NovelToon NovelToon
SUAMI PILIHAN PAPA

SUAMI PILIHAN PAPA

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Rahmania Hasan

Naura adalah putri semata wayang pak Malik, memiliki paras yang cantik, dia tumbuh tampa merasakan kasih sayang seorang ibu. Pak Malik yang khawatir dengan hidup putrinya kelak ketika dia sudah tiada lagi dunia ini, meminta teman lamanya ketika mereka menuntut ilmu di pesantren dulu.
Pilihannya jatuh pada sosok pria sederhana, namanya Hasan. Pria itu sebenarnya tidak pendiam tapi dunia mereka yang berbeda membuat mereka tidak mudah untuk saling dekat.
Perasaan itu mulai tumbuh diantara keduanya tapi tidak ada yang berani memulai. Sampai akhirnya Naura tak bisa lagi menahan perasaannya, dia mencoba mengambil inisiatif dan terus berupaya memberikan signal - signal cinta. Namun Hasan yang ragu dan takut salah mengartikan isyarat itu justru menghindar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

CAPTER 8

AKAD NIKAH

Mata dan kepala Hasan terasa berat karena tidak bisa tidur. Begitu adzan subuh terdengar dia langsung ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan menunaikan shalat. Air matanya terjatuh tak kala memanjatkan do’a dan mencurahkan segala kegundahan hatinya. Untuk mengusir kegundahan hatinya itu, dia membuka Qur’an dan mengaji dengan lantunan irama nahawan yang indah didengar. Kekhusyukannya membuat dirinya lupa waktu dan tak terasa pagi sudah mulai terang.

Tidak mendengar suara tiga kunyuk, dia keluar kamar dan membangunkan mereka yang masih tertidur pulas. Cukup lama membangunkan  akhirnya terdengar suara dari dalam. Setelah memastikan mereka terbangun, Hasan kembali masuk kamar untuk meletakkan Qur’an yang dia pegang.

Untuk menyibukkan diri sembari menunggu jam, dia memutuskan untuk jalan-jalan disekitar komplek perumahan. Cukup lama dia tidak melakukan kegiatan itu lagi semenjak kegiatannya semakin padat. Karena biasanya setelah sholat subuh dia memilih untuk kembali tidur, itung-itung untuk mengisi baterai agar tidak ngedrop waktu menyampaikan materi di kampus.

“Lho mas Hasan...tumben jalan pagi Mas?.” sapa seorang bapak yang rumahnya

berhadapan.

“Iya Pak lagi nyantai soalnya.”

Keduanya pun jalan kaki bersama mengelili komplek perumahan, beberapa orang juga menyapa Hasan bahkan ada yang memanggilnya dengan sebutan pak ustad. Mungkin karena penampilan Hasan berbeda. Hasan yang memakai baju koko lengkap dengan sarungnya terlihat kontras dengan mereka yang berpakaian olahraga. Karena Hasan sebenarnya tidak berniat olahraga, jadi dia cuek dengan penampilannya itu. Niatnya tak lebih untuk mengusir kejenuhan dan kegundahan hati. Siapa tahu setelah jalan pagi dengan menghirup udara segar, pikiran dan badannya juga kembali segar.

“Ngomong-ngomong mas Hasan udah punya calon belum?.” tanya si bapak mencurigakan.

Sambil tersipu malu Hasan menjawab pertanyaannya, “Iya pak sudah ada.”

“Kok bapak nggak pernah lihat mas Hasan bawa calonnya kerumah?.” kembali bertanya.

“Iya Pak soalnya belum resmi...jadi nggak enak dilihatin sama tetangga kalau dibawa main kerumah.” Jawab Hasan dengan sopan.

“Jarang-jarang ya anak jaman sekarang yang kayak mas Hasan.” Sanjung si Bapak.

Pagi sudah semakin cerah dan jam menunjukkan angka 05.30 WIB, dirumah Hasan tiga kunyuk tengah berdandan serapi mungkin dengan gantian menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Hasan sama sekali tidak heran apalagi kaget dengan tingkah mereka yang sedikit keluar dari kata normal. Dan karena alasan itu dia memanggilnya kunyuk, terkadang juga memanggil mereka bocah gendeng. Meski mendapat sematan seperti itu ketiganya tidak pernah tersinggung. Mereka bahkan menikmatinya dan mungkin memanggapnya sebagai gelar kebesaran.

“Dari mana Mas...aku intip kekamarnya kok kosong?.” seru Ilham

“Nggak sopan banget ngintipin kamar orang.” Ujar Hasan.

“Yee siapa suruh pintu kamarnya ditutup separuh.” Membela diri

“Dari mana Mas?.” tanya Ilyas juga.

“Habis jalan pagi bentar ” Jawab Hasan.

