Antares Bagaskara adalah dosen dan ilmuwan antariksa yang hidup dengan logika dan keteraturan. Cinta bukan bagian dari rencananya—hingga satu malam tak terduga memaksanya menikah dengan Zea Anora Virel, mahasiswi arsitektur yang ceria dan sulit diatur.
Pernikahan tanpa cinta.
Perbedaan usia.
Status dosen dan mahasiswi.
Terikat oleh tanggung jawab, mereka dipaksa berbagi hidup di tengah batas moral, dunia akademik, dan perasaan yang perlahan tumbuh di luar kendali.
Karena tidak semua cinta lahir dari rencana.
Sebagian hadir dari orbit yang tak terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Cemburu, Salad, dan Si Mantan yang Nggak Tahu Diri
Studio Arsitektur lagi riuh rendah sama suara cutter yang motong infraboard dan bau lem Aibon yang menyengat. Zea duduk di pojokan, rambutnya dicepol asal-asalan dengan pensil, matanya fokus banget nempelin stik es krim buat maket villa-nya.
"Zea, gila ya lu, dari pagi cuma makan kerupuk sama kopi kaleng doang. Lambung lu apa kabar, Jeng?" celetuk Sarah sambil ngerapiin maketnya sendiri di meja sebelah.
"Duh, Sar, jangan berisik deh. Gue lagi deadline banget ini. Makan mah gampang, yang penting ini atap nggak miring dulu," jawab Zea tanpa nengok.
Tiba-tiba, suasana studio yang tadinya berisik mendadak senyap. Kayak ada gelombang gravitasi dingin yang masuk lewat pintu. Zea ngerasa suasana jadi aneh, pas dia dongak, jantungnya hampir copot.
Dr. Antares Bagaskara berdiri di sana. Masih pakai kemeja kerja yang rapi—kontras banget sama mahasiswa arsitektur yang mukanya udah kayak zombi. Tangannya nenteng paper bag cokelat premium.
"Zea Anora. Ke meja instruktur sebentar," suara bariton itu menggelegar, bikin seisi studio nengok.
Zea nelen ludah, jalan pelan nyamperin suaminya. "Iya, Pak? Ada apa ya?"
Antares nggak jawab, dia langsung naruh paper bag itu di depan Zea. "Saya tahu kamu belum makan siang yang layak. Ini ada salad salmon dan jus bit. Habiskan dalam lima belas menit, atau asistensi kamu minggu depan saya batalkan."
Sarah dan anak-anak lain melongo. "Hah? Pak Antares perhatian banget sampai bawain makanan?" bisik-bisik mulai kedengeran.
"Ini... ini dari yayasan beasiswa, Pak?" tanya Zea berusaha akting, mukanya udah merah kayak kepiting rebus.
Antares natap Zea tajam, ada kilat protektif di matanya yang bilang: 'Makan itu atau saya suapi di depan mereka semua.' "Anggap saja begitu. Jangan makan sampah lagi. Saya permisi."
Begitu Antares keluar, studio langsung pecah. "Zeee! Sumpah, Pak Antares beneran bawain lu makanan? Lu beneran 'asisten' kesayangan dia ya!" Sarah heboh sendiri.
"Udah ah, gue makan dulu daripada nilai gue tamat," Zea pura-pura cuek, padahal hatinya lagi disko. Dia tahu Antares cuma nggak mau dia sakit maag lagi.
Si Mantan Datang Mengacau
Baru aja Zea mau buka kotak saladnya, pintu studio kebuka lagi. Tapi kali ini yang masuk bukan dosen ganteng, melainkan sosok yang paling Zea benci: Erlangga, mantan pacarnya yang anak Hukum. Si cowok yang mutusin Zea pas lagi sayang-sayangnya lewat WhatsApp.
"Zea," panggil Erlangga dengan muka sok melas.
Zea muter bola mata. "Ngapain lu ke sini, El? Salah gedung lu, anak Hukum di sebelah."
"Zea, plis... gue mau minta maaf. Gue khilaf semalem. Gue sadar gue nggak bisa jauh dari lu," Erlangga tiba-tiba megang tangan Zea, nggak peduli banyak orang liat.
"Lepasin nggak! Gue sibuk!" Zea berusaha narik tangannya, tapi Erlangga malah makin kenceng megangnya.
"Zea, ikut gue bentar. Kita omongin di luar. Gue maksa," Erlangga mulai narik-narik Zea keluar studio.
"Eh, apa-apaan sih lu! El, lepasin, sakit tau!" Zea mulai panik karena tenaga Erlangga lumayan kuat.
Pusat Gravitasi yang Marah
Zea nggak tahu kalau dari kejauhan, di balik jendela kaca koridor, Antares sebenernya belum bener-bener pergi. Dia sengaja nunggu di koridor buat mastiin Zea beneran makan saladnya.
Dan di sana dia liat: istrinya lagi ditarik-tarik sama cowok asing yang kelihatan nggak tahu sopan santun.
Rahang Antares mengeras. Tangannya mengepal di saku celana. Rasa cemburu dan posesif yang biasanya dia tekan dengan logika, tiba-tiba meledak. Dia nggak butuh waktu lama buat mutusin jalan balik ke studio dengan langkah lebar yang mengintimidasi.
BRAKK!
Pintu studio terbuka lagi dengan kasar. Antares langsung jalan nyamperin Erlangga, badannya yang tinggi dan tegap langsung nutupin pandangan Erlangga ke Zea.
"Lepaskan tangannya," ucap Antares. Suaranya nggak teriak, tapi dinginnya minta ampun, sanggup bikin merinding siapa pun yang denger.
Erlangga kaget, dia dongak liat Antares. "Siapa lu? Urusan gue sama Zea, jangan ikut campur!"
Antares senyum tipis—senyum yang paling ngeri yang pernah Zea liat. Dia maju satu langkah, bikin Erlangga mundur teratur.
"Saya dosennya, dan saya tidak suka ada keributan di lingkungan akademik saya," Antares narik tangan Zea dari genggaman Erlangga dengan sekali sentakan pelan tapi tegas. Dia langsung ngerangkul bahu Zea, narik gadis itu ke belakang punggungnya. "Sekali lagi kamu menyentuh mahasiswi saya dengan paksaan, saya pastikan kamu berurusan dengan dekanat... dan pengacara pribadi saya."
"Mas—eh, Pak..." Zea bisik-bisik panik di belakang Antares.
Erlangga yang emang dasarnya pengecut, langsung pucat liat aura Antares yang kayak mau nelan orang hidup-hidup. "O-oke, gue pergi. Tapi Ze, gue belum selesai sama lu!" Erlangga buru-buru kabur dari studio.
Suasana studio jadi makin mencekam. Antares balik badan, natap Zea yang lagi nunduk takut.
"Ikut ke ruangan saya. Sekarang," perintah Antares tanpa ekspresi.
Sarah yang liat kejadian itu cuma bisa mangap. "Gila... Pak Antares beneran kayak bodyguard Zea. Ini fix sih, ada yang nggak beres," bisiknya pelan.