Daniella Dania wanita tangguh yg hidup sebatang kara harus mengalami peristiwa yang membuat dunianya runtuh kesucian nya di ambil oleh pria yg tidak dia kenal di malam kelulusan nya karna jebaka seseorang yg tidak menyukai nya di sebuah hotel nega A
Calix Matthew Batrix pria super tampan,cuek, dingin tak tersentuh orang paling berpengaruh baik di dunia atas atau bawah CEO BATRIX GRUP dan pemimpin mafia Eropa dan asia BLACK DRAGON.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
REWEL
Tiba-tiba, ia meraih ponselnya dan menghubungi asisten pribadinya.
"Cari lagi. Perluas pencarian ke Negara Y dan sekitarnya. Jangan lewatkan satu pun klinik atau rumah sakit anak di sana. Aku tahu dia masih hidup. Dan aku tahu... ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku," perintah Calix dengan nada dingin yang menyimpan kepedihan mendalam.
Pagi yang Lelah
Sinar matahari mulai masuk melalui celah gorden di kamar Dania. Triple akhirnya tertidur pulas setelah suhu tubuh mereka perlahan turun menjelang subuh. Dania tampak sangat kacau; rambutnya berantakan, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya.
Ceklek.
Rafael masuk dengan membawakan nampan berisi sarapan dan susu hangat. Ia menghela napas panjang melihat pemandangan di depannya.
"Kak, sarapan dulu. Biar Rafa yang jaga mereka sekarang," bisik Rafael lembut.
Dania mendongak, tersenyum lemah. "Mereka baru aja tenang, Fa. Arka tadi berkali-kali panggil Daddy."
Rafael terdiam sejenak, lalu duduk di tepi ranjang. "Mungkin ikatan batin mereka memang kuat, Kak. Walaupun jauh, darah nggak bisa bohong."
Dania mengangguk pelan sambil menyesap susu hangat pemberian adiknya. "Aku takut, Fa. Aku takut kalau suatu saat dia menemukan kami, dia akan mengambil mereka dariku."
"Rafa nggak akan biarkan itu terjadi, Kak. Selama ada Rafa, nggak akan ada yang bisa nyakitin kakak dan triple. Bahkan Calix sekalipun," tegas Rafael sambil mengusap bahu kakaknya, mencoba memberi kekuatan.
Dania menatap ketiga wajah polos yang sedang bermimpi itu. Apapun yang terjadi di masa depan, ia bersumpah akan menjadi benteng terkuat bagi Arfa, Arka, dan Azura. Meskipun itu berarti ia harus terus menyembunyikan luka di hatinya sendiri.
Malam yang Panjang di Kamar Triple
Kamar yang biasanya penuh tawa itu kini terasa menyesakkan. Bau minyak telon dan aroma obat penurun panas menguar di udara. Dania masih terduduk di karpet bulu di bawah foto besar Calix, mendekap Arfa yang tadi merangkak mencari sosok Daddynya.
"Ssttt... badannya masih panas banget," bisik Dania sambil menempelkan punggung tangannya ke dahi Arfa. Bibir mungil bayi itu tampak kering dan pecah-pecah.
Di atas ranjang, Arka dan Azura mulai menggeliat lagi. Tangisan mereka tidak kencang, hanya rintihan kecil yang justru lebih menyakitkan untuk didengar.
"Nda... Nda..." igau Azura. Tangannya yang mungil menggapai-gapai udara, mencari dekapan.
Rafael, yang sejak tadi berdiri di ambang pintu, akhirnya melangkah masuk. Ia tidak tega melihat kakaknya yang tampak sangat rapuh. Ia berlutut di samping Dania dan mengambil alih Arfa dari gendongannya.
"Sini, Kak. Biar Arfa sama Rafa dulu. Kakak urus Azura, dia kelihatannya haus lagi," ucap Rafael lembut.
Dania mengangguk lemah. Ia beringsut menuju ranjang, meraih Azura yang mulai terisak. "Iya, Sayang... Mommy di sini. Cup, cup... minum nen dulu ya, biar tenggorokannya nggak sakit."
Saat Dania mulai menyusui Azura, Arka yang berada di sebelah mereka tiba-tiba membuka mata. Matanya yang bulat tampak sayu dan berkaca-kaca karena demam. Ia menatap ke arah dinding, ke arah foto Calix, lalu kembali menatap Dania.
"Dadda... mana?" tanya Arka dengan suara serak, khas anak kecil yang baru belajar bicara.
Jantung Dania serasa berhenti berdetak. Ia menelan ludah, mencoba mencari jawaban yang paling aman. "Daddy... Daddy lagi kerja, Sayang. Daddy lagi jagain Arka dari jauh."