“Ohh...pemanasan nih ceritanya! ” Celoteh Andik memancing tawa kedua temannya.

“Apa sih pagi – pagi udah ngeres pikirannya!.” Semprot Hasan

“Hehehe.. soalnya aroma kemanten baru udah tercium.” Goda Andik yang kembali membuat kedua temannya tertawa.

Tak ingin menjadi bulan – bulanan mereka, Hasan segera kembali ke kamar. Setelah melihat jam di layar handphonenya, dia mengambil handuk dan menuju kamar mandi untuk bersiap diri.

Sementara itu dilain tempat, pak Malik sudah memerintahkan supir untuk mengantar seorang perias kerumah Hasan dan sekaligus menjemputnya. Begitu mendapat perintah,pak sopir langsung membawa mobil van warna hitam melaju dijalanan yang lumayan lengang.

Mungkin sekitar setengah jam lamanya mobil hitam itu pun tiba dirumah Hasan. Pak supir dan seorang perias wanita segera turun dan berjalan menuju teras rumah. Sambil mengetok pintu pak supir mengucapkan salam. Mendengar suara ketukan pintuk Andik bergegas untuk membukanya.

“Assalamualaikum ”

“Walaikumussalam...cari siapa Pak?.” tanya Andik.

“Maaf kami diminta pak Malik buat datang kesini...jemput pengantin prianya.” Pak Supir menerangkan.

“Ohhh.. silahkan masuk Pak...orangnya lagi mandi." Sambil mempersilahkan keduanya masuk.

Andik lalu memberitahu Hasan kalau jemputan sudah datang, mendengar itu Hasan mempercepat mandinya. Setelah selesai mandi Hasan langsung menghampiri mereka yang duduk diruang tamu.

“Mas Hasan ya?.” tanya perias wanita.

“Iya...Mba-nya siapa? ” tanya balik.

“Saya perias Mas...bisa saya rias sekarang...soanya jam 7 udah harus disana." Pintanya.

“Ohhh...tunggu bentar ya.” Ujar Hasan dan kembali ke kamar.

Beberapa detik kemudian Hasan kembali dan mengambil posisi duduk didekat parias itu. Setelah menyiapkan peralatan make up, dia mulai membersihkan wajah Hasan sebelum wajah itu akan dipoles sedikit.

“Emang cowok juga didandanin ya Mba?!.” tanya Hasan pelan.

“Iya Mas...tipis tipis aja." Jawabnya dengan sopan.

Setelah selesai merias, wanita itu memintanya untuk mengganti pakaian. Hasan pun segera bangkit dan mengganti pakaian dikamarnya. Sementara itu tiga kunyuk dengan khusyuknya menjadi penonton. Hasan yang selesai mengganti pakaiannya dengan setelan jas berwarna putih pearl segera keluar dari kamar. Penampilannya yang terlihat sangat berbeda dan tentunya istimewa mengundang sorakan dari tiga kunyuk. Pujian terus disenandungkan oleh ketiganya.

Perias kembali menata dan merapikan penampilan Hasan, tak lupa menyematkan kembali dengan cantik sapu tangan berwarna gold disaku atas jas yang Hasan kenakan. Setelan itu terlihat begitu pas dan serasi pada garis tubuhnya tak pelak membuat terkagum semuanya. Aura ketampanan khas pria Indonesia dengan kulit eksotik terpancar kuat dari dirinya. Badannya yang sedikit berisi dengan postur diatas rata-rata pria lokal tak pelak semakin menambah kesan maskulin.

Setelah memastikan penampilan pengantin pria sudah sempurna, perias wanita itu memberitahu pak Supir untuk segera berangkat. Ilham yang teringat dengan hadiah spesial mereka langsung berlari ke kamar untuk mengambilnya.

“Apanya yang ketinggalan Ham?.” tanya Hasan.

Namum Ilham tidak menjawab pertanyaannya, dia justru tertawa kecil sambil masuk kedalam mobil. Setelah memastikan tidak ada yang ketinggalan pak Supir menyalakan mobil dan membawanya menyusuri jalan raya yang sudah mulai ramai.

Sekitar setengah jam lamanya mobil tiba dikawasan perumahan elit dengan bangunan rumah berukuran besar berjejer rapi. Beberapa menit mengitari komplek perumahan tersebut mobil tiba di depan rumah pak Malik, pintu gerbang terbuka secara otomatis dan mobil hitam itu pun memasuki halaman rumah.

Tiga kunyuk yang tidak tahu menahu mengani calon istri seniornya terlihat kaget. Mereka tak menyangka wanita cantik dengan kulit putih mulusnya yang kemarin mencium Hasan tinggal di rumah bak istana. Tetap dengan ketertegunannya meraka turun dari dalam mobil. Hasan tersenyum geli melihat tiga bocah kunyuk yang terus melototi setiap bagian dari rumah pak Malik.

