NovelToon NovelToon
Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.

Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.

Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.

Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Pertaruhan Kursi CEO

Are terdiam. Tak langsung menjawab.

Tatapannya berubah dalam sekejap. Lebih dalam, lebih tajam, seolah menyimpan sesuatu yang tak sederhana.

“Banyak,” jawabnya akhirnya pelan.

“Banyak?” ulang Zelia, alisnya bertaut, matanya menyipit menatap pria itu.

"Kenapa aku merasa dia makin misterius?" batinnya.

“Apa saja?” lanjutnya penasaran.

“Aku bisa ilmu bela diri,” ucap Are tenang. “Fasih bahasa Inggris, Mandarin, dan Jepang. Cukup paham soal investasi, cash flow, negosiasi kontrak, analisis pasar, manajemen risiko, serta membaca laporan keuangan.”

Kening Zelia langsung berkerut. “Kau yakin… itu benar-benar skill kamu?” tanyanya ragu.

Are mengangguk mantap tanpa menambahkan apa pun.

Kerutan di dahi Zelia makin dalam.

“Kalau kau bisa semua itu, kenapa kau jadi tukang parkir?”

Are tersenyum tipis. Senyum yang terasa pahit.

“Apapun skill yang kau punya, tak ada gunanya jika kau menyinggung orang yang berkuasa,” ucapnya datar, tanpa ekspresi.

Zelia terdiam sejenak, mencerna kalimat itu.

"Dari semua yang ia sebutkan… jelas dia bukan orang biasa. Nada bicaranya, cara menjelaskan… seperti seseorang yang pernah bekerja di lingkungan profesional.

Jadi dia berhenti bekerja karena menyinggung orang berkuasa Namanya diblacklist?"

Zelia menghela napas pelan. Tatapannya tanpa sengaja jatuh pada jam di pergelangan tangannya.

"Apa pun itu… aku harus ke kantor."

Ia kembali menatap Are, sebuah ide tiba-tiba muncul di kepalanya.

"Mungkin… aku bisa mengetesnya."

“Oke,” katanya akhirnya. “Kalau begitu… gimana kalau kamu ikut aku ke kantor dulu? Setelah itu baru ke rumah sakit.”

Are menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk pelan.

"Dia pengen ngetes aku?" batinnya. Ia terenyum samar, hampir tak terlihat.

***

Pagi itu, Atyasa duduk di ruang kerjanya dengan wajah tegang. Secangkir kopi di depannya sudah dingin tanpa disentuh.

Pintu diketuk pelan.

“Masuk.”

Seorang pria paruh baya masuk sambil membawa map cokelat.

“Pak… ini hasil penelusuran tentang pria yang bersama Nona Zelia.”

Tatapan Atyasa langsung menajam.

“Cepat katakan.”

Pria itu membuka map dan menyerahkan beberapa lembar berkas.

“Namanya Arelion Pradana. Tinggal di rumah sederhana di pinggiran kota. Ibunya penjual kue keliling… dan dia bekerja sebagai tukang parkir.”

Hening beberapa detik. Lalu—

Atyasa tertawa pendek.

“Tukang parkir?” Nada suaranya penuh ejekan. “Zelia… Zelia… kau benar-benar membuat keputusan bodoh.”

Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan senyum tipis penuh perhitungan.

“Kalau begitu… pria itu bukan ancaman.” Namun senyumnya berubah dingin. “Aku rasa, dia benar-benar bisa jadi celah.”

***

Mobil Zelia berhenti di area parkir sebuah gedung perkantoran.

Begitu turun dari mobil, tanpa ragu Zelia meraih lengan Are dan memeluknya. Are hanya melirik sekilas pada lengannya yang dipaut, tanpa mengatakan apa pun. Mereka lalu berjalan memasuki gedung, dan dalam sekejap langsung menjadi pusat perhatian.

Zelia tampak cantik dan anggun dalam balutan rok span yang dipadu blazer bernuansa blush. Sementara Are terlihat gagah dalam setelan jas hitam yang melekat sempurna di tubuh atletisnya.

Bisik-bisik mulai terdengar di sekitar mereka.

“Itu Nona Zelia sama suaminya…”

“Astaga, suaminya tampan banget…”

“Dia tiba-tiba batal nikah sama Pak Fero, terus langsung nikah sama pria itu…”

“Apa mereka sudah lama pacaran ya?”

“Lihat deh, mesra banget…”

“Entahlah. Yang jelas Pak Fero itu menjijikkan. Berselingkuh sama calon adik iparnya sendiri.”

