Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elisa-12
Ruang kerja Tuan Mahendra tidak seperti ruangan lain di mansion ini yang penuh dengan dekorasi kristal dan emas. Ruangan itu didominasi oleh kayu ek gelap, jajaran buku tua yang menjulang hingga ke langit-langit, dan aroma maskulin dari tembakau serta kulit. Di tengah ruangan, sebuah meja kerja besar dari kayu jati utuh berdiri dengan kokoh, seolah menjadi benteng bagi pria yang duduk di baliknya.
Tuan Mahendra duduk diam. Tangannya saling bertaut di atas meja, sementara matanya yang tajam menatap Elisa yang duduk di kursi kulit di hadapannya. Di samping Elisa, Kalandra berdiri dengan sikap tegap, meski raut wajahnya menunjukkan kegelisahan yang nyata.
Di luar, sayup-sayup terdengar suara tawa Aris yang sedang diajak Nyonya Siska memberi makan ikan di kolam taman. Suara itu adalah satu-satunya hal yang mencegah Elisa untuk tidak pingsan saat itu juga.
"Siapa nama lengkapmu?" suara Tuan Mahendra memecah keheningan, berat dan berwibawa.
"Elisa... Elisa Putri, Tuan," jawab Elisa dengan suara yang nyaris tenggelam. Ia menunduk, menatap jemarinya yang saling meremas di pangkuan.
"Jangan panggil aku Tuan di rumah ini. Namaku adalah Baskoro Mahendra," ujarnya datar. "Angkat wajahmu, Nak. Aku ingin bicara dengan orang yang kulihat matanya, bukan dengan melihat ubun-ubunmu."
Dengan perlahan dan gemetar, Elisa mengangkat kepalanya. Begitu mata mereka bertemu, Tuan Baskoro terdiam sejenak. Ia mengharapkan melihat mata seorang wanita yang licik atau penuh ambisi untuk masuk ke keluarganya, namun yang ia temukan adalah sepasang mata yang jernih namun redup, penuh dengan ketakutan yang murni dan luka yang belum kering.
"Berapa umurmu?"
"Delapan belas tahun, Tuan... maksud saya, Pak Baskoro."
Baskoro menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar seperti geraman tertahan. Ia melirik Kalandra yang berdiri di samping Elisa dengan tatapan menghunus. "Delapan belas tahun. Dia seumuran dengan keponakanmu, Kalandra. Dan kamu... kamu menghancurkannya?"
"Landra sudah menjelaskan, Pa. Landra tidak dalam kesadaran penuh," bela Kalandra dengan suara rendah.
"Kesadaranmu adalah tanggung jawabmu! Seorang laki-laki diukur dari bagaimana dia menjaga dirinya saat dalam kondisi paling lemah sekalipun!" Baskoro menggebrak meja, membuat Elisa tersentak dan bahunya bergetar.
Melihat Elisa yang ketakutan, Baskoro melunakkan sedikit nada suaranya, namun tetap tegas. "Elisa, aku adalah orang yang menjunjung tinggi kebenaran. Katakan padaku, apa yang diinginkan oleh gadis sepertimu dari anakku sekarang? Apa kamu menginginkan Uang? Rumah? Atau kamu ingin menuntutnya ke jalur hukum? Katakan saja, aku akan memberikannya jika itu bisa menebus dosa anakku."
Elisa terdiam. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga. Ia menggeleng perlahan. "Saya... saya tidak menginginkan harta anda, Pak Baskoro. Jika saya bisa memutar waktu, saya lebih baik tetap menjadi kurir miskin yang kelaparan daripada harus berada di kamar hotel itu malam itu."
Isakan Elisa mulai terdengar pilu. "Saya… saya hanya ingin masa depan adik saya aman. Saya ingin dia tetap bisa sekolah tanpa harus menanggung malu karena kakaknya. Saya tidak butuh kemewahan ini... saya hanya ingin hidup tenang."
Baskoro tertegun. Jawaban itu jujur, tidak ada nada menuntut di dalamnya. Justru nada keputusasaan yang sangat dalam.
"Papa lihat sendiri kan?" Kalandra menyela, suaranya sedikit emosional. "Dia tidak meminta apa-apa. Landra yang memaksanya pindah ke apartemen. Landra yang ingin bertanggung jawab karena ada nyawa di dalam sana yang membawa darah Mahendra."
Baskoro menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia memijat pelipisnya. Situasi ini jauh lebih rumit daripada negosiasi bisnis bernilai triliunan rupiah.
