NovelToon NovelToon
Setahun Menjadi Pelayan Tuan Muda

Setahun Menjadi Pelayan Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Lari Saat Hamil / Teen Angst / Mafia / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:42k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden. Kedekatan yang terlarang tumbuh diam-diam, lalu hancur oleh fitnah dan kebencian.

Tanpa penjelasan, Arka mengusir Alana. Saat ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.

Alana pergi membawa luka dan rahasia. Namun takdir mempertemukannya kembali dengan Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.

Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tujuh Belas

Malam telah menjelang, lampu-lampu telah menyala satu per satu, menggantikan cahaya senja yang perlahan memudar di balik jendela besar.

Alana sibuk di dapur. Dia sedang memasak sup ayam kampung untuk Arka. Setelah masak, gadis itu lalu memasukan ke dalam mangkok.

Alana berjalan menyusuri lorong lantai atas sambil membawa nampan kecil. Di atasnya, sepiring nasi hangat, semangkuk sup ayam kampung bening dengan potongan wortel dan kentang, serta segelas air putih. Tangannya mantap, tapi hatinya tidak sepenuhnya tenang.

Saat membuka pintu kamar Arka, ia langsung menyadari satu hal. Wajah pria itu tidak sepucat pagi tadi.

Masih terlihat lelah, tentu saja. Lingkar hitam di bawah matanya belum hilang, dan gerakannya masih lebih lambat dari biasanya. Tapi wajah pucat yang membuat Alana panik pagi tadi sudah berkurang. Ada sedikit rona hidup di wajah Arka sekarang.

Aneh juga, batinnya tanpa sadar. Melihat pria sekuat dia bisa sakit begini.

Arka bersandar di kepala ranjang, mengenakan kaus hitam tipis. Rambutnya masih sedikit berantakan, tapi sorot matanya lebih fokus. Begitu Alana masuk, ia melirik sekilas, lalu kembali memejamkan mata.

“Makan malam,” ucap Alana pelan sambil melangkah mendekat.

Arka membuka mata. “Taruh saja.”

Alana menggeleng kecil. Tanpa bertanya, ia menarik kursi ke sisi ranjang dan duduk. Tangannya meraih sendok, menyendok nasi dan sedikit kuah sup.

Refleks. Ia bahkan tidak sempat berpikir kenapa ia melakukannya. Sendok itu ia arahkan ke Arka.

Pria itu terdiam sejenak, menatap sendok di depannya. Alisnya sedikit berkerut, tapi bukan penolakan. Hanya keterkejutan kecil yang cepat berlalu. Ia membuka mulut dan menerima suapan itu begitu saja.

Tanpa komentar dan tak keberatan. Alana menahan napasnya sendiri.

Alana melanjutkan. Suapan demi suapan, pelan, teratur. Arka makan dengan tenang. Tidak tergesa, tidak juga canggung. Seolah ini adalah sesuatu yang wajar.

Alana sedang menyuapi pria yang selama ini dikenal dingin, berbahaya, dan nyaris tak tersentuh oleh siapa pun. Pria yang namanya cukup untuk membuat banyak orang menunduk atau gemetar. Tapi sekarang, ia duduk di sisi ranjangnya, memastikan makan malamnya habis.

“Supnya enak banget,” ucap Arka tiba-tiba.

Alana sedikit tersentak. “Ah … iya? Saya buat sederhana saja.”

“Justru itu,” jawab Arka singkat.

Kalimatnya menggantung, tapi entah kenapa terasa penuh makna.

Setelah makanan habis, Alana membereskan mangkuk dan piring ke atas nampan. Ia berdiri, bersiap pergi. “Saya bawa ini ke dapur dulu, Tuan.”

Arka mengangguk. Lalu, tepat saat Alana berbalik, suara Arka menghentikannya.

“Alana.” Gadis itu menoleh.

“Nanti setelah meletakkan piring ke dapur,” lanjut Arka dengan suara lebih rendah, “kamu kembali lagi.”

Alana terdiam. “Ada yang bisa saya bantu lagi?”

Arka menatapnya beberapa detik, lalu berkata, “Temani aku.”

Satu kalimat pendek. Tapi cukup untuk membuat dada Alana menghangat sekaligus menegang.

“Kamu minta Bi Marni saja yang menemani Revan malam ini,” tambah Arka, nada suaranya tetap tenang. Seolah itu keputusan yang sudah dipikirkannya.

Alana mengangguk pelan. “Baik.”

Ia keluar kamar dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Revan sudah setengah mengantuk ketika Alana menemuinya di ruang keluarga. Bocah itu duduk di sofa, mainannya sudah tergeletak begitu saja di lantai.

“Mbak mau ke mana?” tanya Revan sambil mengucek mata.

“Mbak mau nemenin Om Arka,” jawab Alana lembut. “Malam ini Revan sama Bi Marni dulu, ya.”

Revan mengangguk tanpa banyak tanya. “Om Arka sakit?”

“Iya, tapi sudah lebih baik.”

“Besok Om Arka bisa main sama aku?”

Alana tersenyum. “Kalau Om Arka sudah sembuh, pasti.”

Bi Marni datang dan mengajak Revan ke kamar. Setelah memastikan semuanya beres, Alana kembali melangkah ke lantai atas.

Langkahnya kali ini terasa berbeda. Bukan berat karena cemas. Tapi karena gugup.

Arka masih di posisi yang sama ketika Alana masuk kembali. Lampu kamar diredupkan, hanya lampu tidur di sisi ranjang yang menyala.

“Duduk,” ujar Arka.

Alana menurut. Ia duduk di kursi yang sama seperti sebelumnya. Hening kembali mengisi ruangan.