“Kalau aku juga ogah nikah sama orang kayak dia. Apalagi… ada yang lebih gagah seperti itu.”

Tatapan beberapa orang mengikuti punggung Are yang berjalan tenang di samping Zelia.

Tanpa peduli pada bisik-bisik itu, mereka terus melangkah hingga akhirnya tiba di ruang meeting.

Ruang meeting utama terasa lebih dingin dari biasanya. Di sepanjang meja panjang duduk beberapa jajaran direksi, komisaris, kepala legal, dan seorang notaris yang sudah menyiapkan berkas.

Di ujung meja, Atyasa duduk tegap. Tatapannya serius.

Zelia duduk di sisi berseberangan. Are berdiri sedikit di belakangnya, diam mengamati tanpa ekspresi.

Notaris menyiapkan map dokumen.

“Sesuai surat wasiat almarhumah, setelah Nona Zelia menikah, hak kepemilikan dan kendali perusahaan dikembalikan sepenuhnya kepada beliau.”

Ruangan hening beberapa detik.

Atyasa berdeham pelan. “Sebelum kita lanjut,” katanya tenang, “Papa rasa kita perlu bicara realistis.”

Zelia menatap lurus. “Maksud Papa?”

Atyasa menyatukan kedua tangannya di atas meja. “Kamu belum punya pengalaman memimpin perusahaan sebesar ini. Papa khawatir kamu belum siap duduk di kursi CEO. Untuk sementara… biar Papa saja yang tetap menjalankan.”

Beberapa orang saling melirik pelan.

Zelia tersenyum tipis. Bukan senyum hangat. “Mampu atau tidak belum terbukti, Pa. Jadi harus dicoba dulu.”

Atyasa menggeleng. “Ini bukan eksperimen, Zelia. Nasib ribuan karyawan dipertaruhkan. Kalau perusahaan sampai bangkrut—”

Zelia memotong dengan suara tenang tapi tajam. “Lalu aku harus menyerahkan perusahaan ini pada Papa? Begitu mau Papa?"

Suasana langsung menegang.

Zelia tersenyum, tapi tak sampai ke mata. "Aku rela harta ibuku dinikmati keluarga pengkhianat.”

Semua orang terdiam. Beberapa direksi saling pandang tanpa berani bicara.

Are tetap berdiri diam, matanya mengamati setiap ekspresi di ruangan.

Tangan Atyasa perlahan mengepal di atas meja. “Apa maksudmu?” suaranya rendah.

Zelia menatapnya tanpa berkedip. “Papa yakin ingin mendengar penjelasan dariku?”

Atyasa terdiam. Wajahnya tampak goyah. Jantungnya berdegup lebih cepat.

"Apa maksudnya… Apa dia tahu…" Bahkan dalam hati pun ia tak mampu melanjutkan kalimatnya.

Zelia menarik napas pelan, lalu menatap notaris. “Kita lanjutkan proses serah terima.”

Notaris mengangguk dan mulai membuka dokumen.

Namun sebelum ia sempat berbicara, Atyasa bersandar di kursinya dan memberi isyarat kecil dengan ujung jarinya.

Hampir bersamaan, jajaran direksi menangkap isyarat itu. Lalu salah satu direktur berdeham.

Seorang direktur berdeham.

“Maaf, Pak Atyasa ada benarnya. Perusahaan ini terlalu besar untuk dipimpin seseorang yang belum berpengalaman.”

Beberapa komisaris langsung mengangguk.

“Kami hanya ingin stabilitas tetap terjaga. Ini demi karyawan.”

Dukungan mengalir tanpa perlu diperintah. Jelas sekali… mereka sudah berada di pihak Atyasa.

Zelia menyapu ruangan dengan tatapan tenang, meski dalam hati ia langsung mengerti.

Plan B.

Atyasa menatapnya dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. “Papa hanya ingin yang terbaik untuk perusahaan.”

"Terbaik?" Zelia tertawa pendek tanpa humor. "Ini bukan tentang yang terbaik untuk perusahaan, tapi tentang hak."

Ruangan meeting dipenuhi ketegangan yang nyaris terasa di udara.

Atyasa bersandar di kursinya, rahangnya mengeras.

“Tapi ini bukan hanya soal hak,” katanya dingin. “Ini soal kemampuan. Perusahaan sebesar ini bukan tempat untuk belajar.”

Beberapa orang mengangguk pelan.

Zelia menarik napas pelan, menjaga ekspresi wajahnya tetap tenang meski tekanan terasa menutup dari segala arah.

