NovelToon NovelToon
One Piece: Legenda Spider Fruit

One Piece: Legenda Spider Fruit

Status: sedang berlangsung
Genre:One Piece / Kelahiran kembali menjadi kuat / Fantasi Isekai / Time Travel / Reinkarnasi / Transmigrasi
Popularitas:539
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Kenji Arashi terbangun di dunia One Piece setelah kematian yang tak masuk akal.
Tanpa sistem, tanpa takdir istimewa, ia justru mendapatkan Buah Iblis Web Web no Mi—kekuatan jaring laba-laba yang memberinya refleks, insting, dan mobilitas layaknya Spiderman.
Di lautan penuh monster, bajak laut, dan pemerintah dunia, Kenji memilih jalan berbahaya: bergabung sebagai kru resmi Topi Jerami, bertarung di garis depan, dan tumbuh bersama Luffy dari awal hingga akhir perjalanan.
Di antara jaring, Haki, dan takdir laut, satu hal pasti—
legenda baru saja di mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Perbaikan dan Tekad Baru

Seluruh kru bekerja tanpa henti untuk memperbaiki Going Merry. Usopp memimpin upaya perbaikan dengan serius wajahnya yang biasanya ceria kini penuh konsentrasi dan kekhawatiran.

"Tiang utamanya terpotong terlalu bersih," katanya sambil memeriksa potongan kayu yang tersisa. "Ini bukan soal menyambung lagi—kayunya sudah tidak bisa digunakan. Kita butuh tiang baru."

"Tiang baru?" Nami menatap pulau kecil yang gersang. "Tapi di pulau ini tidak ada pohon yang cukup besar untuk dijadikan tiang kapal!"

"Sial," Sanji mengepalkan tinjunya dengan frustrasi. "Tanpa tiang utama, kita tidak bisa pasang layar utama. Tanpa layar utama, kecepatan kita akan berkurang drastis."

"Berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk sampai Alabasta dengan kecepatan berkurang?" tanya Zoro.

Nami menghitung dengan cepat menggunakan peta dan Eternal Pose. Wajahnya semakin pucat.

"Dengan kecepatan normal, kita butuh lima hari lagi," katanya pelan. "Tapi dengan kecepatan berkurang karena tidak ada layar utama... mungkin sepuluh hari. Atau lebih, tergantung angin dan arus."

"Sepuluh hari..." Vivi jatuh berlutut dengan wajah putus asa. "Terlalu lama... perang sipil sudah di ambang pintu. Kalau kita terlambat sepuluh hari, ratusan ribu orang akan mati..."

Hening menyelimuti kami semua.

Aku menatap Going Merry yang rusak, lalu menatap tangan ku sendiri. Jaring ku tidak berguna melawan Mr. 1. Aku tidak bisa menghentikannya merusak kapal.

"Ini salahku juga," gumamku pelan. "Kalau aku lebih kuat, aku bisa menghentikan Mr. 1 sebelum dia merusak tiang."

"Jangan mulai, Kenji," kata Zoro dengan tegas. "Menyalahkan diri sendiri tidak akan memperbaiki kapal. Yang kita butuhkan sekarang adalah solusi."

"Zoro benar," Luffy berdiri dengan wajah serius. "Tidak ada gunanya menyesali apa yang sudah terjadi. Yang penting adalah apa yang kita lakukan sekarang."

Dia menatap kami semua satu per satu. "Usopp, apa yang bisa kau lakukan dengan peralatan yang ada?"

Usopp menarik napas dalam. "Aku... aku bisa membuat perbaikan sementara. Menggunakan tiang-tiang cadangan yang lebih kecil dan menggabungkannya. Itu tidak akan sekuat tiang asli, dan kita tidak bisa pasang layar penuh, tapi... setidaknya kita bisa berlayar."

"Berapa lama waktu yang kau butuhkan?" tanya Luffy.

"Enam jam," jawab Usopp. "Mungkin delapan jam kalau ada masalah."

"Baiklah!" Luffy mengangguk. "Kita punya delapan jam! Semua bantu Usopp! Lakukan apapun yang dia minta!"

