Abizar dan Annisa menikah atas dasar perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Ayah Abizar sengaja menikahkan Abi dengan wanita pilihannya agar Abizar bisa berubah.
Setelah menikah, Abizar diminta sang ayah untuk mandiri. Bahkan orang tuanya memutus semua fasilitas yang pernah mereka berikan agar Abi tidak bermalas-malasan lagi. Annisa menerima pernikahan tersebut dengan ikhlas, walau suaminya jatuh miskin.
Bagaimana cara Abi untuk bertahan hidup bersama istrinya? Akankah tumbuh perasaan cinta di antara Abi dan Nisa seiring berjalannya waktu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirwana Asri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membantu suami
"Bapak?" Abizar menyalami tangan ayah mertuanya.
Hanafi, ayah Annisa hari ini datang berkunjung. Hanafi tersenyum. "Apa kabar Abi?" tanya Pak Hanafi.
"Saya baik, Pak. Bapak dari kapan? Kok Annisa tidak bilang?" tanya Abizar.
"Baru saja datang. Maaf bapak sangat merindukan anak bungsu bapak sehingga bapak menyusulnya kemari," ucapnya sambil terkekeh.
"Ah, tidak masalah, Pak. Saya justru merasa tidak enak karena tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk Annisa," ucap Abizar dengan rasa bersalah.
Tak lama kemudian Annisa keluar. Dia yang mendengar suara suaminya pulang langsung membuatkan teh hangat untuknya. "Bapak, Mas Abi kenapa berdiri? Ayo duduk!" pinta Annisa.
Kedua lelaki beda generasi itu pun sama-sama duduk. Jantung Abizar berpacu sedikit kencang. Dia takut mendapatkan pertanyaan dari ayah mertuanya yang tidak bisa dia jawab.
"Mas tehnya kok nggak diminum? Kalau kurang manis lihat aku saja," goda Annisa.
Hanafi tertawa. Abizar merasa malu. "Mari, Pak." Abizar menawari ayah mertuanya minum sebelum dia meneguk teh buatan istrinya.
"Annisa, bapak harus pamit. Lagi pula hari sudah petang," ucap Pak Hanafi. Ada perasaan lega di hati Abizar. Dia tidak perlu mendapatkan pertanyaan yang aneh-aneh dari ayah mertuanya.
"Kok buru-buru, Pak?" tanya Annisa.
"Iya, lain kali bapak ajak ibu ke sini," ucapnya sebelum pergi.
"Hati-hati di jalan, Pak," pesan Abi pada ayah mertuanya. Setelah itu Pak Hanafi menaiki mobil untuk kembali ke rumah.
"Annisa, bapak nanya-nanya nggak soal Mas?" tanya Abi. Annisa mengerutkan kening.
"Nanya," jawab Annisa.
"Nanya apa saja?" Abizar sangat penasaran.
Annisa tersenyum. "Mas Abi nggak ganti baju dulu gitu. Bersih-bersih lalu makan. Aku sudah masak untuk Mas Abi."
Mendengar kata masakan, Abi pun mengurungkan niatnya untuk menunggu jawaban Annisa. Perutnya tidak bisa diajak kompromi. Dia sangat lapar setelah bekerja seharian.
Abizar sangat menikmati masakan Annisa. Dia seperti memakan masakan ibunya. Mendadak Abizar berhenti mengunyah. Annisa yang sejak tadi memperhatikan suaminya jadi merasa bingung.
"Apa rasa masakannya tidak enak, Mas?" tanya Annisa. Abizar menggeleng.
"Makan masakan kamu rasanya seperti buatan mamaku," jawab Abizar. Annisa tersenyum.
"Bagaimana kalau besok kita berkunjung ke rumah mama?" usul Annisa. Abizar jadi tersedak.
Annisa segera memberikan air minum pada suaminya. "Pelan-pelan, Mas."
"Tidak usah, kita tidak usah ke sana. Maksud aku besok kan aku harus kerja jadi tidak ada waktu untuk pergi ke rumah mama."
Sebenarnya Abizar hanya tidak ingin Zidan menanyakan banyak hal. Membayangkannya saja ngeri. Kalau sampai Zidan tahu Abizar bekerja sebagai kuli panggul di pasar, dia bisa kehilangan muka. Lebih baik dia mengubur diri, pikir Abizar.
Usai menghabiskan makan malamnya, Abizar masuk ke dalam kamar. Kali ini dia tidak bisa tidur. Abizar hanya membolak-balikkan badan karena merasa tidak nyaman. "Kenapa aku tidak bisa tidur ya?" Dia pun memutuskan beranjak dari tempat tidurnya.
Ketika laki-laki itu lewat di depan kamar Annisa, dia tak sengaja melihat istrinya yang tertidur pulas. Abizar sengaja berhenti dan berlama-lama menatap sang istri di ambang pintu.