Tatapan para direksi bukan lagi sekadar menilai. Mereka seperti sudah menjatuhkan keputusan.

Satu lawan banyak.

Ia membuka map di depannya, berusaha tetap profesional. “Saya sudah menyiapkan rencana restrukturisasi divisi operasional untuk kuartal depan. Jika diberi kesempatan—”

“Kesempatan?” potong seorang direktur dengan nada halus tapi menusuk. “Maaf, Bu Zelia, ini bukan perusahaan kecil. Risiko keputusan di level ini terlalu besar.”

Kalimat itu terdengar sopan, tapi maknanya jelas: kami tidak percaya pada Anda.

Beberapa orang mengangguk pelan. Suasana makin menekan.

Zelia merasakan jemarinya sedikit menegang di atas meja. Ia tahu, jika terus memaksa, mereka hanya akan semakin menolaknya.

Atyasa tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya bersandar dengan ekspresi tenang. Terlalu tenang untuk situasi seperti ini. Seolah ia sudah tahu bagaimana semuanya akan berakhir.

Dan itulah yang paling menyakitkan.

Bukan penolakan terang-terangan, tapi cara mereka perlahan menutup semua pintu.

Seorang komisaris menatapnya dengan ekspresi yang tampak simpatik namun dingin. “Mungkin akan lebih baik jika Anda mengambil posisi yang lebih… aman dulu. Belajar dari bawah.”

Belajar dari bawah.

Padahal perusahaan itu adalah haknya. Perusahaan terakhir yang ditinggalkan ibunya untuknya.

Tangannya mengepal pelan di bawah meja. Ia tidak akan membiarkan siapa pun mengambilnya.

Ruangan mendadak terasa lebih dingin. Untuk pertama kalinya sejak rapat dimulai, Zelia benar-benar menyadari… tidak ada satu pun yang berdiri di pihaknya.

Sebagai kepala perencanaan strategis, ia terbiasa mempresentasikan keputusan besar, tapi kali ini suasananya berbeda.

Zelia menegakkan punggungnya, berusaha mempertahankan harga diri yang tersisa. Ia membuka mulut untuk berbicara —

“Kemampuan bisa diukur.”

Suara itu memotong keheningan dengan tenang, namun cukup untuk membuat seluruh ruangan menoleh.

✨“Hak tidak perlu izin. Hanya perlu keberanian untuk mengambilnya kembali.”

“Di ruangan itu, semua orang bicara soal kemampuan. Tidak ada yang berani bicara soal kebenaran.”

“Yang paling menyakitkan bukan ditolak… tapi melihat mereka menutup semua pintu perlahan.”✨

.

To be continued

1
Kyky ANi
rencana apa lagi nih, yang sedang dimainkan Atyasa , Dian,dan Desti,,
Kyky ANi
bagus Are,, berikan bukti yang lebih kuat lagi,,
abimasta
belum terima juga kekalahannya fero
Kyky ANi
semoga Zelia, bisa menang dalam kasus ini,,
Anitha Ramto
sayangnya Zelia dan Are hanya Akting karena ada si Desti yang ngintip,,terobsesi kamu Desti sama Are..

Percaya diri seperti kalian yang mudah di jatuhkan
Cicih Sophiana
hati hati Zelia ada dua manusia licik bersatu jgn lengah sedikit pun...
love_me🧡
iya orang yg percaya diri mudah dijatuhkan & contohnya itu seperti kalian 😀
Cicih Sophiana
Are mulai menelan ludah nya tuh... saking gemes nya mau gigit bibir Zelia 🤭😂😂
Cicih Sophiana
Desti iri dengki akhir nya memfitnah...
Dek Sri
tetap waspada ya zelia dan are
love_me🧡
gantung terus thooorrr gantuuuuuung, udah gak Imlek iniiih udah panas gak hujan lagi jemurannya tolong jangan digantung mulu 😀😀
abimasta
gagal lagi rencana atyasa
Dek Sri
lanjut
Puji Hastuti
Are akankah kamu tega meninggalkan istri mu
Anitha Ramto
sepertinya Are sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk melahap bibirnya Zeliaa wkwkwkwk🤣
tse
aduh apa yang di lakukan Are ya.....🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
phity
hati2 dian lgi merekam
Puji Hastuti
Dan..... Zelia tidak jadi tanda tangan.
abimasta
desti mau ngerayu are
Anitha Ramto
diiih si Desti niatnya mau jelekin Zelia dan menarik Perhatian Are tapi nyatanya Are tidak peduli huh dasar wanita murahan

Dan....
apa ya kira²?
author yang tahu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!