"Tapi Luffy," Nami menyela. "Meskipun kita berhasil memperbaiki kapal, kita tetap akan terlambat sampai di Alabasta. Vivi bilang—"

"Aku tahu apa yang Vivi bilang," Luffy menatap Vivi dengan serius. "Tapi kita tidak akan menyerah. Kita akan sampai di Alabasta, dan kita akan menghentikan perang itu. Aku janji."

Vivi menatap Luffy dengan mata berkaca-kaca. "Luffy-san..."

"Percaya padaku, Vivi," Luffy tersenyum—senyuman yang penuh dengan keyakinan. "Aku tidak pernah ingkar janji pada nakama ku."

Vivi mengangguk pelan, air mata mengalir di pipinya. "Terima kasih... terima kasih banyak..."

Delapan jam berikutnya adalah neraka.

Kami semua bekerja tanpa henti—memotong kayu, mengangkat bagian-bagian berat, menyambung tiang, mengikat dengan tali yang kuat. Usopp memberikan instruksi dengan detail, dan kami semua mengikutinya dengan presisi.

Aku menggunakan jaring ku untuk membantu—membuat jaring sebagai scaffolding sementara untuk menahan tiang saat dipasang, menggunakan jaring untuk menarik bagian-bagian berat ke posisi yang tepat.

"Kenji! Tahan tiang itu dengan jaringmu!" Usopp berteriak dari atas.

"Baik!" aku menembakkan jaring ke tiang cadangan yang sedang dipasang dan menahannya agar tidak bergerak.

Zoro dan Sanji bekerja sama—meskipun mereka tetap bertengkar—untuk mengangkat bagian-bagian yang paling berat.

"Oi, marimo! Angkat lebih tinggi!" Sanji berteriak.

"Kau yang angkat lebih tinggi, ero-cook!" Zoro membalas.

"Kalian berdua, berhenti bertengkar dan fokus!" Nami menggebrak kepala mereka berdua.

Di tengah perbaikan, Robin duduk di sudut kapal, membaca buku seperti biasa. Tapi sesekali dia melirik ke arah kami—terutama ke arahku dan Luffy.

Aku merasakan tatapannya dan menoleh. Mata kami bertemu sejenak, lalu dia kembali ke bukunya.

"Robin..." pikirku. "Kau menyelamatkan kami dari Mr. 1. Tapi kenapa? Apa rencanamu sebenarnya?"

Enam jam kemudian, matahari mulai terbenam. Dan akhirnya—perbaikan selesai.

Tiang baru—yang terbuat dari gabungan tiga tiang cadangan yang lebih kecil—berdiri tegak di tengah kapal. Tidak sebagus tiang asli, dan jelas tidak sekuat tiang asli, tapi... cukup untuk berlayar.

"SELESAI!" Usopp berteriak dengan lelah tapi bangga. "Tiang baru sudah terpasang! Kita bisa berlayar lagi!"

"YOSH!" Luffy berteriak senang. "Kerja bagus, Usopp!"

Usopp tersenyum lebar—meskipun tubuhnya gemetar karena kelelahan. "Hehe... ini tidak ada apa-apanya untuk Kapten Usopp yang hebat..."

Lalu dia langsung jatuh pingsan karena kelelahan.

"USOPP!" kami semua berteriak panik.

Tapi dia hanya tidur—napasnya teratur dan wajahnya tenang. Dia sudah bekerja terlalu keras.

"Bawa dia ke kabin," kata Sanji sambil mengangkat Usopp dengan hati-hati. "Biarkan dia istirahat. Dia sudah menyelamatkan kita semua."

Kami semua mengangguk dengan hormat. Usopp mungkin pengecut, tapi saat nakamanya dalam bahaya, dia adalah orang yang paling bisa diandalkan.

Malam turun. Going Merry kembali berlayar—meskipun dengan kecepatan yang lebih lambat dari biasanya. Tapi setidaknya kami bergerak.

Aku berdiri di dek depan, menatang bintang-bintang di langit. Angin malam menerpa wajahku dengan lembut.

"Kenji."

Aku menoleh dan melihat Luffy berjalan mendekat dengan wajah serius—langka untuk dia.

"Luffy," aku menyapanya. "Ada apa?"

Luffy diam sejenak, lalu duduk di dek dengan kaki menjuntai. "Aku mau tanya sesuatu."

"Tanya apa?"

"Kau... kau takut?" tanya Luffy sambil menatapku.

