NovelToon NovelToon
Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ottoy Lembayung

SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Kelicikan Ronal Ketua Geng TamVan part 2

Pak Hartawan yang memang masih cuti kerja dan belum kembali ke kantor setelah berada di luar negeri selama setahun, sedang berdiri di balkon belakang rumah sambil menikmati secangkir teh hangat. Dari sana dia melihat Yuli masuk ke kamar dan langsung terbaring di tempat tidur, membuatnya sedikit khawatir. Tanpa berpikir panjang, dia memutuskan untuk turun menemui putri angkatnya.

Setiba di depan kamar Yuli, Pak Hartawan mengetuk pintu sebentar sebelum membuka handle pintu tersebut dengan perlahan. Tidak lama kemudian dia sudah berada di dalam kamar Yuli, terlihat Yuli sedang tertidur dengan posisi miring, rok pendeknya makin terangkat ke atas hingga hampir menutupi bagian paha nya. Hal itu membuat Pak Hartawan menggeleng-geleng kepala dengan senyum sayang. Dia juga melihat tas sekolah, sepatu, serta kaos kaki yang letaknya berserakan di seluruh bagian kamar.

"Anak perawan sih keadaan di dalam kamarnya berantakan banget, mirip kapal pecah saja, hadeeh hadeeeh gimana nanti kalau udah punya suami," ucap Hartawan dalam hati, lalu mulai merapikan kamar dengan hati-hati.

Pak Hartawan mengambil kaos kaki kotor Yuli dan memasukkannya ke dalam sepatunya dengan rapi, kemudian menempatkan sepatu tersebut pada rak sepatu yang terletak di sudut kamar. Dia juga merapikan baju yang tergeletak di kursi dan menaruhnya di atas lemari pakaian. Setelah kamar terlihat lebih rapi, Pak Hartawan menghampiri Yuli dan mengambil selimut yang tergeletak di ujung tempat tidur. Dia berusaha menyelimuti Yuli dengan lembut agar roknya yang terangkat bisa tertutupi dan tidak terlihat sembarangan.

Setelah itu, Pak Hartawan mendekatkan kepalanya ke kepala Yuli yang sedang tertidur pulas, lalu dengan penuh kasih sayang dia mencium bagian kening Yuli yang lembut. Saat Pak Hartawan ingin menjauh dan berjalan keluar kamar untuk melanjutkan pekerjaannya, tiba-tiba Yuli menjerit manja sambil mengerang-ngerang di tempat tidur.

"Papah kesini dong temani aku Bobo," ucap Yuli dengan suara manja, matanya masih belum terbuka namun tangannya sudah mulai mencari tangan Pak Hartawan.

"Mau di temenin sama Papah kok kamu nya jorok, belum mandi," canda Hartawan dengan suara lembut, lalu menjenguk wajah Yuli yang masih memejamkan mata.

"Aah Papah jahat, papah dah gak sayang lagi sama aku," ucap Yuli dengan nada kesal, mukanya di palingkan menjauh dari papahnya seolah sedang marah.

"Dasar anak manja, klo marah selalu bilangnya papah jahat," ucap Hartawan dengan senyum sayang, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Yuli.

"Aku gak manja kok pah, cuma kangen sama Papah aja dan malam ini hanya minta di temenin tidur aja kok," ucap Yuli dengan suara sedikit kesal namun tetap manja, akhirnya membuka matanya dan melihat papahnya dengan tatapan penuh harapan.

"Oke oke Papah janji akan temenin kamu tidur malam ini, tapi sekarang papah mau meeting dulu sama klien dari Jakarta yang sudah janjian datang ke rumah," ucap Pak Hartawan dengan penuh perhatian, menepuk-nepuk bahu Yuli dengan lembut.

"Gak apa apa pah, papah temui aja klien papah nanti pulangnya jangan lupa, tidurnya di kamar aku saja, jangan di kamar mamah," ucap Yuli dengan ekspresi cemburu yang jelas terlihat di wajahnya.

"Baiklah Yuli, papah pergi dulu ya sayang," ucap Pak Hartawan sebelum berdiri dan berjalan menuju pintu kamar. Yuli segera duduk di tempat tidur dan menarik tangan papahnya untuk menciumnya dengan penuh kasih sayang.

"Hati-hati Pah, semoga sukses meetingnya pah," ucap Yuli dengan suara penuh doa.

"Aamiin....terima kasih Yuli," jawab Pak Hartawan dengan senyum ceria sebelum meninggalkan kamar Yuli dan menutup pintunya dengan perlahan.

Setelah papahnya keluar dari kamarnya, Yuli merasa sudah tidak bisa tidur lagi. Dia bangkit dari tempat tidur dan mencari tas sekolahnya yang berada di rak dekat pintu. Dia membuka tas dengan cepat karena berencana akan mengeluarkan semua buku pelajarannya—besok dia berniat menggunakan tas branded baru yang baru saja dia dapatkan dari Pak Hartawan sebagai hadiah.

Tapi saat dia mengeluarkan buku-buku pelajarannya satu per satu, secara tidak sengaja matanya melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di dalam tasnya. Sebuah paket kado berwarna coklat muda dengan tali renda emas tergeletak di antara buku-buku pelajarannya yang rapi.

