Trisha Adalah gadis yang tinggal di sebuah desa di australia, keluarganya sangat ketat dengan pergaulannya, ia bersama sepupunya Freya hanya di perbolehkan bekerja dirumah dan membantu pekerjaan rumah, bahkan ia tidak di perbolehkan untuk bekerja atau pun kuliah. Sampai di suatu ketika Freya membawa kabar bahagia pada Trisha bahwa ia akan menikah dengan seorang lelaki yang berasal dari ibu kota. Kedua keluarga membuat perjodohan itu, dan semuanya mulai di sibukan untuk acara pernikshsn, namun tanpa disangka-sangka Trisha bertemu dengan seorang lelaki tampan di sebuah toko kue. Pandangan mereka berdua bertemu, Trisha hanya memandang lelaki itu biasa saja, namun tidak dengan lelaki rupawan bernama Adrian, yang ternyata lelaki yang akan di jodohkan dengan Frey.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purpledee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9. Trisha Jeradins
Musik menggema cukup kencang di ruangan Gym, tubuh Adrian sudah basah dengan keringat, Tubuhnya yang Atletis terlihat begitu jelas dari balik Kaos berwarna hitam itu. Tiba-tiba seorang Wanita berambut ikal dengan kulit agak kecoklatan itu menghampirinya.
“Permisi, bisakah kau membantuku? Aku lupa menyimpan ponselku dimana, bisakah aku meminjam ponselmu untuk mencari ponselku?” tanya gadis itu.
Adrian tersenyum manis memperlihatkan deretan gigi putih sempurnanya, ia mengangguk lalu memberikan ponselnya pada gadis itu.
“Sepertinya aku baru melihatmu disini?” tanya Adrian.
“Iya, aku hanya datang seminggu sekali ke Gym.”
Ia mulai menelpon kenomor ponselnya, tidak menunggu lama sebuah ponsel pun berdering di atas sebuah Treadmil. “Ah itu dia, maaf merepotkanmu, dan terima kasih.” ujar Wanita itu sambil menatap Adrian dengan tatapan yang menggoda.
“Ah.. namaku Jane,”
“Adrian.” Mereka saling menjabat tangan. Lalu gadis Bernama Jane itu pun pergi.
Adrian mengecek ponselnya dan melihat daftar nomor panggilan, ia segera memblok nomor Jane dari ponselnya.
...○...
Disisi lain Trisha pergi menemui Ny. Audy yang memanggilnya, dengan diantar mr. Adam.
“Oh Tris, ayo duduklah.”
Setelah mengantar Trisha mr. Adam pun Kembali pergi. Trisha duduk berhadapan dengan Ny. Audy, mereka masih terlihat sangat canggung, senyuman kecil terlihat di bibir merah Ny. Audy.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Ny. Audy.
“Baik, terima kasih.”
“Kau bisa beradaptasi?” Trisha tersenyum kecil lalu menunduk.
“Aku sedang mencobanya, meskipun itu tidak mudah”
“Nak, dengar. Dirumah ini setiap orang harus mengikuti aturan tertentu, Akan lebih baik jika kau mengingat hal ini sesegera mungkin. Tuan Jeradin adalah segalanya untuk kami, kita semua tidak akan pernah membantah semua perintah dan perkataannya, Semua anggota keluarga wajib sarapan Bersama dan makan malam Bersama. Tidak ada teriakan di rumah ini, Dan kau tidak bisa keluar masuk ke rumah ini sesuka hatimu, semuanya harus ada Izin dari Tuan Jeradin. Dan kau harus berhati-hati dengan orang disekitarmu saat sedang diluar, karena mereka akan sembarangan memotretmu kapan saja dan dimana saja. semua pelayan disini sangat berharga dan sudah seperti anggota keluarga, jadi kau harus menjaga sikapmu pada mereka, meskipun mereka seorang pelayan. Jika kau memiliki masalah apa pun, kau bisa datang padaku, pintuku akan selalu terbuka untukmu. Yang terpenting , kau sekarang adalah Trisha Jeradins. Kau mengerti?” Ujar Ny. Audy. Trisha hanya mengagguk mengerti.