"Pernikahan bukan perkara mudah, Elisa," ujar Baskoro kemudian. "Kalandra adalah pewaris tunggal. Dunianya penuh dengan kilatan kamera, intrik politik, dan musuh bisnis. Masuk ke keluarga ini berarti kamu menyerahkan privasimu selamanya. Apa kamu sanggup?"
"Saya tidak punya pilihan lain, Pak," jawab Elisa lirih. "Dunia saya sudah runtuh sejak malam itu. Sekarang, saya hanya mencoba membangun dinding untuk melindungi adik saya dan... dan bayi ini."
Baskoro menatap Elisa lama sekali, seolah sedang membaca setiap inci kejujuran di wajah gadis itu. Akhirnya, ia berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke taman. Dari sana, ia bisa melihat istrinya, Siska, sedang tertawa kecil melihat Aris yang antusias melihat ikan-ikan koi berukuran besar.
"Kalandra," panggil Baskoro tanpa berbalik.
"Iya, Pa."
"Bawa Elisa keluar. Biarkan dia beristirahat di kamar tamu. Mama sudah menyiapkan semuanya. Aku ingin bicara berdua saja denganmu."
Kalandra ragu sejenak, ia menatap Elisa. "Ayo, Lis. Saya antar."
Elisa berdiri dengan kaki yang masih terasa lemas. Ia membungkuk hormat pada Baskoro yang masih memunggunginya, lalu mengikuti Kalandra keluar dari ruangan yang mencekam itu.
Begitu pintu tertutup, suasana di ruang kerja itu menjadi lebih dingin. Baskoro berbalik, wajahnya kini penuh dengan otoritas yang tak terbantahkan.
"Duduk, Kalandra," perintahnya.
Kalandra duduk di kursi yang tadi ditempati Elisa.
"Kamu tahu apa yang akan terjadi jika berita ini bocor?" tanya Baskoro. "Pak Danu tidak hanya ingin merusak kesadaranmu, dia ingin merusak reputasimu. Dia ingin investor mencabut kepercayaan mereka karena pemimpin Mahendra Group terlibat skandal asusila dengan gadis di bawah umur."
"Landra tahu, Pa. Itu sebabnya Landra ingin pernikahan ini dilakukan secepat mungkin."
"Tidak secara siri," potong Baskoro tajam. "Jika kamu menikahinya secara siri, publik akan menganggapnya sebagai gundik yang kamu sembunyikan. Itu justru akan menjadi peluru bagi musuhmu. Kamu akan menikahinya secara resmi. Negara dan Agama. Pesta kecil untuk keluarga dan kolega terdekat. Kita akan buat narasi bahwa dia adalah tunangan lamamu yang selama ini kamu simpan dari publik."
Kalandra terkejut. "Tapi Pa, Elisa belum tentu siap menghadapi pesta atau publik."
"Dia harus siap! Itu harga yang harus dia bayar untuk perlindungan yang kita berikan," ujar Baskoro tegas. "Dan kamu... kamu harus belajar mencintainya. Jangan perlakukan dia seperti beban. Jika aku melihatmu sedikit saja menyakitinya atau menelantarkannya setelah pernikahan ini, aku sendiri yang akan mencopot jabatanmu dan membuangmu dari silsilah keluarga."
Kalandra menelan ludah. Ia tahu ayahnya tidak pernah bermain-main dengan ucapannya.
"Dan satu hal lagi," Baskoro berjalan mendekat ke arah anaknya, menatapnya dengan pandangan yang kini lebih manusiawi. "Aku juga merasakan mual tadi pagi saat mencium bau kopiku sendiri. Itu menjijikkan, Landra. Jadi, pastikan kamu menjaga istrimu dengan baik, karena sepertinya aku pun harus ikut mengidam karena perbuatan cerobohmu ini."
Kalandra terpaku. "Papa... Papa juga merasakannya?"
Baskoro mendengus, mencoba menyembunyikan rasa malunya. "Sudah, keluar sana. Cari tahu apa yang ingin dia makan malam ini. Dan pastikan bukan sesuatu yang baunya menusuk, atau aku akan memecat koki rumah ini."
Di kamar tamu yang luas, Elisa duduk di tepi tempat tidur yang empuk. Kamar ini bahkan lebih besar daripada seluruh luas kontrakannya dulu. Ia menatap Aris yang sedang asyik bercermin mengenakan kaos baru pemberian Nyonya Siska.
"Kak, Bu Siska baik banget ya? Dia bilang Aris boleh main ke sini kapan saja," ujar Aris riang.
