Di mata keluarga besar Severe, Jay Ares hanyalah seorang menantu benalu. Tanpa harta, tanpa jabatan, dan hanya bekerja sebagai sopir taksi online. Ia kenyang menelan hinaan mertua dan cemoohan kakak ipar, bertahan hanya demi cintanya pada sang istri, Angeline.
Namun, tak ada yang tahu rahasia mengerikan di balik sikap tenangnya.
Jay Ares adalah "Panglima Zero" legenda hidup militer Negara Arvanta, satu-satunya manusia yang pernah mendapat gelar Dewa Perang sebelum memutuskan pensiun dan menghilang.
Ketika organisasi bayangan Black Sun mulai mengusik ketenangan kota dan nyawa Angeline terancam oleh konspirasi tingkat tinggi, "Sang Naga Tidur" terpaksa membuka matanya. Jay harus kembali terjun ke dunia yang ia tinggalkan: dunia darah, peluru, dan intrik kekuasaan.
Saat identitas aslinya terbongkar, seluruh Negara Arvanta akan guncang. Mereka yang pernah menghinanya akan berlutut, dan mereka yang mengusik keluarganya... akan rata dengan tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Skenario Kematian
Area Parkir VIP, Sky Tower. Pukul 02:30 Dini Hari.
Hujan telah berhenti, menyisakan aspal basah yang memantulkan cahaya lampu kota. Sebuah sedan hitam berhenti di sudut tergelap area parkir.
Jay keluar dari mobil, membawa koper perak yang ia dapatkan dari Mr. K. Ia tidak pulang ke rumah. Membawa uang tunai satu miliar dalam pecahan kecil ke apartemen sempit hanya akan mengundang pertanyaan yang tidak bisa ia jawab kepada Angeline.
Dari bayang-bayang pilar beton, sesosok pria berjas rapi muncul. Leon.
"Anda terlambat dua puluh menit, Jenderal," sapa Leon sambil melihat jam tangannya. "Saya hampir mengira Anda menikmati pesta di gudang itu."
"Pestanya membosankan," jawab Jay datar, melemparkan koper perak itu kepada Leon.
Leon menangkapnya dengan sigap. "Hadiah kemenangan?"
"Uang muka kontrak pembunuhan," koreksi Jay. "Targetnya: Angeline Severe."
Mata Leon yang biasanya tenang dan tanpa emosi melebar sepersekian milimeter. Ekspresi terkejut yang sangat langka.
"Mereka membayar Anda untuk membunuh istri Anda sendiri?"
"Ironis, bukan?" Jay menyalakan rokok, menghisapnya dalam-dalam. "Cuci uang itu. Masukkan ke rekening dana operasional Orion Group sebagai 'Donasi Anonim' atau 'Hibah CSR'. Biarkan Angeline menggunakannya untuk proyek amalnya. Itu uang kotor, tapi di tangan dia, itu akan jadi bersih."
"Dimengerti. Dan mengenai kontrak pembunuhannya?"
"Tenggat waktunya tiga hari," kata Jay, menghembuskan asap rokok ke udara malam. "Kita akan memberikan apa yang Black Sun inginkan. Sebuah pertunjukan."
"Anda akan memalsukan kematian Nyonya?" tanya Leon ragu. "Jika Nyonya 'mati', dia tidak bisa memimpin Orion. Misi perlindungan jangka panjang akan gagal."
"Tidak," Jay menggeleng. "Aku tidak akan memalsukan kematiannya. Aku akan memalsukan kegagalan pembunuhan itu. Kita akan membuat skenario di mana 'Si Pembunuh' (aku) menyerang, tapi digagalkan oleh pihak ketiga."
Jay menatap Leon tajam.
"Dan pihak ketiga itu adalah Unit Bayangan."
Apartemen Jay & Angeline. Pukul 03:15 Dini Hari.
Jay membuka pintu apartemen dengan sangat pelan agar engselnya tidak berderit. Ruang tamu gelap gulita.
Namun, lampu kecil di sudut ruangan masih menyala. Di sofa, Angeline tertidur dengan posisi duduk, memeluk bantal. Sebuah laptop masih menyala di pangkuannya, menampilkan data grafik penjualan yang rumit. Dia menunggu Jay pulang.
Hati Jay mencelos. Rasa bersalah menusuk dadanya. Ia baru saja menyepakati kontrak untuk "membunuh" wanita ini, meski itu hanya sandiwara, tetap saja rasanya ia mengkhianati kepercayaan polos istrinya.
Jay meletakkan jaketnya, lalu perlahan mengangkat tubuh Angeline. Istrinya menggeliat kecil, aroma sampo stroberi menguar dari rambutnya.
"Jay...?" gumam Angeline dengan suara serak khas orang bangun tidur. "Kau sudah pulang?"
"Ssst, tidurlah," bisik Jay lembut, membawanya menuju kamar tidur. "Maaf aku pulang terlambat. Ada penumpang mabuk yang muntah di mobil, aku harus membersihkannya dulu."
Kebohongan itu meluncur begitu saja.
Angeline menyandarkan kepalanya di dada bidang Jay. "Kau bekerja terlalu keras... Besok aku gajian. Kita bisa beli mesin cuci baru."
Jay membaringkan istrinya di kasur, menarik selimut hingga sebatas dagu. Ia mengecup kening Angeline lama sekali.