Setelah itu Trisha pun pergi, ia Kembali keruangannya dan menuju balkon kamar. Dirumah yang sebesar itu, Trisha mulai merasa kesepian. Semua orang di rumah ini memiliki urusannya masing masing. Saat ia menatap danau tak sengaja ia melihat seorang anak perempuan sekitar 5 tahunan tengah bermain di pinggir danau. Trisha merasa khawatir dengan anak itu, dan memutuskan untuk menghampirinya.
“Hallo?” sapa Trisha pada anak itu.
Anak perempuan berambut Panjang itu menoleh dan tersenyum pada Trisha. Trisha berjongkok dihadapan gadis itu.
“Emm..aku tidak tau ada anak gadis secantik ini dirumah ini,” ujar Trisha seraya mencubit gemas pipi gadis itu.
“Namaku Rinda, ibu, kakak, dan ayahku bekerja disini.” ujarnya dengan suara yang gemas.
“Mereka bekerja disini? Siapa nama ibumu?” tanya Trisha.
“Lydia, kakakku Bernama Alice dan ayahku Bernama Roy.” Trisha tersenyum manis, dan mengangguk.
“Iya aku mengenal mereka, aku juga tinggal disini sekarang. Namaku Trisha, kau mau menjadi temanku?” tanya Trisha.
“Tentu saja, aku mau menjadi temanmu,” ujar Rinda.
Trisha tersenyum Bahagia mendapatkan teman baru. Dan Trisha pun membawanya sedikit menjauh dari danau, mereka terlihat bermain Bersama.
Disaat mereka berdua tengah bermain Bersama, tiba-tiba Lydia datang dan menghampiri mereka.
“Nyonya, apa yang sedang anda lakukan dengan anak saya?” tanya Lydia dengan nada kesal dan sedikit berteriak.
Trisha terkejut dengan hal itu, Lydia langsung menarik Rinda dengan cukup kasar dan menyembunyikannya dibalik badannya.
“A-aku hanya bermain dengannya, tadi aku melihatnya bermain sendiri di tepi danau, karena takut terjadi sesuatu aku—”
“Anda tidak perlu menghawatirkan anak saya Nyonya. Jauhi anak saya, itu sudah cukup!”
Adrian yang saat itu baru pulang melihat Lydia yang sedang bicara dengan Trisha, Adrian mendengar semua pembicaraan mereka. Ia merasa perkataan Lydia itu cukup kasar pada Trisha. Adrian segera menghampiri mereka.
“Ada apa ini, Lydia?” tanya Adrian.
“Rinda bermain di pinggir danau, jadi aku sangat khawatir," ujar Lydia.
Adrian melihat Trisha yang hanya terdiam dengan menundukan kepalanya.
“Kepada siapa kau mengucapkan kata-kata barusan? Aku mendengar pembicaraanmu!”Ujar Adrian sedikit tegas.
“Apa?” tanya Lydia
Trisha langsung menghampiri Adrian yang sepertinya kesal. “Kau! aku bilang. Kepada siapa kau baru saja mengatakan itu?” ulang Adrian dengan penekanan disetiap perkataannya.
“Adrian, dia tidak mengatakan apapun, aku mohon jangan salah paham.” Tutur Trisha
“Kau tidak perlu ikut campur.” ujar Adrian.
Adrian menatap Lydia dengan penuh amarah. Melihat itu Trisha langsung memegang tangan Adrian. “Jangan seperti ini kau akan menakutinya, Adrian ” Bisik Trisha yang menatap Rinda bersembunyi dibalik punggung ibunya.
Adrian melepaskan tangan Trisha dan mendekati Lydia. “Lydia, Trisha tidak berbeda dengan yang lain dirumah ini, dia istriku dan nyonya dirumah ini, kau mengerti!” Adrian memperingati Lydia.
Adrian pun membawa Trisha pergi dari situ.
...○...
Adrian dan Trisha Kembali ke kamar mereka, Adrian masih terlihat kesal dan melempar tasnya kesembarang tempat.
“Kau ini jangan berlebihan, kau tidak seharusnya melakukan itu!” Tutur Trisha. Adrian mendekati Trisha dan menatapnya. “Itu bahkan belum cukup untuknya!” pekik Adrian.
