Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Labirin Perak di Zurich
Zurich di tengah malam adalah labirin batu dan baja yang diselimuti kabut tipis dari arah danau. Suhu udara anjlok hingga di bawah nol derajat, membuat napas Aruna mengepul seperti asap saat ia keluar dari SUV hitam di sebuah gang sempit di belakang Bank von Grueber. Bank ini bukan sekadar lembaga keuangan; ia adalah monumen kerahasiaan Swiss yang telah berdiri sejak abad ke-18, dengan dinding yang konon mampu menahan ledakan nuklir.
Aruna mengenakan pakaian serba hitam yang taktis, tertutup mantel wol panjang untuk menyamarkan senjata dan peralatan elektronik yang melingkar di pinggangnya. Di sampingnya, Dante berdiri tegak meski wajahnya menunjukkan tanda-tanda kelelahan yang luar biasa. Luka operasinya pasti berdenyut karena udara dingin, namun sorot matanya tetap tajam, memindai setiap jendela gedung di sekitar mereka.
"Enzo sudah meretas sistem kamera di blok ini," bisik Dante. "Kita punya waktu dua belas menit sebelum sistem keamanan pusat melakukan sinkronisasi ulang dengan kepolisian Zurich. Begitu kita masuk ke dalam brankas bawah tanah, sinyal kita akan terputus."
Aruna mengangguk. Ia menggenggam flashdisk perak di saku mantelnya. "Ayah sudah aman?"
"Hadi dan Bumi sudah dalam perjalanan menuju tempat persembunyian kedua di pegunungan Alpen bersama tim pengawal terbaikku. Fokuslah, Aruna. Malam ini kita mengakhiri Icarus, atau Icarus yang akan mengakhiri kita."
Mereka bergerak cepat menuju pintu masuk staf yang sudah disabotase oleh Enzo. Di dalam, koridor bank itu sangat sunyi, hanya suara putaran kipas angin dari sistem sirkulasi udara yang terdengar. Mereka melewati deretan lemari arsip tua dan ruang server yang berkedip dengan lampu biru kehijauan. Setiap langkah kaki mereka di atas lantai marmer terasa seperti detak jantung yang memacu adrenalin.
Mereka tiba di depan lift khusus yang hanya menuju ke lantai paling bawah: The Vault.
Untuk mengaktifkan lift ini, Aruna harus meletakkan telapak tangannya di sebuah pemindai biometrik. Lampu merah berubah menjadi hijau saat sistem mengenali DNA Kirana. Lift meluncur turun dengan kecepatan tinggi, membuat telinga Aruna berdenging. Saat pintu terbuka, mereka disambut oleh sebuah ruangan bundar dengan dinding perak mengkilap.
Di tengah ruangan itu berdiri sebuah pintu baja raksasa dengan mekanisme roda gigi yang rumit. Namun, mereka tidak sendirian.
Berdiri di depan pintu brankas itu, dengan santainya bersandar pada dinding perak, adalah Elena. Ia mengenakan pakaian yang hampir identik dengan Aruna, memegang sebuah cincin tua di antara jari-jarinya—cincin yang dicurinya dari Hadi.
"Kau terlambat sepuluh menit, Saudari," sapa Elena dengan senyum miring yang provokatif. "Aku hampir saja mencoba mendobrak pintu ini dengan dinamit, tapi aku tahu kau adalah kunci yang lebih lembut."
Dante segera mengarahkan pistolnya ke arah Elena, namun Elena hanya tertawa.
"Simpan mainanmu, Vulture," ucap Elena dingin. "Lihatlah ke atas."
Di langit-langit ruangan, terdapat empat menara senapan otomatis yang tersembunyi, semuanya terkunci pada posisi Dante. "Julian Thorne sudah membeli protokol keamanan bank ini sejak dua jam yang lalu. Jika kau menarik pelatuk, kita semua akan menjadi daging cincang dalam hitungan detik."