"Jangan khawatirkan uang," bisik Jay. "Kau hanya perlu khawatirkan kesehatanmu. Sisanya... biar aku yang urus."
Setelah memastikan napas Angeline teratur kembali, Jay keluar kamar. Ia tidak tidur. Ia pergi ke balkon kecil apartemen, menatap langit malam.
Ponsel khususnya bergetar. Sebuah notifikasi masuk.
[UNIT ECHO: Mendarat di Zona Delta. Menunggu instruksi.]
Mata Jay berubah dingin. Pasukannya sudah tiba.
Bekas Pabrik Tekstil, Pinggiran Kota. Pukul 08:00 Pagi.
Tempat ini seharusnya kosong dan berdebu. Namun pagi ini, suasana di dalam bangunan tua itu terasa seperti markas komando taktis.
Tiga orang berdiri tegap di tengah ruangan saat Jay masih mengenakan pakaian kasual, namun dengan aura yang sepenuhnya berbeda melangkah masuk.
Mereka tidak mengenakan seragam militer, melainkan pakaian sipil taktis (tactical civilian gear). Tapi cara mereka berdiri, cara mata mereka memindai ruangan, menunjukkan identitas asli mereka.
Serentak, ketiga orang itu menghentakkan kaki dan memberi hormat militer yang tajam.
"KOMANDAN DI TEMPAT!"
Jay membalas hormat itu dengan gerakan singkat. "Istirahat di tempat."
Ketiga orang itu menurunkan tangan.
Echo (Wanita, 28 Tahun): Penembak jitu (Sniper) terbaik militer. Dingin, efisien, bicaranya irit. Rambutnya dipotong pendek bergaya pixie cut.
Whiskey (Pria, 35 Tahun): Spesialis peledak dan infiltrasi. Bertubuh besar, berjanggut tebal, dan selalu terlihat santai.
Ghost (Pria, 30 Tahun): Spesialis intelijen dan cyber warfare. Kurus, berkacamata, terlihat seperti hacker kutu buku tapi bisa mematahkan leher orang dengan kabel laptop.
"Senang melihat kalian tidak mati di perbatasan," kata Jay, nada suaranya terdengar seperti seorang ayah yang bangga tapi gengsi.
"Neraka menolak kami, Pak. Katanya kami terlalu merepotkan," jawab Whiskey sambil menyeringai. "Jadi, apa misinya? Kudeta Presiden? Invasi negara tetangga?"
"Lebih sulit," jawab Jay. "Menjaga istriku agar tidak lecet sedikit pun saat diserang satu organisasi kriminal."
Ghost mengetik sesuatu di tabletnya, lalu memproyeksikan hologram denah kota ke meja berdebu di depan mereka.
"Kami sudah meretas data Black Sun sesuai instruksi Leon," lapor Ghost. "Mereka punya 50 sel tidur aktif. Mr. K adalah kepala operasinya. Dia melapor langsung ke Dewan Direksi yang identitasnya masih terenkripsi."
"Cukup Mr. K dulu untuk sekarang," potong Jay. "Dengar rencananya."
Jay menunjuk titik di peta hologram. Sebuah jembatan besar di pusat kota.
"Besok malam, Angeline akan menghadiri Gala Dinner pengusaha di Hotel Grand Royal. Aku akan mengantarnya."
"Dalam perjalanan pulang, di Jembatan Arvanta, aku sebagai agen 'White' akan melakukan penyergapan terhadap mobil kami sendiri."
Echo mengangkat alisnya. "Anda akan menyerang diri sendiri?"
"Aku akan menyerang mobil itu untuk memancing pengawas Black Sun keluar," jelas Jay. "Tugas kalian adalah menjadi 'Pihak Ketiga'. Saat aku menyerang, kalian muncul sebagai pasukan keamanan swasta misterius yang menyelamatkan Angeline."
"Tunggu," sela Whiskey. "Jadi kami harus... menembaki Anda, Komandan? Dengan peluru tajam?"
"Ya. Buat seolah-olah nyata. Mr. K akan mengawasi lewat drone. Jika tembakan kalian meleset terlalu jauh, dia akan curiga. Bidik untuk membunuh, tapi pastikan aku bisa menghindar."
Keringat dingin muncul di dahi Whiskey. "Menembak Komandan Zero dengan niat membunuh? Itu seperti meminta kami bunuh diri."
"Lakukan atau kalian dipecat," perintah Jay tegas. "Tujuannya adalah membuat Mr. K percaya bahwa misiku gagal karena intervensi pihak luar yang kuat. Ini akan memaksa Mr. K keluar dari sarangnya karena panik, dan saat itulah..."
Jay mengepalkan tangannya di atas peta hologram.
"...kita akan memenggal kepalanya."
"Echo," panggil Jay.
"Siap, Komandan."
"Cari posisi vantage point di jembatan. Jika ada agen Black Sun lain yang mencoba memanfaatkan kekacauan untuk menembak Angeline sungguhan..."
Mata Jay berkilat merah.
"...habisi mereka sebelum jari mereka menyentuh pelatuk."
"Siap laksanakan. Satu peluru, satu nyawa," jawab Echo dingin.
Jay menatap ketiga anak buahnya. Unit Bayangan. Mereka adalah hantu yang ia ciptakan. Dan besok malam, Kota Langit Biru akan menjadi panggung sandiwara paling berbahaya yang pernah mereka mainkan.
"Bubarkan barisan. Persiapkan peralatan. Operasi."