JANGAN DI BACA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khinanti Nomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 09
☘️ N*fsu hanya akan memberikan kebahagian sesaat. Tapi cinta yang tulus dan sejati akan memberikan kebahagiaan selamanya. ☘️
{Presiden RI 03. Bacharuddin Jusuf Habibie}
🍂🍂🍂
flashback on
Di gerbang sekolah sudah ada seorang murid berseragam SMA, Dia sedang menunggu seseorang. Bukan pacar bukan juga teman yang dia tunggu.
"Lif, udah lama kamu nunggu disini? kenapa nggak langsung masuk aja?" Suara wanita yang ternyata kakak perempuannya yang sudah janjian akan pergi ke kedai es krim.
"Isin Mbak. (Malu Mbak)." awab Alif, yang tengah merasa risih di tatap anak-anak murid SMP yang baru keluar dari dalam gedung sekolah. Wajahnya yang tampan, kulitnya yang kuning langsat. (mirip-mirip wajah artis Rizki Bilar) hehe ketinggian Author ngebayanginya.! Apa lagi seragam yang Alif kenakan jelas bukan dari sekolah tempat kakaknya mengajar. Menjadikan daya tarik tersendiri.
"Kenapa malu?" Arum pun menghentikan ucapannya, paham akan maksud adiknya. Yang tengah sedang merasa risih di tatap anak didik muridnya. "Cieeeee, Adik Mba yang tampan ini, jadi pusat perhatian cewek-cewek." sambung Arum meledek kepada sang adik.
Arum dan Alif memang sangat dekat dan akrab. Maklum mereka hanya dua bersaudara.
Dari orang tua yang harmonis tidak heran, tidak ada kecanggungan di antara mereka.
"Ayo Mba kita berangkat?" ajak Alif
"Sebentar lagi."
"Nunggu siapa lagi sih Mba?"
Tak lama datang seorang laki-laki menghampiri mereka.
"Assalamualaikum Pak." salam Alif kepada Alfin.
"Waalaikumsalam Lif, Ayo kita berangkat sekarang." ajak Alfin
"Emmm pantesan Mba ngajakin aku, ternyata bareng sama Pak Alfin." ledek Alif yang mengerlingkan mata kearah arum.
"Hah, Yo wes, ayo keburu sore iki. (Hah, ya udah, ayo keburu sore ini)." ajak Arum yang salah tingkah lalu berjalan mendahului dua pria di belakangnya.
Sampainya di kedai es krim yang tempatnya tidak jauh dari Tugu pal putih, Arum dan Alfin pun memesan es krim dengan rasa yang sama, Perpaduan buah alpukat dan es krim dengan toping coklat yang meleleh di taburi kacang hazelnut. Menjadi es krim yang mereka nikmati.
"Lif kamu yakin ndak mau?" tanya Arum. "Ayo buka mulut, aaaaaa." sambung Arum lagi sambil menyendok eskrim ke arah Alif
"Alif ndak mau Mbak, Mbak kan tahu kalau Alif ndak suka eskrim." jawab Alif suaranya mendengung karena menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Iya maaf." jawab Arum sembari tersenyum.
Dari depan Arum duduk yang tengah menikmati eskrim, Alfin terus saja memperhatikannya. Tersenyum melihat keakraban adik, kakak yang memang duduknya tepat di depan Arum yang hanya tersekat meja.
"Hkeemmmm, jangan lama-lama Pak natapnya bukan mahram," dehem Alif yang melihat Alfin sedang memperhatikan kakaknya.
"Ahh iya." jawab Alfin salah tingkah secara refleks menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
Selesai Alfin dan Arum menyantap eskrim. mereka pun jalan-jalan sebentar menikmati keramaian kota gudeg itu. Alif berasa jadi obat nyamuk. Tapi tetap Arum berjalan bertiga beriringan sambil mengalungkan lengannya di lengan Alif. karena ia tidak mungkin mengalungkan lengannya di lengan Alfin.
Saat Arum tengah memandangi tugu pal putih, tiba-tiba sekelebat dari masa lalunya membayanginya. "Dimas.." gumam Arum lirih.
Lirih tapi masih dapat di dengar Alif, Alif melihat Arum yang tengah mematung pun heran dan bertanya.
"Mbak?" panggil Alif.
"..." akan tetapi tidak ada jawaban dari Arum.
"Mbak?" tanya Alif lagi dengan suara lebih keras. Dan membuyarkan tatapan Arum yang tengah menangkap objek di arah depan jauh dari tempatnya berdiri.
