdetak kencang mengiringi langkahnya. Bulir bening menetes dari sudut ekor matanya. Ketika tangannya telah sampai menyentuh gagang pintu, ia mematung sejenak. Lalu, Dara meneguk ludah dengan keras sebelum menggerakkan benda itu. "No?"

Dara membulatkan mata melihat suaminya dibopong seorang lelaki yang tidak asing. Dino terlihat lunglai tak sadarkan diri. "Dino kenapa? Kamu, Darwin? Kenapa bisa sama Dino?" tanya Dara.

"Bawa dia ke dalem dulu," jawab Darwin.

Dino terlihat sedikit membuka matanya, ia tersenyum menyeringai ke arah Dara.

Dara segera membuka lebar pintu itu, membiarkan Darwin membawa suaminya masuk. Lalu, Darwin melepaskan tangannya dari tubuh Dino, membaringkan Dino di sofa ruang tengah. "Bisa tolong jelasin?" ujar Dara.

Darwin menghela napas panjang, ia tahu gadis di depannya sedang khawatir melihat Dino. "Gue gak tahu masalah kalian apa, tapi tolong selesain dengan baik-baik," tutur Darwin. "Dia tiba-tiba telfon gue, suruh gue nemenin dia ke bar."

"Gue takut dia aneh-aneh, jadi gue dateng." Darwin memijat pelipisnya, merasa ikut pusing melihat Dino mabuk seperti itu. Selama ini, Dino tidak pernah melakukan kenakalan sejauh itu. "Sesampainya gue di sana, Dino udah mabuk. Ini kali pertama dia minum alkohol," jelas Darwin.

Dara membuka mulutnya karena terkejut. Ia melihat ke arah suaminya yang sedang tertidur dengan wajah aneh. Dia sesekali mengeluarkan kalimat-kalimat kasar dan kotor, membuat Dara ingin sekali menyumpal mulutnya. "Makasih, ya," ucap Dara.

"Sama-sama. Selesain semuanya! Dia kalau udah capek, bisa jadi gila," ungkap Darwin. "Gue balik dulu." Lalu, Darwin pergi dari sana dengan wajah yang ikut depresi.

Perasaan campur aduk. Helaan napas berat keluar dari bibir Dara. Ia memejamkan matanya yang panas, kemudian melenggang meninggalkan suaminya yang tidur di sofa.

Tidak mungkin Dara meninggalkan suaminya begitu saja. Ia peduli. Gadis itu kembali dengan selimut di tangan, kemudian diletakkan di atas tubuh Dino. Jemari Dara bergerak di wajah tampan Dino, menyingkirkan rambut yang menutupi. "Maaf, No," gumam Dara, matanya mulai berair.

Seharusnya, semua ini tidak dilakukan. Kegelisahan hati membuat pikirannya kacau hingga mengambil keputusan dengan tergesa. Dara merasa yang ada di dalam rumah tangganya tak sewajarnya terjadi. Ia memejamkan mata, menenggelamkan wajahnya di lengan suaminya. "No, aku salah besar, No," lirih Dara. "Aku jahat banget, ya?"

Dara terisak di sana, menumpahkan air matanya di lengan suaminya yang masih memejamkan mata. Namun, Dara merasakan sentuhan pada kepalanya. "Ra." Suara pelan itu berasal dari Dino, tetapi ia masih belum membuka mata.

Gadis itu mengangkat wajahnya. "No?"

"Bilang ke gue, kalau lo benci sama gue!" Suara berat Dino membuat hati Dara bergetar, seolah Dino sedang sakit dengan sangat dalam. "Lo benci gue kan, Ra?"

Dara membisu, ia mengigit bibir karena tidak mampu mengeluarkan kalimat. Dia hanya terisak dengan air mata yang terus menetes keluar. Lalu, tangan Dino membelai pipi Dara membuat Dara seperti merasakan setrum. "Bilang ke gue, Ra! Lo benci sama gue, atau cinta?" kata Dino.

Bibir Dara turun ke bawah, ia menggigitnya dengan sangat kuat. Hingga Dara tidak tahan lagi menahan tangisannya, dia kembali menyusupkan wajahnya ke lengan Dino dan memeluknya erat. "Aku cinta sama kamu, No," ucap Dara.

Tubuh Dino menjadi lebih tenang. Ia membuka matanya pelan, melihat tangannya bergerak mengelus surai rambut hitam istrinya. "Gak bohong, Ra?" Dara menggelengkan kepala di sana dengan kuat. "Beneran cinta sama gue?"

Dara menganggukkan kepala tanpa menatap suaminya. Tangisannya semakin pecah. "Bilang ke gue, kalau lo gak mau pisah sama gue!" pinta Dino, dengan penuturan lembut.

Merasa mulai bisa mengendalikan air matanya, Dara mengangkat kepalanya, saling melemparkan tatapan sedalam samudera dengan suaminya. "Nggak akan mau pisah sama Dino. Aku akan kunci kata-kata itu, nggak akan terucap lagi. Aku janji sama kamu," kata Dara, bersungguh-sungguh.

Mengembangkan senyum Dino. Lelaki itu menarik istrinya ke dalam pelukan, mendekapnya dengan erat sambil mengelus punggung Dara. "Maaf, aku udah jahat sama kamu," ucap Dara.

"Maaf juga, gue udah mabuk." Dara terkejut, ternyata suaminya benar-benar sedang mabuk dan Dara juga mencium aroma alkohol di pakaian Dino. "Tapi ini juga gara-gara lo, Ra," lanjut Dino.

"Iya, maaf."

...🦕🍻...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!