Tanpa diduga, Annisa tiba-tiba membuka mata. Abizar pun kaget. "Maaf, aku hanya ingin menutup pintumu. Tadi terbuka takut anginnya masuk," ucapnya memberi alasan. Setelah itu dia pergi.
Annisa mengulas senyum. "Mas Abi, Mas Abi. Padahal kalau mau masuk juga nggak apa-apa," gumam Annisa sambil menyembunyikan wajahnya di bawah selimut.
Keesokan harinya, Abizar merasa canggung saat bertemu Annisa. "Mas mau berangkat sekarang." Abizar cepat-cepat menghindar untuk menutupi rasa malunya.
"Hati-hati di jalan, Mas." Abi terlalu terburu-buru hingga sang istri tak sempat mencium tangan Abi.
Annisa sebenarnya penasaran dengan pekerjaan suaminya. Dia pun mengikuti Abi secara diam-diam. Annisa merasa aneh ketika Abizar berganti pakaian.
"Mas Abi kok pakai kaos oblong?" gumam Annisa. Lalu wanita itu mengikuti langkah suaminya secara mengendap-endap.
Betapa terkejutnya dia ketika Abi mengangkat karung yang sangat besar dari atas truk. Annisa meneteskan air mata. "Mas Abi." Dia menyebut nama Abi dengan lirih. Karena tak tahan melihat suaminya bekerja keras, Annisa pun pulang ke rumah.
Sepanjang perjalan dia menahan tangis. Dadanya terasa sesak karena melihat suaminya yang menjadi pekerja kasar. Annisa menganggap begitu besar pengorbanan Abi untuknya. Dia pun tidak mau menjadi beban hidup suaminya. Annisa berpikir untuk bekerja.
Sesampainya di rumah, Annisa mengambil uang kemudian kembali ke pasar. Dia akan berbelanja buah karena dia ingin berjualan es jus di depan rumahnya.
Dari kejauhan Annisa melihat Abizar. Karena dia tak ingin suaminya merasa minder Annisa memilih jalan lain untuk sampai di penjual buah. Berbekal uang dari ibu mertuanya, dia bisa membuka usaha warung es kecil-kecilan di depan rumah.
Annisa juga membeli blender dan beberapa cup plastik serta bahan-bahan lainnya untuk berjualan. "Bismillah, semoga niat hamba membantu suami hamba bisa Engkau ridhoi Ya Allah," gumam Annisa seraya berjalan keluar dari pasar.
Sesampainya di rumah Bu Rohmah yang berpapasan dengan Annisa pun menegurnya. "Eh Mbak Annisa borong belanjaan ya?"
"Iya, Bu. Hari ini saya mau jualan es jus dan es buah. Banti jangan lupa dibeli ya, Bu," ucap Annisa.
"Wah seger tuh. Pasti mbak, nanti kalau sudah buka pasti saya borong," balas Bu Rohmah.
"Ibu kok udah rapi mau pergi ya, Bu?" tanya Annisa.
"Iya, Mbak. Saya mau ke kondangan saudara. Nanti kalau ada makanan lebih saya bawain buat Mbak Annisa."
"Ah, nggak usah repot-repot, Bu," tolak Annisa yang merasa tidak enak.
"Nggak apa-apa. Gantian saya yang ngasih Mbak Annisa. Kalau begitu saya jalan dulu ya, Mbak," pamit Bu Rohmah.
"Iya, Bu. Hati-hati di jalan."
Setelah itu Annisa menata tempat berjualan. Mulai dari buah, blender dan gelas-gelas plastik yang akan dia gunakan untuk berjualan.
Setelah selesai menata tempat jualannya Annisa berteriak memanggil calon pembeli. "Silakan yang mau beli es jus. Promo hari pertama buka beli satu gratis satu," teriak Annisa.
Orang-orang pun berdatangan ke lapak dagangannya. Annisa sampai kewalahan membuat jus buah pesanan pembeli.
Tak sampai sore semua dagangannya telah habis terjual. "Mbak, besok beli satu gratis stu lagi nggak?" goda ibu-ibu yang telah merasakan jus buah buatan Annisa.
"Wah jangan dong, Bu. Besok harga normal ya," jawab Annisa.
"Yaa..."
Tak lama kemudian Abi pulang bekerja. "Nisa, kamu lagi ngapain?" tanya Abi. Dia heran melihat meja yang ada di depan rumah kontrakannya.
Wah Mas Abi pasti bangga banget ya punya istri seperti Annisa.
sampe sini aku gk tela klo bsi annisanya berakhir nikah sm laki² lain,,gk tau knpa tp gk suka aj,,klo suaminya baik trus meninggal dn istri nikah lg atau sebaliknya 😁😁