Aruna melangkah maju, menghalangi pandangan Dante. "Kenapa kau di sini, Elena? Kau bilang hutangmu sudah lunas di pelabuhan."
"Hutang nyawa memang lunas, tapi hutang sejarah belum," Elena berdiri tegak, matanya berkilat penuh dendam. "Aku ingin melihat apa yang membuat hidupku hancur. Aku ingin melihat isi dari Proyek Icarus ini. Dan aku tahu, Julian sedang menunggu di lantai atas. Dia membiarkan kita masuk karena dia butuh kita membuka pintunya. Begitu pintu ini terbuka, dia akan datang menjemput hasilnya."
Aruna menatap pintu raksasa itu. "Jika kita membukanya, kita memberikan Julian apa yang dia inginkan."
"Tidak jika kita menghancurkannya dari dalam," balas Elena. "Dante, kau tahu Proyek Icarus bukan hanya soal uang. Itu adalah senjata. Dan aku punya tawaran untukmu. Kita buka pintu ini, kita ambil datanya, dan kita gunakan untuk menghapus keberadaan Julian Thorne dari muka bumi. Setelah itu... kau bisa membawa kembaranku yang membosankan ini hidup bahagia selamanya. Aku akan menghilang."
Dante menatap Aruna, mencari persetujuan. Aruna mengangguk pelan. Mereka tidak punya pilihan lain. Berada di ruangan ini adalah jebakan, namun maju ke depan adalah satu-satunya jalan keluar.
Proses pembukaan brankas dimulai. Aruna memasukkan flashdisk ke dalam slot yang tersedia di panel kontrol, sementara Elena memasukkan cincin tua itu ke dalam lubang kunci mekanis yang tersembunyi di balik ukiran singa.
"Identitas dikonfirmasi. Otoritas Kirana diterima," suara komputer bergema.
"Masukkan biometrik ganda sekarang," perintah sistem.
Aruna dan Elena berdiri berdampingan. Mereka masing-masing meletakkan ibu jari pada pemindai. Untuk pertama kalinya, kedua saudari itu bersentuhan. Aruna bisa merasakan getaran di tangan Elena—sebuah getaran yang bukan berasal dari ketakutan, melainkan dari amarah yang tertahan selama puluhan tahun.
Klek. Sshhhhhhh.
Pintu baja seberat sepuluh ton itu perlahan berputar dan terbuka, mengeluarkan hembusan udara dingin yang berbau kertas tua dan logam. Di dalamnya, tidak ada tumpukan emas yang menyilaukan mata. Yang ada hanyalah sebuah meja tunggal dengan satu set komputer kuno dan deretan map kulit berwarna cokelat yang sudah berdebu.
Aruna melangkah masuk terlebih dahulu. Ia membuka salah satu map. Matanya terbelalak saat membaca dokumen di dalamnya.
"Ini bukan daftar saham..." bisik Aruna. "Ini adalah daftar eksperimen. Proyek Icarus adalah proyek pengendalian pasar melalui sabotase kesehatan. Mereka menciptakan wabah di daerah tertentu untuk memanipulasi harga komoditas... kakek kita bukan hanya bendahara, dia adalah arsitek dari krisis buatan ini."
Dante masuk dan segera memeriksa komputer kuno tersebut. "Dan di sini ada kode akses untuk mengaktifkan sisa-sisa dana yang tersimpan di berbagai akun gelap di seluruh dunia. Nilainya... tidak terbatas."
Tiba-tiba, suara tepuk tangan bergema dari arah lift.
Julian Thorne melangkah masuk, dikelilingi oleh delapan tentara bayaran bersenjata lengkap. Ia mengenakan jas musim dingin yang sangat elegan, seolah-olah ia sedang menghadiri pesta gala bukannya sebuah perampokan bank.
"Luar biasa," ucap Julian, matanya berbinar menatap ruangan itu. "Kerja sama keluarga yang sangat mengharukan. Terima kasih, Aruna. Terima kasih, Elena. Kalian baru saja memberikan kunci kerajaan padaku."
