NovelToon NovelToon
Setahun Menjadi Pelayan Tuan Muda

Setahun Menjadi Pelayan Tuan Muda

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Ibu Tiri / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:250.2k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden. Dia juga menjadi pengasuh dari ponakan Arka, anak dari Rafael.

Beberapa bulan kemudian Arka memutuskan untuk menikahi Alana hanya untuk melindunginya dari perjodohan orang tuanya.

Tanpa penjelasan Alana diusir oleh orang tua Arka. Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.

Alana memutuskan selamanya pergi dari hidup Arka. Akhirnya dia kembali ke rumah Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.

Setahun kemudian, Alana memutuskan menikah dengan Rafael yang merupakan mantan abang iparnya Arka. Bagaimana perasaan Arka, dan apa yang akan terjadi selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tujuh Belas

Malam telah menjelang, lampu-lampu telah menyala satu per satu, menggantikan cahaya senja yang perlahan memudar di balik jendela besar.

Alana sibuk di dapur. Dia sedang memasak sup ayam kampung untuk Arka. Setelah masak, gadis itu lalu memasukan ke dalam mangkok.

Alana berjalan menyusuri lorong lantai atas sambil membawa nampan kecil. Di atasnya, sepiring nasi hangat, semangkuk sup ayam kampung bening dengan potongan wortel dan kentang, serta segelas air putih. Tangannya mantap, tapi hatinya tidak sepenuhnya tenang.

Saat membuka pintu kamar Arka, ia langsung menyadari satu hal. Wajah pria itu tidak sepucat pagi tadi.

Masih terlihat lelah, tentu saja. Lingkar hitam di bawah matanya belum hilang, dan gerakannya masih lebih lambat dari biasanya. Tapi wajah pucat yang membuat Alana panik pagi tadi sudah berkurang. Ada sedikit rona hidup di wajah Arka sekarang.

Aneh juga, batinnya tanpa sadar. Melihat pria sekuat dia bisa sakit begini.

Arka bersandar di kepala ranjang, mengenakan kaus hitam tipis. Rambutnya masih sedikit berantakan, tapi sorot matanya lebih fokus. Begitu Alana masuk, ia melirik sekilas, lalu kembali memejamkan mata.

“Makan malam,” ucap Alana pelan sambil melangkah mendekat.

Arka membuka mata. “Taruh saja.”

Alana menggeleng kecil. Tanpa bertanya, ia menarik kursi ke sisi ranjang dan duduk. Tangannya meraih sendok, menyendok nasi dan sedikit kuah sup.

Refleks. Ia bahkan tidak sempat berpikir kenapa ia melakukannya. Sendok itu ia arahkan ke Arka.

Pria itu terdiam sejenak, menatap sendok di depannya. Alisnya sedikit berkerut, tapi bukan penolakan. Hanya keterkejutan kecil yang cepat berlalu. Ia membuka mulut dan menerima suapan itu begitu saja.

Tanpa komentar dan tak keberatan. Alana menahan napasnya sendiri.

Alana melanjutkan. Suapan demi suapan, pelan, teratur. Arka makan dengan tenang. Tidak tergesa, tidak juga canggung. Seolah ini adalah sesuatu yang wajar.

Alana sedang menyuapi pria yang selama ini dikenal dingin, berbahaya, dan nyaris tak tersentuh oleh siapa pun. Pria yang namanya cukup untuk membuat banyak orang menunduk atau gemetar. Tapi sekarang, ia duduk di sisi ranjangnya, memastikan makan malamnya habis.

“Supnya enak banget,” ucap Arka tiba-tiba.

Alana sedikit tersentak. “Ah … iya? Saya buat sederhana saja.”

“Justru itu,” jawab Arka singkat.

Kalimatnya menggantung, tapi entah kenapa terasa penuh makna.

Setelah makanan habis, Alana membereskan mangkuk dan piring ke atas nampan. Ia berdiri, bersiap pergi. “Saya bawa ini ke dapur dulu, Tuan.”

Arka mengangguk. Lalu, tepat saat Alana berbalik, suara Arka menghentikannya.