Setibanya di dalam, pak Malik menyambut kedatangan Hasan dengan memberikan pelukan hangat sembari mengusap-ngusap punggung Hasan. Nyaris menjatuhkan air mata Hasan dibuat terkesan oleh perhatiannya itu.

Setelah pak Malik melepas pelukannya, Hasan memberanikan diri untuk berbicara. Mengingat ada suatu hal yang ingin dia diskusikan dengan calon mertua. Mendengar ucapan Hasan pak Malik langsung menuntunnya menuju ruang kerja. Disana Hasan mulai berbicara perihal sesuatu yang ingin dia diskusikan.

“Maaf Pak sebelumnya mungkin perbuatan saya akan menyinggung Bapak dan putri bapak.”

“Emangnya ada apa Nak?.” tanya pak Malik cemas.

“Begini Pak...saya mau ijab kabulnya diucapkan dalam bahasa arab ”

“Ohhh...iya tentu sesuai dengan keinginmu.”

Lalu Hasan mulai menjelaskan perilah kenapa dia ingin pengucapannya dalam bahasa arab, semua itu berkaitan dengan mahar yang diminta oleh Naura. Pak Malik yang mengerti maksud Hasan dengan rasa bersalah langsung menyetujuinya. Bahkan dia juga meminta maaf atas nama dirinya dan anaknya karena telah bertindak demikian. Setelah mengajari pak Malik pengucapan ijab kabul dalam bahasa arab, keduanya kembali keruang keluarga untuk bergabung dengan yang lainnya, dan juga sambil menunggu petugas KUA datang.

Naura yang dituntun oleh perias dan juga didampingi oleh bik Siti berjalan menuruni anak tangga dengan pelan-pelan. Tampilannya dengan hijab membuat Hasan kaget, senyum lembut tersemat di wajahnya. Sementara itu dilain sisi pada ruangan itu Ilyas berbisik pada Ilham.

“Ham jangan lupa difoto.”

“Asiiaapp Bos.” Sambil mengacungkan jempolnya.

Dari arah pintu tengah terlihat seorang pria paruh baya bermata sipit berjalan kearah mereka. Lalu menjabat tangan semua tamu satu – persatu sebelum melangkah mendekati pak Malik dan memeluknya dengan hangat. Naura yang mengenalinya segera berlari kecil menghampiri keduanya.

“Papa Jim!." Teriak Naura dengan senangnya.

Pak Jimmy menoleh kearah datangnya suara, dia menghampiri Naura dengan segera. Hasan kaget dan bingung ketika Naura memanggil pria itu dengan sebutan Papa. Dia melihat Naura berhambur kepelukan pria yang dia penggil Papa Jim dengan penuh suka cita. Pak Malik menghampiri Hasan dan sambil mendekatkan wajahnya kearah Hasan dia berkata,

“Dia ipar saya dan menetap diluar negeri, namanya Jimmy Wirawan dan Nana panggilnya Papa Jim.” pak Malik menjelaskan.

“Ohhhh....” Seru Hasan setelah mengetahui.

“Sayang udah lanjut nanti meluk papa Jim-nya." Ucap pak Malik sambil berjalan kearah mereka.

Dengan enggannya Naura melepaskan pelukannya, dan dituntun kembali oleh bik Siti ke tempat yang sudah disediakan untuk mempelai perempuan. Pak Malik hanya mengundang keluarga dan saudara serta kerabatnya untuk menyaksikan akad nikah putrinya.

Beberapa saat setelah itu petugas dari KUA tiba dikediaman pak Malik, setelah bersalaman mereka segera mengambil tempat. David yang bertindak sebagai MC langsung mengarahkan, acara dimulai dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh seorang qori’ senior yang sudah menjuarai banyak kejuaraan tingkat international, namanya syeh Mukmin Ainul Mubaroq dari Sumatra. Beliau teman seangkatan pak Malik ketika menempuh pendidikan di Pesantren dulu. Jadi mudah bagi pak Malik untuk mengundangnya meski terbilang dadakan.

Setelah lantunan ayat suci Al – Qur’an acara dilanjutkan dengan proses ijab kabul. Disini pak Malik sendirilah yang akan menikahkan putrinya, petugas KUA hanya menyaksikan dan melengkapi administrasi yang akan ditandatangani oleh kedua mempelai nantinya.

Hasan terlihat tegang dan gugup, salah satu petugas dari KUA menegurnya dan memintanya untuk lebih santai agar pengucapan ijab kabulnya lancar. Hasan menganggukkan kepala sambil tersenyum namun tetap rasa tegang dan gugup itu masih menguasainya. Sambil mengganti posisi duduk dan mengambil nafas dalam – dalam, Hasan berusaha mengatasi rasa tegang dan gugupnya.

