Anastasya menikah dengan Abimayu karena perjodohan orang tua mereka. Namun setelah menikah Abimayu bersikap acuh kepada Ana karena dia belum bisa menerima Ana dalam hidupnya. Sedangkan Ana telah lama jatuh cinta kepada Abimayu sejak pertama kali melihatnya. Ana terus berusaha untuk membuat Abimayu agar bisa menerima dirinya. Tapi Abimayu tetap tidak bisa menerimanya setelah mengetahui Ana adalah wanita yang suka pergi ke klub malam.
Mampukah Ana meluluhkan Abimayu sampai Abimayu menerimanya?
Mampukah Ana bertahan mencintai Abimayu disaat Abimayu selalu mengabaikannya?
jangan lupa lanjutkan baca kisahnya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adwiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
Di kamar Ana baru saja bangun dari tidurnya, dan saat dia bangun Abimayu sudah tidak ada lagi di sampingnya. Dia tahu itu, karena setiap pagi Abimayu akan lebih dulu bangun daripadanya dan akan pergi berolahraga pagi setelah menunaikan kewajibannya.
Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, dan Ana telah bersiap. Tapi saat ini dia belum melihat Abimayu kembali, dia berfikir apakah Abimayu tidak bersiap-siap? Karena dia juga akan berkerja hari ini.
Ana turun ke bawah dan melihat pelayan sedang menyiapkan makanan untuk sarapan pagi mereka. Makanan yang dia buat sudah diatur oleh Ana sebelumnya karena dia adalah orang yang sangat pemilih dalam hal makanan.
"Apa semuanya telah selesai?" tanya Ana kepada pelayan ketika sudah berada di ruang makan.
"Tinggal sedikit lagi Nyonya," jawab pelayan itu sambil terus menyiapkan makanan yang dia sajikan di atas meja.
Ana melihat ke arah meja yang telah tersedia menu makanan, dan dia merasa puas karena makanan itu sesuai dengan yang telah dia pesan kepada pelayan itu sebelumnya.
"Aku akan makan lebih dulu." Ana berkata karena dia telah bersiap sebelum turun dari kamarnya tadi.
Mendengar itu sangat pelayan dengan cepat menyediakan yang dibutuhkan Ana.
Di saat Ana sedang menyuap makanannya, suara langkah kaki Abimayu terdengar dari atas tangga turun ke bawah yang membuat Ana mengukir senyum di bibirnya.
"Mas Abi terlihat sangat tampan," ucap Ana memuji suaminya yang sudah berjalan mendekat ke arah ruang makan. Dia juga baru menyadari bahwa ternyata sejak tadi Abimayu telah bersiap di kamar yang lain.
Abi hanya diam tanpa ekspresi sambil duduk di kursi meja makan, karena dia merasa tidak terkesan sedikit pun dengan pujian yang telah diucapkan Ana kepada dirinya.
"Kamu boleh ambilkan sesuatu untuk Mas Abi!" Ana berkata kepada pelayan yang masih berada di ruang makan untuk membantu Abimayu mengambil makanannya.
"Aku masih bisa untuk melakukan itu, tanganku masih kuat dan aku masih bertenaga, tidak sepertimu yang hanya bisa untuk menyuruh orang saja." Abimayu tiba-tiba mengeluarkan suaranya, karena merasa tidak setuju dengan Ana yang menyuruh pelayan untuk menyiapkan makanannya.
"Apa gunanya ia dibayar kalau tidak bisa untuk melakukan apa yang disuruh?" jawab Ana membantah apa yang diucapkan Abimayu kepadanya.
"Kamu fikir, semua bisa dibeli dengan uang?Jangan karena kamu memiliki banyak uang, kamu bisa berbuat sesukanya kepada orang lain. Semua juga ada batasannya." Abimayu berkata dengan sinis, karena selama ini dia bisa melihat bahwa Ana adalah orang yang akan selalu menggunkan uangnya untuk sesuatu yang dia inginkan, karena dia tidak ingin mengerjakan sesuatu yang memang dia tidak ingin lakukan. Dia lebih memilih memakai uangnya untuk membayar orang lain untuk memgerjakannya, bahkan dalam hal kecil pun. Sepertinya dia tidak bisa melakukan apapun tanpa seorang pelayan.
"Aku tidak menginginkan nasehat dari Mas Abi. Dari dulu aku juga selalu begitu, dan orang sudah aku gaji juga tidak keberatan untuk melakukan apa yang aku ingin ia lakukan." Ana berkata dengan angkuh, karena dia merasa yang dia lakukan itu juga sudah benar, karena orang yang dia suruh itu memang sudah dia bayar. Jadi menurutnya itu suatu hal yang wajar.
