NovelToon NovelToon
Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Syala yaya

Sebuah ikatan pernikahan harus berlandas cinta, kasih sayang dan komitmen untuk terus bersama.

Tapi apalah daya ketika pernikahan itu terjadi hanya karena sebuah bentuk pertanggungjawaban dari kesalahan.

Wisnu Tama, seorang pria berusia 27 tahun yang harus menikahi Almira Putri, gadis polos berusia 22 tahun.

Bagaimana cara Wisnu menakhlukkan hati wanita yang sudah menjadi istrinya itu, agar mau memaafkan kesalahan yang tidak dia sengaja dan mau sama-sama mempertahankan ikatan suci berlandas kebencian menjadi sebuah ikatan cinta? Ikuti yuk kisahnya.

Ini novel kedua saya dan merupakan sequel dari novel pertama.

Selamat membaca ^_^

Follow IG @Syalayaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syala yaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Mencoba Memasuki Hidupmu

Selamat membaca

Suara ramai yang terdengar dari rumah depan tak urung mengusik ketenangan Almira. Gadis itu melawan ketakutannya dengan keluar dari kamar dan berjalan mengendap-endap dari rumah tengahnya menuju ke rumah depan.

Rumah Almira yang merupakan gaya khas pedesaan dengan bangunan rumah terpisah berjumlah tiga bangunan sebagai rumah utama. Depan sebagai ruang tamu, rumah tengah dengan beberapa kamar untuk tidur dan rumah belakang sebagai dapur, ruang makan dan kamar mandi berada.

“Hayoo! Kepo juga ternyata,” lontar Ersa menepuk pundak Almira hingga membuat gadis itu tersentak dan reflek memukul pundak adiknya dengan kesal. Adiknya segera menangkis dan tertawa terbahak.

“Isk!” decak Almira kesal.

“Salah sendiri bersikap aneh,” lontar Ersa masih terbahak.

“Siapa sih yang datang?” bisik Almira kembali fokus ke arah rumah depan yang terhalang sekat papan kayu ukiran khas kota itu.

“Pokoknya, orangnya ganteng. Sepertinya Ersa sudah kesemsem sejak awal bertemu,” jawab Ersa membuat kakaknya itu mendengus kesal.

“Masih kecil, tidak usah alay deh,” sungut Almira kembali berjalan pelan menuju ke rumah depan. Dengan gaya yang sama Ersa mengikuti kakaknya.

“Ngomong-ngomong, kenapa Mbak Ira harus mengendap-endap seperti maling, sih? Padahal yang datang teman sendiri,” bisik Ersa membuat Almira menoleh kebelakang dengan mata melotot kesal. Dengan gaya cengengesan Ersa segera melenggang melewati kakaknya, dengan langkah santai menuju dimana suara ramai terdengar.

“Temanku siapa? Mas bagus,” sahut Almira penasaran.

“Liat aja sendiri,” goda adiknya berlalu.

Almira menghembus napas, menyadari apa yang adiknya katakan benar. Kenapa dirinya harus bersikap tertekan di rumahnya sendiri.

“Ira,” panggil ibunya terdengar dari rumah belakang.

Almira menelan salivanya dengan susah payah, dia tidak tahu apa yang akan dia jawab kalau Bagus sampai jauh-jauh datang ke rumahnya sore ini.

“Ira ….”

Panggilan ibunya semakin keras kembali membuat Almira tersadar dari termangu dan dia segera melanjutkan langkahnya keluar dari sekat tempatnya berdiri saat ini. Dia abaikan panggilan ibunya.

Melewati ruangan luas tempat keluarganya menonton tv dan bersantai, Almira kembali berhenti sejenak. Tirai sebagai penutup pintu yang terbuka di bagian tengahnya membuatnya bisa melihat siapa yang sedang duduk bersila, tersenyum bercengkrama dengan ayah, paman, pak RT dan juga beberapa tetangganya sebelah rumah.

“Dia? Orang itu … kenapa dia bisa sampai di sini?” ucapnya segera membalik badan, sembunyi di balik dinding sampingnya dengan perasaan terkejut dan gelisah.

Almira mengusap dadanya yang berdesir memacu darahnya mengalir lebih cepat, entah mengapa melihat pria yang merenggut kesuciannya, rasa entah apa tidak bisa dia ungkapkan hadir membuatnya sangat sesak.

“Eh, dipanggil dari tadi ternyata di sini,” ujar ibunya membuat Almira melonjak kaget dengan reaksi hampir berlari saking kagetnya.

