NovelToon NovelToon
Kutukar Mantan Dengan Kakak Ipar

Kutukar Mantan Dengan Kakak Ipar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Mom_cgs

Beberapa hari menjelang pernikahan, Yumna mengetahui perselingkuhan Desta, tunangannya, dengan Cindy, atasan mereka sekaligus adik angkat dari CEO kejam, Evander Sky Moreno.

...

​Kecewa lalu mabuk, Yumna melabrak sang CEO di sebuah bar.

​"Gara-gara adikmu, aku batal nikah! Aku bakal jadi bahan ejekan tetangga! Kamu harus tanggung jawab, Bos Brengsek!" teriak Yumna sambil menarik kerah kemeja mahal Evander.


​Evander menatapnya dingin, lalu berbisik di telinga Yumna, "Jika posisi mempelai pria kosong, biar aku yang mengisinya."

...

​Kini, Yumna datang ke gedung pernikahan bukan sebagai pengantin yang terbuang, melainkan sebagai istri dari pria yang paling ditakuti Desta dan Cindy.

​"Desta, perkenalkan... ini suamiku. Mulai sekarang, panggil aku Kakak Ipar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom_cgs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan Fajar

Malam yang seharusnya menjadi malam paling tenang bagi seorang Evander Sky Moreno, setelah drama pernikahan yang menguras emosi, berubah menjadi simulasi bertahan hidup di hutan belantara. Evander, yang biasanya tidur dengan posisi lurus sempurna layaknya patung di museum, harus berhadapan dengan "badai tornado" bernama Yumna.

Awalnya, mereka tidur dengan jarak yang sangat aman. Yumna di ujung kanan, Evander di ujung kiri. Ada jarak sekitar dua meter di antara mereka, cukup luas untuk dilewati satu gerobak cilok. Namun, hukum alam tidak berlaku bagi Yumna. Saat masuk ke alam mimpi, jiwa staf marketing-nya yang agresif seolah mengambil alih kendali tubuhnya.

Pukul 03.00 pagi, Evander terbangun karena merasa sesak napas. Ia merasa seperti sedang tertimpa reruntuhan gedung Moreno Group.

Ketika ia membuka mata, sang CEO itu hampir saja jantungan di tempat.

"Yumna... apa-apaan ini?" gumamnya dengan suara serak, namun suaranya teredam.

Bagaimana tidak? Posisi Yumna sudah tidak bisa dijelaskan dengan logika manusia normal. Entah bagaimana prosesnya, gadis itu sudah melakukan rotasi 180 derajat. Tubuh Yumna melintang di atas tubuh Evander.

Yang paling parah? Kaki kanan Yumna, dengan jari-jari yang mungil namun lincah, mendarat dengan telak tepat di atas wajah tampan Evander. Jempol kaki Yumna bahkan seolah sedang mencoba "mengecek" lubang hidung sang CEO.

Wajah Yumna sendiri menekuk ke arah perut Evander, daster beruang kuningnya tersingkap hingga ke paha, dan tangannya... tangannya berada di posisi yang sangat krusial.

Evander membeku. Napasnya tertahan. Tangan kecil Yumna dengan sangat pas, tanpa dosa, dan tanpa beban, sedang mencengkeram "aset masa depan" keluarga Moreno yang berada di bawah perutnya.

"Yumna... lepaskan..." bisik Evander dengan rahang mengeras. Keringat dingin mulai bercucuran di dahinya. Ini lebih berbahaya daripada menghadapi tuntutan hukum dari perusahaan saingan.

Yumna tidak bangun. Alih-alih melepaskan, ia justru bergumam dalam tidurnya. "Hmm... empuk banget... gulingnya hangat... Mas, tambah lagi sambalnya..."

"S-sambal?" Evander memejamkan mata, menahan diri untuk tidak melempar wanita ini ke kolam renang di balkon.

Evander mencoba menggerakkan kaki Yumna dari wajahnya dengan sangat hati-hati. Begitu kaki itu tersingkir, ia mencoba melepaskan tangan Yumna. Namun, setiap kali Evander mencoba memindahkan tangan itu, Yumna justru semakin mempererat genggamannya, seolah sedang memegang erat target penjualan akhir tahun.

"Astaga, wanita ini benar-benar..." Evander menggeram pelan.

Tiba-tiba, Yumna bergerak lagi. Ia menarik tubuhnya ke atas, membuat wajahnya kini hanya berjarak beberapa milimeter dari wajah Evander. Hidung mereka bersentuhan. Napas Yumna yang hangat terasa di bibir Evander.

Dalam tidurnya, Yumna tersenyum tipis, lalu mendusal-dusal leher Evander seperti anak kucing yang mencari induknya. Wangi sabun hotel bercampur aroma daster batik itu mendadak terasa begitu memabukkan bagi Evander.

Evander yang tadinya ingin marah, tiba-tiba merasakan jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak beraturan. Ia menatap wajah polos Yumna yang tanpa beban. Gadis ini baru saja menghancurkan martabatnya sebagai CEO paling ditakuti, namun ia juga yang memberikan rasa "hangat" yang belum pernah ada di ranjang kosongnya selama ini.

Evander menghela napas panjang. Ia menyerah. Dengan perlahan, ia justru melingkarkan tangannya di pinggang Yumna, menarik daster beruang itu agar menutupi paha Yumna, dan membiarkan posisi "senam lantai" itu berlanjut sampai pagi.