“Alana.” Gadis itu menoleh.

“Nanti setelah meletakkan piring ke dapur,” lanjut Arka dengan suara lebih rendah, “kamu kembali lagi.”

Alana terdiam. “Ada yang bisa saya bantu lagi?”

Arka menatapnya beberapa detik, lalu berkata, “Temani aku.”

Satu kalimat pendek. Tapi cukup untuk membuat dada Alana menghangat sekaligus menegang.

“Kamu minta Bi Marni saja yang menemani Revan malam ini,” tambah Arka, nada suaranya tetap tenang. Seolah itu keputusan yang sudah dipikirkannya.

Alana mengangguk pelan. “Baik.”

Ia keluar kamar dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Revan sudah setengah mengantuk ketika Alana menemuinya di ruang keluarga. Bocah itu duduk di sofa, mainannya sudah tergeletak begitu saja di lantai.

“Mbak mau ke mana?” tanya Revan sambil mengucek mata.

“Mbak mau nemenin Om Arka,” jawab Alana lembut. “Malam ini Revan sama Bi Marni dulu, ya.”

Revan mengangguk tanpa banyak tanya. “Om Arka sakit?”

“Iya, tapi sudah lebih baik.”

“Besok Om Arka bisa main sama aku?”

Alana tersenyum. “Kalau Om Arka sudah sembuh, pasti.”

Bi Marni datang dan mengajak Revan ke kamar. Setelah memastikan semuanya beres, Alana kembali melangkah ke lantai atas.

Langkahnya kali ini terasa berbeda. Bukan berat karena cemas. Tapi karena gugup.

Arka masih di posisi yang sama ketika Alana masuk kembali. Lampu kamar diredupkan, hanya lampu tidur di sisi ranjang yang menyala.

“Duduk,” ujar Arka.

Alana menurut. Ia duduk di kursi yang sama seperti sebelumnya. Hening kembali mengisi ruangan.

“Kamu capek?” tanya Arka tiba-tiba.

Alana sedikit terkejut. “Tidak, biasa saja.”

Arka mengamati wajahnya cukup lama. Terlalu lama untuk ukuran Arka yang biasanya tidak suka berlama-lama memperhatikan siapa pun.

“Kamu seharian di dapur, ngurus Revan, lalu bolak-balik ke sini,” ucap Arka. “Itu capek.”

Alana tersenyum kecil. “Saya tidak keberatan.”

Arka terdiam. Lalu, tanpa peringatan, ia berkata, “Naiklah ke ranjang.”

Jantung Alana seperti berhenti satu detik. “Apa?” suaranya nyaris berbisik.

“Naik,” ulang Arka, nada suaranya tetap datar. Tidak memaksa. Tidak juga bercanda.

Alana menelan ludah. Pikirannya langsung berlari ke mana-mana. Ini kamar Arka. Ranjang Arka. Mereka memang suami istri secara hukum, tapi ini belum pernah terjadi.

Arka menyadari reaksinya. Ia menghela napas pelan. “Aku tidak minta yang lain, hanya menemani tidur.”

Alana menatapnya. Lidahnya terasa kelu. Tak tahu harus berkata apa.

“Aku cuma tidak ingin sendirian malam ini,” lanjut Arka. Suaranya sedikit lebih rendah, lebih pelan. Ada sesuatu di sana yang jarang terdengar, kejujuran tanpa pelindung.

“Temani aku malam ini.”

Kalimat itu membuat Alana terdiam lama. Dia bukan takut. Bukan juga menolak. Ia hanya tidak siap menyadari betapa dekat jarak mereka sekarang.

Dengan gerakan ragu, Alana akhirnya melepas sandal rumahnya dan naik ke ranjang, menjaga jarak. Ia berbaring kaku di sisi lain, tubuhnya tegang. Jantungnya berdebar terlalu cepat.

Alana mencoba memejamkan mata, berusaha bernapas normal. Tenang, Alana. Dia hanya minta ditemani. Tidur saja.

Namun tidur tidak datang dengan mudah. Dia bisa merasakan kehadiran Arka di sisinya. Napas pria itu teratur, hangat. Terlalu dekat untuk diabaikan.