Elisa tersenyum, meski hatinya masih berdebar. "Iya, sayang. Mereka orang yang baik. Tapi Aris harus tetap sopan, ya?"
Pintu kamar diketuk pelan. Kalandra masuk membawa sebuah nampan berisi potongan buah semangka dingin dan segelas air jahe hangat.
"Gimana? Sudah lebih tenang?" tanya Kalandra, ia menaruh nampan itu di meja samping tempat tidur.
Elisa mengangguk singkat. "Terima kasih, Mas."
Kalandra duduk di kursi tunggal di dekat jendela. Ia melihat Elisa yang tampak sangat kecil di tengah kemegahan kamar itu. "Papa sudah setuju. Tapi dia minta pernikahan resmi, bukan siri."
Elisa tersentak. "Resmi? Tapi... itu berarti akan banyak orang yang tahu?"
"Hanya keluarga dan kolega dekat. Papa ingin melindungi statusmu dan anak itu. Dia tidak ingin kamu dianggap sebagai aib." Kalandra menatap Elisa dengan tulus. "Saya tahu ini sulit, tapi ini cara terbaik agar tidak ada lagi yang berani merendahkanmu."
Elisa menunduk, ia mengambil sepotong semangka dan mengunyahnya pelan. Rasa dingin buah itu sedikit meredakan rasa mual yang mulai muncul lagi.
"Mas Landra..." panggil Elisa.
"Ya?"
"Tadi... Pak Baskoro bilang apa saja setelah saya keluar?"
Kalandra terdiam sejenak, teringat ucapan ayahnya soal mencopot jabatannya jika ia menyakiti Elisa. "Dia... dia hanya bilang saya harus menjagamu dengan baik. Dan ternyata, dia juga mulai merasakan gejala yang sama dengan saya."
Elisa sedikit mengulas senyum, sebuah senyum pertama yang tulus sejak kepindahannya. "Kasihan Pak Baskoro. Padahal dia terlihat sangat galak."
"Dia memang galak, tapi dia sangat menyayangi keluarganya," sahut Kalandra. Ia memperhatikan Elisa yang sedang makan. "Apa kamu masih mual?"
"Sedikit. Tapi semangka ini membantu."
Kalandra mengangguk. Tiba-tiba, ia merasakan perutnya bergejolak hebat. Aroma parfum ruangan di kamar tamu yang berbau bunga melati mendadak terasa seperti bau bangkai baginya.
"Ugh... maaf," Kalandra segera berdiri dan berlari menuju kamar mandi di dalam kamar tamu tersebut.
Elisa tertegun mendengar suara Kalandra yang muntah-muntah di dalam. Ia menatap pintu kamar mandi dengan perasaan campur aduk. Ada rasa kasihan, tapi juga ada rasa aneh yang mulai tumbuh. Pria ini, yang awalnya ia anggap sebagai monster, kini sedang menderita secara fisik karena keberadaan bayi di dalam rahimnya.
Aris yang melihat itu mendekati pintu kamar mandi. "Kak Kalandra kenapa, Kak? Masuk angin ya?"
Elisa menarik Aris pelan. "Mungkin, sayang. Kak Kalandra cuma butuh istirahat."
Di dalam kamar mandi, Kalandra membasuh wajahnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya pucat, namun matanya tidak lagi kosong. Ia sadar bahwa mulai hari ini, hidupnya bukan lagi tentang dirinya sendiri, bukan lagi tentang saham atau audit. Hidupnya kini terikat pada gadis di luar sana dan nyawa kecil yang sedang tumbuh.
Ia keluar dari kamar mandi dengan langkah gontai. Elisa menyodorkan segelas air putih padanya.
"Minum ini dulu, Mas. Supaya lambungnya tidak perih," ujar Elisa lembut.
Kalandra menerima gelas itu. Tangan mereka bersentuhan sesaat. Kali ini, Elisa tidak menarik tangannya dengan cepat. Ia membiarkan kontak itu terjadi selama beberapa detik, seolah sedang mencoba untuk mulai menerima takdir yang baru saja dikunci oleh Baskoro Mahendra.
"Terima kasih, Elisa," bisik Kalandra.
Malam itu, di kediaman Mahendra, badai kemarahan mulai mereda, berganti dengan awan mendung tanggung jawab yang berat. Namun di tengah kegelapan itu, sebuah benih kecil bernama harapan mulai berusaha untuk tumbuh di antara dua jiwa yang dipertemukan oleh kesalahan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selamat Membaca☺️🥰
Jangan lupa like, comment, vote dan ratenya ya Manteman🙏🏻🙌🏾❤️