NovelToon NovelToon
The Units : Bright Sides

The Units : Bright Sides

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / CEO / Percintaan Konglomerat
Popularitas:669
Nilai: 5
Nama Author: Nonira Kagendra

Arsenio Satya Madya (26 tahun) putra dari pasangan Ankara Madya dan Arindi Satya, tegas dan jenius. Semua karakter kedua orangtuanya melekat pada diri Arsen. Memiliki seorang adik yang cantik seperti mamanya, bernama Auroa Queen Satya Madya (21 Tahun).

Aira Narumi Sagara (24 Tahun), wanita cantik, licik dan tangguh. Memilik seorang adik yang kadang normal kadang abnormal, bernama Arkanza Narumi Sagara (22 Tahun). Mereka anak dari Alan Rumi dan Reyna Sagara.

Tak lupa Cyber Wira Pratama (21 Tahun), putra tunggal dari Galih Pratama dan Dania Swasmitha. Ahli di dunia cyber seperti ibunya dan kecerdikan Inspektur Galih.

---
Ikuti kisah dari anak-anak para tokoh "Switching Sides" dari kecil hingga dewasa.
Intrik, romansa dan keluarga menjadi cerita di kehidupan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonira Kagendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Simpul

## SELAMAT MEMBACA ##

Jakarta merupakan kota yang telah berubah menjadi rimba beton futuristik, namun bagi Arsen, tetaplah papan catur yang sama dengan sepuluh tahun lalu. Sebagai pemimpin de facto dari *The Unit*, Arsen tumbuh menjadi pria yang tenang, memiliki aura komando ayahnya, Ankara, namun dengan ketajaman analisis ibunya, Arindi.

Malam itu, markas bawah tanah mereka di kediaman Satya tampak sibuk. Monitor-monitor besar menampilkan grafik data yang rumit. Wira sedang berkutat dengan enkripsi satelit, sementara Aurora , adik Arsen, sedang membersihkan peralatan taktisnya.

"Wira, status target?" tanya Arsen sambil memperbaiki letak jam tangan pintarnya.

"Target sedang bergerak menuju gala *charity* di Hotel Grand Heritage, Kak. Oliver sudah memantau dari balkon sektor barat," jawab Wira tanpa menoleh.

Tiba-tiba, pintu markas terbuka. Aira masuk dengan gaun malam berwarna merah marun yang elegan, namun di balik gaun itu, terselip sebuah pistol *taser* dan alat penyadap. Aira baru saja kembali dari London setahun lalu dan kini menjadi jembatan antara diplomasi dan aksi lapangan.

"Semua sudah siap?" tanya Aira. Matanya sempat bertemu dengan mata Arsen. Ada ketegangan yang tidak biasa di antara mereka—sebuah perasaan yang sudah mereka pendam sejak remaja namun terkubur oleh profesionalisme misi.

"Kau terlambat dua menit, Aira," ucap Arsen dingin, meski hatinya berdesir melihat betapa cantiknya putri Alan Rumi itu.

"Pesawat dari London tadi pagi delay, Jenderal. Jangan kaku begitu," balas Aira sambil tersenyum tipis dan menggodanya dengan sebuah panggilan 'Jenderal'.

Arsen mendekati Aira di depan layar besar. Suara mereka merendah, saling berbisik, menjauh dari jangkauan telinga Wira dan Aurora agar tidak terdengar. Tujuannya, meminimalisir kekacauan bahkan kesalahpahaman nantinya.

**Arsen:** "Aku tidak suka kau mengambil risiko ini. Kau baru kembali, Aira. Kau belum sepenuhnya tersinkronisasi dengan taktik terbaru kami."

**Aira:** "Aku sudah di London selama bertahun-tahun dengan Oliver, Arsen. Aku menghadapi agen-agen internasional di sana. Jangan perlakukan aku seolah-olah aku masih gadis kecil yang kau selamatkan dari pangkalan alien bohong-bohongan Arkan."

**Arsen:** "Dunia nyata jauh lebih berbahaya dari sekadar alien bohong-bohongan. Pria yang akan kita hadapi malam ini adalah Victor Cole, anak dari orang yang dulu hampir menghancurkan ayahmu. Ini masalah pribadi, Aira."

**Aira:** "Justru karena ini pribadi, aku harus ada di sana. Papa (Alan) tidak tahu aku ikut misi ini. Jika dia tahu, dia akan mengurungku di rumah. Tapi aku tidak bisa diam saja. Dan Arsen... kau tahu alasan sebenarnya aku kembali ke Jakarta bukan hanya karena rindu rumah."

Arsen terdiam. Ia menatap mata Aira yang tajam namun penuh kerinduan.

**Arsen:** "Kita bicara soal 'alasan' itu setelah misi selesai. Sekarang, pasang earpiece-mu. Jika terjadi sesuatu yang salah, kau keluar dari gedung itu. Itu perintah!"

**Aira:** "Perintah diterima, Jenderal. Tapi ingat, di lapangan, aku bukan bawahanmu."

Kemudian Aira sedikit menjauh untuk menjaga jarak dari Arsen agar tidak ketahuan oleh Aurora dan Wira.

---

#Kekacauan di Grand Heritage

Di lokasi gala, Oliver, teman Aira dari London yang kini telah menjadi bagian tetap dari tim, menyapa mereka lewat frekuensi radio. Oliver adalah pria Inggris yang sopan namun memiliki pemikiran taktis yang tak terduga.

"Suara kalian sangat keras di telingaku, kawan-kawan. Bisakah kalian berhenti bertengkar dan fokus pada Victor?" suara Oliver terdengar dengan aksen Inggris yang kental.

