"Sentuhan kakak-kakakku adalah napasku, tapi sentuhannya... adalah hidupku."
Shine terlahir dengan mata yang bisa melihat melampaui waktu. Namun, setiap penglihatan tentang masa lalu yang kelam dan masa depan yang berdarah menuntut bayaran mahal: energi hidupnya. Ia rapuh, tersiksa, dan bergantung pada pelukan dua kakak laki-lakinya yang posesif, Jin dan Suga.
Hingga ia melangkah masuk ke restoran Euphoria.
Jeon Jungkook adalah koki jenius yang selalu memimpikan gadis yang sama selama bertahun-tahun. Saat mereka bersentuhan, Shine menyadari satu hal: Jungkook bukan sekadar manusia, dia adalah 'baterai' abadi yang bisa memulihkan kekuatannya secara instan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 The Dream Unveiled
Malam itu, paviliun tamu diselimuti oleh keheningan yang berbeda. Bukan keheningan yang mencekam karena sifat posesif Jungkook di pagi hari, melainkan keheningan yang rapuh, seolah-olah udara di sana terbuat dari kaca yang siap retak kapan saja.
Shine duduk di pinggir ranjang, sementara Jungkook berlutut di depannya, menggenggam jemari gadis itu. Mata Jungkook yang biasanya tajam dan mendominasi, kini tampak meredup, dipenuhi oleh bayang-bayang yang sudah ia simpan selama hampir dua dekade.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, Jungkook-ah?" bisik Shine. Ia bisa merasakan denyut nadi Jungkook melalui telapak tangannya—cepat dan tidak beraturan.
Jungkook menghela napas panjang, kepalanya menunduk hingga dahinya bersentuhan dengan lutut Shine. "Aku bermimpi lagi, Shine. Mimpi yang sama yang selalu menghantuiku sebelum aku bertemu denganmu. Tapi kali ini, wajah di dalam mimpi itu tidak lagi kabur."
Shine membeku. Sebagai seorang Oracle, ia tahu bahwa mimpi Jungkook bukanlah sekadar bunga tidur. Sejak energi mereka menyatu, garis antara penglihatan Shine dan alam bawah sadar Jungkook mulai memudar.
"Dalam mimpi itu," Jungkook memulai dengan suara parau, "aku berdiri di sebuah taman yang penuh dengan bunga lili putih. Hujan turun sangat deras, tapi tidak terasa dingin. Aku melihat seorang anak perempuan kecil, mungkin usianya baru lima tahun. Dia memakai gaun putih yang sudah kotor karena tanah, duduk bersimpuh di bawah pohon besar sambil menangis tersedu-sedu."
Shine tersentak. Ingatan samar yang selama ini ia kunci di sudut terjauh otaknya mendadak berdenyut menyakitkan.
"Anak itu terus memanggil ibunya," lanjut Jungkook, ia mendongak, menatap mata Shine dengan tatapan yang sangat dalam. "Dan di samping anak itu, ada seorang bocah laki-laki yang mencoba memayunginya dengan jaket kecilnya yang lusuh. Bocah itu terus berbisik, 'Jangan menangis, aku akan menjagamu sampai ibu kembali.' Bocah itu... itu aku, Shine."
Air mata mulai mengalir di pipi Shine. "Taman bunga lili... itu taman di rumah lama ibuku di pinggiran kota. Sebelum ayah membawaku ke rumah besar ini."
"Aku tidak pernah tahu kenapa aku punya ingatan itu," Jungkook meremas tangan Shine. "Aku tumbuh besar di jalanan sebelum J-Hope hyung menemukanku. Aku tidak punya kenangan tentang orang tua. Tapi wajah anak perempuan yang menangis itu... setiap kali aku mengisi energimu, setiap kali aku menciummu, wajah itu menjadi semakin jelas. Itu kau, Shine. Kita pernah bertemu jauh sebelum Jin-Hyung atau Suga-Hyung mengenal namaku."
Shine menarik napas gemetar. Ia mencoba memfokuskan kekuatannya. Bukan untuk melihat masa depan, tapi untuk menggali masa lalu yang terkubur dalam-dalam di balik blokade mental yang pernah dipasang oleh ayahnya.
"Jungkook... berikan aku tanganmu yang satu lagi," pinta Shine.
Jungkook memberikannya. Begitu kedua tangan mereka bertaut, Shine memejamkan mata. Ia membiarkan resonansi energi mereka bekerja sebagai kunci.
Zapp!
Sebuah pintu di dalam ingatan Shine terbuka paksa.