“Dia hanya menghawatirkan anaknya.”
“Kau tidak tau. Aku sangat tau kenapa dia bersikap seperti itu.” ujar Adrian. Trisha hanya terdiam, ia sedikit bingun dengan perkataan Adrian.
“Kenapa?” tanya Trisha.
Adrian terdiam bebera saat lalu mengambil nafas dalam. “Dia akan memperlakukanmu seperti yang lainnya dirumah ini. Ini tentangmu menjadi Istriku.” Ujar Adrian sambil menatap Trisha dengan serius.
“Apakah ini tentang Egomu? Terkadang seseorang harus memikirkan perasaan orang lain, Adrian.” ujar Trisha yang tersenyum sinis.
Adrian memutar bola matanya, lalu pergi mengambil tasnya.
“Tangkap ini!” Adrian melemparkan sebuah dus ponsel pada Trisha.
“Maaf mungkin ini tidak sesuai dengan seleramu, tapi aku berharap kau bisa mengabari ibumu dengan ini.” Lanjut Adrian sambul memegang puncak kepala Trisha. Lalu ia pun pergi ke kamar mandi.
Trisha akhirnya tersenyum karena memiliki ponsel baru, untuk menghubungi keluarganya yang ada di desa.
Trisha langsung membuka ponsel itu dan menyalakannya, ternyata ponsel itu sudah diseting oleh Adrian sebelumnya, itu berarti dia tinggal menelpon saja pada ibunya.
Trisha mencoba menelpon ibunya beberapa kali, lalu menelfon Freya, dan bibi Cylin, tapi tak ada satu pun yang mengangkatnya. Trisha merebahkan tubuhnya di sofa, ia memegang kepalanya yang pusing, ia sangat khawatir dengan keadaan sang ibu yang sering sakit. Tiba-tiba Trisha pun tertidur disofa.
Suara pintu kamar mandi pun terbuka, Adrian keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melingkar di pinggangnya, ia menatap Trisha yang ketiduran di sofa. Adrian mulai tersenyum jahil, ia menyipratkan air dari tangannya. Dan sontak Trisha pun langsung terbangun.
“Adrian! Kau gila?!” pekik Trisha kesal. Adrian hanya tertawa lepas.
“Maaf, kau ketiduran jadi aku bangunkan. Bagaimana? Kau sudah menelpon ibumu?” tanya Adrian sambil berkacak pinggang, seolah-olah ingin menunjukan tubuh atletisnya, tapi Trisha tidak memperdulikannya.
“Mereka tidak mengangkat telponnya, mungkin mereka sedang sibuk,” ujar Trisha sambil mellihat ponsel barunya itu.
Trisha yang merasa terus di perhatikan, ia pun langsung menatap Adrian
“Apa?!” tanya Trisha.
“Kau ingin melihatnya?” tanya Adrian yang tersenyum nakal
“Melihat apa?”
Adrian langsung membuka handuknya, dengan reflek Trisha langsung menutup matanya.
“Adrian kau benar-benar gila!” teriak Trisha. Adrian lagi-lagi tertawa puas menjahili Trisha.
“Lihatlah, aku tidak telanjang, aku hanya mengenakan celana dalam,” ujar Adrian lalu pergi mengambil pakaian.
“Trish, aku pikir kau harus mandi. Aku tidak melihatmu mandi sejak kau datang kesini.” ujar Adrian.
Perkataan Adrian sontak membuat Trisha terdiam, lalu Trisha mengendus rambutnya yang sepertinya mengharuskannya untuk mandi. Perlahan Trisha menoleh pada Adrian yang sedang berpakaian, Adrian memberikan Wink pada Trisha.
“Aku pikir pernikahan tidak seburuk yang kita pikirkan.” Ujar Adrian.
Trisha pun melipat tangannya di dada kesal, ia Kembali duduk disofa. Adrian lagi-lagi membuat ulah, ia melemparkan sandalnya pada Trisha.
“ADRIAN!” pekik Trisha kesal dan melemparkan sendal itu Kembali pada Adrian.
...○...
...○...
...○...
To Be Countinue...