“Kamu capek?” tanya Arka tiba-tiba.

Alana sedikit terkejut. “Tidak, biasa saja.”

Arka mengamati wajahnya cukup lama. Terlalu lama untuk ukuran Arka yang biasanya tidak suka berlama-lama memperhatikan siapa pun.

“Kamu seharian di dapur, ngurus Revan, lalu bolak-balik ke sini,” ucap Arka. “Itu capek.”

Alana tersenyum kecil. “Saya tidak keberatan.”

Arka terdiam. Lalu, tanpa peringatan, ia berkata, “Naiklah ke ranjang.”

Jantung Alana seperti berhenti satu detik. “Apa?” suaranya nyaris berbisik.

“Naik,” ulang Arka, nada suaranya tetap datar. Tidak memaksa. Tidak juga bercanda.

Alana menelan ludah. Pikirannya langsung berlari ke mana-mana. Ini kamar Arka. Ranjang Arka. Mereka memang suami istri secara hukum, tapi ini belum pernah terjadi.

Arka menyadari reaksinya. Ia menghela napas pelan. “Aku tidak minta yang lain, hanya menemani tidur.”

Alana menatapnya. Lidahnya terasa kelu. Tak tahu harus berkata apa.

“Aku cuma tidak ingin sendirian malam ini,” lanjut Arka. Suaranya sedikit lebih rendah, lebih pelan. Ada sesuatu di sana yang jarang terdengar, kejujuran tanpa pelindung.

“Temani aku malam ini.”

Kalimat itu membuat Alana terdiam lama. Dia bukan takut. Bukan juga menolak. Ia hanya tidak siap menyadari betapa dekat jarak mereka sekarang.

Dengan gerakan ragu, Alana akhirnya melepas sandal rumahnya dan naik ke ranjang, menjaga jarak. Ia berbaring kaku di sisi lain, tubuhnya tegang. Jantungnya berdebar terlalu cepat.

Alana mencoba memejamkan mata, berusaha bernapas normal. Tenang, Alana. Dia hanya minta ditemani. Tidur saja.

Namun tidur tidak datang dengan mudah. Dia bisa merasakan kehadiran Arka di sisinya. Napas pria itu teratur, hangat. Terlalu dekat untuk diabaikan.

Entah berapa lama ia terjaga, mencoba mengatur pikirannya sendiri, sampai akhirnya kelelahan menariknya ke dalam tidur tanpa ia sadari.

Malam masih gelap ketika Alana terbangun. Kesadarannya datang perlahan, diiringi perasaan aneh, hangat, aman dan berat di satu sisi tubuhnya. Dia membuka mata dan membeku.

Lengannya terjebak. Tubuhnya tidak lagi berjarak. Ia kini berada dalam pelukan Arka. Lengan pria itu melingkar di pinggangnya, menahan seolah refleks. Dada Arka naik turun tepat di belakang punggungnya. Napasnya menyentuh rambut Alana.

Hangat. Nyata. Alana nyaris tidak berani bernapas. "Sejak kapan …?" tanyanya dalam hati.

Ia tidak ingat kapan Arka bergerak. Tidak ingat kapan jarak itu menghilang. Yang ia tahu, tubuhnya sekarang seolah pas berada di sana.

Perlahan, Arka bergerak sedikit. Tangannya mengencang sepersekian detik, seolah memastikan sesuatu masih ada di sana. Lalu kembali rileks.

Alana memejamkan mata lagi, jantungnya berdegup keras. Ada perasaan asing yang menjalar.

Dan di tengah malam itu, tanpa janji dan tanpa kata-kata, batas yang selama ini mereka jaga mulai retak, tanpa satu pun dari mereka benar-benar menyadarinya.

 

1
ElHi
semogaaa si Revan tantrum sampe sakit mikirin Alana biar keluarga sombong itu tau rasa!!! cerai aja Alana...sama Rafael ajaah...*)ngarep mode on
Tiara Bella
si Arkan kemana dia sampe gk tw klu Alana diusir sm mmhnya dia.....
Patrick Khan
emak arka jahat bgt . 🔥
muhammad ihsan
jangan pisahkan alana dan arka thor
Maria Kibtiyah
semoga si arka tau alana di usir emaknya
Suanti
semoga aja berjodoh sm rafael
alana tinggal gugat cerai aja sm arka
alana jgn mau plg ke rmh arka walaupun di jemput 🤭
astr.id_est 🌻
mewek 😢
astr.id_est 🌻
alana yang malang
Kasih Bonda
next Thor semangat
Ida Nur Hidayati
semoga Alana ditolong orang baik dan iklas
Cindy
lanjut kak
Radya Arynda
Dasar wanita somboh,angkuh dan jahat,,,,saat revan sudah mulai bahagia malah alana di usir,,,,si pecu dang arka juga habis merkosa peegi dasar iblis,,,,semogah revan sakit parah biar nenek sihir tau rasa....
dyah EkaPratiwi
ditunggu tantrumnya Revan biar arka n mama Ratna pusing
Oma Gavin
rasakan kamu arka dan ratna Revan tantrum ditinggal alana
Salim ah
semoga yg menolong Alana Rafael dan dibawa kerumahnya🙄
Patrick Khan
pasti Rafael itu..
Ilfa Yarni
siapa yg menolong Alana apakah rafael
Radya Arynda
semogah kamu di tolong orang baik,,dan mau merubah mu lebih kuat dan berani jangan lembek lagi
Valen Angelina
alama hamil anak arka...tapi giliran rafael yg jaga wkkwwkkw....biar impaskan 🤣🤣🤣
MomRea
Rafael yg nolong, tapi jodohnya tetap Arka ya Thor 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!