"Siapa yang ngasih kado ke gue, padahal ulang tahun gue masih lama kok," gumam Yuli dengan penuh kebingungan, matanya mulai melihat sekeliling kamar seolah mencari tahu siapa yang mungkin memasukan kado tersebut. "Apa papah yang memberikannya kepadaku saat aku tadi sedang tidur pulas?" tanya dia dalam hati sebelum mengambil paket kado tersebut dengan hati-hati.

Lalu Yuli membolak-balikan paket kado berwarna coklat muda itu, memeriksa setiap bagian dengan cermat. Namun beberapa saat kemudian matanya terbelalak dan wajahnya langsung berubah menjadi marah. Di bagian bawah bungkusan kado tersebut, jelas tertera tulisan nama "Romi" dengan huruf kasar yang dibuat dengan spidol hitam.

"Apa??? Romi...di luar bungkus kado ini ada tulisan Romi...ooh ternyata dia orangnya, tapi sejak kapan dia memasukan kado ini ke dalam tasku?" ucap Yuli dengan suara penuh kemarahan, wajahnya mulai memerah karena sedang menahan amarah.

"Dasar cowok kurang ajar, berani beraninya si tukang bakso cuangki itu memberikan aku hadiah. Emang dia pikir dia itu siapa? cowok tajir atau anak pengusaha kaya raya atau anak konglomerat?" ucapnya dengan nada tinggi, mengangkat paket kado tersebut ke udara seolah ingin membuangnya.

Kalau dirinya anak orang miskin dan penjual bakso Cuangki, kenapa dia berani-beraninya memberikan perhatian kepadaku, dengan memberikan sebuah kado ini. Yuli merasa sangat tersinggung dengan apa yang dia anggap sebagai "campur tangan" Romi dalam kehidupannya. "Dunia sudah terbalik, orang kere kayak dia bermimpi mendapatkan seorang Ratu, MIMPI KALEE YEE," ucap Yuli dalam hati dengan penuh kemarahan.

Namun rasa penasaran akhirnya menguasai dirinya. "Yuli penasaran apa sih isi kado yang berwarna coklat muda ini, ucap Yuli dalam hati. Meski masih merasa marah, dia tidak bisa menahan rasa ingin tahu yang muncul di dalam dirinya. Akhirnya dia mengambil gunting kecil dari atas meja riasnya dan mulai merobek bungkusan kado itu dengan hati-hati.

Setelah bungkusan terlepas, terlihatlah sebuah keping DVD berwarna hitam dan sebuah majalah yang tertutup rapi. Yuli mengerutkan kening karena merasa bingung—dia tidak menyangka Romi akan memberikannya DVD dan majalah sebagai hadiah. Namun rasa penasaran semakin besar saat dia melihat sampul majalah tersebut.

Perlahan namun pasti, Yuli mengambil majalah itu dan mengangkatnya lebih tinggi agar bisa melihat dengan jelas. Sampul majalah tersebut menampilkan gambar seorang wanita dan pria yang berpakaian sangat minim, dengan pose yang jelas tidak pantas untuk dilihat oleh anak sekolah. Melihat gambar seperti itu membuat darah Yuli berdesir kedinginan, ada rasa cemas dan juga sesuatu yang dia tidak bisa jelaskan yang bergetar di relung hatinya.

"Dasar laki laki tolol, muka bejad, otak mesum, memberikan kado kepada perempuan dengan sesuatu yang tidak ada manfaatnya sama sekali," ucap Yuli dengan suara marah, wajahnya memerah membara karena amarah yang meledak.

Lalu dengan tangan yang sedikit gemetar akibat kemarahan, Yuli tetap penasaran dan mulai membuka halaman demi halaman majalah PlayBoy tersebut. Setiap halaman yang dia buka semakin membuatnya terkejut dan marah—gambar-gambar yang sangat eksplisit dan tulisan-tulisan yang tidak pantas untuk dibaca oleh anak seusianya memenuhi setiap lembarannya.

"Aaah....Uuuuh...Ooooh GILAAA majalah apaan sih ini kayak majalah porno dan cabul," ucap Yuli dengan suara tinggi yang penuh kemarahan. Dia dengan cepat menutup majalah tersebut dan ingin membuangnya ke tempat sampah, namun tiba-tiba dia melihat DVD yang masih ada di sampingnya. Tanpa berpikir panjang, dia mengambil DVD dan melihat label yang tertulis di bagian belakangnya.

"Tidak mungkin... Romi sungguh bisa melakukan hal seperti ini?" gumam Yuli dengan suara pelan, rasa sakit dan kemarahan semakin menguasai dirinya. Dia tidak bisa membayangkan bahwa seseorang yang pernah dia temui di luar sekolah—meskipun hanya sebentar saat Romi berjualan Bakso Cuanki di depan rumahnya—bisa memiliki niat jahat seperti ini.

"Dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal," ucap Yuli dengan suara tegas, wajahnya sudah menunjukkan keputusan yang bulat. Dia akan memastikan bahwa Romi tidak akan pernah lagi berani melakukan hal yang sama kepada dirinya atau siapapun lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!