Pertanyaan yang tidak terduga.

"Takut pada apa?" tanyaku balik.

"Pada apa yang menunggu di Alabasta," jawab Luffy. "Crocodile. Baroque Works. Perang. Kematian." Dia menatap tangannya sendiri. "Aku tidak takut untuk diriku sendiri. Tapi aku takut... takut kalau aku tidak bisa melindungi kalian semua. Takut kalau ada yang mati karena aku terlalu lemah."

Aku terdiam.

Ini adalah sisi Luffy yang jarang terlihat—sisi yang penuh dengan keraguan dan ketakutan. Biasanya dia selalu tersenyum, selalu percaya diri. Tapi sekarang...

"Aku juga takut, Luffy," jawabku dengan jujur sambil duduk di sampingnya. "Aku takut kalau aku tidak cukup kuat. Aku takut kalau jaring ku tidak berguna melawan musuh yang kuat seperti Mr. 1. Aku takut kalau aku tidak bisa melindungi nakama."

Luffy menatapku, lalu tersenyum tipis. "Jadi kita sama."

"Ya," aku tersenyum balik. "Kita sama. Kita semua takut. Tapi kau tahu apa yang membedakan kita dengan orang yang kalah karena ketakutan?"

"Apa?"

"Kita tetap maju meskipun takut," jawabku. "Kita mengakui ketakutan kita, tapi kita tidak membiarkan ketakutan itu menghentikan kita. Itulah yang membuat kita kuat."

Luffy terdiam lama, memproses kata-kataku. Lalu dia berdiri dan tersenyum lebar—senyuman khas Luffy yang penuh dengan kepercayaan diri.

"Kau benar, Kenji!" dia tertawa. "Aku takut, tapi aku tetap akan maju! Aku akan hajar Crocodile! Aku akan selamatkan Alabasta! Dan aku akan melindungi semua nakama ku!"

"Itu baru Luffy yang kukenal," aku berdiri dan tersenyum.

Luffy merentangkan tangannya lebar-lebar, menatap langit malam. "YOSH! MULAI BESOK, AKU AKAN LATIHAN LEBIH KERAS! AKU AKAN JADI LEBIH KUAT!"

"Aku juga," gumamku sambil menatap tanganku. "Aku harus mengembangkan jaring ku. Aku harus menemukan cara untuk melawan musuh seperti Mr. 1."

"Oh ya!" Luffy tiba-tiba menatapku dengan mata berbinar. "Kenji, apa kau sudah bisa pakai Haki?"

Pertanyaan yang menohok.

"Belum," jawabku sambil menggeleng. "Aku tahu tentang Haki—Observation Haki, Armament Haki, Conqueror's Haki. Tapi aku belum tahu cara mengaktifkannya. Spider Sense ku mungkin mirip dengan Observation Haki tingkat dasar, tapi itu bukan Haki yang sesungguhnya."

"Hmm," Luffy menggaruk kepala. "Aku juga belum bisa pakai Haki. Kakek pernah bilang aku punya potensi, tapi dia tidak pernah ngajarin caranya."

"Haki biasanya berkembang saat kita dalam bahaya ekstrim," jelasku sambil mengingat pengetahuan dari kehidupan lamaku. "Atau saat kita dilatih oleh seseorang yang sudah menguasai Haki. Di Alabasta, mungkin kita akan mendapatkan kesempatan untuk mengembangkannya."

"Kalau begitu aku tidak sabar!" Luffy tersenyum lebar. "Ayo kita latihan bareng besok, Kenji!"

"Baiklah," aku tersenyum. "Tapi sekarang, kau harus tidur. Besok akan jadi hari yang panjang."

"Oke!" Luffy menguap lebar. "Oyasumi, Kenji!"

"Oyasumi, Luffy."

Luffy berjalan kembali ke kabin, meninggalkan ku sendirian di dek.

Aku menatap tanganku lagi, menembakkan jaring kecil ke udara. Jaring itu mengapung sejenak sebelum menghilang.

"Spider Fruit," gumamku. "Kau punya potensi yang luar biasa. Tapi aku belum menggali sepenuhnya. Aku belum menemukan semua teknik yang bisa kulakukan."

Aku teringat pertarungan melawan Mr. 1. Jaring ku terpotong dengan mudah. Terlalu lemah untuk melawan pisau.