"Heh, kamu memang wanita yang tidak ada rasa kemanusiaan," sindir Abimayu kepada Ana.
"Aku tidak salah! Seseorang yang memutuskan untuk bekerja menjadi pelayan itu, sudah seharusnya ia tahu resiko dari pekerjaannya. Ia juga dibayar, bukan hanya bekerja dengan suka rela." Ana membela dirinya untuk membantah opini yang dikatakan oleh Abimayu dan mengatakan pendapatnya tanpa diminta oleh Abimayu.
Abimayu tidak menjawab perkataan Ana lagi karena pasti perdebatan mereka memakan waktu yang lama, dan dia tidak ingin terlambat pergi ke perusahaannya.
Selesai sarapan, Abimayu dan Ana sama-sama berjalan ke luar rumah untuk pergi bekerja. Ana sengaja menunggu Abimayu menghabiskan makanannya agar bisa serentak pergi dengan Abimayu meskipun mereka berbeda mobil.
"Ck ck ck ck, apa sebenarnya tujuanmu memakai pakaian begini?" Abimayu berkata di saat Ana sudah berjalan beriringan dengannya.
Ana melihat ke arahnya dengan keningnya yang berkertut, dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Abimayu kepadanya.
"Apa kamu sengaja untuk menarik perhatian lelaki, agar mereka melihat dan memuji kemolekan tubuhmu?" tanya Abimayu lagi saat melihat Ana yang memakai pakaian seksi ketika pergi bekerja. Dia tidak tahan jika hanya melihatnya saja, karena dia juga merasa berhak untuk menegur Ana memandangkan statusnya sekarang adalah suami dari Ana.
Ana menghentikan langkahnya mendengar Abimayu yang memberikan komentar terhadap pakaiannya.
"Hemmm Mas Abi mengakui kalau aku punya tubuh yang indah?" Ana berkata sambil tersenyum, dan lebih mendekat ke arah Abimayu. Ana dengan perlahan memegang lengan Abimayu dan merapatkan tubuhya lagi sehingga bagian dadanya menempel di lengan Abimayu.
"Kamu jangan jadi wanita yang mempunyai harga diri yang rendah, Ana." Abimayu berkata marah karena melihat Ana yang memegang lengannya.
"Dari caramu ini, sepertinya kamu memang sudah terbiasa menggoda banyak pria, untuk menjajakan tubuhmu kepada mereka." lanjut Abimayu berkata sinis kepada AnaAna, dan dia juga bisa merasakan benda sesuatu yang terasa kenyal dari dada Ana di lengannya.
"Atau Mas Abi ingin menyentuhku," ucap Ana berbisik pelan di telinga Abimayu. Dia tidak peduli dengan perkataan Abimayu saat ini, dia hanya ingin menggoda Abimayu.
"Ayo kita lakukan sekarang!" ajak Ana lanjut menggoda dengan menggigit pelan telinga Abimayu yang membuatnya menahan rasa geli. "Aku sedang tidak terburu-buru, jika Mas ingin melakukannya." Ana berkata sambil tersenyum samar karena melihat Abimayu yang kegelian dengan apa yang dia lakukan tadi.
"Lepaskan tanganmu dari tubuhku! Jangan membuat aku semakin marah, Ana!" ucap Abimayu dengan suara tertahan karena dia tidak ingin pelayan di rumah mereka saat ini mendengar kemarahannya kepada Ana. Dia juga berusaha untuk melepaskan tangan Ana dari lengannya.
Ana tersenyum puas melihat Abimayu yang terlihat menahan marah itu, lalu dengan berani Ana mendekatkan wajahnya ke samping wajah Abimayu lalu dengan gerakan cepat Ana mencium sudut bibir Abimayu.
Cup
Ana berhasil mnciumnya tanpa sempat Abimayu menahannya.
"Ana...! ucap Abimayu dengan suara sedikit kuat karena terkejut dengan apa yang dilakukan Ana kepadanya.
" Itu adalah ciuman untuk membuat aku semangat bekerja hari ini." Ana berkata sambil berjalan pergi meninggalkan Abimayu yang masih berdiri di tempatnya.
Sedangkan Abimayu melihat tajam ke arahnya yang berjalan, karena saat ini Abimayu bisa melihat setiap lekuk tubuh Ana yang dibalut dres selutut yang di pakainya, dan dia tidak bisa membayangkan, bagaimana jika lelaki di luar sana melihat penampilan Ana.