Ia melihat ibunya, Nyonya Kim yang cantik namun selalu tampak sedih, sedang berbicara di sebuah paviliun kecil di pinggir kota. Di depannya berdiri seorang wanita dengan wajah yang sangat mirip dengan Jungkook—seorang wanita yang mengenakan seragam perawat sederhana namun memiliki binar mata yang sama dengan pria di depannya.
"Eun-hye," suara ibu Shine terdengar lembut namun penuh rahasia. "Jika terjadi sesuatu padaku, tolong bawa Shine pergi. Jangan biarkan suamiku menjadikannya alat politik keluarga Kim."
Wanita itu, Eun-hye, memegang tangan ibu Shine. "Aku tidak bisa melakukannya, Nyonya. Tapi aku akan memastikan anakku, Jungkook, selalu berada di dekatnya. Mereka memiliki ikatan yang tidak bisa diputus oleh siapa pun. Aku bisa melihatnya... mereka saling mengisi."
Shine melihat dirinya sendiri yang masih kecil sedang bermain di atas rumput dengan seorang bocah laki-laki berpipi tembam. Bocah itu adalah Jungkook. Mereka sedang berbagi sebuah kalung kecil berbentuk matahari dan bulan yang terbuat dari manik-manik murahan.
"Ibu kita..." Shine membuka matanya, napasnya tersengal. "Mereka bersahabat, Jungkook. Ibumu adalah perawat pribadi ibuku. Mereka merencanakan sesuatu untuk menjauhkan kita dari pengaruh keluarga Kim."
Jungkook terpaku. "Jadi itu sebabnya... setiap kali aku melihatmu pingsan, hatiku rasanya seperti dicabik. Itu bukan hanya karena kontrak atau energi. Itu adalah janji yang sudah tertanam di jiwaku sejak aku masih kecil."
Jungkook merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah dompet tua yang sudah usang. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah manik-manik plastik kecil berbentuk bulan sabit yang sudah pudar warnanya.
"Aku selalu menyimpan ini. Aku tidak tahu ini dari mana, aku hanya tahu ini sangat berharga," ucap Jungkook dengan suara bergetar.
Shine meraba lehernya. Di bawah gaun tidurnya, ia menarik sebuah rantai perak tipis yang memiliki bandul matahari kecil—benda satu-satunya yang tersisa dari masa kecilnya sebelum ibunya meninggal.
Kedua benda itu, saat didekatkan, memiliki lubang yang pas untuk disatukan. Matahari dan Bulan.
"Mereka tahu kita akan saling membutuhkan," bisik Shine. "Ibu tahu bahwa menjadi Oracle adalah kutukan yang kesepian, jadi dia mencarikan 'Matahari' untukku. Dan itu adalah kau."
Jungkook menarik Shine ke dalam pelukannya. Kali ini, pelukan itu tidak terasa posesif atau dominan. Pelukan itu terasa seperti seorang anak laki-laki yang akhirnya menemukan rumahnya setelah tersesat di tengah badai selama dua puluh tahun.
"Pantas saja Jin-Hyung selalu terlihat tidak menyukai ibuku dulu," gumam Shine di dada Jungkook. "Dia pasti tahu tentang hubungan rahasia ini. Dia pasti takut jika rahasia ini terbongkar, posisinya sebagai pelindung tunggalku akan terancam."
Jungkook melepaskan pelukannya sebentar, menangkup wajah Shine dengan penuh pemujaan. "Sekarang aku mengerti kenapa aku begitu gila saat melihatmu tersenyum pada RM atau pria lain. Itu bukan hanya sifat posesifku, Shine. Itu adalah insting jiwaku yang sudah mencarimu selama belasan tahun di jalanan. Aku tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan kita lagi. Tidak Jin, tidak Suga, bahkan tidak takdir sekalipun."
Malam itu, rahasia besar telah terungkap. Mereka bukan lagi sekadar subjek medis dan pelayan energi. Mereka adalah dua bagian dari satu rencana besar yang dibuat oleh ibu mereka untuk melawan kekejaman dunia.
Namun, di kegelapan koridor menuju paviliun, Jin berdiri mematung. Ia mendengar semuanya melalui alat penyadap yang ia pasang di sudut ruangan. Tangannya mengepal, dan matanya berkaca-kaca. Rahasia yang ia coba kubur demi menjaga kehormatan keluarga Kim, kini meledak tepat di depan wajahnya.
"Maafkan aku, Ibu," bisik Jin pada kegelapan. "Tapi aku tetap tidak bisa membiarkan koki itu mengambilnya sepenuhnya."
Sementara itu, di dalam paviliun, Jungkook kembali mencium Shine. Kali ini, ciuman itu tidak bertujuan untuk mengisi energi. Itu adalah ciuman penyatuan kembali—sebuah pernyataan bahwa Matahari dan Bulan kini telah kembali berada di orbit yang sama.
...****************...