Setelah mengambil persiapan proses ijab kabul pun dimulai, diawali oleh pak Malik sebagai wali nikah.

“Ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka Naura Syazwani Malik bimahri alatis sholah wa khatamin min dzahab wa kaksin min maa’ naqdan!.”

“Qabiltu nikahaha wa tzwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi wallahu waliyu taufiq naqdan!.” Hasan mengucapkan qabul dengan sekali ucapan.

Tak pelak ucapan kalimat ijab qabul yang didengar oleh Andik, Ilyas dan Ilham membuat mereka terharu, bercampur antara bahagia dan sedih tak kala mengetahui maharnya tidak dibayar tunai. Pikir mereka mungkin itu adalah salah satu alasan yang membuat Hasan terlihat murung dan sedih akhir-akhir ini.  Ilham terus menatap bungkusan hadiah yang mereka siapkan sebelumnya, antara memberikannya atau mengurungkannya.

David yang bertugas sebagai MC segera mengarahkan mempelai perempuan untuk mengambil tempat disamping mempelai pria untuk penyerahan mahar. Hasan dengan gugup meraih tangan kanan Naura dan menyematkan cincin itu dijari manisnya.

Mahar berikutnya yang diberikan adalah segelas air, gelas sudah disiapkan dan Hasan menuangkan air yang dia ambil sendiri dari sumber mata air sampai penuh. Lalu dengan hati-hati dia memberikannya pada Naura sekaligus membantu Naura meneguknya. Senyum lembut terpancar di wajahnya tak kala menatap istrinya yang sedang meneguk air dari tangannya sendiri. Mahar lainnya yang berupa alat sholat akan diserahkan tentunya setelah barangnya ada.

 Naura terus menyimpan wajahnya ke bawah termasuk ketika sang MC mengarahkan Naura mencium tangan Hasan yang baru saja berstatus sebagai suaminya. Tak cukup itu David juga memberikan aba-aba bagi Hasan untuk mencium kening Naura.

Teringat dengan perjanjian yang telah dia tandatangani, dengan ragu-ragu Hasan mendaratkan ciuman tepatnya kecupan dikening Naura. Ilham yang sudah siap dari tadi langsung mengabadikan momen itu secepatnya dan dia juga telah merekamnya, tak mau kalah sama fotografer dan kameramae yang sudah disiapkan oleh pak Malik.

Berikutnya lagu Barakallah milik Maher Zain dilantunkan oleh grub Nasheed yang diundang pak Malik. Sementara mempelai dan lainnya tengah beramah tamah.

1
F2h 29
Lumayan
Bungatiem
aku baca udah ke 4x. tapi pas cerita nya udah mulai melintir ga karuan aku ga lanjutin lagi.
Triwoel Andari
Hasan ngasih mahar ke Naura d episod ke brapa yah.. apa aku yg kelewatan ngebaca nya atau gimana yah...???
Hani P Hani
soweet jadi penggen jadi naura😍😍😍
Hani P Hani
ahirnya mereka bersatu semoga ini menjadi awal yang baik
Hani P Hani
alhamdulilah
Myra Azmoro
Si naura kelewatan ,, Hadeeww episode ini banyak mengadung bawang bikin hati sesak
Yuni
i
나의 햇살
gimana cowok suka sama kamu, orang kamu aja calon pelakor karena kalah saing sama Naura
Jusmiati
enaknya Naura, masak suaminya terus yg berjuang, kalau sy jadi Hasan, sdh sy tinggalin tuh nauranya, cari wanita yg lebih berfikir dewasa....😔😔😔
Yeni Rubianti
berbagi ilmu
Linda Erma
Busyetttt dch nih novel bikin begadang,dtambah nangis lagi gue bacanya 😭😭😭
Linda Erma
Busyetttt dch nih novel bikin begadang,dtambah nangis lagi gue bacanya 😭😭😭
Linda Erma
Bagus bgt critanya,dr tadi bikin mewek mulu 😭😭😭
Linda Erma
Critanya bikin aku mewek bgt 😭😭😭
Linda Erma
Sedih bgt ya 😭😭😭
Linda Erma
Yahhh aku nangis,Naura harusnya bersyukur punya suami yg sabar kyk hasan
Muda MACMUDAH
bagus thor cm sayang kurang lengkap klo g ada ilham jg
Muda MACMUDAH
yg cewek kurang cantik kak soalnya yg cowok tampan abis🤭
Heny Purwati
naura knp egomu tinggi...sampai" tak menyakini ketulusan suami sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!