"I..iya." jawab Arum gagap lalu menoleh kearah Alif. saat Arum menoleh kembali kearah objek yang di tatapnya tadi, objek orang yang di sebut Arum 'Dimas' sudah tidak ada. "Mungkin hanya bayangan ku aja." batin Arum.
"Ingat Mbak, lupain Mas Dimas, lagian dia tidak mungkin berada di Indonesia, di Jogja." Alif memperingatkan arum.
Tentu saja interaksi kakak, adik itu. Alfin tidak menyadarinya dia berdiri agak jauh dan sedang membelakanginya melihat pemandangan sekitar Tugu.
Arum pun diam tak menjawab peringatan Alif, saat Arum dan Dimas berta'aruf dua tahun lalu. Dia juga sama diajak Arum untuk menemaninya jadi dia tahu kalau kakaknya sedang patah hati dengan lelaki yang bernama Dimas.
##
"Assalamualaikum." sapa dua Kakak beradik saat memasuki rumah.
"Waalaikumsalam, pulangnya sore banget?" tanya Ibu
"Iya kita tadi mampir ke kedai eskrim, Mba di ajak Pak Alfin." jawab Alif sembari duduk di sebelah sang Ibu.
"Bu, Arum masuk kamar duluan." Arum pun berjalan kearah kamar dengan keadaan lesuh.
Ibunya yang melihat wajah anak perempuan nya lesuh pun bertanya kepada Alif. "Lif kenapa wajah Mbak mu lesuh?"
Alif tahu apa yang membuat Arum seperti itu. Tapi dia enggan untuk menjelaskan kepada Sang Ibu. baginya Dimas sudah tidak ada di kehidupan kakaknya. "Mungkin kecapean Bu, Alif juga kekamar Bu mau mandi, gerah." jawab Alif sambil berdiri dan melenggang kemar kamar.
Sebelum benar-benar mamasuki kamar Ibunya kembali bertanya. "Sudah pada sholat ashar belum?"
"Alhamdulillah udah Bu, tadi di Masjid sebelum pulang." jawab Alif lalu membuka pintu kamarnya.
"Syukurlah." Ibu bergumam dan bersyukur anak-anaknya mengingat sholat meskipun sedang di luar rumah.
Ibunya merasa curiga sepertinya ada yang di sembunyikan dari kedua anaknya. Batin seorang ibu lebih perasa dan peka.
Alif dan Arum terlahir dari keluarga yang harmonis, Bapaknya Ali Syarifudin, Seorang peternak sapi dan kambing di berbagai wilayah Gunungkidul. Jual beli sapi dan kambing adalah pekerjaannya. Dia memiliki beberapa pegawai untuk mengurus ternaknya. Dia juga Pengurus dan Pengajar disalah satu Madrasah di daerahnya.
Begitupun Ibunya Fatimah, Fatimah pun mengajar di Madrasah yang sama dengan suaminya Ali Syarifudin. Mereka bertemu saat masih menimba ilmu di pesantren, saat itu Fatimah yang sedang lomba mengaji dengan para santri lain pun menjadi daya tarik Ali dan berkenalan lewat proses Ta'aruf. tiga bulan proses Ta'arufan Ali dan Fatimah pun menikah untuk menghindari zina dan fitnah.
Itulah sebabnya Mereka mendidik anak-anaknya dengan ajaran Agama yang baik meskipun bukan di pesantren seperti Bapak dan Ibunya, mengajarkan untuk menutup Aurat,
Dan tidak untuk berpacaran atau pun berlebihan mengenal teman yang beda lawan jenis. Bukan karena Mereka membatasi tapi lebih menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Di kamar Arum menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Menatap plafond yang terbuat dari anyaman bambu. dengan lampu hias kecil yang nan unik terbuat dari anyaman rotan.
"Ya Allah kenapa aku juga belum bisa melupakannya." gumam Arum lirih.
# # #
Sementara di belahan benua lain.
Seorang laki-laki yang baru selesai melaksanakan Ibadah sholat Jum'at di salah satu Masjid terkenal di Kota Beijing China.
Ia pun berjalan kearah luar Masjid, duduk kembali dan memakai sepatu serta mengikat tali sepatu. Ia beranjak dari duduknya.
Dia memandang kearah langit, "Rum maafkan aku." gumamnya.
#
Bersambung
#
salam kenal🙏
walaupun jarang coend🤭
padahal aku di daerah BOROBUDUR😌
no cimend🤐🤐🤐😐😐