"Tapi bagaimana kalau... aku bisa membuat jaring yang lebih kuat?" pikirku. "Jaring yang tidak bisa dipotong. Jaring yang diperkuat dengan... sesuatu."

Armament Haki.

Dalam cerita asli One Piece, Armament Haki bisa digunakan untuk memperkuat senjata atau bahkan tubuh sendiri—membuatnya sekeras baja, bahkan bisa menyentuh pengguna Buah Iblis Logia.

"Kalau aku bisa melapisi jaring ku dengan Armament Haki..." gumamku dengan excitement. "Jaring ku akan menjadi tidak terpotong. Bahkan bisa melukai pengguna Logia!"

Tapi masalahnya—aku belum bisa menggunakan Haki.

"Aku harus belajar," tekadku menguat. "Aku harus menemukan cara untuk mengaktifkan Haki ku. Dan aku harus melakukannya sebelum sampai di Alabasta."

Aku menatap cakrawala di mana Alabasta berada.

"Crocodile," gumamku. "Kau adalah Shichibukai. Kau adalah pengguna Buah Iblis Logia. Kau adalah salah satu musuh terkuat yang akan kami hadapi."

Aku mengepalkan tangan.

"Tapi aku tidak akan mundur. Aku akan menjadi lebih kuat. Aku akan melindungi nakama ku. Dan aku akan membantumu jatuh, Crocodile."

Pagi berikutnya, aku bangun lebih awal dari yang lain. Aku memutuskan untuk memulai latihan ekstrim.

Di dek kapal, aku mulai berlatih menembakkan jaring dengan pola yang lebih kompleks—mencoba membuat jaring yang lebih kuat, lebih padat, lebih tahan lama.

"Konsentrasi," gumamku sambil menembakkan jaring. "Jaring yang lebih kuat butuh konsentrasi yang lebih tinggi."

Aku mencoba melapisi jaring dengan lebih banyak layer—membuat jaring berlapis yang lebih sulit ditembus.

Lalu aku mencoba sesuatu yang baru—mengubah kepadatan jaring. Membuat jaring yang sangat padat di bagian tertentu, membuat jaring yang lebih elastis di bagian lain.

"Spider Web: Reinforced Version!" aku menciptakan jaring yang jauh lebih kuat dari biasanya.

Untuk mengujinya, aku meminta Zoro—yang sudah bangun dan sedang latihan pedang—untuk memotongnya.

"Kau yakin?" tanya Zoro sambil mengangkat pedangnya.

"Ya," jawabku dengan yakin. "Potong sekuat yang kau bisa."

Zoro menyeringai. "Jangan menyesal."

Dia mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh!

SLASH!

Pedang nya menghantam jaring ku—dan kali ini, jaring ku tidak langsung putus! Dia menahan beberapa detik sebelum akhirnya robek!

"Oh?" Zoro terkesan. "Jaring mu jauh lebih kuat dari kemarin."

"Masih belum cukup," jawabku sambil menggeleng. "Jaring ku tetap robek. Aku butuh yang lebih kuat lagi."

"Kau sudah di jalur yang benar," kata Zoro sambil menyarungkan pedangnya. "Terus berlatih. Suatu hari nanti, jaring mu akan sekuat baja."

"Sekuat baja..." gumamku sambil menatap tanganku. "Tidak, aku ingin lebih dari itu. Aku ingin jaring ku lebih kuat dari baja. Aku ingin jaring ku tidak bisa dihancurkan."

Zoro tersenyum. "Ambisi yang bagus. Tapi ingat—kekuatan saja tidak cukup. Kau juga butuh strategi, timing, dan yang paling penting—tekad untuk melindungi apa yang penting bagimu."

Kata-katanya mengena.

"Terima kasih, Zoro," kataku dengan tulus.

Going Merry terus berlayar menuju Alabasta. Setiap hari, aku berlatih tanpa henti. Setiap hari, aku mencoba teknik baru, pola baru, strategi baru.

Dan setiap hari, aku semakin dekat dengan tujuanku.

Menjadi lebih kuat.

Melindungi nakama.

Dan mengalahkan Crocodile.

1
Wahyu🐊
Semoga Kalian Suka Sama Karya ku ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!