"Besok pagi, kamu harus menjelaskan banyak hal, Nyonya Moreno," bisik Evander sebelum akhirnya ikut terlelap kembali.

...

Sinar matahari pagi menembus celah gorden, menyinari dua manusia yang masih dalam posisi berpelukan erat. Yumna mulai menggeliat. Ia merasa tidurnya sangat nyenyak, seperti sedang memeluk guling raksasa yang sangat kokoh dan mahal.

Ia mencium aroma maskulin yang sangat enak. "Hmm... guling hotel wanginya kayak Bos Evander ya," gumam Yumna dengan mata masih tertutup.

Ia mulai meraba-raba "guling" itu. Teksturnya keras, bidang, dan... berdetak?

Yumna membuka satu matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah jakun yang naik turun. Ia mendongak ke atas, dan matanya bertemu langsung dengan mata elang Evander yang sudah bangun sejak tadi, menatapnya dengan tatapan datar namun penuh ancaman.

"Sudah puas memegang barang milik saya, Yumna?" tanya Evander dengan suara deep khas bangun tidur.

Yumna langsung tersadar. Ia melihat posisinya. Kakinya masih mengangkangi pinggang Evander, wajahnya di dada Evander, dan tangannya... tangannya masih berada di lokasi "kejadian perkara".

"AAAAAAAAAAAAAAA!!!!"

Yumna berteriak histeris dan langsung melompat mundur. Saking kagetnya, ia kembali kehilangan keseimbangan dan jatuh dari kasur dengan bunyi debukk yang sangat keras.

"Aduh! Aduh! Sakit!" rintih Yumna dari lantai.

Evander duduk di ranjang, merapikan rambutnya yang berantakan (tapi tetap terlihat keren), lalu menatap Yumna dengan dingin. "Lain kali, jika kamu ingin melakukan 'serangan fajar', setidaknya lakukan dengan cara yang lebih berkelas, bukan dengan meletakkan jempol kakimu di hidung saya."

"Maaf Mas Bos! Sumpah! Aku nggak sadar! Aku kalau tidur emang suka keliling dunia! Jangan pecat aku, Mas! Eh, jangan ceraikan aku!" Yumna menutup wajahnya dengan daster beruangnya, malu setengah mati.

"Cepat mandi dan ganti pakaianmu. Keluarga saya sudah menunggu di restoran bawah untuk sarapan bersama. Dan satu lagi..." Evander menggantung kalimatnya, membuat Yumna mengintip dari balik dasternya.

"Apa Mas Bos?"

"Jangan pakai daster beruang itu lagi. Atau saya sendiri yang akan membakarnya di depan kakek."

Yumna langsung lari ke kamar mandi sambil berteriak, "SIAP MAS BOS! EH, SIAP SAYANG!"

Evander hanya bisa menggelengkan kepala sambil memegang dadanya.

Sepertinya jantungku butuh pemeriksaan medis setelah ini, batinnya.

...

Ketika keluar dari kamar mandi, suaminya yang tadi pagi menatapnya horor sudah tidak ada. Yang ada hanya dua pelayan dengan beberapa model pakaian mewah lengkap dengan sepatu, tas yang akan ia kenakan untuk sarapan pagi ini.

"Astaga, seribet ini buat sarapan doang," dumelnya dalam hati sambil menatap deretan baju yang harganya mungkin bisa buat beli stok cilok seumur hidup.

Setelah melalui proses "permak" singkat oleh para pelayan, Yumna akhirnya keluar dengan balutan dress sutra selutut berwarna peach yang manis, lengkap dengan sepatu hak yang tidak terlalu tinggi (belajar dari insiden jatuh dari kasur tadi pagi). Rambutnya digerai rapi dengan jepitan mutiara di satu sisi. Dia merasa sangat cantik, meski perutnya sudah mulai mendemo dengan suara keroncong yang lebih berisik dari alarm teloletnya.

Di ruangan sarapan hotel yang memang khusus disiapkan untuk keluarga Moreno itu, tidak terlihat Kakek dan Evander, bahkan kedua orang tuanya juga tidak tampak. Kemana pria itu menghilang pagi-pagi? Mungkin dia sedang ada urusan dengan Kakek.

"Gak usah ambil pusing, sekarang fokus menghadapi para bibi dan Cindy di sana," gumam Yumna sambil menarik napas panjang. Ia tahu betul, tanpa "Kulkas Dua Pintu" di sampingnya, para singa betina itu pasti sudah menyiapkan kuku-kuku mereka yang tajam. Yang pasti, mereka tak akan membiarkannya sarapan dengan benar.

1
Shyfa Andira Rahmi
yayasan kucing terlantar🤪🤪🤪
Shyfa Andira Rahmi
🤦🤦🤦
Shyfa Andira Rahmi
ngga usah main bentak bisa ngga siihh kan aq nya juga jadi ikutan kaget🤪
diajarin lah biar c,Yumna nya rada anggunan kalo di bentak mulu bukannya anggun yg ada malah ciut...
Mom_cgs: Evander-nya suka gitu ya Kak😄
total 1 replies
Shyfa Andira Rahmi
puas banget ya Yum👏👏👏
Mom_cgs: Iya Kak, kita pun ikut puas Kak😄
total 1 replies
falea sezi
ortunya pasti syok lahh
Mom_cgs: Syok kesenengan ya Kak😅
total 1 replies
falea sezi
nyaman ya bau cogan kaya raya /Curse/
Mom_cgs: Bener banget Kak 🤣
total 1 replies
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2 👍👌
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Mom_cgs: Siap Kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!