Arkan, yang biasanya selalu bertingkah konyol kini lama-lama tumbuh menjadi pria atletis dengan nyali besar, dan dia sekarang sedang menyamar menjadi pelayan di aula utama. "Arkan di sini. Target terlihat. Dia sedang bicara dengan seorang wanita berbaju hitam. Tunggu... itu bukan wanita biasa. Dia membawa senjata tersembunyi di betisnya."

"Wira, identifikasi wanita itu!" perintah Arsen dari van pemantau.

"Sedang memindai... Gawat!" Wira berseru. "Dia adalah anak buah dari sindikat Sisi Ketiga yang muncul di pesan rahasia tiga tahun lalu. Mereka kembali!"

Ditempat yang berbeda, Aira bergerak di aula, mencoba mendekati Victor. Namun, langkahnya terhenti ketika seorang pria muda menghadangnya. Pria itu tampak familiar.

"Nona Aira Narumi Sagara? Senang melihatmu kembali di Jakarta. London pasti sangat membosankan tanpa kekacauan." Ucap si pria misterius itu.

Aira menjawabnya, bahkan sampai menahan napas, "Siapa kau? Bagaimana kau tahu namaku?"

Pria Misterius itu sampai terkekeh melihat kepanikan Aira yang tak begitu kentara jika dilihat sekilas.

"Namaku tidak penting sekarang, Nona Aira. Yang penting adalah, koper yang dicari kakakmu itu sudah tidak ada di tangan Victor. Mereka sedang menjebak kalian."

Aira terkejut dengan penuturan pria itu. Segera dia berbicara ke mikrofon di gaunnya, "Arsen! Kita masuk jebakan! Batalkan misi! Jangan sampai mereka berhasil dengan rencananya!"

"Sial!", gerutu Aira hingga tangannya mengepal erat.

"Apa maksudmu? Arkan, Aurora, bersiap!" Arsen sempat terkejut dengan informasi yang disampaikan oleh Aira, namun cepat sadar dan langsung menghubungi adiknya.

"Kak, ada pergerakan di lantai atas! Mereka mengepung kita!" Aurora segera menginformasikan ke Arsen tentang apa yang dia hadapi saat ini.

Mendengar hal itu, Arkan geram sampai rahangnya terlihat mengeras menahan amarah.

"Aku tidak akan biarkan mereka menyentuh Kak Aira! Keluar dari sana, Kak!" Arkan langsung berlari menuju lokasi sang kakak, begitu juga dengan Arsen yang sedari tadi mengkhawatirkan keadaan Aira.

*

*

*

Saat ini diposisi Aira, mulai mencekam.

*Dor....dor.... dor!*

Tembakan pertama meletus di aula Grand Heritage, menghancurkan lampu kristal raksasa yang jatuh tepat di tengah ruangan. Kepanikan pecah. Aira ditarik oleh pria misterius itu ke balik pilar tepat sebelum peluru mengenai tempatnya berdiri.

*Grep*

"Siapa kau sebenarnya?!" teriak Aira di tengah keributan.

Pria itu tersenyum dan memberikan sebuah koin hitam—koin yang sama dengan yang diterima Arsen tiga tahun lalu. "Katakan pada Arsen, permainan yang sebenarnya baru saja dimulai. Selamat datang di Sisi Ketiga."

Pria itu menghilang di balik kepulan asap pemadam api. Arsen yang baru saja tiba di lokasi dengan mendobrak pintu depan langsung berlari menuju Aira. Ia merangkul Aira, melindunginya dengan tubuhnya.

*Brak!*

"Kau terluka? Dimana yang sakit" Dengan nafas yang masih menderu, Arsen menanyakan keadaan Aira bahkan sampai mengecek seluruh tubuh wanita itu dari ujung kepala hingga kakinya. Dia bahkan tidak sadar menampilkan ekspresi khawatirnya.

Melihat kecemasan Arsen untuk pertama kalinya, membuat Aira merasa bersalah atas tindakannya yang ceroboh. Namun dia juga bahagia karena menjadi salah satu wanita diluar ikatan darah yang diperlakukan manis oleh Arsen.

"Aku tidak apa-apa. Tapi Arsen... mereka tahu siapa kita. Semua mungkin berawal dari keluarga kita di masa lalu."

"Aku tidak takut jika dikemudian hari harus melawan mereka, akan aku hadapi dengan seluruh kemampuanku", jawab Arsen penuh keyakinan.

"Tenanglah wahai kakak - kakakku. Aku, Arkan akan menjadi panglima perang untuk kalian".

Wira dan Aura memutar bola matanya, bisa dikatakan jenuh, bisa juga disebut malas. Iya, malas mendengar kenarsisan Arkan.

"Sudah cukup, Panglima. Saatnya kita pulang, aku takut mengantuk jika terus-menerus mendengar ocehan tak berfaedah darimu", ejek Aurora.

"Ish....tuan putri, aku tahu kau...."

"*Terpesona padaku....jangan pura-pura benci, cantik!* Hah....aku bosan Arkan. Sampai aku hafal jargon andalanmu", potong Wira secara tiba-tiba. Sedangkan bibir Arkan menjadi maju lima senti tidak terima.

Oliver, Arsen, Aira dan Aurora yang mendengar perdebatan mereka sampai tertawa keras.

Tak berselang lama, Arsen menatap koin hitam yang jatuh dari tangan Aira. Di sana tertulis: *"Genesis has begun."*

Malam itu, di bawah reruntuhan gala yang megah, generasi kedua menyadari bahwa masa tenang mereka telah berakhir. Cinta yang mulai tumbuh di antara Arsen dan Aira kini harus diuji oleh api peperangan yang lebih besar dari yang pernah dihadapi orang tua mereka.

---

Bersambung....

1
Ridwani
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Amiera Syaqilla
hello author🤗
Nonira Seine: Hallo....
Selamat membaca, ya.....🤗🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!