“Ehh … ibu mengagetkanmu ya?” oceh ibunya merasa bersalah dan mengamati gelagat aneh dari anaknya. “Kamu nggak apa-apa?” Terlihat ibunya merasa cemas.

“Tidak, Bu. Ira cuma kaget aja,” jawab Almira berusaha tersenyum sambil mengelus dadanya yang berdegup kencang.

“Ya udah, bawa keluar minuman ini. Ibu mau ambil makanan camilannya. Temanmu datang dari tadi kok kamu lama bener keluar dari kamar?”

“Tapi, bu …,” sela Almira ingin menolak.

“Udah, bawa keluar sana … pasti kamu sudah ditungguin,” seloroh ibunya sambil menyerahkan nampan berisi penuh gelas minuman berupa teh hangat ke arah Almira. Dengan lesu Almira menerimanya dan melangkah pelan menuju rumah depan.

Melewati beberapa tetangga yang sudah duduk lesehan di teras depan rumah beralaskan tikar dan karpet, bercengkrama asyik di selingi tawa. Sungguh pemandangan yang membuat Almira memandang sejenak ke arah Wisnu dan Ihsan. Memandang pria yang kini sedang menjawab semua pertanyaan yang terlontar satu persatu dengan bahasa yang santun.

*Berani sekali dia datang ke sini? batin Almira dengan perasaan marah yang masih menggunung.

“Kerja dimana, Nak?” tanya pak RT kepada Wisnu sambil sesekali menghisap rokoknya.

“Di Hotel, Pak,” jawab Wisnu dengan suara tenang. Sesekali menatap ke sekeliling orang yang menjamu kedatangannya.

Sebenarnya Wisnu dalam hati merasa gentar, saat banyak orang yang datang, merasa penasaran dengan sosok dan asal usulnya sebagai teman dari Almira. Warga di desa itu sangat ramah menyambutnya tapi membuat dirinya sekaligus merasa terkejut dengan begitu terbukanya informasi yang harus dia berikan padahal dirinya termasuk pribadi yang tertutup. Kerukunan dan kekeluargaan yang membuat Wisnu terkejut sekaligus kagum, sangat berbeda dengan gaya hidupnya di kota.

“Hotel? Sebagai apa?” tanya warga yang lain merasa antusias dan penasaran.

Apa mereka harus melakukan sidang mendadak dan ramai-ramai seperti ini? Apa mereka akan menghajarku ramai-ramai kalau aku mengakui sudah menodai gadis penghuni rumah ini?

Batin Wisnu menjadi sangat resah, namun dengan sekuat tenaga dia mencoba untuk tetap bersikap tenang.

“Menjadi ... salah satu karyawan,” jawab Wisnu cepat. Dia berharap pertanyaan tentang dirinya segera berakhir. Wisnu merasa kurang nyaman.

“Wah … hebat ya, bisa kerja di Hotel. Almira di kota juga kerja sambil nyambi kuliah biar dapet pekerjaan layak kalau sudah lulus,” seloroh salah satu dari mereka membuat Wisnu mengangguk sok paham.

“Iya, benar begitu,” sahut Wisnu sambil tersenyum.

Dasar cari muka, sok tahu, membuatku kesal saja.

Almira melirik sekilas Wisnu sambil meletakkan satu persatu gelas ke hadapan beberapa tetangga yang ikut gabung mengobrol. Hal yang biasa dilakukan orang di desanya saat ada tamu asing yang datang ke rumah salah satu rumah warga. Bentuk saling menjaga keamanan dan silaturahmi.

“Terimakasih, Ira,” ucap seorang pria paruh baya yang di suguhi minuman oleh Almira.

“Iya, Pak. Mari silahkan diminum,” jawab Almira sambil tersenyum.

Semua orang yang tadinya fokus tertuju pada sosok Wisnu serempak memandang Almira membuat gadis itu salah tingkah. Wisnu ikut menatap Almira dalam diam.

Beberapa kali Almira mengalihkan pandangannya, tapi saat pandangannya kembali menatap ke arah Wisnu, pria itu masih betah menatap ke arahnya. Almira segera melengos karena merasa bingung bagaimana harus bersikap.

“Tujuan saya datang ke sini, sebenarnya untuk melamar Almira, anak Bapak,” ucap Wisnu tiba-tiba dengan suara jelas, membuat Almira dan semua yang ada di sana kembali menatap ke arah Wisnu. Wisnu menatap tenang dengan seulas senyuman teduh yang tercipta ke arah ayah Almira.

Apa katanya tadi? Dia mau melamarku?

