NovelToon NovelToon
My Annoying Step-Brother

My Annoying Step-Brother

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Pernikahan Kilat / Hamil di luar nikah / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama / Tamat
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Suasana makan malam di kediaman mereka awalnya terasa begitu tenang, hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring porselen. Araluna sedang asyik menikmati bakso mercon super pedas kesukaannya, merasa menang karena kejadian di koridor tadi sore. Sesekali ia melirik Arsen yang duduk di depannya, mencoba menggoda lewat tatapan mata, namun Arsen tetap kembali ke mode "robot kaku" di depan orang tua mereka.

Sampai akhirnya, Papa Arga yang memiliki pembawaan kaku dan serius itu meletakkan sendoknya, lalu berdehem kecil.

"Arsen," panggil Papa Arga dengan suara beratnya. "Papa sudah bicara dengan rekan bisnis Papa di Jakarta. Dia punya putri yang baru pulang kuliah dari Inggris, namanya Clarissa. Papa rasa, kalian berdua cocok jika mulai berkenalan secara serius."

Deg.

Dunia Araluna seolah berhenti berputar. Bakso mercon yang baru saja ia gigit, yang penuh dengan cabai rawit merah, tersangkut tepat di pangkal tenggorokannya.

"UHUK! UHUK!" Luna langsung batuk hebat sampai wajahnya memerah padam. Rasa pedas yang membakar tenggorokan bercampur dengan rasa sesak di dada mendengar kata 'perjodohan'.

"Air... air Bun! Uhuk!" Luna memukul-mukul dadanya, air mata mulai menggenang di sudut matanya—kali ini bukan karena akting, tapi murni karena tersedak dan rasa kaget yang luar biasa.

Bunda dengan panik segera menyodorkan segelas air putih dingin. "Astagfirullah, Luna! Hati-hati dong kalau makan. Pelan-pelan, Sayang."

Luna meneguk air itu dengan rakus, namun matanya tetap melotot ke arah Arsen. Ia berharap Arsen akan menolak mentah-mentah di depan Papa. Tapi Arsen? Cowok itu hanya diam membeku, rahangnya mengeras, dan tatapannya lurus ke arah piringnya sendiri. Sifat kaku Arsen membuatnya sulit membantah otoritas Papa Arga secara langsung di meja makan.

"Bagaimana, Arsen?" tanya Papa Arga lagi.

"Saya... saya pikirkan dulu, Pa," jawab Arsen singkat dan datar, jawaban yang bagi Luna terdengar seperti sebuah pengkhianatan besar.

Konfrontasi di Kamar Arsen

Setelah makan malam yang terasa seperti eksekusi mati bagi Luna berakhir, Papa dan Bunda segera berpamitan masuk ke kamar mereka untuk beristirahat. Begitu pintu kamar orang tua mereka tertutup, Luna langsung melesat menuju lantai atas.

Ia tidak peduli lagi dengan rasa perih di tenggorokannya. Ia berhenti di depan pintu kayu bercat gelap milik Arsen dan menggedornya dengan tidak sabaran.

TOK! TOK! TOK!

"Buka, Kak! Gue tahu lo nggak tidur!" teriak Luna tertahan agar tidak membangunkan Papa.

Pintu terbuka. Arsen berdiri di sana, masih dengan kaos hitam yang sama, menatap Luna dengan sorot mata yang sulit dibaca. Sebelum Arsen sempat bicara, Luna sudah menerobos masuk ke dalam kamar yang berbau aroma kayu cendana itu.

"Lo dijodohin, Kak?!" Luna bertanya dengan nada menuntut, matanya yang masih merah karena tersedak tadi menatap Arsen dengan penuh luka. "Clarissa siapa? Anak Inggris siapa? Lo mau nerima gitu aja setelah apa yang lo omongin ke gue di koridor tadi sore?!"

Arsen menutup pintu kamarnya dengan pelan, lalu berbalik menatap Luna. "Itu keinginan Papa, Luna. Lo tahu sendiri Papa Arga itu orangnya kayak gimana. Gue nggak bisa langsung bilang 'nggak' di depan dia."

"Tapi lo bisa bilang 'nggak' buat gue!" Luna maju, mencengkeram kerah kaos Arsen, menariknya hingga wajah mereka sejajar. "Lo bilang lo cemburu! Lo bilang lo posesif! Lo bilang gue milik lo! Sekarang apa? Lo mau jadi anak penurut yang manis dan tunangan sama cewek lain?!"

Arsen melepaskan tangan Luna dari kerahnya, lalu mencengkeram kedua bahu gadis itu dengan kuat. "Dengerin gue dulu, Araluna! Gue nggak pernah bilang gue setuju!"

"Tapi lo juga nggak bilang enggak! Lo malah bilang mau dipikirkan dulu!" teriak Luna frustrasi. "Apa yang mau dipikirin? Mau bandingin gue sama cewek Inggris itu? Iya?!"

Tensi di dalam kamar itu mendadak memanas. Arsen yang biasanya bisa mengontrol emosinya dengan kekakuan yang sempurna, kini tampak mulai kehilangan kesabaran. Ia tidak tahan melihat Luna yang terus-menerus meragukannya.

"Gue bilang dipikirkan dulu itu supaya Papa nggak curiga, bego!" bentak Arsen pelan namun penuh penekanan. "Kalau gue langsung nolak tanpa alasan, Papa bakal tanya kenapa. Dan kalau dia tau alasannya adalah karena gue nggak bisa lepas dari adek tiri gue sendiri, lo pikir apa yang bakal dia lakuin ke kita?!"

Luna terdiam. Ia baru menyadari bahwa beban yang dipikul Arsen jauh lebih berat darinya.

Arsen menarik Luna ke dalam pelukannya, mendekap kepala gadis itu erat ke dadanya. "Lo pikir gue sanggup liat cewek lain selain lo? Setelah semua kegilaan yang lo lakuin ke gue? Setelah lo bikin gue nggak bisa napas setiap kali lo ada di dekat gue?"

Arsen menghela napas panjang, dagunya bertumpu di atas kepala Luna. "Gue bakal urus soal perjodohan itu. Gue nggak akan biarin siapa pun masuk di antara kita. Tapi lo harus janji satu hal..."

Luna mendongak, matanya berkaca-kaca. "Apa?"

Arsen menatap Luna dengan tatapan yang sangat dalam, seolah ingin menelan gadis itu hidup-hidup. "Jangan pernah lagi deket-deket sama cowok lain buat manasin gue. Karena kali ini, gue beneran takut kehilangan lo, Araluna."

Luna tersenyum di tengah tangisnya. Ia memeluk pinggang Arsen dengan sangat erat, tidak mau melepaskannya barang satu senti pun. "Gue nggak akan ke mana-mana, Kak. Gue kan 'cegil' lo. Mana ada cegil yang ninggalin targetnya?"

Malam itu, di balik pintu kamar yang terkunci, Arsen dan Araluna berbagi rahasia yang semakin dalam. Mereka tahu jalan di depan akan semakin sulit dengan adanya rencana Papa Arga, tapi bagi Arsen, Araluna adalah satu-satunya "bencana manis" yang tidak akan pernah ia lepaskan, meski harus berhadapan dengan seluruh dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!