Entah berapa lama ia terjaga, mencoba mengatur pikirannya sendiri, sampai akhirnya kelelahan menariknya ke dalam tidur tanpa ia sadari.

Malam masih gelap ketika Alana terbangun. Kesadarannya datang perlahan, diiringi perasaan aneh, hangat, aman dan berat di satu sisi tubuhnya. Dia membuka mata dan membeku.

Lengannya terjebak. Tubuhnya tidak lagi berjarak. Ia kini berada dalam pelukan Arka. Lengan pria itu melingkar di pinggangnya, menahan seolah refleks. Dada Arka naik turun tepat di belakang punggungnya. Napasnya menyentuh rambut Alana.

Hangat. Nyata. Alana nyaris tidak berani bernapas. "Sejak kapan …?" tanyanya dalam hati.

Ia tidak ingat kapan Arka bergerak. Tidak ingat kapan jarak itu menghilang. Yang ia tahu, tubuhnya sekarang seolah pas berada di sana.

Perlahan, Arka bergerak sedikit. Tangannya mengencang sepersekian detik, seolah memastikan sesuatu masih ada di sana. Lalu kembali rileks.

Alana memejamkan mata lagi, jantungnya berdegup keras. Ada perasaan asing yang menjalar.

Dan di tengah malam itu, tanpa janji dan tanpa kata-kata, batas yang selama ini mereka jaga mulai retak, tanpa satu pun dari mereka benar-benar menyadarinya.

 

1
Ana Akhwat
Ceritanya bagus banget mom's...saya suka,saya suka saya sukaaàaaaaa😍
Kar Genjreng
🥺🥺tak pikir Revan benar ortunya koid
masih seger gift mungkin batangan nya yang koid,,, jadi mungkinkah mama Revan kekasih Om nya tetapi hamil dengan Daddy nya haha
Kar Genjreng
😩😩mafia semoga bukan menjadi lemah keberadaan nya Alana tetapi menambah kehangatan di keluarga yang selama ini
anyeb adem
Kar Genjreng
walaupun ketemu pria kaku bahkan dingin mirip kulkas 10 pintu. tetapi bershukur karena masih ada yang perduli.ya biarpun dengan cara bikin hampir kecelakaan,
Kar Genjreng
bagus ceritanya
Kar Genjreng
mamapir mama Reni
Omah Tien
sk dr pd balik sm yg dl pertua jht
Omah Tien
di sini crt nya cw cwo nya sm2 bodoh
Omah Tien
lalau blk lg meding g bc malas
Omah Tien
lagin laki2 g ada pendirian blg sdh kawin tegas biar sm orang tua ini litoi
Omah Tien
cw nya terlalu lemah tau nya cm nagis
Ila Lee
Alhamdulillah jika Alana hamil lagi revan dan tristan akan punya seronok punya anak ramai ❤️❤️❤️❤️❤️
Ila Lee
akhirnya arka menurut kata ya refael betul2 mantap
Ila Lee
baru sekarang dulu kemna mak lampir ketua bertapa🤣🤣🤣🤣
Ila Lee
wahdu ini mak lampir dtg2 marah 2 beri lah salam dulu tak sopan takda adap sudah tua peragai MCM setan😈😈😈
Ila Lee
arka nasi sudah menjadi bubur dulu kau buang mereka jadi sekarang jgn MCM orang gila jantan bodoh 😡😡😡
Ila Lee
Alhamdulillah refael benar 2 mencintai dan memanja kn isteri tercinta ❤️ Alana
Ila Lee
jika
jika mahu mati cuba lah arka ganggu keluarga refael
Ila Lee
buat lh DNA jangan harap kau boleh merebut tristan siapa daddy nya sekarang refael bukan kaling2 woi
Ila Lee
arka kamu gila ya revan itu anak kandung refael bodoh jangan harap Alana akan mempertahan tirstan kerana dulu secubit wang ni tidak pernah mengganggu Alana dan anak dalam kandung waktu aleh2 mahu mengaku tak malu atau rumah tak punya cermin 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!