Almira menoleh ke arah Wisnu dengan rona terkejut, keberanian pria itu membuatnya sejenak berdesir dalam hati.

“Kamu serius untuk melamar anak saya?” tanya Bapak Almira juga merasa tekejut segera memandang Almira dan Wisnu bergantian.

“Iya, Pak. Saya sedang meminta ijin kepada Bapak agar saya bisa menikahi anak Bapak, Almira secepatnya, bila Anda berkenan merestui hubungan kami,” jawab Wisnu dengan wajah dan pandangan serius ke arah Ayah Almira tanpa menatap Almira sama sekali.

Wisnu yakin, gadis itu akan sekuat tenaga menolak lamarannya, tapi Wisnu tidak akan mundur begitu saja dan membiarkan semua hal buruk itu terlewati tanpa tanggung jawab darinya.

“Ira, kamu mau menerima lamaran Nak Wisnu 'kan?” tanya pak RT membuat Almira gugup.

“S-saya ….”

Almira menatap ke arah sekelilingnya yang memandang ke arahnya. Menanti sebuah jawaban darinya. Dirinya menatap ke arah Wisnu yang masih lurus menatap ke arah ayahnya tanpa berani beradu pandang dengan dirinya.

“Almira di jawab 'tuh,” seloroh ibu-ibu membuat Almira berdesir perasaannya.

Almira memegang tengkuknya, bayangan kejadian malam itu kembali hadir dan membuatnya pucat, memandang Wisnu dengan sorot mata yang jelas Wisnu paham perasaan gadis itu terhadapnya.

“Ijinkan aku, Ira,” lontar Wisnu sambil ingin berdiri tapi urung dia lakukan.

Semua orang memandang keduanya, Wisnu tidak jadi berdiri dan kembali duduk dengan perasaan gusar, apalagi saat Almira malah duduk sambil menunduk tidak menjawab.

Kalau aku menolak, bagaimana nasibku sebagai gadis tidak suci ini? Kalau aku menerimanya, bisakah aku hidup bersama dengan seorang yang merenggut kesucianku dan menganggapnya suamiku padahal hatiku yang ada hanya kebencian dan kemarahan semata?

Almira merasa sesak, tangannya mencengkeram erat kemeja yang dia kenakan. Dia tatap ayah dan juga Wisnu yang keduanya menatap dirinya dengan sorot mata memohon dan menunggu jawaban.

Jangan membuat keluarga ini malu, menolak pria baik dihadapan banyak orang. Batin ayahnya.

Terima penebusan dosaku untuk menjagamu, agar aku tidak merasa malu pada diriku sendiri. Batin Wisnu.

Bersambung …

Hai semuanya, terimakasih masih menunggu kelanjutan kisah cinta Wisnu.

Berikan like komen dan vote seikhlasnya ya

Salam Cinta dariku ~Syala Yaya🌷🌷

1
Hotlin Situmorang
lanjutkan ceritanya
Siti Nina
oke
Hotlin Situmorang
Wisnu memang bertanggung jawab
Luwis Ida yasa
tidak bosen rasanya q BCA novel ini apa lagi yang bab ini hehehe
Dasem Ida Faizah
lucu bgt
Dasem Ida Faizah
lucu bgt
Suhartik Hartik
lucu ya kisah Alan dan yashna... dibikin kisah dong
Suhartik Hartik
author nya top banget bikin obrolan ringan tapi excellent banget
Nnuraeni Eni
Keren .keren ..kereeeeen... 👏👏
Nnuraeni Eni
Setuju tuh 😉
Nnuraeni Eni
Uuuuh So Sweet 😘😘
Nnuraeni Eni
Aku udh baca ini 2x lho kak , tp ga bosen buat baca lg .. Kisahnya itu yg bikin pembaca jd senyum² sendiri ... Kena dihati 🥰🥰
Nnuraeni Eni: /Kiss//Kiss//Kiss//Wilt/
total 2 replies
SETIA RINI
luar biasa
YK
karya luar biasa
YK
ck, lupa ya pernah nyium Isna???
YK: aduh, salah komen... 😌
total 1 replies
YK
aamiin...
YK
biar si johan kebakaran bulu ketek...
YK
mobilmu otw, ihsan...
YK
jadi curigation, nih, sama Bagus. jangan2 Imran diracun sama dia. biar wisnu balik sama depe dan almira dia jual...
YK
bagas ini kyknya dominan banget. bukankah dia yg minta putus lalu ngotot balikan lagi... mencla mencle...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!