Rafael yang sedang menimang Arfa di sudut kamar hanya bisa menghela napas panjang. Ia menatap foto Calix dengan tatapan tajam. 'Kalau saja kau tahu anak-anakmu sedang menderita seperti ini,' batin Rafael geram.
"Kak, jangan dipikirin terus," tegur Rafael saat melihat kakaknya kembali melamun dengan mata berkaca-kaca. "Triple itu kuat. Mereka cuma butuh istirahat."
"Tapi kenapa harus malam ini, Fa? Kenapa mereka tiba-tiba panggil Daddy terus?" Dania mengusap air mata yang jatuh ke pipi Azura. "Perasaanku nggak enak. Rasanya kayak... kayak ada sesuatu yang narik mereka ke arah pria itu."
"Itu cuma karena mereka lagi sakit, Kak. Anak kecil kalau sakit emang biasanya lebih sensitif," hibur Rafael, meski ia sendiri merasa ada aura yang aneh di kamar itu malam ini.
Tiba-tiba, Arfa yang ada di gendongan Rafael mulai merengek lagi. Badannya sedikit menggigil meskipun suhu ruangannya sudah diatur agar tetap hangat.
"Loh, badannya makin panas, Kak!" seru Rafael panik.
Dania langsung meletakkan Azura yang sudah mulai tenang dan beralih ke Arfa. "Mana? Ya ampun, benar. Fa, ambilkan baskom air hangat lagi di kamar mandi! Cepat!"
Rafael segera berlari menuju kamar mandi di dalam kamar itu. Sementara Dania mencoba membuka baju Arfa agar panasnya bisa keluar. Di tengah kepanikan kecil itu, Arka tiba-tiba merangkak mendekati mereka. Ia memegang tangan Arfa yang sedang menggigil.
"A-pa... bobo... Dadda... ada," ucap Arka seolah ingin menenangkan saudaranya.
Dania terdiam sejenak, menatap pemandangan itu dengan hati hancur. Ketiga anaknya seolah-olah memiliki ikatan batin yang sangat kuat, saling menguatkan di bawah bayang-baying sosok ayah yang bahkan tidak tahu mereka ada di dunia ini.
"Iya, Nak... kalian bertiga harus kuat ya. Mommy nggak akan biarkan apa pun terjadi sama kalian," bisik Dania sambil mulai mengompres badan Arfa dengan kain basah yang baru saja dibawa Rafael.
Malam itu masih panjang. Di balik dinding kamar yang mewah di Negara Y itu, rahasia besar Dania tersimpan rapat dalam peluh dan tangisan bayi-bayinya, sementara di luar sana, takdir mulai merajut jalan untuk mempertemukan apa yang seharusnya bersatu.
Sambil menunggu kompres air hangat bekerja meredakan demam Arfa, suasana kamar kembali hening, hanya menyisakan suara embusan napas berat dari ketiga bayi itu. Rafael duduk bersila di lantai di samping ranjang, sementara Dania masih sibuk menyeka kening Arka dan Arfa secara bergantian.
"Kak," panggil Rafael pelan, memecah kesunyian. "Sampai kapan Kakak mau pasang foto itu besar-besar di sini?" matanya melirik ke arah foto Calix yang mendominasi dinding kamar.
Dania terdiam, tangannya yang memegang kain kompres berhenti sejenak. "Sampai mereka cukup dewasa untuk mengerti, Fa. Aku nggak mau mereka merasa dibuang oleh ayahnya. Biarlah mereka membenci pilihanku, tapi jangan membenci sosok ayah yang bahkan nggak tahu kalau mereka lahir."
Rafael mendengus tipis, ada nada tidak setuju di wajahnya. "Tapi lihat dampaknya, Kak. Arka tadi panggil 'Dadda' terus. Kalau suatu saat mereka benar-benar minta ketemu, apa Kakak siap?"
Dania menghela napas panjang, ia menyandarkan punggungnya di pinggiran ranjang yang empuk. Wajahnya tampak sangat lelah di bawah lampu tidur yang temaram.
"Jujur? Aku nggak tahu. Setiap kali mereka panggil 'Daddy', jantungku rasanya mau copot, Fa. Ada ketakutan besar kalau tiba-tiba Calix muncul di depan pintu dan membawa mereka pergi dariku."
"Kalau dia berani macam-macam, dia harus hadapi aku dulu," sela Rafael cepat dengan nada protektif. "Aku nggak peduli seberapa berkuasanya dia di sana. Di sini, dia nggak punya hak apa-apa atas triple."
Dania tersenyum kecil menatap adik angkatnya itu. "Terima kasih, Fa. Tapi kamu tahu sendiri gimana Calix. Dia pria yang terobsesi pada apa yang sudah jadi miliknya. Kalau dia tahu aku pergi bawa anak-anaknya..." Dania menggantung kalimatnya, ia bergidik ngeri membayangkan amarah pria itu.