"Kau tidak akan mendapatkannya, Julian," Dante mengarahkan senjatanya, namun para tentara bayaran Julian sudah lebih dulu menodongkan senapan serbu ke arah mereka.
"Dante, Dante... kau masih bertindak dengan otot," Julian berjalan mendekati meja. "Aruna, berikan data itu padaku sekarang, atau aku akan memberikan perintah pada timku di pegunungan Alpen untuk meledakkan kabin tempat ayah dan anakmu bersembunyi."
Aruna membeku. "Kau tahu di mana mereka?"
"Aku selalu tahu, Sayang. Aku membiarkan mereka pergi hanya agar kau merasa punya sesuatu untuk dikorbankan," Julian mengulurkan tangannya. "Pilihannya sederhana: Proyek Icarus, atau nisan untuk keluargamu."
Di tengah kebuntuan itu, Elena tiba-tiba tertawa. Tawa yang terdengar sangat mengerikan di dalam ruangan tertutup itu. Ia menatap Julian dengan tatapan merendahkan.
"Kau pikir kau sangat pintar, Julian?" Elena merogoh sesuatu dari balik saku celananya—sebuah pemantik api perak yang sudah dimodifikasi. "Aku tidak pernah berniat memberikan Proyek Icarus pada siapa pun. Tidak padamu, tidak pada Dante, dan tidak pada Aruna."
"Elena, jangan!" teriak Aruna.
"Ruangan ini dilengkapi dengan sistem pembersihan otomatis jika terjadi upaya paksa, Julian," Elena menjelaskan dengan tenang. "Hanya butuh satu sinyal dariku untuk memicu pelepasan gas halon yang akan membunuh kita semua dalam sepuluh detik. Tidak ada data yang keluar, tidak ada penjahat yang menang."
Julian menyipitkan mata. "Kau menggertak. Kau terlalu mencintai nyawamu sendiri."
"Kau salah," ucap Elena, air mata mulai mengalir di pipinya. "Aku sudah mati sejak kau mengambilku dari orang tuaku. Hari ini, aku hanya menyelesaikan prosesnya."
Elena menekan tombol pada pemantiknya. Alarm merah mulai meraung di seluruh bank. Pintu brankas mulai menutup secara otomatis dengan kecepatan tinggi.
"Lari!" teriak Dante, menarik tangan Aruna menuju celah pintu yang kian menyempit.
Aruna mencoba meraih Elena, namun Elena justru mendorong Aruna keluar dengan segenap tenaganya.
"Jadilah Aruna yang asli untukku!" teriak Elena saat pintu baja itu menutup dengan dentuman yang memekakkan telinga.
Aruna, Dante, dan Julian terlempar ke area luar brankas, sementara Elena dan beberapa anak buah Julian tertahan di dalam. Gas halon mulai menyemprot di dalam, dan pintu itu terkunci secara permanen oleh protokol keamanan tingkat tinggi.
Aruna jatuh bersimpuh, memukul-mukul pintu baja yang dingin itu. "Elena! Buka pintunya!"
Julian Thorne berdiri dengan wajah pucat, menyadari bahwa aset berharganya telah musnah dalam sekejap. "Kau... kalian telah menghancurkan segalanya!" ia berteriak histeris, mencabut pistolnya sendiri.
Namun Dante lebih cepat. Dengan satu gerakan akurat, ia menembak pergelangan tangan Julian, membuat pistolnya jatuh.
"Keluar dari sini, sekarang!" Dante menarik Aruna. "Gedung ini akan terkunci secara total oleh kepolisian Swiss!"
Mereka berlari menuju lift di tengah kekacauan sistem alarm. Aruna menangis tanpa suara, menyadari bahwa saudarinya yang baru saja ia temukan telah mengorbankan diri untuk menghapus dosa masa lalu keluarga mereka.